fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel


Ahed-Tamimi

Ahed Tamimi adalah seorang gadis remaja yang namanya menjadi perbincangan orang-orang di seluruh penjuru dunia karena keberaniannya melawan Israel demi kebebasan Palestina. Berasal dari Nabi Salih, Tepi Barat, Palestina, dia menjadi sebuah ikon dan simbol baru untuk perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel. Keberanian Ahed tidak kalah dengan para pejuang wanita lainnya. Ahed mendapatkan banyak pujian atas aksinya, termasuk dari Presiden Mahmoud Abbas. Meskipun masih belia, dia tidak berbeda dengan pejuang wanita lainnya yang lebih senior.


Video yang viral pada tahun 2012 dan 2017 membuat nama Ahed melejit. Di video tahun 2012, Ahed yang baru berusia 11 tahun menunjukkan keberaniannya dengan mengacungkan kepalan tangannya sambil berteriak pada salah satu anggota militer Israel. Diketahui dia melakukan hal tersebut karena saudaranya ditangkap oleh tentara Israel. Lalu di videonya yang terbaru, Ahed yang sudah berumur 16 tahun menampar, memukul dan mendorong salah satu tentara yang menembakkan senapan berisi peluru karet berlapis baja pada sepupunya yang berusia 15 tahun. Insiden penamparan itu terjadi di halaman depan rumah Ahed. Akibatnya, Ahed harus mendekam di balik jeruji besi selama 8 bulan.



Meskipun berada dalam penjara, Ahed berhasil menyelesaikan sekolahnya dan dia membuat sebuah kelompok belajar yang akhirnya dibubarkan oleh otoritas penjara.

Amal Tamimi, aktivis dan juga bibi Ahed, mengatakan bahwa Ahed hanya sedang membela apa yang menjadi haknya, karena insiden tersebut terjadi di depan rumahnya. Amal menambahkan bahwa setiap ibu di Palestina mengajarkan anak-anaknya untuk bisa mempertahankan hak-hak mereka.


Laila-khaled

Ahed Tamimi juga tidak jauh berbeda dengan Leila Khaled, seorang anggota Popular Front for the Liberation of Pilistine atau PFLP. Meskipun aksinya bisa dibilang berbeda tema, namun keberanian mereka berdua bukan main-main. Leila menjadi perempuan pertama yang melakukan pembajakan pesawat dari Roma ke Tel Aviv. Dia menodongkan senapan, yang entah bagaimana caranya berhasil dia selundupkan di Bandara, kepada pilot, dan memintanya untuk memutar pesawat melewati Haifa, tempat lahirnya. Lalu pembajakan keduanya menyebabkan dia harus ditahan di Ealing, London, Inggris. Namun selama ditahan, Leila menjadi tahanan yang baik dan bahkan berteman dengan beberapa anggota polwan di sana.



Ahed dan Leila juga sama-sama menjadi sebuah ikon perlawanan Palestina terhadap Israel. Leila menjadi ikon setelah pembajakannya yang pertama. Karena hal tersebut juga dia harus menjalani enam kali operasi plastik untuk menyembunyikan identitasnya agar dapat menjalankan misinya yang lain. Sedangkan Ahed Tamimi yang beberapa aksinya banyak dipuji orang, membuat presiden Mahmoud Abbas menyatakan kalau Ahed adalah sebuah ikon baru perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel.


Kholoud-Faqih

Karena sekolahnya telah selesai, Ahed bercita-cita agar bisa melanjutkan ke sekolah hukum agar bisa bekerja mengadvokasi Palestina untuk dunia Internasional. Dia juga ingin bekerja di Den Haag menyelesaikan kasus-kasus kriminal perang. Cita-cita Ahed itu mengingatkan kita pada Khouloud yang bisa menjadi hakim pertama wanita di Palestina. Berkat kehebatannya dan pengalaman bertahun-tahun di sebuah agensi yang melindungi perempuan, dia berhasil mengalahkan para kandidat laki-laki. Banyak sekali tokoh Palestina yang sama seperti Ahed Tamimi, mereka memperjuangkan kebebasan dan hak mereka dari penjajahan Israel. Namun, Ahed Tamimi lebih dikenal secara internasional.



Sekarang Ahed menjadi seorang juru bicara untuk Palestina dan diundang ke berbagai negara di dunia. Jika ditanya dari mana Ahed Tamimi mendapatkan kekuatan untuk melakukan semua yang telah dia lewati, dia akan menjawab orang tuanya selalu menjadi inspirasi untuknya.



[ Oleh: Azalea Inestiady ]


Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Baca juga: Meski Dijajah Israel, 3 Wanita Palestina Ini Tak Takut Melawan


Baca juga: Respons Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi

0

Artikel

Perjuangan rakyat Palestina untuk melawan penjajah Israel tidak pernah berhenti. Setiap orang di sana mau tidak mau harus ikut berjuang melawan penjajahan untuk kebebasan mereka. Tidak heran jika di sana hadir pejuang-pejuang yang tidak kenal lelah untuk memperjuangkan cita-cita mereka menjadi masayarakat yang bebas. Maka dari itu pejuang-pejuang tersebut tidak terbatas pada satu kalangan saja, namun mereka bisa siapa pun.


