fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel
Negara merupakan sekumpulan orang yang menempati suatu wilayah tertentu dan diatur oleh pemerintahan negara yang sah dan umumnya memiliki kedaulatan. Demi menjaga kedaulatan, kekuatan militer dibutuhkan suatu negara. Dari total 193 jumlah negara berdaulat yang ada di dunia, berikut ini adalah 5 negara dengan anggaran militer terbesar.

Baca juga: 5 Buku Terpopuler tentang Perang

Amerika Serikat



Negara adidaya yang satu ini menempati urutan pertama sebagai negara dengan anggaran militer terbesar di dunia. Setelah Presiden Trump menandatangi RUU, anggaran militer Amerika Serikat mencapai US$ 654,7 miliar atau setara dengan Rp 9.000 triliun. Dengan dana sebesar itu, Pentagon, markas Departemen Pertahanan AS akan mendapatkan dana anggaran sebesar US$ 589,5 miliar dan tambahan sebesar US$ 65,2 miliar untuk operasi militer AS di luar negeri yang sebagian besar akan digunakan untuk mendanai operasional di Irak, Suriah, dan Afghanistan.


China



Negeri Tirai Bambu menempati urutan kedua sebagai negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, dengan anggaran pertahanan pada tahun 2018 mencapai 1,1 triliun Yuan atau setara dengan 2.384 triliun Rupiah. Anggaran militer China naik sebesar 8,1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jurubicara acara tahunan NPC ke-13, Zhang Yesui, mengatakan bahwa pengeluaran militer per kapita China masih lebih rendah daripada negara-negara besar lainnya.Anggaran tersebut digunakan untuk mengembangkan kemampuan militer baru dengan peralatan dan alat tempur canggih seperti jet tempur siluman, kapal induk, hingga peluru kendali anti-satelit.


Arab Saudi



Sebagai negara terkaya di Timur Tengah, Arab Saudi menempati posisi ketiga negara dengan anggaran militer terbesar. Menurut CIA Factbook, Arab Saudi mengalokasikan dana untuk militernya sebesar US$ 87,18 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk melengkapi alat pertahanannya dari berbagai negara termasuk membeli perlengkapan tempur dari Amerika Serikat, Rusia, Perancis, dan Inggris. Selain itu, Arab Saudi juga mempunyai kebijakan untuk memproduksi alat pertahanan di dalam negeri termasuk suku cadang dan industri militer.


India



India menjadi negara keempat dengan anggaran militer terbesar di dunia dengan anggaran sebanyak US$ 50 miliar. Peningkatan anggaran pertahanan India dipengaruhi dengan kemajuan ekonomi yang terjadi di negara tersebut. India juga mulai membangun kapal induk guna menjaga kawasan maritimnya. Selain itu, India juga akan menambah tiga kapal selam bertenaga nuklir. Hal tersebut dilakukan sebagai respon atas tantangan China di Asia Selatan dan menjadikan India unggul di Samudra Hindia.


Rusia




Berbeda dengan keempat negara yang disebutkan di atas yang menambahkan anggaran pertahanannya, Rusia mengurangi anggaran pertahanannya dari US$ 47 miliar pada 2017 menjadi US$ 46 miliar di tahun 2018. Hal tersebut terjadi lantaran Rusia harus memangkas anggaran pertahanannya di tengah sanksi dan dinamika perekonomian dalam negeri terutama setelah mencaplok Crimea dari Ukraina. Kendati demikian, Rusia menempati posisi kelima sebagai negara dengan anggaran militer terbesar di dunia. Namun Presiden Rusia, Vladimir Putin, menarik perhatian publik dengan mengatakan bahwa negaranya memiliki alutsista supersonik yang mencakup rudal hingga drone.




Nah, untuk Indonesia sendiri ada diurutan keberapa ya untuk anggaran militernya? Berdasarkan anggaran pertahanan, Indonesia menempati posisi ke-21 dengan anggaran pertahanan sebesar US$ 6,9 miliar atau sekitar Rp96 triliun. Perlu diketahui kekuatan militer yang dimiliki Indonesia saat ini adalah 435 ribu personel militer aktif dan 540 ribu personel cadangan. Selain itu, Tentara Republik Indonesia diperkuat dengan 418 tank, 1.131 kendaraan lapis baja, 456 artileri, dan 153 peluncur roket.


[Oleh: Fifi Feby Yanti]


Baca juga: Apakah Indonesia Masih Ada Pada Tahun 2030?
Baca juga: 5 Novel Terjemahan yang Akan Mengguncang 2019
0

Artikel


Dalam novel Ghost Fleet karya P. W. Singer dan August Cole, disebutkan bahwa terjadi perang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang dibantu oleh Rusia. Setelah kejatuhan Indonesia akibat perang Timor dan terjadinya ledakan bom di Dahran, Arab Saudi, harga minyak melejit gila-gilaan. Di sisi lain, Tiongkok menemukan cadangan energi gas bumi yang besar dan menguasainya. Untuk mendapatkan kendali atas KawasanPasifik, Tiongkok melancarkan serangan menggunakan virus komputer untuk melumpuhkan persenjataan Amerika yang berteknologi tinggi.

Kenyataannya, Tiongkok merupakan salah satu negara paling besar dan mampu bersaing dengan negara-negara besar lainnya seperti Amerika Serikat. Bahkan sekarang saja Tiongkok dan Amerika sedang melakukan perang dagang. Lalu apa yang membuat Tiongkok menjadi sebuah negara besar? Berikut ini 5 fakta mengenai Tiongkok.

Baca juga: 7 Konflik Perang Terbesar di Dunia


Sejarah

Dinasti Qing

Tiongkok merupakan salah satu peradaban pertama di dunia. Peradaban tersebut dimulai di sekitar Sungai Kuning atau Huang He. Terbukti dari banyaknya peninggalan sejarah peradaban masa lalu yang ditemukan di sekitar wilayah tersebut. Menurut tradisi Tiongkok, dinasti pertama adalah Xia, yang muncul pada sekitar tahun 2100 sebelum Masehi. Lalu, salah satu peninggalan Tiongkok zaman dinasti yang paling terkenal adalah terracotta di mausoleum Kaisar Qin.

Dinasti yang terakhir berkuasa di Tiongkok adalah Qing yang bertahan sampai tahun 1912 digantikan oleh Kuomintang atau partai nasionalis Tiongkok yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat-Sen. Tahun 1949, kekuasaan partai Kuomintang digulingkan oleh Partai Komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong hingga sekarang.


