fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
  1. Ringkas-mendalam: membantu memahami isi Al-Quran kapan dan di mana saja.

Formatnya handy dan mudah dibawa: membantu kita memahami isi Al-Quran kapan dan di mana saja. The Message of the Quran hanya 3 jilid. Bandingkan dengan tafsir-tafsir lainnya yang bisa sampai belasan jilid setebal beribu-ribu halaman. Namun, dalam keringkasan formatnya, tafsir ini tetaplah mendalam.

 
  1. Praktis: bisa dipakai mengaji dan mengkaji pada waktu yang sama (teks Al-Quran, terjemahan, dan tafsirnya disajikan dalam satu halaman).

Tafsir The Message of the Quran ditulis dalam bentuk catatan-catatan kaki di bawah setiap halaman. Karena itu, teks Al-Quran, terjemahan, dan tafsirnya selalu tersaji dalam satu halaman yang sama. Sebelum ini, orang harus memilih antara mengaji—membaca Al-Quran biasa (untuk mendapatkan berkah dan pahala)—atau mengkaji tafsirnya.

Jika mengaji Al-Quran, biasanya orang menggunakan mushhaf biasa, paling banter yang dilengkapi terjemahan. Adapun mengkaji Al-Quran memerlukan buku-buku tafsir yang panjang-panjang, sehingga kegiatan mengajinya akan berjalan sangat lambat, kalau tak malah mustahil sama sekali akibat kita harus menghabiskan banyak waktu untuk membaca tafsir panjang ayat per ayat. Dengan The Message of the Quran, persoalan ini terpecahkan.
 
  1. Ditulis berdasarkan riset puluhan tahun atas berbagai tafsir tradisional, hadis, sejarah Rasul, dan penelitian bahasa Arab di kalangan suku Badui Arabia, yang dipercayai masih memelihara tradisi berbahasa Arab yang paling dekat dengan bahasa Arab yang dipakai pada zaman Rasulullah Saw.

Seperti diakui Asad sendiri, The Message of the Quran didasarkan atas kajian sepanjang hayat saya dan sepanjang tahun-tahun yang saya habiskan di Jazirah Arab”. Sang mufasir tinggal selama 5 tahun di Madinah, mempelajari ilmu-ilmu Islam dan hadis di Masjid Nabawi.

Dari hasil studi-hadisnya itu, lahirlah karya terjemahan dan komentar yang memukau atas Shahîh Al-Bukhârî dalam bahasa Inggris pada 1938, puluhan tahun sebelum Asad menerjemahkan dan menafsirkan Al-Quran.

Selama bertahun-tahun tinggal di Arabia itu, Asad menyempatkan berkelana bersama suku Badui di Semenanjung Arabia, khususnya suku-suku yang tinggal di wilayah Arabia Tengah dan Timur, yang dipercayai masih memelihara tradisi berbahasa Arab yang paling dekat dengan bahasa Arab yang dipakai pada zaman Rasulullah Saw.—yakni, ketika Al-Quran diturunkan dan dipahami pada awalnya.

Ini memungkinkannya melakukan penelitian bahasa Arab secara intensif, sekaligus menghayati “rasa” naluriah dan ruh-bahasa Arab, kemampuan yang mustahil diperoleh jika seseorang hanya mempelajari bahasa Arab secara akademis atau dari buku-buku saja.

Selain itu, Muhammad Asad—yang sebelum masuk Islam bernama asli Leopold Weiss—terlahir dari keluarga rabi Yahudi dan sejak kecil telah mempelajari kitab-kitab Yahudi, Mishnah, Gemara, Targum, dan lain-lain dalam bahasa Ibrani: bahasa Semit yang serumpun dengan bahasa Arab. Pertemuan, pergaulan, dan persahabatan Asad yang luas dengan berbagai ulama dan tokoh Islam terkemuka pada zamannya semakin menambah bobot pemikiran dan keulamaannya.

 
  1. Merujuk kitab-kitab tafsir klasik maupun modern yang sudah diakui: Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Zamakhsyarî, Al-Râzî, Al-Baghawî, Al-Baidhâwî, Muhammad ‘Abduh, dll.

Terjemahan dan tafsir The Message of the Quran banyak merujuk pada tafsir-tafsir yang sudah diakui, seperti tafsir tradisional Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Zamakhsyarî, Al-Râzî, Al-Baghawî, Al-Baidhâwî, dan sebagainya; maupun, yang lebih sering, tafsir modern seperti Al-Manâr-nya ‘Abduh dan Rasyîd Ridhâ.
 
  1. Menjadikan Al-Quran sebagai kumpulan Kalam Allah “yang hidup” dan masuk akal sehingga relevan dengan konteks kekinian.

