fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Kolom Editor, Ruang Redaksi

Ruang Redaksi Big Mac

[Oleh: Iwan Yuswandi]


Dimanapun saya terperangkap atau menyeburkan diri dalam sebuah lingkungan, saya tetaplah seorang seniman yang tidak menyukai alat ukur. Mengapa tiba-tiba saya menyebut “alat ukur”, ya memang minggu-minggu ini kami di Pelangi Mizan sebagai proyek percontohan, sedang sosialisasi sistem QPI (Quality and Productivity Improvement).

Kelanjutan dari program besar perusahaan Mizan untuk membuat sebuah sistem kinerja karyawan yang terukur dan akurat. Sistem ini nantinya akan menjadi panduan penilaian setiap karyawan dari level bawah sampai atas. Saat ini pula posisi pekerjaan saya ada dalam ranah yang sulit diukur karena pekerjaan kreatif sangat bersifat kualitatif.

Sementara industri mau tidak mau menuntut kuantitatif. Tapi hari kemarin saya beruntung menemukan buku luar biasa, tergeletak di meja kerja teman saya yang baik hati, Pak Barhen. Kalimat pertama buku itu membuat saya tersengat dan mohon ijin untuk meminjam buku itu ke rumah.

Ini buku yang membuat saya terhipnotis, tak sempat ganti baju dulu, hanya diselingi makan. Pertandingan timnas U-18 dibiarkan begitu saja walaupun sesekali saya melirik skor, dan sampai menit akhir indonesia menang telak 9-0 atas Filipina. Buku yang berjudul Big Magic ditulis oleh Elizabeth Gilbert, terbitan Kaifa.

Buku ini berkisah tentang bagaimana masa lalu Gilbert yang dipenuhi rasa takut sepanjang hidupnya. Rasa takut untuk melakukan sesuatu. Masa lalunya menjadi sangat membosankan menjadi anak yang serba takut. Namun dia beruntung karena orangtuanya bersifat terbalik dari anaknya.

Kedua orangtuanya terutama ibunya selalu meyakinkan Gilbert adalah anak yang berani. Sampai pada satu titik menjelang remaja, ia bisa menaklukan rasa takutnya menjadi sosok penting dalam perburuan kehidupan kreatifnya hingga menjadi seorang penulis terkenal.




Gilbert sangat piawai mengemas pengalaman kreatifnya, baik pengalaman sendiri maupun kisah-kisah orang lain yang inspiratif. Saya bisa mengecap tiga rasa dalam penyajian buku ini, imajinatif, kreatif, dan spiritual. Misalnya saat ia tidak mempercayai para ahli bahwa kreativitas hanyalah proses berpikir semata. Ia mempercayai bahwa gagasan itu ada diluar diri kita dan memenuhi alam semesta. Ada tapi tidak berwujud. Ini sangat spiritual.

Gagasan akan mendekat pada seseorang yang mau mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tapi gagasan juga bisa meninggalkan kita ketika kita mengabaikannya. Ini menurut saya perumpamaan yang imajinatif dan kreatif. Gilbert menguatkan konsep itu dengan menceritakan kisah penulisan novelnya yang terinspirasi dari proyek ambisius pembangunan jalan yang melintasi hutan amazon di Brazil. Tapi proyek novel itu tidak tuntas, segala usaha risetnya tentang Brazil tertunda begitu saja karena masalah pribadinya hingga dua tahun.

Pada episode berikutnya Gilbert kemudian bertemu dengan seseorang, sama-sama sebagai penulis dan kemudian saling mengagumi. Mereka lantas menjadi teman akrab dan sering saling berkirim surat. Di salah satu obrolannya Gilbert bertanya, proyek apa yang sedang dibuat temannya itu. Temannya bilang bahwa dia sedang menulis novel yang berlatar belakang Brazil.

Gilbert penasaran karena dia juga punya proyek novel berlatar belakang sama. Ternyata ceritanya persis sama, tokoh utamanya sama, konflik ceritanya sama dan latar belakangnya sudah pasti sama. Inilah yang disebut BIG MAGIC, keajaiban besar. Gilbert makin percaya bahwa gagasan itu harus dipelihara. Gilbert menceritakan betapa sulitnya dia bangkit untuk meneruskan proyek yang sudah tertunda dua tahun lamanya.