Dari mulai orang dewasa hingga anak kecil, beragam profesi, mau tidak mau mereka harus ikut melawan untuk merebut kembali.

 

Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Tidak hanya laki-laki yang berjuang di sana, wanita yang lahir dan terusir dari tanah airnya pun tidak kalah pemberani. Diantara wanita yang tidak takut untuk melawan tersebut, muncul nama-nama yang menjadi sorotan dunia. Inilah tiga diantaranya.

  1. Leila Khaled

    Nama Leila Khaled sudah tidak asing lagi di dunia internasional. Lahir di Haifa, daerah yang dulunya dikuasai Palestina, dan terusir dari kampung halamannya sendiri karena ini daerah tersebut telah dikuasai oleh Israel. Karena hal tersebut, keluarga Leila pindah ke daerah Lebanon. Saat berumur 15 tahun, Leila bergabung dengan Arab Nationalist Movement yang dibentuk oleh George Habash.


    Di Palestina, cabang pergerakan tersebut menjadi Popular Front for the Liberation of Palestine atau Barisan Rakyat untuk Pembebasan Palestina atau sering disingkat PFLP setelah Perang Enam Hari tahun 1967. Selain itu Leila juga sempat menjadi mahasiswa kedokteran di American University of Beirut.

    Leila menjadi terkenal setelah menjadi perempuan Palestina pertama yang membajak sebuah pesawat. Pembajakannya yang pertama terjadi pada tanggal 29 Agustus 1969. TWA Flight 840 yang harusnya terbang dari Roma menuju Tel Aviv diputarkan menuju Damaskus. Dia memerintahkan pilot pesawat tersebut untuk terbang melewati Haifa, agar dia bisa melihat tempat kelahirannya. Tidak ada yang terluka di pembajakan tersebut, namun setelah penumpang turun, para pembajak meledakan moncong pesawatnya. Setelah pembajakan itu, Leila menjalani enam kali operasi plastic agar dia tidak dikenali dan bisa melanjutkan misi-misinya yang lain dan juga dia tidak ingin menjadi wajah sebuah icon.

    Pembajakan berikutnya dia lakukan di pesawat EI AI Flight 219 tahun 1970. Pesawat yang bertolak dari Amsterdam menuju New York. Pesawat tersebut gagal dia bajak dan Leila berhasil ditangkap. Meskipun Leila mempunyai 2 granat, namun dia tidak ingin menggunakannya karena dia mendapatkan perintah yang sangat ketat agar tidak melukai penumpang di penerbangan.

    Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan, Keren Banget!

    Leila ditahan di Kantor Polisi Ealing di Inggris. Dia kemudian dibebaskan sebagai pertukaran dengan sandera pembajakan lainnya.

    Kabarnya, karakter Warrior Leela di seris Doctor Who terinspirasi dari Leila Khaled.


  2. Ahed Tamimi

    Nama Ahed Tamimi mulai menjadi perhatian publik internasional setelah videonya tahun 2012 mengacungkan kepalan tangan ke aparat Istrael viral. Di video tersebut Ahed dengan berani melawan aparat yang waktu itu menahan saudaranya. Sebelumnya juga di tahun yang sama, Ahed dipuji langsung oleh presiden Mahmoud Abbas karena keberaniannya menghadang aparat yang hendak menangkap ibunya, Nariman Tamimi.

    Namun pada saat berumur 16 tahun, Ahed dijebloskan ke penjara atas tuduhan peneyerangan kepada aparat Israel pada bulan Desember 2017. Video saat dia menampar aparat tersebut juga viral. Ahed melakukah hal tersebut karena kesal sepupunya yang berumur 15 tahun terkena peluru yang ditembakan oleh aparat dalam jarak yang dekat di halaman rumahnya. Ahed dibebaskan bersyarat pada Juli 2018 setelah sebelumnya mendekam di dalam penjara selama 8 bulan. Setelah bebas, Ahed langsung bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas.

    Meskipun begitu, Ahed mengatakan kalau dia sama seperti remaja normal lain yang seumuran dengannya. Dia mengatakan masih suka dengan pakaian dan make up, atau membuka akun Instagram miliknya setiap pagi dan berjalan-jalan di bukit sekitar rumahnya. Namun karena dia merasa harus melawan karena dia ingin membela tanah airnya.

    Baca juga: Respons Warga Dunia terhadap Kasus Ahed Tamimi

     

    Kini Ahed Tamimi menjadi sebuah icon perlawanan terhadap pendudukan Israel atas Palestina.  Dia juga menjadi juru bicara untuk Palestina. Selain Palestina yang bebas, dia juga mempunyai sebuah cita-cita, yaitu sekolah hukum dan melakukan advokasi tingkat tinggi untuk Palestina.

    Kisah Ahed juga dimuat di majalah Vogue Arabia edisi Oktober.


