fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel



Sejak pertama kali diumumkan pada September 2016, Origin, menumbuhkan hype yang luar biasa, khususnya di kalangan fan pencinta seri novel Dan Brown. Siapapun penyuka genre thriller pastinya sudah tidak sabar menantikan sang ahli simbologi Robert Langdon, berkutat kembali dengan petualangannya menyingkap berbagai teori konspirasi penuh twist yang sempurna.

Bagi kamu yang sudah lama menunggu terbitnya Origin, akhirnya bisa bernafas lega. Pasalnya melalui website resmi Dan Brown (www.danbrown.com) dapat diketahui bahwa seri terbaru novel fenomenal tersebut akan terbit pada 3 Oktober 2017.

Negara pertama yang mendapatkan Origin secara perdana adalah Kanada dan Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Versi bahasa Indonesia dari Origin, akan diterbitkan Penerbit Mizan, dan direncanakan terbit pada November 2017. Buat kamu yang penasaran dengan kelanjutan aksi Profesor Langdon, sila simak terlebih dahulu sinopsis Origin, di bawah ini.  

Siapapun dirimu Apa pun keyakinanmu Semuanya akan berubah.


Bilbao, Spanyol
Robert Langdon, profesor simbologi dan ikonologi agama Universitas Harvard, tiba di Museum Guggenheim yang supermodern untuk menghadiri pengumuman besar tentang penemuan yang “akan mengubah dunia sains.” Tuan rumah acara malam hari itu adalah Edmond Kirsch, seorang miliuner dan Futuris berusia empat puluh tahun.

Kirsch adalah sosok yang terkenal di seluruh dunia, berkat penemuan-penemuan teknologi tingkat tingginya yang mengagumkan, serta prediksi-prediksinya yang berani. Dia juga merupakan salah satu mahasiswa Langdon dua puluh tahun yang lalu, dan sekarang dia akan mengungkap suatu terobosan yang mencengangkan… yang akan menjawab dua pertanyaan fundamental terkait eksistensi manusia.

Begitu acara dimulai, Langdon dan beberapa ratus hadirin lainnya terpukau oleh pemaparan yang begitu orisinil, dan Langdon menyadari bahwa ini akan jauh lebih kontroversial daripada dugaannya. Namun acara yang telah diatur dengan amat cermat itu tiba-tiba kacau balau, dan penemuan berharga Kirsch nyaris hilang selamanya.

Terguncang dan menghadapi bahaya besar, Langdon terpaksa melarikan diri dari Bilbao. Dia didampingi oleh Ambra Vidal, sang direktur museum yang bekerja sama dengan Kirsch untuk menyelenggarakan acara. Keduanya bertolak ke Barcelona untuk mencari password teka-teki yang akan mengungkap rahasia Kirsch.

Menyusuri koridor-koridor gelap sejarah rahasia dan agama ekstrem, Langdon dan Vidal harus menghindari lawan yang sepertinya tahu segalanya, yang kemungkinan didukung oleh pihak Istana Kerajaan Spanyol … yang tidak akan melakukan apa pun untuk membungkam Edmond Kirsch.

Mengikuti jejak-jejak tersembunyi dalam karya seni modern dan beragam simbol misterius, Langdon dan Vidal menemukan petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membawa mereka berhadapan dengan penemuan Kirsch… dan kenyataan mencengangkan yang selama ini tidak kita ketahui.

Sumber: www.danbrown.com (Diterjemahkan oleh Dyah Agustine)



Doubleday (penerbit naskah Origin asal US) dalam press release Origin, menjelaskan bahwa Dan Brown tetap mempertahankan ciri khasnya. Ia masih akan menghadirkan alur cerita berbalut kode-kode, simbol, agama, sejarah, seni, dan keindahan arsitektur dunia. Selain itu, Dan Brown juga akan menghadirkan twist baru yang dihiasi nuansa sains keren dan teknologi canggih saat ini.

Baca juga, Nobar The Da Vinci Code di Kinosaurus, Jakarta


Dan Brown terakhir kali merilis Inferno pada tahun 2013. Versi filmnya yang diperankan Tom Hanks, Felicity Jones (Star Wars: Rogue One). Serta disutradarai Ron Howard sempat meramaikan layar bioskop dunia pada tahun 2016 lalu. Saat ini novel karya Dan Brown sudah terjual lebih dari 200 juta eksemplar, di seluruh dunia.



Jadi, seberapa excited-kah kamu menantikan kehadiran Origin? Yang pasti bila kamu belum mengikuti keseluruhan petualangan Robert Langdon, maka ini saat yang tepat untuk kamu membaca kembali, atau bahkan maraton menamatkan 6 seri novel Dan Brown sebelumnya hehe …



Di bawah ini adalah daftar novel Dan Brown yang sudah terbit di Mizan:
   

 

0

Artikel, Resensi



[Oleh: Suhairi Rachmad]

Melakukan travelling ke lima benua memang tidak mudah. Kegiatan ini membutuhkan banyak biaya dan kondisi fisik yang ekstra sehat. Hal ini akan menentukan nikmat-tidaknya seorang traveller selama dalam perjalanan. Apalagi, ada sesuatu yang perlu direkam dalam kegiatan ini, semisal mengabadikan tempat-tempat bersejarah selama dalam perjalanan.

