fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel


Dalam novel Ghost Fleet karya P. W. Singer dan August Cole, disebutkan bahwa terjadi perang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang dibantu oleh Rusia. Setelah kejatuhan Indonesia akibat perang Timor dan terjadinya ledakan bom di Dahran, Arab Saudi, harga minyak melejit gila-gilaan. Di sisi lain, Tiongkok menemukan cadangan energi gas bumi yang besar dan menguasainya. Untuk mendapatkan kendali atas KawasanPasifik, Tiongkok melancarkan serangan menggunakan virus komputer untuk melumpuhkan persenjataan Amerika yang berteknologi tinggi.

Kenyataannya, Tiongkok merupakan salah satu negara paling besar dan mampu bersaing dengan negara-negara besar lainnya seperti Amerika Serikat. Bahkan sekarang saja Tiongkok dan Amerika sedang melakukan perang dagang. Lalu apa yang membuat Tiongkok menjadi sebuah negara besar? Berikut ini 5 fakta mengenai Tiongkok.

Baca juga: 7 Konflik Perang Terbesar di Dunia


Sejarah

Dinasti Qing

Tiongkok merupakan salah satu peradaban pertama di dunia. Peradaban tersebut dimulai di sekitar Sungai Kuning atau Huang He. Terbukti dari banyaknya peninggalan sejarah peradaban masa lalu yang ditemukan di sekitar wilayah tersebut. Menurut tradisi Tiongkok, dinasti pertama adalah Xia, yang muncul pada sekitar tahun 2100 sebelum Masehi. Lalu, salah satu peninggalan Tiongkok zaman dinasti yang paling terkenal adalah terracotta di mausoleum Kaisar Qin.

Dinasti yang terakhir berkuasa di Tiongkok adalah Qing yang bertahan sampai tahun 1912 digantikan oleh Kuomintang atau partai nasionalis Tiongkok yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat-Sen. Tahun 1949, kekuasaan partai Kuomintang digulingkan oleh Partai Komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong hingga sekarang.


Geografi



Tiongkok juga merupakan salah satu negara dengan daratan paling luas di dunia. Luasnya mencapai 9,69 juta kilometer persegi. Pada daerah seluas itu, terdapat 22 provinsi dan 4 munisipalitas atau kota tingkat teratas setingkat provinsi yang berada langsung di bawah pemerintah. Lalu ada provinsi yang diklaim, yaitu Taipei atau Taiwan. Selain itu juga, di Tiongkok ada 5 daerah otonom khusus etnis minoritas. Yang terakhir, ada 2 daerah administratif khusus yang memiliki sistem unik yang disebut satu negara dua sistem. Daerah tersebut adalah Hongkong dan Macau.

Tiongkok juga merupakan negara dengan jumlah warga negara terbanyak di dunia, yaitu 1.386 miliar jiwa. Warga negara Tiongkok terdiri dari banyak etnis dan budaya.


Ekonomi

Pada tahun 2013, Tiongkok menempati urutan kedua ekonomi terbesar di dunia dalam nominal GDP menurut International Monetary Fund. Semenjak Liberalisasi Ekonomi tahun 1978, ekonomi Tiongkok berkembang pesat. Menurut IMF, rata-rata GDP Tiongkok meningkat dari tahun 2001-2010 sebesar 10,5%. Hebatnya lagi, antara tahun 2007 dan 2011, perkembangan ekonomi Tiongkok setara dengan perkembangan seluruh negara anggota G7 dikombinasikan.

Hal tersebut tidaklah aneh. Zaman sekarang, siapa yang di dalam rumahnya tidak ada produk dari Tiongkok? Produktivitas dan biaya buruh yang murah membuat banyak produsen yang mengandalkan industrinya di Tiongkok. Hal tersebut pula yang membuat Tiongkok menjadi global leader manufacturing.

Mengutip mckinsey.com, Tiongkok adalah salah satu investmen digital dan ekosister start-up paling aktif. Ditambah lagi, Tiongkok menjadi tiga besar dalam investasi modal dunia digital. Terbukti dengan banyaknya perusahaan digital seperti developer game Tencent yang baru-baru ini sedang naik daun di Indonesia. Selain itu, di ranah E-Commerce, Tiongkok adalah pasar terbesar dan memegang lebih dari 40 persen value transaksi e-commerce secara global. Salah satu perusahaan e-commerce dari Tiongkok yaitu Alibaba.com.