  3. Manal Tamimi

    Manal Tamimi adalah seorang pembela HAM dan merupakan bibi dari Ahed Tamimi. Dia pernah mengatakan bahwa setiap ibu di Palestina adalah seorang aktivis. Dalam wawancaranya bersama Dimitri Lascaris untuk therealnews.com, Manal mengungkapkan bahwa setiap ibu di desanya, Nabi Salih, mengajarkan anaknya untuk berpegang pada setiap haknya.


    Manal dan suaminya, Bilal Tamimi, aktif di sebuah media local di sana. Manal biasanya mengunggah video atau foto yang diambil oleh suaminya dalam setiap aksi. Dia melakukan itu dengan tujuan agar dunia bisa melihat apa yang dilakukan oleh aparat Israel setiap harinya. Semua yang dilakukan olehnya ini adalah untuk generasi muda Palestina agar terus mempertahankan hak-hak mereka.


    Sekarang Manal menyambut setiap aktivis dan Jurnalis yang datang ke Nabi Salih. Dia akan menjadi tuan rumah untuk setiap orang yang datang.




    [Oleh: Logika Anbiya]



Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

Baca juga: Israel dan Palestina, Konflik Panas yang Belum Mereda
0

Artikel

Salah satu konflik panjang dan sepertinya tidak akan pernah berakhir di dunia adalah Palestina-Israel. Sebuah konflik antar bangsa yang berlangsung selama bertahun-tahun ini tidak hanya menjadi perhatian masyarakat di wilayah tersebut, namun sudah menjadi perhatian seluruh dunia dan sepertinya mustahil mendapat titik terang untuk perdamaiannya. Namun bagaimana bisa hal ini bisa terjadi? Bagaimana sejarahnya?


Konflik dimulai ketika kongres Zionis sedunia diselenggarakan oleh Theodore Herlz di Basel, Swis. Resolusi dari kongres tersebut menyatakan bahwa Yahudi itu bukan hanya sebatas agama, namun merupakan bangsa yang mempunyai tekad untuk hidup berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi tersebut juga, bangsa Yahudi menuntut sebuah tanah air, yang secara implisit mengacu pada tanah yang bersejarah bagi mereka. Dalam kongres tersebut juga, Herlz mengatakan bahwa zionisme adalah jawaban bagi penindasan dan diskriminasi yang dialami oleh orang Yahudi. Di situ juga dia mengatakan bahw adalam 50 tahun akan ada negara Yahudi.


Lalu pada tahun 1917, menteri luar negeri Inggris, James Balfour, mengeluarkan sebuah deklarasi yang cukup kontroversial. Deklarasi itu memberitahu seorang tokoh Yahudi kenamaan di Inggris, Rothschild, bahwa Inggris akan mendirikan pemukiman untuk orang Yahudi di daerah Palestina.

Baca juga: 5 Tokoh Palestina yang Terkenal di Dunia


Sebelumnya, pada tahun 1916, Inggris dan Perancis membuat sebuah perjanjian rahasia yang disetujui oleh kerajaan Rusia yang disebut Perjanjian Sykes-Picot. Perjanjian ini namanya diambil dari dua diplomat yang menandatanganinya, Sir Mark Sykes dan François Georges-Picot. Perjanjian itu berisi pembagian daerah Asia Barat Daya setelah jatuhnya Kerajaan Ustmaniah pada Perang Dunia I. Perjanjian ini membagi daerah-daerah di luar Jazirah Arab untuk menentukan daerah mana yang akan berada di bawah kendali Inggris dan Perancis. Rusia tidak melanjutkan isi perjanjian karena pecahnya Revolusi Bolshevik. Namun pada bulan Oktober 1916, para pejuang Bolshevik mempublikasikan isi perjanjian ini yang tentunya membuat pihak Arab marah. Dari perjanjian ini, Inggris mendapat kendali atas Palestina.

Tahun 1947, PBB merekomendasikan pembagian wilayah menjadi dua negara, Arab dan Israel. Ide tersebut tentu saja ditolak oleh bangsa Arab. Pada tanggal 14 Mei 1948, Israel mengumumkan dirinya sebagai negara Yahudi. Hal tersebut tentu saja menyulut Liga Arab.

Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

Perang Arab-Israel terjadi sehari setelah proklamasi negara Yahudi. Perang ini merupakan konflik bersenjata yang pertama.  Peperangan ini dimenangkan oleh pihak Israel dan mereka berhasil merebut lebih banyak daerah dari yang PBB rekomendasikan sebelumnya.

Setahun setelahnya, Mesir, Lebanon, Yordania, dan Suriah melakukan gencatan senjata dengan Israel, menandai berakhirnya perang Arab-Israel 1948. Selain itu juga, gencatan senjata ini dilakukan dengan menentukan batas wilayah sementara yang disebut garis hijau yang berlaku sampai meletusnya perang enam hari tahun 1967. Hal ini membuat banyak orang Palestina terpaksa mengungsi keluar dari tanah airnya.