Geografi



Tiongkok juga merupakan salah satu negara dengan daratan paling luas di dunia. Luasnya mencapai 9,69 juta kilometer persegi. Pada daerah seluas itu, terdapat 22 provinsi dan 4 munisipalitas atau kota tingkat teratas setingkat provinsi yang berada langsung di bawah pemerintah. Lalu ada provinsi yang diklaim, yaitu Taipei atau Taiwan. Selain itu juga, di Tiongkok ada 5 daerah otonom khusus etnis minoritas. Yang terakhir, ada 2 daerah administratif khusus yang memiliki sistem unik yang disebut satu negara dua sistem. Daerah tersebut adalah Hongkong dan Macau.

Tiongkok juga merupakan negara dengan jumlah warga negara terbanyak di dunia, yaitu 1.386 miliar jiwa. Warga negara Tiongkok terdiri dari banyak etnis dan budaya.


Ekonomi

Pada tahun 2013, Tiongkok menempati urutan kedua ekonomi terbesar di dunia dalam nominal GDP menurut International Monetary Fund. Semenjak Liberalisasi Ekonomi tahun 1978, ekonomi Tiongkok berkembang pesat. Menurut IMF, rata-rata GDP Tiongkok meningkat dari tahun 2001-2010 sebesar 10,5%. Hebatnya lagi, antara tahun 2007 dan 2011, perkembangan ekonomi Tiongkok setara dengan perkembangan seluruh negara anggota G7 dikombinasikan.

Hal tersebut tidaklah aneh. Zaman sekarang, siapa yang di dalam rumahnya tidak ada produk dari Tiongkok? Produktivitas dan biaya buruh yang murah membuat banyak produsen yang mengandalkan industrinya di Tiongkok. Hal tersebut pula yang membuat Tiongkok menjadi global leader manufacturing.

Mengutip mckinsey.com, Tiongkok adalah salah satu investmen digital dan ekosister start-up paling aktif. Ditambah lagi, Tiongkok menjadi tiga besar dalam investasi modal dunia digital. Terbukti dengan banyaknya perusahaan digital seperti developer game Tencent yang baru-baru ini sedang naik daun di Indonesia. Selain itu, di ranah E-Commerce, Tiongkok adalah pasar terbesar dan memegang lebih dari 40 persen value transaksi e-commerce secara global. Salah satu perusahaan e-commerce dari Tiongkok yaitu Alibaba.com.

 


One China Policy

Di dalam ranah politik, Tiongkok mengeluarkan kebijakan yang cukup besar pengaruhnya pada politik luar negeri mereka. Kebijakan tersebut disebut One China Policy yang artinya hanya mengakui satu Tiongkok dan tidak mengakui kedaulatan Taiwan. Menurut pemerintah Tiongkok, Taiwan merupakan bagian dari mereka, yaitu Taipei.

Secara singkat dalam sejarahnya, ketika Partai Nasionalis Tiongkok atau Kuomintang gagasan Dr. Sun Yat-Sen dipukul mundur oleh Partai Komunis, mereka lari ke bagian selatan dan mendirikan negara Taiwan.


Militer

Walaupun terkadang orang Indonesia meremehkan kekuatan produk-produk dari Tiongkok, persenjataan militernya tidak bisa dianggap remeh. Penguasaan mereka terhadap teknologi memperkuat kekuatan militer tersebut. Dalam novel Ghost Fleet, Tiongkok berhasil melumpuhkan seluruh teknologi di Amerika dengan cara meretas Agensi Intelejen Pertahanan. Selain itu, Tiongkok juga mempunyai pasukan tentara terbesar di dunia yang disebut Tentara Pembebasan Rakyat (Renmin Jiefangjum).

Anggaran belanja Tiongkok juga termasuk yang paling besar, setara dengan Amerika Serikat dan Rusia. Mengutip kompas.co, jumlah anggaran militer terbaru Tiongkok sebesar 1,11 triliun Yuan atau setara dengan Rp.2.500 triliun. Bertambahnya jumlah tersebut memicu banyak pengetatan di berbagai negara di seluruh dunia, menduga Tiongkok akan terus mengembangkan militernya.



[Oleh: Fifi Feby Yanti]


Baca juga: Apa Itu Cyber War? Kenali dan Waspadai!
Baca juga: 5 Negara Dunia dengan Budget Militer Terbesar


0

Artikel, baru



Cyber warfare atau yang dikenal juga dengan istilah cyber war adalah perang yang terjadi di dalam dunia internet alias di dalam cyber world. Perang tersebut bersenjatakan koneksi internet dan juga komputer. Aktivitas yang terjadi pada cyber war ini pada umumnya adalah kegiatan hacking dan anti-hacking yang dilakukan secara ‘resmi’ oleh negara. Tujuannya mulai dari mencuri data hingga melumpuhkan sistem yang dimiliki oleh negara musuh.

Dengan terhubungnya dunia secara global melalui koneksi internet, negara-negara di dunia seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Iran, Korea Utara, Korea Selatan, Jepang dan negara lainnya bisa terlibat setiap hari dalam cyber war. Bahkan Indonesia pernah terlibat cyber war dengan Malaysia pada 2007 serta dengan Filipina pada 2013.

Baca juga:
5 Fakta Tiongkok: Salah Satu Negara Raksasa
5 Novel Terjemahan yang Akan Mengguncang 2019

Kerugian yang ditimbulkan dari cyber war tak jauh berbeda dengan peperangan konvensional. Jika dampak perang konvensional dapat dilihat dalam bentuk kehancuran, terbunuhnya sejumlah orang dan pendudukan wilayah, maka cyber war yang sebagian besar aktivitasnya terjadi di belakang meja. Dampaknya pun tidak mudah diamati, dan juga dapat menimbulkan kerugian yang sama besarnya. Contohnya adalah dampak cyber war yang terjadi antara Iran dengan Israel. Dalam cyber war tersebut, beberapa petinggi militer Iran tewas karena serangan yang dilancarkan oleh Israel menggunakan virus jaringan untuk menyerang teknologi listrik tenaga nuklir di Iran pada masa uji coba. Nyatanya, cyber war pun sama bahayanya dengan perang konvensional.



Cyber war mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Mulai dari bentuk non-teknis seperti penyebaran propaganda melalui media sosial berbentuk gambar-gambar maupun artikel, hingga yang luar biasa canggih seperti penyebaran virus Stuxnet oleh Israel untuk menyerang dan melumpuhkan reaktor nuklir Iran, atau peristiwa pembajakan drone Amerika Serikat oleh Iran.

