fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru


Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Facebook Jayaning Hartami.

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,


Pada mereka yang rela bangun dini hari, memompa ASI sekaligus siapkan sarapan pagi. Lalu saat matahari sedikit meninggi, mereka melangkahkan kaki untuk pergi. Berkontribusi lewat kerja-kerja yang menggerakkan perekonomian negeri ini.


Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,


Pada mereka yang memutuskan tidak bekerja, lalu menghabiskan hari-harinya bersama anak dan pekerjaan rumah tangga. Dengan sederet potensi dan prestasinya di masa lalu, cukup baginya ditukar dengan tawa dan pelukan dari para makhluk kecil di tengah tumpukan baju, kompor menyala, serta sudut sudut rumah yang belum tersapu.


Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang tidak putus mengejar ilmu. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi agar kelak anak paham bahwa tak ada yang lebih menundukkan hati dibandingkan mengetahui betapa kerdilnya ilmu yang kita miliki.

 

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang bersetia melayani suami dengan sebaik-baiknya. Bukan tentang rendahnya peran, tetapi bagi mereka menjaga pandangan suami adalah hal yang sungguh menyenangkan. Perempuan semacam ini sungguh mengajarkan keikhlasan. Menjadikan rumah sebagai surga sebelum surga sebenarnya yang dicita-citakan.


Baca juga:
7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!
Meski Dijajah Israel, 3 Wanita Palestina Ini Tak Takut Melawan

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang berani bangkit melawan, ketika suami tak henti main tangan. Meski dipenuhi ketakutan, ia paham betul ada ketenteraman jiwa anak yang mesti diselamatkan. Malam-malamnya mungkin dipenuhi pikiran, bagaimana hidup ke depan. Tapi ia tahu. Ia yakin. Pada Allah-lah sebaik baik penjagaan.

 

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang berusaha bergerak maju, setelah pernikahannya dihancurkan oleh pengkhianatan. Tak perlu baginya sibuk berkutat dengan aib mantan, atau sampai sibuk menyindir bersahutan. Karena apapun itu, tak akan mengubah keadaan. Karena di antara dirinya dan sang mantan, ada anak kecil yang berhak atas kebahagiaan.

 

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang dulu tersakiti masa kecilnya. Mungkin omelan, sering juga sabetan. Atau perkataan buruk dari Ayah Ibu yang hingga kini di kepalanya tak henti bersahutan. Tapi baginya, cukup semua sakit itu berhenti padanya. Ia punya sejuta alasan untuk marah, tapi memilih memaafkan. Karena anak-anaknya, berhak mendapatkan sosok ibu dengan versi terbaik dari dirinya.


Sungguh, Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang bersungguh sungguh pada apa yang dikerjakan. Ia sibuk memperbaiki diri, juga kualitas dengan keluarga dan lingkungannya sendiri.

 

Tak ada waktu baginya untuk mencemooh apalagi nyinyir pada pilihan hidup orang lain. Karena ia tahu, setiap orang punya perjuangannya sendiri, yang mungkin tidak ia pahami.

 

Aku sungguh melihat perempuan-perempuan pejuang,

 

Pada mereka yang menyibukkan diri pada kebaikan. Pada mereka yang terus menata ikhlas pada peran yang saat ini dimainkan.

 

Ia bahagia dengan apa yang dipilihnya, sehingga tak pernah butuh merendahkan peran orang lain, hanya untuk membuat dirinya terlihat berharga.

 

Perempuan-perempuan semacam ini yang akhirnya membuat saya paham, mengapa pada mereka surga itu diletakkan.[]


Segera terbit buku Katanya, Jadi Ibu Itu…!

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Katanya, jadi Ibu itu… *kasih kepsyen dari wejangan orang tua dan mertua* – – Katanya, jadi Ibu itu.. *masukin pendapat dari para pakar parenting* – – Katanya, jadi Ibu itu.. *tambahin komentar dari netijen* – – Banyak versi sosok Ibu ideal dari bisa kita temukan di zaman sekarang ini – – Ada yang memang urusan prinsipil, tapi lebih banyak lagi yang sebetulnya bisa diluweskan, variatif tergantung value keluarga masing masing. – – Mencoba memenuhi semuanya cuma akan bikin capek, terus terusan ngritik diri sendiri, dan pusingnya cyiiin~ bisa ngalah ngalahin sistem zonasi 😆 – – “Katanya, Jadi Ibu Itu..” – – Adalah judul buku pertamanya Tami, insyaallah.. 😄 – – #KatanyaJadiIbuItu #Horeeeee #AkhirnyaBikinBukuJuga 🤣 – – Minta doanya yaa 🙏😁 @penerbitqanita

A post shared by jayaninghartami (@jayaninghartami) on

0

Artikel, baru

Satu Kata yang Mengungkap Semilyar Cinta: Bunda…


katanya jadi ibu itu

Teduh,
saat sepasang mata itu memandang
Lembut,
ketika jemari lentik mengurai kasih di tiap jenak-jenak sentuhan
pias wajah yang mengandung kesabaran
genggam tangan yang menguat jalinan..

Ada cinta,
dari tutur lisan suci yang mengucap kata
serta ringan langkah yang memijak
untuk sekedar memeluk, membelai, mencium….

cinta Bunda, aku bisa merasainya…

Dan tulus itu terangkum indah,
dalam bingkis gelak dan marahmu…
Dan tulus itu tergurat cantik,
melalui rangkai lelah dan letihmu…

hingga sering sumbangku bertanya,
Bunda… bisakah ku menyamai tulusmu nanti?

Ada cinta,
di tiap kelok jalan yang kau tuntun aku padanya
di tajam segenap kerikil yang terhampar mencadas langkah-langkah kecilku

Itu cinta, Bunda…
tak peduli dengan apa kau menamainya
aku hanya tau itu, cinta…
itu cinta, sungguh mudah aku merasainya…

Lahir cinta dari rautmu, dalam lisanmu, melalui gerak-gerikmu…
hingga ku sadari bahwa kau hanya tersusun oleh cinta, cinta, dan cinta…

Aku jatuh cinta padamu, sejak pertama kali menghirup wangi dekapmu…
cinta ku terbangun untukmu, setelah beribu malam kasihmu memelukku

Dan Bunda,
aku akan selalu cinta padamu….


Bunda tahu, bila semua udara bernama cinta
dan dapat ku persembahkan untukmu,
maka itu belum tentu cukup
dan tidak akan pernah cukup… 


(Abdurrahman Faiz)

Atas raga,
yang tak lelah menerbit mentari
menghangat gelisah diri dengan kemilau cahaya
teruntuk jiwa,
yang tiada payah memercik embun
membasuh dahaga melalui tentram alirannya 

Aku mencintaimu, Bunda… 
Lillah… Fillah… 

*****************************************************************

Hanya sehari hari untukmu di rayakan di bumi, Bunda..
akan tetapi percayalah,
cinta untukmu menyeruak di tiap telusur jejak nafas yang ku hela..
Dan sungguh,
betapa ingin diri ini menjadi penghantar syurga bagimu, Bunda..




Segera terbit buku Katanya, Jadi Ibu Itu karya Jayaning Hartami.



 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by jayaninghartami (@jayaninghartami) on

0

X