fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Resensi



[Oleh: Khairul Amin]

Ibadah bagi setiap manusia sejatinya merupakan sebuah kebutuhan, bukan hanya sekedar melaksanakan ritual untuk menggugurkan kewajiban. Frasa “butuh” mengacu pada semua nikmat yang telah manusia peroleh dari-Nya.

Manusia tidak akan pernah lepas dari peran Allah. Untuk hidup—bernafas, minum, dan makan—manusia membutuhkan Allah. Tidak ada satu perbuatanpun di dunia ini diluar kekuasaan dan kehendak Allah. Rasa “butuh” kepada Allah menjadi nilai dasar dan utama dalam menopang Iman setiap manusia.

Iman dan akidah yang kuat akan memberi dampak pada kebenaran sejati dalam beribadah, yaitu ibadah yang benar secara ritual maupun spiritual. Pada gilirannya, nilai-nilai ibadah (sebagai media mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan kebaikan bagi diri dan orang lain) bisa tercapai secara sempurna. Nilai filosofis dan rangkaian hikmah ibadah dinarasikan secara cermat dalam buku karya Syafaat Selamet ini.

Dengan bahasa lugas dan sederhana, Syafaat mengajak pembaca untuk menyelami makna mendasar dari ibadah, sehingga tidak hanya terjebak pada ranah konsep tual teoritis dan praktis. Buku ini diawali dengan pembahasan bersuci (berwudhu, tayamum, mandi wajib, beristinjak). Bersuci pada bagian tertentu menjadi rangkain dari ibadah, bahkan menjadi salah satu syarat sah rukun ibadah.

Diluar ranah praktis, bersuci memiliki banyak hikmah, seperti berwudhu, bermanfaat agar setiap muslim bersih. Membasuh bagian tubuh yang bersentuhan dengan udara bebas dimaksutkan agar permukaan kulit terpelihara dari debu, sehingga terhindar dari penyakit kulit dan peradangan (hal 13).

Secara psikologis, berwudhu bertujuan untuk membersihkan jiwa, karena berwudhu tidak hanya membersihkan lahir, tapi juga batin dan perilaku manusia. Seperti membersihkan kedua telapak tangan, berarti kita tidak boleh mengotori tangan dengan mengambil barang yang bukan hak kita. Begitu juga dengan membersihkan mulut melalui kumur-kumur, bermakna harus menjaga mulut agar bersih dari makanan yang haram, sekaligus tidak mengeluarkan kata-kata kotor dan dusta (hal 15).

Bagian selanjutnya, buku ini menyinggung nilai-nilai ibadah, khususnya ibadah shalat, zakat, puasa, dan haji. Jamak dipahami bahwa gerakan shalat mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Gerakan-gerakan dalam shalat bermanfaat untuk menjaga kesehatan syaraf pada setiap organ atau sel tubuh, misalnya gerakan duduk tasyahud awal dan duduk diantara dua sujud, mengaktifkan kelenjar keringat, menyeimbangkan sistem listrik (saraf) tubuh dan memperbaiki kelenturan saraf keperkasaan yang berada di paha, cekungan lutut, betis, sampai jempol kaki.

Selain manfaat medis, melaksanakan shalat juga mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana yang Allah sampaikan dalam firman-Nya (QS Al-Ankabut [29]: 45). Manfaat ini bisa didalami dari khasiat gerakan sekaligus fungsinya dalam konteks ruang dan waktu secara tepat, ada keterkaitan antara gerakan shalat dengan perilaku yang baik (takwa), sehingga shalat benar-benar berpengaruh pada perilaku sehari-hari.

Jika sudah melaksanakan shalat tapi akhlaknya masih rusak, berarti shalatnya belum benar dan ikhlas. Bahkan bisa jadi termasuk orang yang lalai dalam shalat (hal 37). Begitu juga manfaat dari menunaikan zakat, zakat bertujuan membersihkan harta benda seseorang yang bukan haknya, karena harta benda milik kita sesungguhnya terkandung bagian atau hak orang lain. Maka tidak berlebihan jika orang yang tidak menunaikan zakat secara tidak langsung sama dengan mencuri harta orang lain.

Hikmah dan mafaat ibadah lain (selain shalat dan zakat) juga di narasikan dalam buku setebal 292 ini, ibadah dimaknai tidak hanya terbatas pada ritual wajib-sunnah, namun meliputi seluruh aspek gerak hidup manusia sejak sebelum tidur hinggu tidur kembali dalam putaran waktu 24 jam demi meraih ridha Allah.

Selain meraih ridha-Nya, ibadah juga tidak lepas dari asas manfaat bagi sesama, shalat baru dimaknai sebagai shalat yang benar jika berbekas pada perilaku dan amal sosial serta memberikan perubahan akhlak menjadi lebih baik, ini merupakan rangkain sikap hidup manusia yang menyadari kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Allah (hal 238).



Buku ini menjadi upaya sadar Syafaat mengingatkan pembaca dalam meraih kebenaran sejati beribadah, ibadah tidak hanya dimaknai ranah ritual, namun juga spiritual dan sosial.

Dengan bahasa sederhana dan terkesan tidak menggurui, syafaat mampu menyelaraskan teks dan konteks. Maka sebuah kewajaran, jika buku ini menyimpan etos literasi yang mencerahkan.




Judul Buku: Sudah Benarkan Ibadahmu?