Gagasan itu pergi meninggalkannya, mencari manusia lain yang mau merealisasikannya dengan sungguh-sungguh. Dan gagasan itu lebih mempercayai temannya yang baru ia kenal. Padahal Gilbert tidak pernah menceritakan proyek novel itu. Pesan Gilbert adalah kesungguhan memegang perjanjian kontrak dengan gagasan.

Itulah kehidupan kreatif, tidak ada alat ukur, sebab kreativitas tidak perlu izin apapun kecuali komitmen kita terhadap gagasan itu. Ini bukan mengenai gagasan berkarya seni, tapi sikap mental kita dalam mewujudkan gagasan baru yang menjadi kodrat manusia, yang menjadikan kita pemenang dari seleksi teori evolusi. Tapi menemukan kehidupan kreatif selalu dihantui rasa takut untuk mewujudkannya.

Bagi seniman, salah satu rasa takut itu adalah alat ukur, sebab seniman selalu merencanakan hidupnya seperti perjudian. Gilbert mengingatkan, jadikan rasa takut itu sebagai teman agar kita hati-hati. Biarkan dia mengikuti kemanapun kita pergi untuk mewujudkan gagasan, tapi jangan suruh dia membuat keputusan. Wallahua’lam



Iwan Yuswandi

(Desainer / Konseptor Produk Direct Selling Pelangi Mizan)
0

Artikel, Kolom Editor

[Oleh: Zahra Haifa]

Pada kesempatan kali ini saya akan sharing mengenai hal-hal yang saya pelajari dalam konferensi Digital Bussiness di Menkominfo, pada 23 Mei 2017 kemarin. Acara ini diselenggarakan Asosiasi Pebisnis Online Indonesia yang di-support oleh Menkominfo, menghadirkan beberapa speaker handal di bidangnya, dan diikuti oleh banyak pengusaha online, pegiat UMKM, para digital marketer, dan umum).

E-commerce di Indonesia tumbuh begitu pesat seiring lumrahnya penggunaan gadget di setiap generasi [Electronic commerce atau e-commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet, televisi, atau jaringan komputer lainnya.] Berdasarkan data Perbankan, total transaksi online di Indonesia ditaksir sudah mencapai Rp. 359 triliun di tahun 2016.

Satu-satunya cara agar bisnis kita dapat bertahan di era digital adalah dengan masuk ke bisnis online., dan bagaimana dunia penerbitan memainkan peran dalam pasar e-commerce ini? Menurut situs Perpustakaan Nasional Indonesia, dunia penerbitan merupakan industri informasi paling tua di dunia, bahkan seumur dengan peradaban manusia.

Perubahan zaman membuat industri penerbitan semakin variatif dalam menerbitkan terbitan dalam berbagai macam bentuk, seperti pada saat ini perkembangan teknologi informasi melahirkan varian baru dalam dunia terbitan yaitu digital publishing atau elektronik publishing. Mungkin, banyak orang bertanya-tanya apakah pasar buku fisik akan redup dan menghilang seiring peningkatan tren apps dan transformasi digital, dimana semua kebutuhan kita bisa diakses melalui ujung jari saja? Jawabannya tidak.

Faktanya, dunia penerbitan justru meraih tempat nomor lima terbesar peraih pendapatan omset tertinggi dari seluruh sektor e-commerce (dari total 16 sub-sektor). Bahkan mengalahkan sektor industri iklan dan perfilman. Pasar tidak menghilang, pasar tetap ada hanya sudah bertransformasi dari cara offline ke online. Dunia penerbitan dituntut untuk terus memproduksi dan menawarkan produk intelektualnya secara kreatif.

Dalam dunia penerbitan, dengan memanfaatkan layanan digital (terutama dalam inovasi produk dan strategi digital marketing), kita dapat berinteraksi langsung dengan para pembaca, kita bisa mendapat masukan dan mengerti apa yang target market atau pasar inginkan. Beberapa benefit jika kita berhasil mengefektifkan penggunaan tools digital ini, yakni marketing menjadi efektif dan efisien, sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan (dan juga meningkatkan omset kita tentunya.)

