fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru
Lubang hitam adalah salah satu objek eksotis di alam semesta kita. Terlebih lagi lubang hitam supermasif (bermassa sangat besar), yang diduga lazim terdapat di setiap inti galaksi. Termasuk di pusat galaksi kita, Bima Sakti.

Cahaya sinar cincin di sekitar black hole terbentuk karena gravitasi luar biasa black hole. Di mana menurut Albert Einstein dan Stephen Hawking, cahaya pun tak bisa lari darinya.

Para astronom bisa yakin di pusat galaksi Bima Sakti terdapat lubang hitam supermasif.  Karena ditunjang hasil pengamatan bintang yang mengorbit cukup cepat di sekitar pusat Galaksi (daerah Sagittarius A*/A-star) dengan jarak yang cukup dekat. Dari perhitungan diperoleh bahwa objek yang dikelilingi bintang tersebut memiliki massa sekitar 4 juta kali massa Matahari dengan ukuran sekitar diameter orbit Uranus. Berdasarkan pengetahuan terkini, tidak ada objek yang memiliki massa dan ukuran seperti itu selain lubang hitam supermasif.




Meskipun banyak yang sudah ditemukan, asal usul dan proses pembentukan lubang hitam supermasif masih belum diketahui dengan pasti hingga kini dan masih terbuka untuk penelitian. Ada beberapa hipotesis yang diusulkan, namun yang sudah jelas disetujui adalah bahwa lubang hitam dapat menambah massanya sendiri dengan cara menghisap materi dari sekitarnya. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa lubang hitam supermasif mungkin berasal dari lubang hitam bintang dengan massa puluhan atau ratusan massa Matahari. Benda tersebut kemudian tumbuh dan menjadi supermasif karena menghisap materi dari banyak objek di sekitarnya.



Saat ini, lubang hitam terbesar yang pernah diamati berada di quasar TON 618 yang terletak di rasi Canes Venatici di dekat Kutub Utara Langit. Jarak quasar ini adalah 10,4 miliar tahun cahaya dan magnitudo (kecerlangan) mutlaknya -30,7. Jauh lebih terang dari Matahari yang memiliki magnitudo mutlak -26,74, yaitu sekitar 140 triliun kali Matahari. Lubang hitam di pusat galaksi ini dihitung memiliki massa 66 miliar kali Matahari sehingga disebut juga sebagai lubang hitam ultramasif.





Quasar (quasi-stellar object) adalah penamaan untuk objek terang yang kenampakannya seperti bintang (cahaya titik). Namun sebenarnya terletak sangat jauh sehingga benda ini sebenarnya adalah sebuah galaksi. Quasar/galaksi yang sangat jauh seperti itu bisa menjadi sangat terang karena terdapat piringan akresi di bagian pusatnya, yang biasanya juga menunjukkan adanya lubang hitam supermasif di situ.

Piringan akresi adalah piringan yang berisi sekumpulan materi yang terhisap masuk ke dalam suatu objek masif (bintang atau lubang hitam) yang terletak di bagian tengahnya. Materi tersebut terhisap dengan cara bergerak spiral dan karenanya membentuk piringan. Akibat tekanan yang tinggi dan gesekan, piringan ini menjadi sangat panas dan terang. Bahkan kecerlangannya bisa melebihi kecerlangan satu galaksi.


Quasar dan galaksi Seyfert adalah 2 jenis galaksi yang memiliki bagian inti yang aktif, atau disebut Inti Galaksi Aktif (Active Galactic Nucleus, AGN). Perbedaan keduanya adalah pada quasar galaksinya tidak tampak karena kalah terang dari pusat galaksinya. Sementara pada galaksi Seyfert, galaksinya tampak dengan jelas karena bagian pusatnya tidak terlalu terang jika diamati pada panjang gelombang visual. Namun jika diamati di panjang gelombang lain seperti inframerah, ultraungu, atau sinar X, maka akan terlihat bagian pusatnya bisa sama atau lebih terang dari galaksi normal seperti Bima Sakti.