Apa yang termasuk Cyber War?



Suatu serangan dapat dikatakan sebagai aksi dari cyber war atau bukan, tergantung pada beberapa faktor. Salah satunya adalah identitas peretas, apa tujuannya, bagaimana cara melakukannya, dan seberapa besar dampak yang ditimbulkan.

Seperti perang pada umumnya, cyber war juga didefinisikan sebagai konflik antar negara, bukan antar individu. Sebuah aksi akan dinyatakan sebagai cyber war dilihat dari seberapa besar skala kerusakan yang ditimbulkan dari aksi tersebut.

Serangan oleh seorang individu peretas atau sekelompok peretas biasanya tidak dianggap sebagai cyber war, kecuali mereka dibantu dan diarahkan oleh negara. Namun dalam dunia cyber war, banyak hal yang kabur dan tidak jelas, seperti negara-negara yang mendukung para peretas untuk membuat penyangkalan yang masuk akal atas tindakan mereka sendiri. Bagaimana pun juga, hal ini merupakan tren umum yang berbahaya.

Sejarah Cyber War



Tahun 2007 menjadi sebuah kenyataan di mana cyber war bukan hanya teori, melainkan menjadi sebuah aksi dalam dunia nyata. Kejadian bermula ketika pemerintah Estonia mengumumkan rencana untuk memindahkan tugu peringatan perang Soviet. Setelah ada pengumuman tersebut, pemerintah Estonia menemukan bahwa terjadi peretasan pada sistem perbankan dan layanan pemerintah offline. Serangan itu dianggap sebagai serangan dari peretas Rusia, dan pihak berwenang Rusia membantah serangan itu. Namun aksi ini tidak menimbulkan kerusakan fisik dan tidak signifikan sehingga belum dikategorikan sebagai cyber war.

Di tahun yang sama sebagai tonggak lahirnya cyber war, Laboratorium Nasional Idaho membuktikan melalui Uji Generator Aurora bahwa serangan digital pada cyber war dapat digunakan untuk menghancurkan benda-benda fisik. Dalam percobaan tersebut, generator Aurora yang mengalami kerusakan fisik.

Serangan Stuxnet pada 2010 membuktikan bahwa cyber wardapat berdampak pada dunia nyata. Cyber war yang paling serius terjadi tepat sebelum Natal 2015 di Ukraina. Peretas berhasil mengganggu pasokan listrik di beberapa bagian Ukraina dengan menggunakan Trojan terkenal yang disebut Black energy. Pada Maret 2016, tujuh peretas Iran dituduh berusaha menutup bendungan New York.

Kerugian dari cyber war membuat negara-negara dengan sigap membangun kemampuan pertahanan untuk menghadapi cyber war. NATO mengambil langkah penting terhadap cyber war. Pada tahun 2016, NATO mendefinisikan dunia maya sebagai domain operasional, yaitu area dimana konflik dapat terjadi. Demikian, internet secara resmi menjadi medan perang untuk cyber war.

Bertahan dari Cyber War



Sebuah aksi dinyatakan sebagai cyber war ketika memiliki dampak kerusakan yang besar dan biasanya tejadi antar negara. Tapi tidak ada salahnya memulai dari diri sendiri untuk membangun perlindungan dan bertahan dari cyber war.

Penggunaan pengamanan dalam dunia maya sangatlah penting. Setidaknya untuk melindungi data dari peretas. Biasanya negara-negara juga melakukan hal-hal dasar berikutnya itu seperti mengubah kata sandi standar dan membuat kata sandi sulit untuk dipecahkan, tidak menggunakan kata sandi yang sama untuk sistem yang berbeda, memastikan bahwa semua sistem mutakhir termasuk penggunaan perangkat lunak antivirus.

Pastikan juga bahwa sistem hanya terhubung ke internet jika perlu, dan memastikan bahwa data-data penting tersimpan dengan aman. Ini mungkin cukup untuk menghentikan beberapa peretas atau setidaknya memberi mereka pekerjaan ekstra.

Baca juga:
Apakah Indonesia Tidak Ada Pada 2030?
5 Buku Terpopuler tentang Perang

Selanjutnya, untuk target bernilai tinggi seperti organisasi ataupun perusahaan, hal-hal dasar di atas tidaklah cukup. Peretas akan melakukan serangan yang lebih gencar. Dalam hal ini diperlukan perlindungan tambahan seperti enkripsi yang kuat, otentikasi multi-faktor, dan pemantauan jaringan yang canggih. Hal ini mungkin tidak dapat menghentikan upaya peretas untuk menembus jaringan, tetapi ada kemungkinan dapat menghentikan peretas melakukan kerusakan.

Pada tingkat yang lebih tinggi, seperti negara, mulai dilakukan pengembangan strategi pertahanan terhadap cyber war untuk negara masing-masing. Contohnya Uni Eropa baru-baru ini mengumumkan rencana untuk bekerja pada rencana pertahanan dunia maya yang akan digunakan jika menghadapi serangan cyber war lintas-perbatasan yang besar, dan rencana untuk bekerjasama dengan NATO dalam latihan pertahanan dunia maya. Namun, tidak semua negara menganggap perencanaan semacam itu sebagai prioritas yang sangat tinggi.


Penulis: Fifi Feby Yanti

Temukan ketegangan cyber war dalam novel Ghost Fleet!
Dapatkan juga ebook 
Ghost Fleet di Google Play!

0

Artikel, baru

Membaca novel, atau kisah fiksi, bukanlah guilty pleasure; para pembaca tidak selayaknya merasa bersalah karena menikmati kisah fiksi. Dilansir dari Psychology Today, membaca fiksi dapat meningkatkan kesadaran sosial seseorang dan meningkatkan kemampuan untuk berempati. Kedua hal ini sudah semakin langka ditemukan dalam zaman yang semakin dikuasai egosentrisme, padahal keduanya sangat penting dimiliki oleh setiap orang.

Di tahun baru ini, Mizan Publishing telah mempersiapkan beberapa naskah fiksi terjemahan yang dijamin akan memuaskan hasrat membacamu. Jangan lupa untuk menambahkan novel-novel berikut ini ke dalam daftar bacaanmu, ya.

 

Ghost Fleet karya P.W. Cole dan August Singer

Perang Dunia Ketiga? Mungkin datangnya akan lebih cepat daripada dugaan kita.