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa proses menuju transformasi digital di Indonesia masih cenderung lambat. Lima hambatan transformasi digital terbesar menurut para pelaku bisnis adalah: (berurutan dari hambatan terbesar hingga terkecil)

  1. Masalah keamanan dan serangan siber
  2. Kurangnya tenaga kerja yang memiliki keahlian digital yang mumpuni
  3. Tidak adanya mitra teknologi yang tepat
  4. Tidak pastinya lingkungan ekonomi, selera pasar yang dinamis
  5. Kurangnya kebijakan pemerintah dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang mendukung

Pasar digital sangat menuntut adanya proses kreatif dalam perumusan produk. Hal ini berlaku bagi semua sektor bisnis. Dalam halaman berita di liputan6.com yang saya baca, Hermawan Kertajaya (Founder MarkPlus, Inc) mengatakan bahwa kunci memenangkan persaingan adalah dengan terus-menerus memunculkan atau menciptakan perbedaan (diferensiasi).

Menurut beliau, kejenuhan akan produk tertentu menggambarkan terjadinya kelebihan pasokan (over supply). Perbedaan inilah yang dinilai menjadi kunci persaingan di era digital.

Berdasarkan demografi, Indonesia memiliki kelas menengah yang cukup besar, artinya masyarakat jenis tersebut memiliki kekuatan daya beli. Tapi, itu saja tak cukup. Menurut pak Hermawan, para pebisnis pun perlu memperhatikan psikografi atau kepribadian konsumen.

Kesimpulannya yang saya dapat adalah adalah, bagaimana strategi para pebisnis untuk masuk dan memanfaatkan tools digital secara optimal sangat memengaruhi kesuksesan dan keberlangsungan bisnisnya di masa mendatang. Jadi, apakah kita sudah siap untuk Go Digital?




Zahra Haifa
Editor

Redaksi Dewasa
[Qanita | Kaifa | Pastel Books]

Facebook: fb.com/zahrabiogen

Twitter : @zahrabiogen
0

Artikel, e-Mizan, Kolom Editor

Snackbook Anti Mainstream | Featured
Membaca menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat digital. Di mana pun, dan kapan pun, kebutuhan itu datang menagih janji suatu rentetan rencana baca yang sudah menumpuk sejak lama. Karena membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan waktu dan mood tertentu, maka ada baiknya membaca merupakan kegiatan yang harus direncanakan.

Waktu dan mood juga ditentukan oleh tempat baca yang nyaman dan bacaan seperti apa yang akan kalian baca. Karena tidak mungkin kalian membaca buku romance di mal yang sedang diskon besar-besaran di akhir tahun, karena kamu akan terganggu dengan Ibu-Ibu pemburu diskon, atau malah ikut bersaing dengan si Ibu pemburu diskon untuk dapet tas cantik produk ‘Matahari’.

Cek artikel satu ini, pilih eBook atau Snackbook


Dan, jelas tidak pas jika kamu baca Snackbook horor di saat acara ulang tahun sweet seventeen gebetan kamu. Karena kamu bakal kehabisan momen siapa yang dapat suapan pertama kue ulang tahun karena keasyikan baca. Dari sekian banyak bacaan baik itu horor, romance, traveling, wacana, dan buku lainnya.

Kamu pasti punya satu cerita favorit, kan? Cerita yang pasti butuh banget suasana pas untuk membangun mood kamu untuk membacanya. Nah, saya mau bagi tips membaca Snackbook horor anti mainstream, let’s check this out, ya!



1. Bacalah Snackbook Horor di Malam Minggu (Level 1)


Pacaran Malam Minggu | Image
Kenapa harus malam minggu? Karena kalau jalan bareng gebetan udah mainstream. Selain bisa menjaga kamu dari maksiat, membaca SnackBook horor di malam minggu bisa meredam ketakutan dan bikin kamu berani buat baca, kenapa?

Karena setan-setan lagi tugas mendampingi pasangan-pasangan yang lagi berduaan. Ini dapat peringkat level 1 karena kemungkinan ketakutannya sangat rendah.



2. Bacalah Snackbook Horor di Alun-Alun Kota Pada Jam 23.32 Saat Tanggal 31 Desember (Level 2)



Nah, ini hanya bisa kalian lakukan setahun satu kali, lo. Jadi jangan sampai kalian melewatkannya. Ini seru karena ini adalah waktu yang langka. Kalian membaca di alun-alun kota kalian masing-masing.