 


One China Policy

Di dalam ranah politik, Tiongkok mengeluarkan kebijakan yang cukup besar pengaruhnya pada politik luar negeri mereka. Kebijakan tersebut disebut One China Policy yang artinya hanya mengakui satu Tiongkok dan tidak mengakui kedaulatan Taiwan. Menurut pemerintah Tiongkok, Taiwan merupakan bagian dari mereka, yaitu Taipei.

Secara singkat dalam sejarahnya, ketika Partai Nasionalis Tiongkok atau Kuomintang gagasan Dr. Sun Yat-Sen dipukul mundur oleh Partai Komunis, mereka lari ke bagian selatan dan mendirikan negara Taiwan.


Militer

Walaupun terkadang orang Indonesia meremehkan kekuatan produk-produk dari Tiongkok, persenjataan militernya tidak bisa dianggap remeh. Penguasaan mereka terhadap teknologi memperkuat kekuatan militer tersebut. Dalam novel Ghost Fleet, Tiongkok berhasil melumpuhkan seluruh teknologi di Amerika dengan cara meretas Agensi Intelejen Pertahanan. Selain itu, Tiongkok juga mempunyai pasukan tentara terbesar di dunia yang disebut Tentara Pembebasan Rakyat (Renmin Jiefangjum).

Anggaran belanja Tiongkok juga termasuk yang paling besar, setara dengan Amerika Serikat dan Rusia. Mengutip kompas.co, jumlah anggaran militer terbaru Tiongkok sebesar 1,11 triliun Yuan atau setara dengan Rp.2.500 triliun. Bertambahnya jumlah tersebut memicu banyak pengetatan di berbagai negara di seluruh dunia, menduga Tiongkok akan terus mengembangkan militernya.



[Oleh: Fifi Feby Yanti]


Baca juga: Apa Itu Cyber War? Kenali dan Waspadai!
Baca juga: 5 Negara Dunia dengan Budget Militer Terbesar


0

Artikel

Perang selalu menjadi peristiwa yang tidak diinginkan, tapi sudah banyak terjadi sepanjang sejarah dunia –bahkan hingga hari ini. Simak beberapa buku terpopuler tentang perang, mulai dari buku paling klasik tentang strategi perang sampai novel yang memprediksi perang dunia ketiga.


1. The Art of War karya Sun Tzu

the-art-of-war

The Art of War merupakan buku strategi militer Tiongkok kuno yang ditulis pada abad ke-5 SM oleh ahli strategi militer Cina bernama Sun Tzu. Buku ini secara umum berisi tentang strategi dan taktik untuk memenangkan perang. The Art of War terdiri dari 13 bab dan pada setiap bab dikhususkan untuk satu aspek perang.

 

Salah satu poin utama yang dijabarkan Sun Tzu dalam The Art of War adalah kemampuan untuk mengenali musuh dan mengenali diri sendiri. Jika menguasai hal tersebut, maka tidak perlu takut dengan hasil pertempuran. Jika hanya mengenal diri sendiri, tetapi tidak mengenal musuh, Sun Tzu beranggapan bahwa dalam setiap kemenangan yang diperoleh akan ada kekalahan yang harus ditanggung. Jika sama sekali tidak mengetahui musuh dan diri sendiri, maka bersiaplah untuk menghadapi kekalahan.


Baca juga:
5 Fakta Tiongkok: Salah Satu Negara Raksasa

Menurut situs news24.com, The Art of War yang ditulis lebih 2.500 tahun lalu ini menjadi salah satu buku paling berpengaruh tentang pemikiran militer, taktik bisnis, serta hukum. Meskipun ditulis untuk strategi perang, buku ini ternyata dapat diaplikasikan untuk membantu menghadapi berbagai tantangan hidup. The Art of War juga merupakan salah satu buku yang cocok bagi para pebisnis. The Art of War secara umum memiliki potensi untuk menjadikan hidup manusia lebih berkualitas.