 

Dalam novel Ghost Fleet, dua pakar militer Amerika, yakni P.W. Cole dan August Singer, menjabarkan akan seperti apa Perang Dunia Ketiga. Penggunaan teknologi tinggi dan berbagai gawai canggih yang telah merasuk dalam kehidupan sehari-hari semua orang membuat sebuah negara menjadi lebih rentan terhadap serangan musuh.

 

Bukan sekadar imajinasi, kisah yang dituangkan dalam buku ini merupakan hasil riset berdasarkan tren dan teknologi terkini. Hasilnya? Sebuah narasi yang realistis dan sarat aksi serta ketegangan. Novel ini banyak diapresiasi oleh para pakar militer, hingga disebut-sebut sebagai bacaan wajib para tentara, namun masyarakat awam pun dijamin bisa menikmatinya.


Ghost Fleet menjadi perbincangan hangat orang-orang Indonesia karena dalam buku yang mengambil setting waktu di masa depan ini, Republik Indonesia dinyatakan sudah tidak ada lagi. Pulau-pulau Indonesia menjadi wilayah tak bertuan yang dihuni para pemberontak dan perompak. Sungguh prediksi yang membuat merinding.


Akkurat Passe karya Jostein Gaarder

Akkurat Passe, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Just Right, adalah novel terbaru dari Jostein Gaarder, penulis Dunia Sophie (Sophie’s World) yang fenomenal. Saking fenomenalnya, Dunia Sophie menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa filsafat. Memang, novel-novel Jostein selalu bermuatan filsafat, tapi dengan cara penyampaian yang enak diikuti dan tidak membuat pusing para pembaca, yang awam akan ilmu filsafat sekalipun.



Akkurat Passe
mengisahkan seorang pria bernama Albert yang divonis menderita suatu penyakit mematikan. Sembari menenangkan diri di Rumah Dongeng, Albert mengenang masa-masa awal berpacaran dengan istrinya dan merenungkan makna kehidupan. Dia belum siap untuk mengucapkan selamat tinggal, tidak bisa menerima ketidakmampuannya mengatur arah hidupnya sendiri. Pada akhirnya Albert harus mengambil keputusan yang tidak hanya akan mempengaruhi dirinya, namun juga istri dan anak-anaknya.


Sing,
Unburied, Sing karya Jesmyn Ward

Sing, Unburied, Sing adalah kisah drama keluarga yang telah membuat Jesmyn Ward mendapatkan National Book Award tahun 2017, serta sejumlah nominasi untuk penghargaan-penghargaan sastra lainnya, seperti Women’s Prize for Fiction, Andrew Carnegie Medal, dan Kirkus Prize.



Dalam Sing, Unburied, Sing, seorang bocah remaja bernama Jojo berjuang untuk tumbuh menjadi lelaki sejati, terlepas dari fakta bahwa kedua orangtuanya tidak bisa diandalkan. Ayahnya, Mike, mendekam di penjara, sedangkan ibunya, Leonie, seorang pecandu obat-obatan terlarang. Ditambah lagi, Jojo harus mengurus adik perempuannya yang masih balita.

Selain isu kemiskinan dan kekerasan, novel ini juga mengangkat isu rasisme, karena ayah Jojo berkulit putih, sedangkan ibunya berkulit hitam. Kakek Jojo dari pihak ayah terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka pada Jojo dan ibunya. Di zaman modern ini, rasisme dan intoleransi masih menjadi hal yang mengkhawatirkan, karena tidak semua orang mampu menyikapi perbedaan dengan bijak.  


Dear Martin karya Nic Stone

Novel-novel young adult dengan tokoh utama diverse atau bukan kulit putih semakin digandrungi pembaca. Salah satunya adalah Dear Martin, karya debut Nic Stone yang langsung bertengger di jajaran buku-buku fiksi laris versi The New York Times. Novel ini juga mendapat nominasi William C. Morris YA Debut Award dan Elizabeth Walden Award.

 

Seperti Sing, Unburied, Sing, novel Dear Martin mengangkat isu rasisme. Tokoh utamanya adalah seorang remaja kulit hitam bernama Justyce. Dia siswa berprestasi di sekolahnya dan berkelakuan baik, tapi tetap saja dia harus menerima perlakuan intoleran, hanya karena warna kulitnya.

 

Demi menahan emosi dan berusaha menyikapi dengan bijak ketidakadilan yang dia terima, Justyce mempelajari Martin Luther King, tokoh yang amat terkenal sebagai pembela kesetaraan hak dan penentang rasisme. Justyce menulis surat-surat untuk Martin, dan merenungkan sikap seperti apa yang akan diambil oleh Martin seandainya beliau menerima perlakuan seperti yang Justyce alami.

 

To Kill A Kingdom karya Alexandra Christo

Bagi para penggemar fiksi fantasi, ada satu karya debut fenomenal yang tak boleh dilewatkan, yakni To Kill A Kingdom. Di antara banyak seri fantasi yang terdiri lebih dari dua atau tiga buku (bahkan tidak sedikit yang terdiri lebih dari lima buku), To Kill A Kingdom yang kisahnya tuntas dalam satu buku saja menjadi angin segar bagi para pembaca.

 


To Kill A Kingdom
adalah kisah cinta antara seorang putri dan seorang pangeran, tapi dengan elemen-elemen yang tidak biasa. Pertama, Lira, sang putri adalah sesosok siren yang gemar mengoleksi jantung pangeran. Kedua, Elian, sang pangeran adalah kapten kapal yang pekerjaannya memburu dan menghabisi para siren. Tentu saja interaksi antara keduanya sarat kebohongan dan tipu daya, dan menarik sekali untuk diikuti.

Meskipun ada yang bilang To Kill A Kingdom terinspirasi dari dongeng The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen, tokoh utama novel ini bukanlah sesosok mermaid, melainkan siren. Kaum siren terkenal dengan musik dan lagu mereka yang dapat menghipnosis para pelaut. Setelahnya, para pelaut itu akan terjun ke laut dan tewas, sementara kapal mereka karam.




Dalam mitologi Yunani, ada kisah tentang seorang pahlawan terkenal, Odysseus, yang ingin mendengar nyanyian para siren. Dia meminta para awak kapal untuk menyumbat telinga mereka, lalu mengikatnya di tiang kapal. Ketika mereka berlayar melewati para siren, hanya Odysseus yang dapat mendengar nyanyian mematikan itu. Odysseus memohon untuk dilepaskan agar dia bisa melompat ke laut, tapi para awak kapal malah mengikatnya semakin kuat, dan baru melepaskannya setelah mereka berada jauh dari para siren.