Tahun 1956, Israel dibantu oleh Inggris dan Perancis menyerang Sinai dengan tujuan menguasai Terusan Suez. Bagi Inggris, terusan ini adalah terusan yang penting karena menghubungkan dengan koloninya di luar seperti India, Australia, dan Selandia Baru.


Baca juga: Respons Warga Dunia Terhadap Kasus Ahed Tamimi

Tahun 1967, perang kembali meletus antara Israel dan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dibantu oleh Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan, dan Aljazair. Perang itu disebut Perang Enam Hari atau Six Days War. Perang ini terjadi karena Mesir mengusir United Nation Emergency Force (UNEF) dari Sinai setelah invasi dari Israel. Israel dapat memukul mundur kekuatan militer tersebut dan menang. Lalu gencatan senjata dilakukan dan Israel berhasil merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan. Sampai sekarang hasil dari perang ini masih berpengaruh.


Tahun 1993, dilakukan perjanjian Oslo antara Palestina, yang diwakili oleh Yasser Arafat, dan Israel, yang diwakil ioleh Yitzhak Rabin. Dalam perjanjian itu, masing-masing pihak bersepakat untuk mengakui kedaulatan masing-masing. Pasukan Israel akan ditarik dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberikan kesempatan untuk Palestina menjalankan sebuah lembaga semiotonom di wilayah tersebut.


Tahun 2000, dilakukan pertemuan antara pihak Palestina dan Israel yang ditengahi oleh Amerika Serikat yang disebut KTT Camp David 2000 atau Camp David Summit 2000. Namun sayangnya, negosiasinya tidak berhasil, dan akhirnya KTT ini tidak menghasilkan apa-apa.

Itulah sejarah singkat konflik antara Palestina dan Israel. Meskipun banyak pelanggaran HAM dan korban melayang di sana, jalan damai masih tetap diupayakan bukan hanya oleh kedua belah pihak, namun seluruh dunia juga mengupayakan hal tersebut.





[Oleh: Logika Anbiya]


Baca juga: 7 Wanita Pejuang Kemerdekaan di Dunia, Keren Banget!

0

Artikel

Ahed Tamimi, gadis asal Palestina yang menghebohkan dunia setelah aksinya menampar tentara Israel tersebar luas. Respond dan tanggapan yang diberikan oleh masyarakat dunia berbeda. Fakta mengenai kronologis kejadian penamparan itu juga mempunyai dua cerita yang berbeda


Berdasarkan informasi yang diberikan Israel, tentara Israel yang mendatangi rumah Ahed berusaha menenangkan demonstran namun demonstran tetap melemparkan batu dari dalam rumah. Sedangkan menurut keluarga Ahed, aksi penamparan dilakukan Ahed setelah tentara Israel menembak sepupu Ahed, Mohamed Tamimi, tepat di wajahnya dalam jarak yang dekat dengan peluru karet saat sedang protes mengenai kebijakan Amerika Serikat mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

 

Dukungan dari warga Palestina

Untuk warga Palestina, aksi heroic Ahed Tamimi merepresentasikan perlawanan Palestina terhadap penjajahan yang dilakukan oleh Israel.  Banyak warga Palestina yang melakukan aksi protes dengan kondisi kehidupan yang kesulitan mendapatkan akses namun Ahed merupakan sosok yang dikenali dengan aksi beraninya.

Kejadian penamparan tentara Israel oleh Ahed Tamimi Desember 2017 lalu bukanlah yang pertama kalinya. Foto Ahed terlihat mengepalkan tinjunya ke arah tentara Israel tahun 2012 karena tentara Israel mencoba menangkap paska adiknya, Mohamed. Dan pada tahun 2015, video Ahed sedang menggigit tangan tentara Israel yang menangkap adiknya, Mohamed, karena tuduhan pelemparan batu.


Berbagai aksinya mendapatkan tanggapan beragam. Kejadian tahun 2012, Ahed mendapatkan penghargaan Handala Courage di Istanbul pada 26 Desember. Selain itu, Ahed juga diundang oleh Perdana Menteri Turki, Tayyip Erdogan untuk duduk bersama dan sarapan. Aksi penamparan 2017 silam membuat Presiden Palestina, Mahmoud Abbas memuji tindakan Ahed terhadap tentara Israel.


The Algemeiner memberitakan bahwa penghargaan dan juga hadiah yang diberikan kepada Ahed didasari atas sikapnya yang telah menjadi remaja yang baik. Ahed berusaha sebisanya untuk memulai konfrontasi dengan tentara Israel untuk disebarluaskan dan menyebabkan turunnya martabat Israel.


Propaganda di mata Israel

Lain halnya dengan pandangan Israel mengenai aksi Ahed terhadap tentaranya. Israel menuduh bahwa keluarga Ahed menggunakannya sebagai alat propaganda. AKtivis pro-Israel menyebut aksi Ahed dalam video seperti “Pallywood”.