2. Once an Eagle karya Anton Myrer



Once an Eagle, merupakan novel perang yang terbit pada tahun 1968. Seperti ditulis pada situs northofseveycorners.com, Once an Eagle adalah novel klasik yang banyak dijadikan acuan oleh tentara Amerika. The Army War College di Carlisle, Amerika, kembali menerbitkan buku ini dengan tujuan menjadikannya sebagai bahan kursus untuk tema etika dan kepemimpinan di sekolah militer.

 

Novel dengan latar belakang perang Vietnam ini memiliki dua tokoh utama, Sam Damon dan Courtney Massengale. Sam merupakan sosok prajurit sejati, seorang komandan yang berjuang keras, serta dipenuhi kepedulian terhadap pasukannya. Sam Damon berhasil memimpin pasukan memenangi pertempuran demi pertempuran pada Perang Dunia I dan II. Meskipun pada akhirnya Sam Damon mati terbunuh. Sedangkan Courtney Massengale, lebih unggul secara karir dari Sam dengan cara memanipulasi sistem politik di Washington. Courtney sangat cerdik dalam mengambil langkah karir namun dia sama sekali tidak peduli terhadap pasukannya.

 

Seorang profesor sejarah, Kolonel Jerry Morelock, berpendapat bahwa Sam Damon merupakan seorang perwira yang diharapkan oleh para prajurit. Sedangkan Courtney Massengale, sebaliknya, adalah sosok perwira yang tidak inginkan sebagai atasan. Nama Sam Damon dan Courtney Massengale bahkan telah memasuki bahasa informal militer Amerika sebagai kata sandi bagi tentara-tentara yang memiliki kemiripan sifat dengan Sam dan Courtney. Misalnya, ketika seorang perwira ingin mengeliminasi seorang kandidat dari promosi kenaikan jabatan, yang harus dia lakukan hanyalah memberi tahu dewan peninjau dan memberi kode: “Dia adalah tipe Courtney Massengale.”

 

Anton Myrer, penulis Once an Eagle, meninggal pada 1996 di usia 73 tahun. Myrer merasa pengalamannya ketika mengikuti perang dunia kedua memiliki dampak besar pada kehidupannya. Seperti yang ditulis di situs northofseveycorners.com, Myrer mengatakan bahwa perasaannya tentang perang tecermin dalam novel Once an Eagle. Novel ini juga pernah diadaptasi sebagai serial televisi yang ditayangkan di Amerika pada tahun 1976.


3. Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole

 

Cerita tentang prediksi perang dunia ketiga, Ghost Fleet, adalah novel karya dua penulis asal Amerika, P.W. Singer dan August Cole. P.W. Singer, ahli strategis dan Senior Fellow di New America Foundation, masuk ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di bidang pertahanan oleh Defense News. Sedangkan August Cole merupakan seorang analis dan konsultan dalam bidang kemanan nasional. Dia juga pernah aktif menjadi editor dan reporter untuk MarketWatch.com. Selain itu, August Cole pun serta pernah aktif di bagian pertahanan industri untuk Wall Street Journal.

 

Sebagai pakar serta ahli strategi dalam bidang pertahanan, Singer dan Cole mampu dengan baik menggabungkan tren dan teknologi terkini. Mereka mampu menggabungkan yang ada di dunia nyata ke dalam cerita fiksi pada novel Ghost Fleet. Novel Ghost Fleet mendokumentasikan hasil dari penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh Singer dan Cole sehingga cerita yang mereka tulis mampu mendekati fakta. Beberapa tema yang dibahas dalam novel tersebut antara lain: ketegangan politik, perubahan sosial, teknologi-teknologi yang muncul, dan sistem senjata yang sekarang dalam berbagai tahap pengembangan ke dalam sebuah narasi.

 

Dari mana judul Ghost Fleet berasal? Seperti yang dirilis pada situs thediplomat.com, ungkapan Ghost Fleet digunakan oleh angkatan laut Amerika untuk menyebut kapal-kapal yang dinonaktifkan. Dengan tujuan disimpan sebagai potensi yang akan digunakan ketika terjadi konflik di masa depan. Kapal-kapal ini lebih tua dan ketinggalan secara teknologi dibandingkan kapal-kapal modern. Namun sebenarnya kapal-kapal modern rentan terhadap ancaman. Menurut Singer dan Cole, kapal-kapal yang lebih tua cenderung aman dari ancaman yang berhubungan dengan teknologi masa kini.