 

Itulah kelima novel yang layak ditunggu kehadiran terjemahan Bahasa Indonesianya pada tahun 2019 ini. Kalau kamu tidak mau ketinggalan informasi buku-buku terbaru Mizan Publishing, jangan lupa ikuti akun-akun media sosialnya, ya.



Baca juga: 4 Buku Paling Banyak Dibaca Orang Tahun 2018
Baca juga: 5 Buku Terpopuler Tentang Perang 

0

Artikel

Perang selalu menjadi peristiwa yang tidak diinginkan, tapi sudah banyak terjadi sepanjang sejarah dunia –bahkan hingga hari ini. Simak beberapa buku terpopuler tentang perang, mulai dari buku paling klasik tentang strategi perang sampai novel yang memprediksi perang dunia ketiga.


1. The Art of War karya Sun Tzu

the-art-of-war

The Art of War merupakan buku strategi militer Tiongkok kuno yang ditulis pada abad ke-5 SM oleh ahli strategi militer Cina bernama Sun Tzu. Buku ini secara umum berisi tentang strategi dan taktik untuk memenangkan perang. The Art of War terdiri dari 13 bab dan pada setiap bab dikhususkan untuk satu aspek perang.

 

Salah satu poin utama yang dijabarkan Sun Tzu dalam The Art of War adalah kemampuan untuk mengenali musuh dan mengenali diri sendiri. Jika menguasai hal tersebut, maka tidak perlu takut dengan hasil pertempuran. Jika hanya mengenal diri sendiri, tetapi tidak mengenal musuh, Sun Tzu beranggapan bahwa dalam setiap kemenangan yang diperoleh akan ada kekalahan yang harus ditanggung. Jika sama sekali tidak mengetahui musuh dan diri sendiri, maka bersiaplah untuk menghadapi kekalahan.


Baca juga:
5 Fakta Tiongkok: Salah Satu Negara Raksasa

Menurut situs news24.com, The Art of War yang ditulis lebih 2.500 tahun lalu ini menjadi salah satu buku paling berpengaruh tentang pemikiran militer, taktik bisnis, serta hukum. Meskipun ditulis untuk strategi perang, buku ini ternyata dapat diaplikasikan untuk membantu menghadapi berbagai tantangan hidup. The Art of War juga merupakan salah satu buku yang cocok bagi para pebisnis. The Art of War secara umum memiliki potensi untuk menjadikan hidup manusia lebih berkualitas.


2. Once an Eagle karya Anton Myrer



Once an Eagle, merupakan novel perang yang terbit pada tahun 1968. Seperti ditulis pada situs northofseveycorners.com, Once an Eagle adalah novel klasik yang banyak dijadikan acuan oleh tentara Amerika. The Army War College di Carlisle, Amerika, kembali menerbitkan buku ini dengan tujuan menjadikannya sebagai bahan kursus untuk tema etika dan kepemimpinan di sekolah militer.

 

Novel dengan latar belakang perang Vietnam ini memiliki dua tokoh utama, Sam Damon dan Courtney Massengale. Sam merupakan sosok prajurit sejati, seorang komandan yang berjuang keras, serta dipenuhi kepedulian terhadap pasukannya. Sam Damon berhasil memimpin pasukan memenangi pertempuran demi pertempuran pada Perang Dunia I dan II. Meskipun pada akhirnya Sam Damon mati terbunuh. Sedangkan Courtney Massengale, lebih unggul secara karir dari Sam dengan cara memanipulasi sistem politik di Washington. Courtney sangat cerdik dalam mengambil langkah karir namun dia sama sekali tidak peduli terhadap pasukannya.

 

Seorang profesor sejarah, Kolonel Jerry Morelock, berpendapat bahwa Sam Damon merupakan seorang perwira yang diharapkan oleh para prajurit. Sedangkan Courtney Massengale, sebaliknya, adalah sosok perwira yang tidak inginkan sebagai atasan. Nama Sam Damon dan Courtney Massengale bahkan telah memasuki bahasa informal militer Amerika sebagai kata sandi bagi tentara-tentara yang memiliki kemiripan sifat dengan Sam dan Courtney. Misalnya, ketika seorang perwira ingin mengeliminasi seorang kandidat dari promosi kenaikan jabatan, yang harus dia lakukan hanyalah memberi tahu dewan peninjau dan memberi kode: “Dia adalah tipe Courtney Massengale.”

 

Anton Myrer, penulis Once an Eagle, meninggal pada 1996 di usia 73 tahun. Myrer merasa pengalamannya ketika mengikuti perang dunia kedua memiliki dampak besar pada kehidupannya. Seperti yang ditulis di situs northofseveycorners.com, Myrer mengatakan bahwa perasaannya tentang perang tecermin dalam novel Once an Eagle. Novel ini juga pernah diadaptasi sebagai serial televisi yang ditayangkan di Amerika pada tahun 1976.


3. Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole

 

Cerita tentang prediksi perang dunia ketiga, Ghost Fleet, adalah novel karya dua penulis asal Amerika, P.W. Singer dan August Cole. P.W. Singer, ahli strategis dan Senior Fellow di New America Foundation, masuk ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di bidang pertahanan oleh Defense News. Sedangkan August Cole merupakan seorang analis dan konsultan dalam bidang kemanan nasional. Dia juga pernah aktif menjadi editor dan reporter untuk MarketWatch.com. Selain itu, August Cole pun serta pernah aktif di bagian pertahanan industri untuk Wall Street Journal.

 

Sebagai pakar serta ahli strategi dalam bidang pertahanan, Singer dan Cole mampu dengan baik menggabungkan tren dan teknologi terkini. Mereka mampu menggabungkan yang ada di dunia nyata ke dalam cerita fiksi pada novel Ghost Fleet. Novel Ghost Fleet mendokumentasikan hasil dari penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh Singer dan Cole sehingga cerita yang mereka tulis mampu mendekati fakta. Beberapa tema yang dibahas dalam novel tersebut antara lain: ketegangan politik, perubahan sosial, teknologi-teknologi yang muncul, dan sistem senjata yang sekarang dalam berbagai tahap pengembangan ke dalam sebuah narasi.