Sensasinya ialah kalian baca ditemani orang-orang yang bahkan kalian tidak kenal, perkirakan waktu ending ceritanya, usahakan tepat pada pukul 00.00, agar ketika kalian ketakutan, ketakutan akan berkurang karena suara petasan tahun baru.

Tapi pastikan yang ada di alun-alun, semua menginjak tanah, alih-alih ditemani, kalian malah masuk ke dunia lain. Ini dapat level 2 karena kemungkinan ketakutannya rendah, tapi bisa menjadi level 5 ketika kamu lupa memastikan semua manusia di tempat kamu baca ternyata tidak menapakan kakinya ke tanah. hiiii …

Baca juga, Creepy Pastel Sajian Ringan Yang Akan Membuat Bulu Kudukmu Merinding



3. Bacalah Snackbook Horor di Bioskop Sepi (Level 3)

Bioskop Sepi | Image
Meski membutuhkan biaya berkisar Rp20,000 (weekday) s.d. Rp40,000 (weekend), tapi kamu bisa dapetin sensasinya.

Pertama, pilihlah mal atau tempat nonton yang sudah memiliki track record cerita mistis. Kedua, pilihlah film yang sudah lewat jauh tanggal premier-nya alias film yang sudah sedikit peminatnya, kalau bisa film horor. Jangan horor Indonesia, biasanya ada konten dewasa yang bisa bikin kalian terpalingkan. Ketiga, pilih bangku paling atas-paling ujung, yang jauh dari penonton lainnya.

Nah, di sini kamu dapat bonus ilustrasi musik dan sound effect dari film yang kamu dengerin (bukan tonton). Ini dapat level 3 karena kemungkinan ketakutannya sedang.



4. Bacalah Snackbook Horor di Kuburan Jam 17.45. (Level 4)


Kuburan | Image
Carilah kuburan dekat rumahmu, jangan kuburan yang jauh, nanti kudu keluar ongkos. Usahakan kalian berangkat dan pulangnya jalan kaki biar makin kerasa pas pulangnya ada yang mendampingimu, mungkin dengan mesra memegang tanganmu atau merangkul bahumu. Mulai membaca pas jam 17.45 di saat langit sedang biru tua menuju gelap.

Usahakan membaca dengan serius, jangan hiraukan suara-suara yang muncul, fokus dengan bacaan Snackbook horor kalian. Ini dapat level 4 karena kemungkinan ketakutannya tinggi.

Tips: tidak perlu bawa kemenyan dan bunga-bungaan apalagi dengan meminta wangsit ke kuburan.

No Way! DOSA TAHU!



5. Bacalah Snackbook Horor di Rumah Yang Kosong Minimal 10 Tahun (Level 5)

Rumah Kosong 2 | Image
Ini juaranya. Carilah rumah kosong yang tidak dihuni selama lebih dari 10 tahun. Usahakan buat izin ke RT-RW setempat biar kamu aman dari sergapan hansip. Pergunakan waktu sekitar pukul 10 malam ke atas. Dan tentunya di kamis malam.

Bawa serta kamera, mikrofon, pasang di sekelilingmu. Hubungi Trans7 biar diliput dan membawa serta ‘si Gondrong’ Harry Pantja. Siapa tahu acara itu tayang lagi. Ya kan …. Ini dapat level 5 karena kemungkinan ketakutannya sangat tinggi.



Sekian tips anti mainstream dari saya, tunggu tips-tips anti mainstream lainnya. Bye Bye!  

Iwan Suta merupakan editor keren bersuara merdu berwajah sendu, yang anti mainstream. Buku-buku Fantasi, Qanita, dan Kronik adalah santapannya sehari -hari. Snackbook adalah kudapannya di kala senggang.

Kamu bisa follow akun IG nya di @sutadharmawanarsa dan SKSD dengannya di Facebook via tautan ini.




(Penyunting Nizar Tegar)
0

Artikel, Kolom Editor

Mythical Creatures Article | Featured Image
Suka baca novel-novel fantasi? Pasti teman-teman sudah familier dong dengan makhluk-makhluk magis yang sering wara-wiri di berbagai novel fantasi. Yang paling populer, sebut saja naga, vampir, dan manusia serigala. Sekilas mereka tampak menyeramkan dan berbahaya ya? Jangankan bisa bersahabat, baru bertemu saja mungkin teman-teman sudah ambil langkah seribu.