Penulis: Syafaat Selamet

Penerbit: Mizania

Tahun Terbit: Cetakan 1, Agustus 2016

Jumlah Halaman: 292 halaman

ISBN: 978-602-1337-78-3

Peresensi: Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang.
0

Artikel, Resensi

Ya Allah Dia Bukan Jodohku | Cover

[Oleh: Khairul Amin]

Setiap manusia pasti pernah merasakan susah, senang, duka, lara dan bahagia karena cinta. Dari semua kisah, kisah pilu berpisah dengan orang yang dicintai adalah kisah yang tidak terlupakan. Ada banyak penyebab perpisahan terjadi, karena terhalang restu orangtua, karena orang yang dicintai berpaling dan memilih orang lain, karena ajal menjemput, maupun alasan lain.

Tentu, kita harus menyadari bahwa perpisahan atau kehilangan adalah sebuah keniscayaan, kita pernah merasakan nikmatnya pemberian, maka suatu waktu kita akan mengalami sedihnya perpisahan, bukankah sering kita saksikan begitu banyak orang yang usianya sudah dewasa, puluhan tahun hidup bersama, namun masih berpisah juga. Yang perlu kita persiapkan adalah bagaimana jiwa kita memaknai perpisahan (hal 33).

Agar cinta tidak menjadi luka, kita harus pandai menyerap hikmah dari setiap perpisahan dan cinta. Apakah cinta kita kepada sesama dilandasi cinta kepada Allah? Atau malah sebaliknya?.


Ketika kita sudah menjadikan Allah sebagai Zat yang paling kita cintai, kita agungkan, kita patuhi dibandingkan dengan siapapun, saat itulah kita akan mengarah pada kedamaian dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kerap diantara kita terjerembab pada makna cinta yang salah, hingga melakukan hal diluar nalar yang mengarah pada hal negatif.

Sering digambarkan, melakukan apa pun demi bisa hidup bersama orang yang dicintai adalah suatu keharusan dan dianggap sebagai pembuktian cinta, hingga pada akhirnya banyak orang yang mengambil sikap tak terhormat untuk dapat memiliki orang yang dicintainya. Padahal, kita tau bahwa menikah adalah ibadah yang mulia.

Bagaiman bisa menggapai rumah tangga yang berkah jika jalan menujunya sudah tak baik (hal 28). Bersedih atas kepergian orang yang dicintai adalah hal yang wajar. Bahkan orang sehebat dan semulia Rasulullah merasa sedih ketika orang-orang yang disayanginya diambil Allah (hal 35). Tentu, kesedihan yang tidak berlarut-larut, apalagi sampai mengakibatkan kita berpaling dari Allah.

Menangis menjadi obat penyembuh sedih yang sangat mudah dan ampuh. Menangis mungkin tidak akan menyelesaikan masalah, namun tangisan akan membuat jiwa lebih ringan sehingga otak bisa bekerja mencari pemecahan atas masalah yang kita hadapi. Agar tangisan bernilai mulia, maka menangislah di hadapan Allah.

Tangisan yang bernilai mulia adalah tangisan yang hadir karena takut kepada Allah, bukan karena sedih ditinggalkan oleh orang yang kita cintai (hal 84). Cara lain, yang bisa kita lakukan mengusir rasa sedih adalah menuliskan kesedihan dalam catatan harian atau diary, bukan di media sosial.


Ada banyak penyair hebat yang menghasilkan karya luar biasa ketika mereka patah hati. Insa Allah, suatu saat nanti, ketika kita membuka tulisan kita tersebut, kita akan bersyukur dan tersenyum menertawakan perasaan sedih kita saat itu. Karena kita menyadari bahwa skenario Allah telah membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik daripada sebelumnya.

Yakini bahwa perpisahan dengan orang yang kita cintai adalah ujian dari-Nya untuk menguji kadar iman kita, bisa jadi Allah ingin menguji apakah kita lebih cinta pada Allah atau orang yang kita cintai. Allah menguji setiap makhluk untuk meningkatkan kualitas diri kita, semakin tinggi kualitas hamba, semakin berat ujian yang akan diterimanya. Percayalah, bahwa kesulitan selalu diapit dua kemudahan (hal 75).

Berhentilah memaksakan kehendak kita, ketika kita berhenti memaksakan diri untuk memiliki apa yang seharusnya bukan milik kita, Allah akan mempertemukan kita dengan apa yang terbaik untuk kita. Selama kita bersedia dengan ikhlas, membersihkan hati dan pikiran dari prasangka buruk kepada Allah dan mau bersabar menerima keputusan Allah, seluruh perkara yang hadir di depan kita akan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik daripada yang kita perkirakan.

Kita dipisahkan dengan seseorang karena kita dinilai belum pantas dengan orang tersebut, ada kualitas diri kita yang masih jauh dengannya. Maka, teruslah memperbaiki diri dan niatkan itu untuk menggapai ridah-Nya. Insa Allah setelah dinilai pantas, kita akan dipertemukan dengan orang yang memilik kualitas sama dengan kita (hal 76). Atau, bisa jadi Allah sedang meningkatkan kualitas calon pasangan kita, karena dirasa dia masih belum layak bagi kita. Allah masih menunggu kesungguhannya memperbaiki diri.

Kemungkinan lain, ini teguran dari-Nya untuk membuat kita kembali pada jalan yang lurus karena sebelumnya kita termasuk hamba yang lalai karena sibuk dengan banyak hal yang menyita perhatian kita dari ibadah kepada-Nya (63).



Buku karya Ahmad Rifa’i Rif’an ini menjadi pelipur lara bagi setiap orang yang berduka karena tidak bisa bersama orang yang sangat dicintainya, setiap lembar dari buku ini akan mengikis kesedihan dan menumbuhkan rasa bijak dalam memaknai cinta dan mencintai.



Judul Buku: Ya Allah, Dia Bukan Jodohku

Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit: Mizania

Tahun Terbit: Cetakan 1, Agustus 2016

Jumlah Halaman: 144 halaman

ISBN: 978-602-418-045-4

Peresensi : Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang
0

X