Michael Oren, mantan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat dan saat ini menjawab wakil menteri untuk diplomasi, menanggapi aksi Ahed lewat Twitter-nya. Michael menuduh bahwa keluarga Ahed mendandaninya dengan pakaian gaya Amerika dan membayar mereka untuk memprovokasi tentara Israel di depan kamera.


Media Israel mempertanyakan apakah tentara yang ditampar Ahed menunjukkan pertahanan diri atau sikap pengecut.  Beberapa orang Israel percaya bahwa fokus dan penangkapan remaja adalah tindakan yang merugikan diri sendiri bagi negara, sementara yang lain memuji pengunduran diri tentara dan menuduh penduduk Nabi Saleh melakukan provokasi.

 

Ahed di mata dunia

Pro kontra terhadap aksi Ahed juga ditanggapi beragam oleh masyarakat dunia. Dua seniman asal Italia yang salah satunya bernama Jorit Agoch, membuat mural Ahed Tamimi di tembok pemisah Tepi Barat.

Jorit, dan temannya didapati sedang membuat mural Ahed di tembok setinggi empat meter pada 28 Juli, sehari sebelum Ahed bebas dari penjara. Kedua seniman itu mengenakan topeng saat melakukan aksinya. Kemudian mereka ditangkap oleh polisi Israel dan diminta untuk meninggalkan Israel karena perbuatan yang dilakukannya.


Tanggapan lain mengenai aksi Ahed berasal dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan atas perjuangan dan pembebasan Ahed dari penjara melalui telepon. Erdogan memuji keberanian dan tekadnya untuk terus berjuang melawan penjajahan Israel.

Beda Ahed, beda Malala

Bicara mengenai perjuangan seorang gadis untuk kemerdekaan bangsanya, selain Ahed, ada juga gadis lainnya yang menghebohkan dunia dengan tindakan beraninya. Malala Yousafzai, seorang gadis Pakistan yang sejak usia 15 tahun aktif menyerukan perlawanan terhadap terorisme global yang mengatasnamakan agama tertentu.

           
Seruan perlawanan Malala menyebabkan dirinya kerap mendapat ancaman pembunuhan. Tahun 2013, Malala ditembak oleh kelompok Taliban saat akan berangkat sekolah. Peluru mengenai kepala Malala dan membuatnya nyaris kehilangan nyawa. Malala selamat setelah dibawa ke Inggris untuk menjalani perawatan.

           
Dunia bersimpati atas kejadian penembakan yang dialami Malala. Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown membuat petisi dengan judul “I am Malala” . Malala juga mendapatkan kesempatan untuk berpidato di sidang Majelis Umum PBB. Majalah Time menobatkan Malala sebagai salah satu dari 100 orang yang paling berpengaruh di dunia. Tahun 2014 Malala mendapatkan hadiah nobel perdamaian.

           
Lain halnya dengan Ahed, gadis Palestina yang dengan lantang menentang pendudukan tentara Israel di Tepi Barat. Sejak menginjak usia 11 tahun, Ahed aktif melawan tentara Israel. Aksi beraninya menampar tentara Israel Desember 2017 lalu malah membuat dirinya dijebloskan ke penjara Israel.

           
Video viral Ahed mendapatkan respon oleh pengguna media sosial dengan munculnya hastag #IamAhed dan #StandUpForAhed. Namun, tidak ada media massa yang mengangkat hastag #IamAhed dan #StandUpForAhed menjadi headline mereka.

           
Menurut Shenila Khoja-Moolji, peneliti kesetaraan gender menduga beberapa sebab mengapa Ahed tidak seperti Malala. Shenila menduga bahwa sebab pemimpin dunia khususnya dari Barat tidak memberikan perhatian lebih kepada Ahed Tamimi karena Negara-negara Barat menganggap tindakan Israel kepada warga Palestina sebagai tindakan yang sah.


Sedangkan tindakan Taliban di Pakistan dan Boko Haram di Nigeria dianggap sebagai sebuah aksi yang harus dilawan menurut pemimpin Barat. Oleh sebab itu Malala dipuji oleh pemimpin Barat sedangkan Ahed tidak.


Respon mengenai tindakan berani Ahed memunculkan pandangan yang beragam. Namun yang pasti, Ahed akan terus berjuang karena dirinya merasa bahwa yang diperjuangkan adalah hal yang benar. Bahkan selepas dirinya bebas dari penjara, membuatnya memantapkan diri untuk menjadi seorang pengacara sehingga bisa membantu saudara-saudaranya yang dipenjara karena ketidakadilan.




[Oleh: Fifi Feby Yanti]



Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Pemberani Asal Palestina yang Dikenal Dunia

 

 

0

Artikel

Kemerdekaan berarti keadaan berdiri sendiri, bebas, lepas, dan tidak terjajah. Kemerdekaan bukan hanya berarti kebebasan suatu Negara terhadap Negara lain yang menjajahnya. Melainkan juga kemerdekaan mengenai kebebasan hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan hal lainnya. Tugas memperjuangkan kemerdekaan tidak pandang bulu, baik laki-laki atau perempuan, muda atau pun tua, berkewajiban melakukannya.