 

Baca juga:
– Apa Itu Lubang Hitam?
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia

 

BTW, Penerbit Mizan menyajikan kisah hidup dan ulasan teori-teori Stephen Hawking dalam buku A Mind Without Limits yang sudah terbit pada Mei 2019 lalu. Dapatkan segera buku A Mind Wihout Limits di toko buku kesanganmu atau di mizanstore.com!***

1

Artikel, baru
Bulan April 2019 akan diingat sebagai salah satu periode terpenting oleh pecinta astronomi di seluruh dunia, khususnya untuk topik lubang hitam. Bagaimana tidak, pada tanggal 10 April 2019 Event Horizon Telescope (EHT) mencetak sejarah dengan menerbitkan foto pertama lubang hitam. Lubang hitam yang berhasil difoto tersebut bernama M87* (M87 star) dan terletak di pusat galaksi M87 yang berjarak 53 juta tahun cahaya dari Bumi serta memiliki massa 6,5 miliar kali Matahari.

Cahaya sinar cincin di sekitar black hole terbentuk karena gravitasi luar biasa black hole, dimana menurut Albert Einstein dan Stephen Hawking, cahaya pun tak bisa lari darinya.

gambar lubang hitam pertama



Lubang hitam adalah sebuah objek yang memiliki massa besar namun ukurannya sangat kecil. Salah satu jenisnya terbentuk dari sisa kematian bintang bermassa besar. Matahari, yang termasuk bintang bermassa kecil, tidak akan menjadi lubang hitam di akhir hayatnya melainkan menjadi planetari nebula. Lubang hitam baru bisa terbentuk jika massa awal bintang lebih dari 20 kali massa Matahari.

 

Baca juga:
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta


Menurut teori evolusi bintang, penyebab bintang dapat tetap berbentuk bulat dan utuh selama jutaan tahun adalah karena adanya reaksi pembangkitan energi di bagian intinya. Ketika proses ini melambat atau bahkan berhenti, tekanan gravitasi bagian luar bintang tidak dapat ditahan lagi dari dalam bintang. Sehingga bagian luar tersebut runtuh ke pusat bintang. Hal ini akan mengakibatkan tekanan dan temperatur di pusat bintang  meningkat, menghasilkan energi, lalu melontarkan bagian luar bintang tadi dan menyisakan bagian pusat yang sangat padat. Untuk bintang yang bermassa besar, peristiwa ini disebut supernova. Sisa bintang yang padat tadi akan menjadi lubang hitam jika massanya lebih dari 2,2 massa Matahari.




Besarnya massa lubang hitam dalam ukuran yang sangat kecil akan mengakibatkan gaya gravitasi yang berlaku di permukaannya sangat besar. Begitu besarnya sehingga cahaya pun tidak dapat lolos darinya. Untuk memahaminya, ingatlah bahwa kita harus membuat roket dengan kecepatan lebih dari 11 km/detik (disebut juga dengan kecepatan lepas) jika ingin mengirimnya luar angkasa dari permukaan Bumi. Untuk lepas dari gravitasi Matahari di permukaannya perlu kecepatan lebih dari 617 km/detik. Sedangkan untuk lepas dari gravitasi di lubang hitam, kita perlu kecepatan lebih dari 300.000 km/detik, alias lebih cepat dari cahaya. Karena tidak ada benda yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya, maka tidak ada benda apapun yang dapat lolos dari tarikan gravitasi lubang hitam, termasuk cahaya itu sendiri.

Baca juga:
– 5 Fakta Penyakit ALS yang Diderita Stephen Hawking
 Tokoh Astronomi Terkenal di Dunia


Selain bermassa besar, sebuah benda juga harus berukuran kecil agar bisa menjadi lubang hitam. Batas ukuran ini disebut dengan radius Schwarzschild, yang dinamakan menurut astronom Jerman Karl Schwarzschild. Jika kita ingin Bumi berubah menjadi lubang hitam, maka dari radiusnya yang sekarang (6.371 km) harus diubah menjadi 9 mm saja. Sedangkan Matahari yang radiusnya 695.700 km, akan menjadi lubang hitam jika mengecil hingga berukuran 3 km saja. Coba bayangkan bola berdiameter 6 km (sedikit lebih panjang dari Jembatan Suramadu) berisi keseluruhan massa Matahari yaitu 2×1030 kg (2 triliun triliun juta kg).

BTW, Penerbit Mizan menyajikan kisah hidup dan ulasan teori-teori Stephen Hawking dalam buku A Mind Without Limits yang telah terbit pada Mei 2019. Dapatkan segera bukunya di toko kesanyanganmu atau di mizanstore.com!***

0

X