 

Dari mana judul Ghost Fleet berasal? Seperti yang dirilis pada situs thediplomat.com, ungkapan Ghost Fleet digunakan oleh angkatan laut Amerika untuk menyebut kapal-kapal yang dinonaktifkan. Dengan tujuan disimpan sebagai potensi yang akan digunakan ketika terjadi konflik di masa depan. Kapal-kapal ini lebih tua dan ketinggalan secara teknologi dibandingkan kapal-kapal modern. Namun sebenarnya kapal-kapal modern rentan terhadap ancaman. Menurut Singer dan Cole, kapal-kapal yang lebih tua cenderung aman dari ancaman yang berhubungan dengan teknologi masa kini.

 

Seperti yang ditulis di situs www.cia.gov, plot utama Ghost Fleet berkisar tentang pencurian kekayaan intelektual di dunia maya, ketegangan navigasi di Laut Cina Selatan, dan tentang etika penggunaan perangkat elektronik pribadi yang semakin berkurang. Selain penggambaran tentang masa depan peperangan, Ghost Fleet juga memberikan pandangan tentang masa depan intelijen. Novel ini sempat menjadi trending topic setelah ungkapan “2030 Indonesia Bubar” viral di media sosial Indonesia.


4. Brave New War karya John Robb



Buku yang diterbitkan tahun 2007 ini ditulis oleh John Robb, mantan perwira Angkatan Udara yang kemudian menjadi pengusaha di bidang teknologi. Karya-karya John Robb, baik dalam buku Brave New War dan blog pribadinya, merupakan hasil dari pengalaman militer serta bisnis selama bertahun-tahun.

 

Brave New War, seperti yang ditulis di situs automaticballpoint.com, tediri dari tiga bagian: The Future of War is Now, Global Guerrillas, dan How Globalization Will Put an End to Globalization. Bagian pertamanya sebagian besar membahas tentang situasi keamanan saat ini. John Robb juga membahas invasi Amerika ke Iraq serta sejumlah perang lain, seperti Perang Teluk dan Perang Chechnya. Bagian kedua, Global Guerrillas, merupakan bagian yang paling penting dalam buku ini. John Robb bahkan memiliki blog khusus dengan nama yang sama, Global Guerrillas. Sedangkan untuk bagian ketiga, John Robb berkonsentrasi pada kelemahan Amerika Serikat. Dia beranggapan Amerika sedang melemah dan warga negara benar-benar harus mempertimbangkan untuk mulai memikirkan tanggung jawab atas keamanan mereka sendiri.



5. What It Is Like to Go to War karya Karl Marlantes



What It Is Like to Go to War adalah buku nonfiksi tentang pengalaman perang yang banyak menyoroti kurangnya persiapan para tentara muda untuk menghadapi tekanan psikologis dan spiritual yang diakibatkan oleh perang. Seperti dirilis pada groveatlantic.com, sebelum menulis What It Is Like to Go to War, Karl Marlantes sukses dengan buku bertema perang, Matterhorn. Karya Karl Marlantes tersebut menjadi jajaran bestseller di New York Times dengan penjualan lebih dari 250.000 eksemplar.

 

Karl Marlantes pernah dikirim ke Vietnam ketika berusia 23 tahun sebagai komandan dari sekitar 40 orang prajurit. Marlantes sebenarnya merupakan seorang pemuda yang cerdas dan terlatih dengan baik untuk tugas tersebut, tetapi jauh dari persiapan mental untuk hal-hal yang nantinya akan dia alami di medan perang. Selama tiga belas bulan, dia mampu membunuh musuh namun dia juga menyaksikan teman-temannya tewas. Marlantes selamat, tetapi dia kemudian menghabiskan empat puluh tahun terakhir untuk menghadapi trauma dari perang tersebut.

 

Dalam buku What It Is Like to Go to War, Marlantes memberikan pandangan secara mendalam tentang pengalaman yang dia alami selama perang. Dia pun sangat menekankan persiapan mental bagi tentara-tentara muda untuk menghadapi perang. Dalam buku tersebut, Marlantes menceritakan perasaan dihantui oleh wajah seorang prajurit muda Vietnam yang dia bunuh dari jarak dekat. Kemudian dia membahas cara-cara yang digunakan untuk akhirnya berdamai dengan masa lalu tersebut. Marlantes juga menceritakan kontradiksi sehari-hari yang harus dihadapi para pejuang di tengah peperangan, membunuh atau dibunuh. What It Like to Go to War menjadi bacaan bagi para pembaca yang tertarik pada pengalaman penting yang dialami manusia selama perang berlangsung.

 



Baca juga: 4 Buku Paling Banyak dibaca Tahun 2018


Baca juga: 7 Konflik Perang Terbesar di Dunia

0

Artikel




Pernyataan Prabowo Tentang Indonesia Bubar Tahun 2030

Pernyataan Prabowo dalam pidatonya pada tanggal 18 September 2017 yang mengungkapkan bahwa Indonesia tidak akan ada lagi pada tahun 2030 menuai beragam reaksi dari masyarakat. Tepatnya Beliau mengatakan “Tetapi di Negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030”. Pernyataan tersebut beliau kutip dari sebuah novel fiksi-ilmiah berjudul Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole. Ada yang menganggap bahwa hal tersebut tidak benar. Tapi ada juga yang mempercayainya. Lalu apakah benar Indonesia akan bubar pada tahun tersebut?

Baca juga: 5 Negara Dunia Dengan Budget Militer Terbesar

Sekilas Tentang Novel Ghost Fleet

Novel Ghost Fleet sendiri menceritakan tentang kondisi tatanan dunia saat terjadi perang antara Amerika dan Tiongkok. Setelah negara Indonesia porak poranda karena perang kedua Timor, sebuah bom yang diledakan di Dhahran, Arab Saudi dan memicu kenaikan harga minyak. Tiongkok tetap aman karena menemukan sumber energi baru. Dengan kecanggihan teknologinya, Tiongkok berhasil meretas system computer intel Amerika yang mengakibatkan banyaknya kelumpuhan teknologi di sana. Nama Ghost Fleet sendiri merupakan nama dari sebuah pasukan angkatan laut Amerika yang memakai teknologi rendah.







Bagaimana Sebuah Negara Bisa Runtuh

Di kutip dari laman kompas.com, Prabowo mengatakan bahwa pernyataan tentang Indonesia yang tidak ada lagi pada tahun 2030 merupakan sebuah skenario dari ahli inteligen strategis Amerika. Menurutnya, skenario tersebut adalah sebuah peringatan bagi pemerintah Indonesia agar tidak menganggap remeh masalah seperti ekonomi, sumber daya, sampai lingkungan.