Selain Ahed Tamimi, gadis berani yang menjadi ikon perlawanan Palestina terhadap Israel, terdapat juga wanita-wanita pejuang kemerdekaan di berbagai dunia. Ada wanita yang ikut bertempur langsung di medan perang, ada pula yang menjadi penasehat dan melakukan diplomasi politik dalam mewujudkan kemerdekaan.

Berikut ini 7 wanita pejuang kemerdekaan dari berbagai Negara di dunia.

  1. Joan of Arc

    Joan of Arc - Buku Ahed Tamimi

    Jeanne d’Arc atau yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Joan of Arc, merupakan pahlawan Negara Perancis. Dalam agama Katolik, dirinya dianggap sebagai seorang yang suci dan dijuluki La Pucelle yang berarti sang dara atau sang perawan. Joan of Arc mengaku mendapat pencerahan yang dipercayainya berasal dari Tuhan.

    Hal itu digunakan untuk membangkitkan semangat pasukan Charles VII dalam upaya merebut kembali bekas wilayah kekuasaan Perancis yang dikuasai Inggris dan Burgundi pada masa Perang Seratus Tahun.

    Joan of Arc menjadi terkenal karena perjuangannya yang berhasil membebaskan kota Orleans dalam waktu hanya sembilan hari. Strategi peperangan yang dianut Joan of Arc berbeda dengan pasukan lainnya yaitu penyerangan frontal terhadap benteng pertahanan musuh.

  2. Loretta Perfectus Walsh

    Loretta Perfectus Walsh-Buku Ahed Tamimi

    Loretta Perfectus Walsh merupakan wanita pertama yang terdaftar sebagai seorang tentara Angkatan Laut Amerika Serikat. Loretta menjadi salah satu ahli strategi pertempuran laut yang ikut andil dalam pertempuran melawan Jerman di front Pasifik. Loretta berhasil menumbangkan  lima kapal tempur pada perang laut dengan Jerman.

    Di saat wanita lainnya terjun sebagai perawat, Loretta mengambil pilihan yang berbeda. Pada awal tahun 1917, Loretta mendaftarkan dirinya di Angkatan Laut menjadi seorang Yeomanettes  yang bertugas dalam posisi administratif. Loretta merupakan wanita pertama penerima hak dalam Dunia Perang Pertama dengan manfaat dan tanggung jawab yang sama dengan pria, termasuk bayaran yang sama.

  3. Djamila Bouhired


    Djamila Bouhired - Buku Ahed Tamimi

    Wanita asal Aljazair ini melakukan perlawanan terhadap pendudukan Prancis di Aljazair. Bersama para mahasiswa Aljazair lainnya, Djamila tergabung dalam front pembebasan Aljazair. Tak hanya melalui jalur diplomasi, Djamila kerap aktif dalam jalur baku tembak dengan  pasukanPrancis.

    Djamila yang lahir dari keluarga menengah, mendapatkan hak pendidikannya di sekolah Prancis. Kala itu, ketika semua murid Aljazair harus mengulang sebuah kalimat “France is our mother“, Djamila menolak dan meneriakkan “Algeria is our mother” yang membuat dirinya dihukum. Sifat nasionalisme Djamila berkembang dari keluarganya.

    Kakaknya sendiri sudah tergabung dalam gerakan bawah tanah untuk kemerdekaan Aljazair.

  4. Kasturba Gandhi

    Kasturba Gandhi - Buku Ahed Tamimi

    Istri dari pemimpin gerakan kemerdekaan India, Mahatma Gandhi, ini juga mempunyai peran dalam pergerakan kemerdekaan India. Kasturba melakukan kampanye untuk memperjuangkan hak masyarakat sipil dan kemerdekaan India dari Inggris.

    Menikah di usia yang muda tidak menghalangi Kasturba untuk menjadi seorang pejuang kemerdekaan  melalui kampanye dan diplomasi politik.  Dia  bersama suaminya mengunjungi Afrika untuk menjadi aktivis di Phoenix Settlement, organisasi yang mengurus persamaan hak dan kewajiban kerja bagi masyarakat India di Afrika Selatan.

    Bekerja bersama suaminya membuat sosok Kasturba dikagumi dan memberikan inspirasi untuk wanita-wanita India lainnya dalam gerakan kemerdekaan.

  5. Dolores Huerta


    Dolores Huerta - Buku Ahed Tamimi

    Bernama lengkap Dolores Clara Fernandez Huerta, wanita kelahiran New Mexico ini merupakan pemimpin serikat buruh Amerika dan aktivis pejuang hak asasi. Bersama Cesar Chavez, dia mendirikan United Farm Workers.

    Dolores membantu mengorganisir pemogokan pekerja kebun anggur di Delano tahun 1965 di California dan menjadi pemimpin negosiator dalam kontrak  pekerja yang diciptakan setelah aksi pemogokan.