Umumnya, para traveller mengadakan perjalanan ke tempat-tempat wisata seperti pantai, gunung, danau, atau sejumlah pulau. Tempat-tempat tersebut dijadikan objek untuk diabadikan sebagai kekayaan budaya. Tetapi, Taufik malah menjadikan masjid sebagai destinasi perjalanan di lima benua. Ia mengabadikan rekaman tersebut dalam  buku 1001 Masjid di 5 Benua.

Taufik ‘berani’ mengabadikan objek wisata yang tidak dilirik traveller lainnya. Mungkin, muncul sebuah pertanyaan: Seberapa besarkah daya tarik masjid jika dijadikan objek wisata? Ternyata, kisah-kisah masjid di lima Benua hasil rekaman Taufik ini sangat beragam; mulai dari masjid yang menjadi markas teroris hingga masjid paling romantis. Betulkah ada masjid markas teroris? Atau betulkah ada masjid paling romantis? Taufik memang tidak menceritakan secara detail masjid markas teroris tersebut.

Pada Mampir ke “Markas Teroris” di Amsterdam ia lebih menekankan pada proses pencarian masjid di kota itu. Ia mengelilingi Amsterdam, ibu kota Belanda, untuk mencari Masjid Stichting El Tawheed atau Yayasan El Tawheed. Ia kaget ketika mendengar kabar tentang deklarasi pemerintah Belanda bahwa masjid tersebut sebagai “sarang teroris”.

Deklarasi itu dilakukan sebab pada 2004 terjadi pembunuhan Theo van Gogh, sutradara pembuat film anti-Islam, oleh pemuda bernama Mohammed Bouyeri, yang konon adalah salah seorang jamaah masjid ini. Peristiwa yang menggemparkan negeri Belanda dan disebut sebagai “Dutch September 11” ini membuat gerakan dan kegiatan yang diadakan di El Tawheed selalu dimata-matai pemerintah (hal. 20-21).

Masjid sebagai sarang teroris memunculkan stigma negatif di mata masyarakat. Ini bukan sekedar berakibat buruk pada pelakunya, agama Islam pun akan terkena imbas yang notabene agama penebar rahmat bagi seluruh alam. Secara realitas, gerakan teroris selalu mengakibatkan korban materi dan nyawa.

Ketika terdapat masjid menjadi sarang teroris, gambaran yang muncul di benak pembaca mungkin sebuah deskripsi terbalik dengan nilai agama samawi yang dibawa Nabi Muhammad Saw.
Pada saat yang lain, Taufik juga mendatangi sebuah masjid yang terdapat di ibu kota Republik Tatarstan, yang merupakan salah satu republik anggota Federasi Rusia. Masjid ini bernama Kol Syerif Mechete atau Masjid Kul Syarif.

Masjid termegah se-dunia ini berwarna biru dengan empat menara yang menjulang tinggi menembus langit kota. Dalam salah satu ruangan masjid in terdapat pameran souvenir, buku-buku Islam, video, dan busana muslim. Pada lantai di bawahnya terdapat Muzei Islamkoii Kultur atau Museum Budaya Islam yang memamerkan benda dan artefak tentang Islam yang umumnya berupa kaligrafi (hal. 120-121).

Deskripsi masjid ini lebih detail daripada deskripsi masjid markas teroris. Pembaca diajak menikmati bentuk fisik bangunan masjid di ibu kota Republik Tatarstan tersebut. Masjid ini bukan sekedar tempat melaksanakan salat dan membaca Al-Quran. Simbol-simbol keislaman lainnya juga diabadikan dalam sebuah ruangan agar pengunjung mampu menangkap perkembangan peradaban dari masa-ke masa.

Nah, yang paling membuat penasaran dengan isi buku ini adalah adanya masjid yang paling romantis. Masjid ini bernama Xiao Tao Yuan atau kebun kecil buah persik. Ini berbeda dengan nama masjid di Indonesia yang identik dengan nama Arab. Jamaah masjid ini berasal dari etnik Hui, Uighur, etnik Cina Muslim, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Masjid ini dibangun pada 1917 (hal. 197-199).


Ternyata, melakukan travelling ke sejumlah masjid yang tercatat dalam buku ini juga menarik. Apalagi, gaya bertutur dalam buku ini tidak mengalahkan deskripsi buku travelling ke destinasi wisata seperti pantai, gunung, danau, atau sejumlah pulau. Caranya bertutur seakan membawa pembaca memasuki setiap sudut ruang masjid yang ada di lima benua.



Judul Buku: 1001 Masjid di 5 Benua

Penulis: Taufik Uieks

Penerbit: Mizan, Bandung

Cetakan: I, Oktober 2016

Tebal: 256 halaman

ISBN: 978-979-433-971-8

Peresensi: Suhairi Rachmad
0

X