Lalu bagaimana sebuah Negara bisa runtuh? Dikutip dari dw.com, untuk mengukur potensi sebuah Negara runtuh, digunakan Indeks Negara Gagal yang setiap tahun dirilis oleh organisasi nirlaba Fund for Peace. Dua belas indikator, seperti ekonomi, keamanan, tekanan demografi, dan keretakan di kalangan elit, dipakai oleh para peneliti untuk mengukur keruntuhan sebuah negara.

Selebihnya, posisi Indonesia dalam indeks tersebut membaik selama sepuluh tahun terakhir. Posisi Indonesia meroket 23 peringkat selama masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono periode 2006-2007. Ditambah perbaikan sebanyak 13 peringkat lagi pada 2012 dan 2013. Namun selama sepuluh tahun, dari semua indikator, ada tiga yang tidak pernah membaik, yaitu keretakan elit, HAM dan Kepatuhan Hukum, serta Konflik Sosial.

Isu yang sedang hangat di perbincangkan saat itu yaitu melemahnya mata uang sejumlah negara terhadap dolar Amerika. Hal tersebut merupakan imbas dari perang dagang Amerika dengan Tiongkok. Mengutip dari bbc.com, penerapan bea masuk dari pemerintahan Donald Trump terhadap produk Tiongkok senilai US$ 200 Miliar atau setara dengan Rp 4.000 Triliun. Hal serupa juga dilakukan oleh pemerintah Tiongkok dengan menerapkan bea masuk untuk produk-produk Amerika senilai US$50 Miliar. Di kutip dari tempo.co, perang dagang ini mengakibatkan penguatan terhadap dolar Amerika karena para investor yang khawatir terkait sanksi Amerika terhadap Tiongkok cenderung mempertahankan dolar yang mereka miliki. Selain itu juga ada sentimen bank sentral Amerika yang akan menaikan suku bunga.

Indonesia sendiri ikut terkena imbas kenaikan dolar tersebut, namun berhasil bangkit dan kenaikan menjadi juara pertama di antara negara-negara Asia lainnya. Nilai terlemah Rupiah pada waktu itu adalah Rp 15.000,-sedang sekarang Rupiah menguat keangka Rp. 14.000,-. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia makin menguat.


Indonesia Emas 2045

Berbeda dengan pernyataan Prabowo, pemerintah saat ini sedang mencanangkan 2045 Indonesia Emas. Di kutip dari CNN, Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia diperkirakan masuk lima besar ekonomi terkuat pada 2045. Dari Detik.com, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ada empat syarat untuk menuju Indonesia Emas 2045. Hal tersebut yaitu kualitas manusianya, infrastruktur, kualitas kelembagaan, dan kebijakan pemerintah.

Dari sektor ekonomi, Indonesia sudah lebih baik. Namun kita juga tetap harus selalu waspada terhadap perubahan-perubahan yang tidak terduga di masa yang akan datang. Apakah Indonesia masih tetap ada tahun 2030? Semuanya kembali pada diri kita sendiri. Masih ada yang harus diperbaiki di rapor Indonesia yang ada di Indeks Negara Gagal. Jangan sampai skenario di novel Ghost Fleet menjadi kenyataan.

[Oleh: Logika Anbiya]

Baca juga: 7 Konflik Perang Terbesar di Dunia 
Baca juga: 5 Fakta Tiongkok: Salah Satu Negara Raksasa
0

Artikel, baru


perang-dunia-satu


Umat manusia sudah berada di planet Bumi ini beribu-ribu tahun lamanya. Selama itu pula manusia mengalami banyak sekali peristiwa. Banyak sekali sejarah yang telah mengubah umat manusia dan dunianya.

Novel fiksi ilmiah Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole menggambarkan dunia di masa yang akan datang paska perang Tiongkok-Amerika. Dalam buku tersebut, perang telah mengubah sebagian besar keadaan di dunia. Buku yang ramai diperbincangkan tersebut juga menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak ada.

Dalam sejarah umat manusia, sudah banyak sekali konflik perang besar seperti yang terjadi di dalam buku Ghost Fleet tersebut. Berikut adalah 7 perang besar yang pernah terjadi di dunia.


Baca juga:
Apakah Indonesia Masih Ada Pada Tahun 2030?
Apa Itu Cyber War? Kenali dan Waspadai


1. Perang 100 Tahun




Seperti namanya, perang antara kerajaan Inggris dan Perancis ini berlangsung selama, kurang lebih, seratus tahun, dari tahun 1337 sampai 1453. Masing-masing memboyong sekutu yang tidak sedikit. Jika diselidiki lebih jauh, konflik ini bisa dilihat dari asal-usul . Karena hal tersebut pula lah, bangsawan Inggris memiliki gelar dan tanah di daerah Perancis yang membuat mereka menjadi vassal atau bawahan Raja Perancis waktu itu.


Perang ini termasuk salah satu konflik paling penting di Eropa. Karena pada saat perang ini berakhir, zaman kesatria digantikan dengan persenjataan dan taktik baru. Selain itu, perang ini juga memberikan dorongan tentang gagasan nasionalisme Perancis dan Inggris.

2. Perang Salib


perang-salib

Merupakan serangkaian perang yang terjadi di Kawasan Timur Laut Tengah untuk memperebutkan tanah suci Yerusalem. Namun istilah ini sebenarnya dipakai sebagai istilah perang-perang yang direstui oleh gereja.

Dalam khotbahnya, Paus Urban II menyerukan Perang Salib pertama untuk membantu militer kekaisaran Bizantium yang dipimpin oleh Aleksios I untuk berperang menghadapi orang Turki yang sudah menduduki Anatolia. Alasan Sri Paus menyerukan perang masih menjadi perbincangan banyak ahli. Menurut beberapa sumber, tujuan Sri Paus adalah menjamin keleluasaan dan keamanan bagi para peziarah. Namun banyak juga pakar yang tidak setuju dengan hal tersebut. Menurut mereka, bisa saja motif Sri Paus adalah ingin menyatukan kembali belahan Timur dan Barat dunia Kristen yang terpisah dan menjadikan dirinya sebagai kepala semua gereja di wilayah timur Laut Tengah.