 

Seperti yang ditulis di situs www.cia.gov, plot utama Ghost Fleet berkisar tentang pencurian kekayaan intelektual di dunia maya, ketegangan navigasi di Laut Cina Selatan, dan tentang etika penggunaan perangkat elektronik pribadi yang semakin berkurang. Selain penggambaran tentang masa depan peperangan, Ghost Fleet juga memberikan pandangan tentang masa depan intelijen. Novel ini sempat menjadi trending topic setelah ungkapan “2030 Indonesia Bubar” viral di media sosial Indonesia.


4. Brave New War karya John Robb



Buku yang diterbitkan tahun 2007 ini ditulis oleh John Robb, mantan perwira Angkatan Udara yang kemudian menjadi pengusaha di bidang teknologi. Karya-karya John Robb, baik dalam buku Brave New War dan blog pribadinya, merupakan hasil dari pengalaman militer serta bisnis selama bertahun-tahun.

 

Brave New War, seperti yang ditulis di situs automaticballpoint.com, tediri dari tiga bagian: The Future of War is Now, Global Guerrillas, dan How Globalization Will Put an End to Globalization. Bagian pertamanya sebagian besar membahas tentang situasi keamanan saat ini. John Robb juga membahas invasi Amerika ke Iraq serta sejumlah perang lain, seperti Perang Teluk dan Perang Chechnya. Bagian kedua, Global Guerrillas, merupakan bagian yang paling penting dalam buku ini. John Robb bahkan memiliki blog khusus dengan nama yang sama, Global Guerrillas. Sedangkan untuk bagian ketiga, John Robb berkonsentrasi pada kelemahan Amerika Serikat. Dia beranggapan Amerika sedang melemah dan warga negara benar-benar harus mempertimbangkan untuk mulai memikirkan tanggung jawab atas keamanan mereka sendiri.



5. What It Is Like to Go to War karya Karl Marlantes



What It Is Like to Go to War adalah buku nonfiksi tentang pengalaman perang yang banyak menyoroti kurangnya persiapan para tentara muda untuk menghadapi tekanan psikologis dan spiritual yang diakibatkan oleh perang. Seperti dirilis pada groveatlantic.com, sebelum menulis What It Is Like to Go to War, Karl Marlantes sukses dengan buku bertema perang, Matterhorn. Karya Karl Marlantes tersebut menjadi jajaran bestseller di New York Times dengan penjualan lebih dari 250.000 eksemplar.

 

Karl Marlantes pernah dikirim ke Vietnam ketika berusia 23 tahun sebagai komandan dari sekitar 40 orang prajurit. Marlantes sebenarnya merupakan seorang pemuda yang cerdas dan terlatih dengan baik untuk tugas tersebut, tetapi jauh dari persiapan mental untuk hal-hal yang nantinya akan dia alami di medan perang. Selama tiga belas bulan, dia mampu membunuh musuh namun dia juga menyaksikan teman-temannya tewas. Marlantes selamat, tetapi dia kemudian menghabiskan empat puluh tahun terakhir untuk menghadapi trauma dari perang tersebut.

 

Dalam buku What It Is Like to Go to War, Marlantes memberikan pandangan secara mendalam tentang pengalaman yang dia alami selama perang. Dia pun sangat menekankan persiapan mental bagi tentara-tentara muda untuk menghadapi perang. Dalam buku tersebut, Marlantes menceritakan perasaan dihantui oleh wajah seorang prajurit muda Vietnam yang dia bunuh dari jarak dekat. Kemudian dia membahas cara-cara yang digunakan untuk akhirnya berdamai dengan masa lalu tersebut. Marlantes juga menceritakan kontradiksi sehari-hari yang harus dihadapi para pejuang di tengah peperangan, membunuh atau dibunuh. What It Like to Go to War menjadi bacaan bagi para pembaca yang tertarik pada pengalaman penting yang dialami manusia selama perang berlangsung.

 



Baca juga: 4 Buku Paling Banyak dibaca Tahun 2018


Baca juga: 7 Konflik Perang Terbesar di Dunia

0

X