The Message of the Quran menjadikan Al-Quran sebagai kumpulan Kalam Allah “yang hidup”. Ayat-ayat Al-Quran di tangan Asad tidak tinggal sebagai suatu kitab kuno. Uraiannya tampak sekali diupayakan untuk beresonansi dengan situasi dan kondisi kontemporer serta kebutuhan orang-orang yang hidup di zaman ini.

Ketika menafsirkan Surah Al-Hadîd [57]: 25, dan Kami turunkan [kepada kalian kemampuan untuk mempergunakan] besi, yang di dalamnya terdapat kekuatan yang dahsyat serta [sumber] manfaat bagi manusia, Asad juga mengaitkannya dengan fenomena modern manusia: kecanggihan teknologi, eksploitasi alam, dan mekanisasi yang membuat hidup manusia semakin terpusat pada mesin.

Ini berpotensi menjauhkan manusia dari alam, sehingga mengalami alienasi (keterasingan dari dirinya sendiri dan dari alam). Ini semua berdampak pada bahagia-sengsaranya manusia, sehingga agama pun hadir membimbing manusia untuk mengingatkan: besi dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang menguntungkan maupun merugikan.

Mengakhiri tafsirnya atas ayat tersebut, Asad menyatakan, “Al-Quran mengingatkan terhadap bahaya yang timbul dari tindakan manusia dalam membiarkan kecerdikannya dalam bidang teknologi berkembang secara liar sehingga menutupi kesadaran spiritualnya dan, pada akhirnya, menghancurkan segala kemungkinan untuk meraih kebahagiaan individu dan sosial” (QS Al-Hadîd [57], catatan no. 42).
 
  1. Lebih memungkinkan pemahaman atas ajaran Islam dan pembangunan peradaban Islam yang progresif dan terbuka, tetapi pada saat yang sama tetap autentik.

Dalam prakatanya, Asad menulis sebagai berikut: [Awal kutipan] “Supaya benar-benar dapat dipahami dalam bahasa lain, pesan Al-Quran harus diterjemahkan sedemikian rupa sehingga dapat mereproduksi, sedekat mungkin, pengertian Al-Quran sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang yang belum terbebani oleh gambaran-gambaran konsep yang muncul dalam perkembangan Islam yang lebih kemudian: dan hal itulah yang menjadi prinsip paling utama yang menuntun saya dalam mengerjakan karya ini. … sebagian ungkapan Al-Quran—khususnya yang berhubungan dengan konsep-konsep yang abstrak—telah mengalami perubahan dalam pikiran masyarakat awam secara hampir tidak terasa seiring dengan berjalannya waktu dan, karena itu, ungkapan-ungkapan tersebut seharusnya tidak diterjemahkan menurut pengertian yang digunakan pada masa sesudah zaman klasik … sehingga melupakan maksud asalnya serta makna yang dipahami—dan yang dimaksudkan agar dipahami—oleh orang-orang yang pertama kali mendengarnya dari mulut Nabi sendiri.

Misalnya, ketika orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi mendengar kata islâm dan muslim, mereka memahami kedua kata itu masing-masing sebagai “sikap berserah diri manusia kepada Allah” dan “orang yang berserah diri kepada Allah”, tanpa membatasi kedua istilah itu pada suatu komunitas atau golongan agama tertentu—misalnya, di dalam Surah Âlu ‘Imrân [3]: 67, yang di dalamnya Ibrahim dikatakan sebagai “orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah” (kâna musliman), atau di dalam Surah Âlu ‘Imrân [3]: 52, yang di dalamnya murid-murid Isa mengatakan, ‘saksikanlah bahwa kami telah berserah diri kepada-Nya (bi-annâ muslimûn)’.

Dalam bahasa Arab, makna asal ini tetap tidak berubah dan tidak seorang pun ulama Arab yang pernah melupakan konotasi yang luas dari istilah-istilah tersebut. Namun, tidak demikian halnya dengan orang-orang non-Arab pada zaman kita, baik yang Mukmin maupun yang bukan: bagi mereka, istilah islâm dan muslim biasanya mengandung signifikansi yang terbatas dan memiliki lingkup historis tertentu, dan hanya berlaku bagi para pengikut Nabi Muhammad Saw.”

[Akhir kutipan] Prinsip yang sama juga dipakai Asad ketika menerjemahkan istilah kâfir, kitâb, dan ahl al-kitâb: alih-alih menerjemahkannya seperti lazimnya terjemahan yang kita temui: “unbeliever” [orang yang tidak percaya], “book” [buku], dan “people of the book” [orang-orang buku], Asad menerjemahkannya masing-masing sebagai berikut: “those who deny the truth” [orang yang mengingkari kebenaran], “divine writ” [ketetapan atau kitab Ilahi], dan “followers of earlier revelation” [para penganut wahyu terdahulu].
 