Bagi para sejarawan modern, tujuan mulia yang semula didengungkan tidak lagi diikuti para tentara salib. Banyak sekali aksi penjarahan yang terjadi seperti yang terjadi pada kota Konstantinopel di perang salib ke-4. Namun, perang salib juga mempunyai peranan yang penting bagi dunia barat, salah satunya adalah dibuka kembali perairan Laut Tengah bagi kegiatan ekonomi dan pelayaran. Dari perang ini juga muncul kisah-kisah heroik yang dikenang dan menjadi panutan sampai sekarang seperti Salahudi Al Ayyubi dan Richard “The Lion Heart”.


3. Perang Napoleon




Merupakan serangkaian perang ketika Napoleon Bonaparte berkuasa di Perancis pada tahun 1799 hingga 1815. Peperangan yang dibawa oleh Napoleon ini tercatat sebagai salah satu perang terbesar sebelum perang dunia pertama dan memberikan dampak terjadinya perubahan besar pada sistem militer di Eropa terutama pada artileri dan organisasi militer.

Perang ini dimulai saat terbentuknya koalisi negara-negara di Eropa yang prihatin atas jatuhnya Raja Louis XVI akibat dari revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon. Selain itu, meningkatnya kekuatan Perancis juga menjadi kekhawatiran negara-negara lain.

Perang ini berakhir saat Pasukan Napoleon kalah di pertempuran Waterloo tahun 1815.


4. Perang Dunia I

perang-dunia-ke-satu

Perang yang berlangsung dari 28 Juli 1914 sampai 11 November 1918 ini tercatat sebagai salah satu peperangan yang paling berdarah dalam sejarah umat manusia. Perang ini melibatkan 2 koalisi, yaitu Entente Tiga (Perancis, Rusia, dan Inggris) dan Alians Tiga (Jerman, Austria-Hongaria, dan Itali).

Pemicu perang ini adalah terbunuhnya Pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hongaria di Sarajevo oleh Gravilo Princip, seorang Nasionalis dari Yugoslavia. Hal tersebut dijadikan alasan untuk menginvasi Serbia oleh Austria-Hongaria pada 28 Juli. Rusia merespon hal tersebut dan terjadi mobilisasi pasukan pada 30 Juli, dan pada 31 Juli, Jerman dan Austria-Hongaria juga melakukan hal yang sama. Pada awalnya Jerman meminta agar Rusia menghentikan mobilisasi tersebut, namun tidak mendapatkan respon, sehingga akhirnya Jerman mendeklarasikan perang pada tanggal 1 Agustus untuk mendukung Austria-Hongaria. Setelah itu, banyak negara lain yang ikut berperang.

Perang Dunia I ini menjadi sebuah titik balik dunia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Kekaisaran Rusia, kekaisaran Jerman, kekaisaran Otoman, dan kekaisaran Austria-Hongaria menghilang sebagai akibat dari peperangan ini. Cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa juga dibentuk demi menghindari peristiwa serupa, namun gagal mencapai tujuannya.


5. Perang Dunia II


perang-dunia-ke-dua

Perang besar ini melibatkan bukan hanya negara-negara besar sekitar Eropa tapi bahkan dunia masuk ke dalam 2 blok besar yaitu blok sekutu dan poros. Semua negara mengerahkan segenap kemampuannya dalam bidang ekonomi, industri, dan ilmiah untuk kepentingan perang ini.

Peperangan yang berlangung dari tahun 1939 sampai 1945 ini ditandai dengan invasi Jerman, yang saat itu dikuasai partai Nazi. Jerman menginvasi Polandia dan mendeklarasikan perang pada Perancis dan Inggris. Jerman dan Italia membentuk aliansi Poros dan mulai menguasai negara-negara lain di Eropa. Di sisi lain, Jepang yang berambisi untuk menguasai Asia Timur dan sudah mulai berperang dengan Tiongkok, bergabung juga dengan aliansi Poros.

Perang ini berakhir setelah serangkaian kekalahan pasukan Poros di berbagai pertempuran, seperti kekalahan Jepang di Afrika Utara dan Stalingard, lalu kekalahan Jerman di Eropa Timur, dan invasi sekutu ke Italia. Peristiwa bunuh dirinya Adolf Hitler dan penyerahan tanpa syarat dari Jerman juga menandai akhir dari perang besar ini.


Baca juga:
5 Buku Terpopuler tentang Perang
5 Novel Terjemahan yang Akan Mengguncang 2019


6. Perang Dingin



Kekalahan Jerman di Perang Dunia II menyisakan Amerika dan Uni Soviet sebagai dua negara adidaya. Hal tersebut membuat dunia terbagi menjadi Blok Barat, Amerika beserta sekutunya yang membentuk NATO, dan Blok Timur, Uni Soviet bersama dengan negara-negara lain membentuk Pakta Warsawa. Sedangkan negara-negara yang tidak mengikuti kubu barat atau timur memulai sebuah gerakan yang dinamakan Gerakan Non-Blok (Non-Alignment Movement).

Konflik antara Amerika dan Uni Soviet ini dinamakan Perang Dingin karena tidak ada bentrokan militer yang terjadi, meskipun keduanya memiliki senjata nuklir. Hal tersebut juga memunculkan ketegangan-ketegangan yang akhirnya memicu konflik seperti Perang Korea (1950-1953), Krisis Rudal Kuba (1962), Perang Vietnam (1959-1975). Karena tidak terlibat aksi militer secara langsung, kedua belah pihak bersaing melalui penyebaran ideologi dan koalisi militer.


7. Konflik Israel – Palestina




Konflik ini sendiri sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dimulai dari kongres Zionis pertama yang diprakarsai oleh Theodore Herlz tahun 1897 di Basel, Swis. Dia menyebutkan bahwa Yahudi bukan hanya sebatas agama, namun merupakan sebuah bangsa yang menginginkan tanah air. Hingga akhirnya pemerintah kerajaan Inggris mengabulkan tanah Palestina untuk bangsa Yahudi dan menamainya Israel.

Selain Palestina dan Israel, banyak negara yang terlibat dalam konflik ini, seperti Rusia, Amerika, Inggris, dan negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab.

Bicara tentang konflik yang satu ini memang tidak akan ada habisnya. Selalu ada sudut pandang berbeda dari setiap orang. Jalan perdamaian selalu diupayakan. Namun karena satu dan lain hal,  upaya tersebut tidak bisa dilaksanakan. Sampai sekarang saja masih terjadi gesekan-gesekan antara tentara Israel dan rakyat Palestina.[]

Penulis: Logika Anbiya


0

X