    Sepak terjang Dolores dimulai saat dirinya masih duduk di bangku sekolah Stockton High School. Aktif mengikuti berbagai klub di sekolah dan mempunyai pengalaman dibedakan karena rasnya, membuat Dolores percaya bahwa lingkungan sosial harus diubah. Dirinya terjun dalam kegiatan aktivis membela hak buruh dan telah menerima banyak penghargaan atas jasa dan usahanya.

     

  6. Laksamana Malahayati

    Laksamana Malahayati - Buku Ahed Tamimi

    Nama aslinya adalah Keumalahayati. Pejuang perempuan yang berasal dari Kesultanan Aceh. Pada tahun 1585 – 1604, Malahayati memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Sitana Pangila Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alaudiin Riayat Syah IV.

    Malahayati  mendapatkan gelar Laksamana setelah dirinya melakukan pertempuran satu lawan satu dengan Cornelis de Houtman di geladak kapal Belanda. Pertempuran yang pecah pada 11 September 1599, Malahayati memimpin 2000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid)berperang melawan kapal dan benteng Belanda.


  7. Raden Ajeng Kartini

    Raden Ajeng Kartini - Buku Ahed Tamimi

    Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau yang dikenal sebagai R.A. Kartini merupakan tokoh pejuang emansipasi wanita Indonesia semasa hidupnya. Kartini terlahir di keluarga bangsawan dengan ayahnya bernama R.M. Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya M.A. Ngasirah.

    Sebagai seorang bangsawan, Kartini berhak untuk mendapatkan pendidikan. Saat mendapatkan pendidikan ini, Kartini belajar bahasa Belanda dan bersekolah hingga usia 12 tahun. Dari sinilah Kartini memulai sepak terjangnya menyuarakan pandangannya mengenai emansipasi wanita di tanah Jawa yang terkungkung oleh adat dan budaya.



    [Oleh: Fifi Feby Yanti]



    Baca juga: Ahed Tamimi; Remaja Asal Palestina yang Dikenal Dunia 

    Baca juga: 5 Wanita Terkuat dan Berpengaruh di Dunia

0

Artikel

Ahed Tamimi, seorang aktivis perempuan asal Palestina menjadi sorotan masyarakat dunia karena aksi beraninya. Perempuan 17 tahun ini menampar tentara Israel yang mendatangi rumah keluarganya di desa Nabi Saleh. Aksi yang terjadi pada 17 Desember 2017 ini direkam oleh sepupunya, Nur Tamimi dan menjadi viral setelah tersebar di dunia maya.

 

Ahed dan keluarganya tinggal di Desa Nabi Saleh, Palestina. Desa ini telah bertahun-tahun mengalami pendudukan oleh militer Israel, yang membuat para penduduknya kesulitan mendapat akses ke sumber mata air, rumah sakit, dan pantai karena terhambat oleh pos-pos pemeriksaan. Bertahun-tahun pula para penduduk Nabi Saleh berjuang melawan pendudukan dengan berbagai aksi damai, salah satunya demonstrasi.

  1. Aksi penamparan

    Buku Ahed Tamimi

    Kronologis aksi penamparan Ahed Tamimi kepada tentara Israel bermula dari demonstrasi yang dilakukan di desa Nabi Saleh mengenai perebutan wilayah di daerah tersebut. Aksi protes berlangsung ricuh setelah kurang lebih 200 demonstran melempar batu ke arah tentara Israel. Tentara Israel berusaha untuk meredakan demonstrasi yang ricuh dan masuk ke rumah keluarga Tamimi untuk menenangkan demonstran.

     

    Terdapat dua informasi yang berbeda, berdasarkan tentara Israel, demonstran tetap melempar batu dari dalam rumah. Sedangkan menurut pihak keluarga Tamimi, ketika demonstrasi berlangsung, sepupu Ahed, Mohammed Tamimi ditembak kepalanya dari jarak dekat dengan senjata berpeluru karet.

     

    Ketika tentara Israel memasuki rumahnya, Ahed, dengan ibu dan sepupunya, Nur, menghampiri kedua tentara Israel untuk mengusir mereka. Ketika mereka berkeras tidak mau pergi, Ahed menampar salah satu tentara. Menyadari bahwa seluruh peristiwa ini direkam, tentara Israel tersebut tidak membalas sedikit pun.

     

    Video tindakan berani Ahed tersebar luas di dunia maya setelah ibunya mengunggah video tersebut ke halaman Facebook-nya. Lantas video itu pun menjadi viral. Pada 19 Desember, Ahed ditangkap oleh pihak militer Israel saat tengah malam. Ibunya juga ditahan ketika menjenguk Ahed sehari setelah penangkapan.

     

    Pada 1 Januari 2018, Ahed dijatuhi dakwaan atas tindakannya. Penyerangan terhadap tentara Israel, ikut campur dalam tugas tentara, mengancam tentara, berpartisipasi dalam kerusuhan, menghasut orang lain untuk mengikuti kerusuhan, dan pelemparan baru kepada tentara.

     

    Tak hanya itu, berdasarkan info dari Al-jazeera, ibu Ahed mendapatkan tuduhan penghasutan atas tindakan mengunggah video Ahed di media sosial dan tuduhan penyerangan.  Dan sepupunya, dituduh dengan penyerangan terhadap tentara dan juga ikut campur dalam tugas tentara.