  1. Menyediakan rujuk silang antarayat Al-Quran yang satu tema (sesuai metode tafsîr Al-Qur’ân bi Al-Qur’ân: ayat Al-Quran ditafsirkan dengan ayat Al-Quran lainnya).

The Message of the Quran berisi rujukan silang antarayat Al-Quran yang memiliki kesamaan atau kaitan tema. Dan rujukan silang antarayat ini melimpah ruah banyaknya dalam karya Asad ini. Ini sesuai metode tafsîr Al-Qur’ân bi Al-Qur’ân yang dia tempuh: ayat Al-Quran ditafsirkan dengan ayat Al-Quran lainnya.

Seperti dikatakan Asad: [Awal kutipan] “Al-Quran tidak boleh dilihat sebagai suatu kompilasi dari perintah-perintah dan peringatan-peringatan yang terpisah, tetapi harus dipahami sebagai satu keseluruhan yang terpadu: yaitu, sebagai suatu penjelasan mengenai sebuah doktrin etika yang di dalamnya setiap ayat dan kalimat mempunyai kaitan yang erat dengan ayat dan kalimat yang lain, yang seluruhnya saling menjelaskan dan menguatkan.

Karena itu, makna Al-Quran yang sebenarnya hanya dapat dipahami jika kita menghubungkan setiap pernyataannya dengan apa yang telah dinyatakan di tempat lain di dalam halaman-halamannya, dan mencoba menjelaskan gagasan-gagasannya dengan sering melakukan rujukan silang, sambil senantiasa menundukkan pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus kepada pernyataan-pernyataan yang umum, dan pernyataan-pernyataan yang bersifat cabang kepada pernyataan-pernyataan yang pokok.

Manakala aturan ini benar-benar ditaati, kita akan menyadari bahwa Al-Quran—dalam kata-kata Muhammad ‘Abduh—adalah ‘tafsir terbaik bagi dirinya sendiri’.” (Muhammad Asad, dalam Prakata The Message of the Quran) [Akhir kutipan] Contohnya, tafsir Asad untuk ayat perang dalam Surah Al-Baqarah [2]: 216 ini: PERANG diwajibkan atas kalian, meskipun kalian membencinya; akan tetapi, boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia buruk bagi kalian: dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.201

Ayat di atas dijelaskan Asad dalam tafsirnya sebagai berikut: [Awal kutipan] “Karena ayat ini berbicara tentang peperangan, ia harus dibaca dalam kaitannya dengan Surah Al-Baqarah [2]: 190-193 dan Surah Al-Hajj [22]: 39: namun, selain itu, ayat ini juga mengungkapkan kebenaran umum yang dapat diterapkan pada banyak situasi.”

(QS Al-Baqarah [2], catatan no. 201) [Akhir kutipan] Lalu, ketika kita menengok tafsir Asad atas Surah Al-Baqarah [2]: 190-193, selain menemukan tafsirnya tentang ayat perang, kita pun mendapati rujukan silang lebih lanjut ke Surah Al-Mumtahanah [60]: 8, dan juga Surah Al-Nisâ’ [4]: 91. Konteks turunnya ayat (asbâb al-nuzul) pun diulas, dilengkapi dengan uraian mana ayat yang turun lebih awal, mana yang turun lebih kemudian.

Dengan demikian, ayat-ayat Al-Quran dipahami dalam satu kepaduan, dan tafsir antarayat dan antarsurah menjadi amat selaras dan saling memperkuat, sehingga pemahaman pembaca terhadap suatu tema pun akan menjadi lebih luas, komprehensif, dan utuh.
 
  1. Dilengkapi dengan Indeks Istilah dan Indeks Nama yang memudahkan pencarian kata dan topik tertentu.

Ini memudahkan pembaca mencari makna kata, konsep, atau tema tertentu dalam Al-Quran, beserta rujukan nomor surah dan ayatnya, serta tafsirnya, dengan cepat. Entri kata/konsep tersedia dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arabnya. Indeks semacam ini jarang ditemui dalam tafsir-tafsir Al-Quran lainnya yang berbahasa Indonesia.
 
  1. Sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa (Swedia, Turki, Jerman, dan sekarang bahasa Indonesia) dan telah membantu banyak orang di Barat maupun Timur untuk memahami ajaran Islam dengan lebih baik.


  ⇐ Kembali ke halaman utama
0

X