Tapi jangan keliru… makhluk-makhluk magis lainnya ada banyak sekali lo. Beberapa di antaranya malah baik, jinak, dan bisa dijadikan sahabat. Mau tahu? Yuk, kita kenalan. Kata orang, tak kenal maka tak sayang.
 

IMPUNDULU

Impundulu | Image
Berasal dari Afrika (tepatnya wilayah Pondo, Xhosa, dan Zulu), Impundulu adalah peliharaan gaib para penyihir. Wujudnya berupa burung berbulu hitam dan putih, dengan ukuran sebesar manusia. Ia mampu menciptakan petir dan halilintar, karena itulah ia sering juga disebut lightning bird.

Impundulu memiliki banyak manfaat. Lemak tubuhnya bisa digunakan sebagai ramuan penyembuh, dan dagingnya bisa dipakai sebagai bahan ramuan untuk melacak pencuri dan mengendalikan pikiran manusia… itu kalau kau tega membunuhnya. Impundulu adalah makhluk yang setia dan patuh, serta bisa diwariskan setelah majikannya tewas.  


BARONG

Barong | Image
Barong adalah roh baik pelindung anak-anak. Wujudnya mirip singa, dengan bulu tebal berwarna putih, berwajah merah, dan bermahkota. Hati-hati, jangan sampai tertukar dengan Rangda, si penyihir jahat! Sepintas penampakan mereka memang mirip, tapi mereka berada di dua kubu yang berlawanan.

Biasanya Barong ditemani oleh dua ekor monyet. Jika kau ingin berkenalan dengannya, tidak perlu jauh-jauh, bertandanglah ke Pulau Bali.  


ELF

Elf Fae | Image
Kalau kau pencinta alam, pasti akan cocok bersahabat dengan kaum Elf atau kaum Fae. Mereka pandai menggunakan ilusi dan meracik obat-obatan herbal. Ilusi tersebut dipakai untuk menyembunyikan tempat tinggal mereka, yang ada di berbagai wilayah di Eropa, di antaranya Inggris, Irlandia, Skotlandia, Skandinavia, dan Denmark.

Jika kau beruntung dan berhasil menemukan serta bersahabat dengan kaum fae, manfaatkan untuk belajar lebih banyak tentang alam. Nantinya kau akan bisa buka bisnis obat-obatan herbal deh.  


BROWNIE

Brownie | Image
Brownie adalah peri rumah yang berasal dari Skotlandia. Mereka amat jarang menampakkan diri kecuali pada anak-anak yang masih polos. Brownie bekerja pada malam hari untuk membantu membajak ladang, memanen gandum, memeras susu sapi, serta membersihkan rumah dan kandang hewan.

Balasan atas jerih payah mereka ini bisa berupa makanan kesukaan mereka, yaitu susu, roti, bubur, dan madu. Meskipun brownie amat berguna, jangan sampai menyinggung perasaan mereka, karena mereka dapat berubah menjadi boggart yang gemar mengacaukan rumah dan mengerjai penghuninya.  


NOKKEN

Nokken | Image
Kalau kau senang musik, bersahabatlah dengan Nokken. Berasal dari Jerman, Nokken adalah roh air melankolis yang bisa muncul sebagai kuda putih atau pria muda rupawan. Ia pandai bermain musik dan nyanyiannya amat indah. Jika diberi beberapa persembahan, Nokken bersedia mengajarimu bermain musik.

Tapi hati-hati, jangan sampai kau merusak tanaman kesukaannya, yakni water lily, karena Nokken bisa murka dan menghabisimu.


Bagaimana, dari kelima makhluk magis di atas, adakah yang ingin teman-teman jadikan sahabat? Kisah-kisah lebih lengkap tentang asal muasal mereka kini bisa teman-teman baca dalam buku-buku Mythical Creatures: Asia, Europe, dan Africa. Siapa tahu, mungkin teman-teman malah akan menemukan makhluk lain yang lebih menarik.
 

 
Dyah Agustine merupakan editor novel-novel Fantasi serta Qanita Classic, kamu bisa follow IG-nya @dblueholic , atau stalking Facebooknya di sini.  


(Penyunting: Nizar Tegar)
0

X