  2. Ikon perlawanan Internasional


    Buku-Ahed-Tamimi-Palestina


    Sosok Ahed Tamimi menjadi sorotan masyarakat dunia.  Ahed dikenal sebagai ikon perlawanan oleh warga Palestina. Ahed juga disandingkan dengan tokoh perlawanan lainnya seperti Malala Yousafzai, Che Guevara, dan Joan of Arc. Keberanian aksinya itu membuat dirinya harus mendekam di penjara selama 8 bulan.

     

    Ternyata aksi Ahed pada tahun 2017 bukanlah yang pertama kali. Tahun 2012, gadis ini sempat mencuri perhatian masyarakat dunia dengan foto dirinya mengancam dan mengepalkan tinju ke arah tentara Israel yang berusaha menahan adiknya pada aksi protes. Saat itu dirinya masih berusia 12 tahun. Tindakan beraninya itu membuat Ahed mendapatkan penghargaan dari Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan.

     

    Pada tahun 2015, video kontroversial Ahed tersebar luas. Video tersebut menunjukkan dirinya yang menggigit tangan tentara Israel yang sedang berusaha menangkap adiknya, Mohammed yang berusia 12 tahun atas tuduhan pelemparan batu. Di video itu juga terlihat beberapa wanita Palestina yang diantaranya adalah Nariman, ibu dari Ahed dan Mohammed, mengelilingi, menampar, dan menarik baju sang tentara.

  3. Incaran Israel


    Fakta Ahed Tamimi

    Aksi perlawanan yang dilakukan Ahed tentunya berdampak besar untuk dirinya dan keluarganya. Sejak videonya tahun 2015, Ahed diincar Israel. Dalam sebuah wawancara Al-Jazeera, Ahed merasa bahwa tentara Israel akan mendatanginya untuk menembak dan membunuhnya. Saat bermain, Ahed dan teman-temannya merasa tidak nyaman ketika ada tentara Israel yang datang. Akibat video yang jadi pemberitaan di seluruh dunia, Ahed sangat dikenali oleh para tentara Israel.

     

    Pada suatu hari, Ahed dan ibunya hendak mengunjungi kakak Ahed, Waed, yang ditahan di penjara Israel. Ketika mereka berdua masuk pos pemeriksaan, tentara Israel langsung mengenali Ahed dan memintanya untuk keluar. Ahed tidak mendapatkan izin untuk melintas dan masuk ke Israel. Ahed juga kerap diteriaki oleh para tentara Israel yang melihatnya.

     

    Demi alasan keamanan, ayah Ahed mengirim Ahed ke rumah sepupunya di Ramallah untuk sekolah. Hal ini dilakukan untuk menghindari incaran tentara Israel setiap kali Ahed melintasi pos pemeriksaan.

     

    Keluarga Ahed bukanlah keluarga sembarangan. Ayah Ahed, Bassem, beberapa kali keluar-masuk penjara Israel hingga 2012. Amnesty International melabelinya sebagai tahanan politik. Sedangkan ibunya, Nariman, sudah lima kali di penjara. Dan kakaknya, Waed, sudah dua kali masuk penjara. Sedangkan Ahed baru pertama kali ini dijebloskan ke penjara. Pasalnya, keluarga Ahed selalu berada di garda terdepan ketika ada aksi protes mengenai pendudukan wilayah yang dilakukan Israel.

  4. Ingin menjadi pengacara


    Buku-Ahed-Tamimi

    Setelah 8 bulan menjalani masa hukumannya, Ahed tak lantas putus asa. Dirinya bercita-cita untuk menjadi pengacara sehingga bisa membela orang-orang Palestina yang dihukum secara tidak adil.

     

    Ahed bercerita bahwa dia menjalani kehidupan yang sulit selama di penjara. Ahed menggunakan waktunya di penjara untuk mempelajari tentang hak asasi manusia, mengedukasi dirinya, dan melatih kesabarannya.


    Penangkapan Ahed menjadi sebuah isu sorotan tentang anak-anak yang dipenjara oleh Israel. Berdasarkan B’Tselem, organisasi hak asasi manusia Israel, dari 6000 orang Palestina yang dipenjara oleh Israel, 300 diantaranya adalah anak-anak.

     

    Ahed sangat senang bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Namun Ahed berharap bahwa semua saudaranya yang dipenjara juga dapat bebas seperti dirinya. Ahed menyebut dirinya seorang pejuang kebebasan, bukan seorang korban.  Ahed memperjuangkan apa yang benar. Dibalik reputasinya sebagai aktivis pejuang kemerdekaan Palestina, Ahed juga seorang anak remaja biasa. Hal pertama yang Ahed inginkan setelah keluar dari penjara adalah makan eskrim.

     

     


                          [Oleh: Fifi Feby Yanti]

                         
                          Baca juga: Sea Prayer; Sebuah Penghormatan Untuk Para Pengungsi

0

X