fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel

Siapa sih yang tak kenal Dan Brown? Meskipun belum pernah baca bukunya, setidaknya orang pasti pernah mendengar atau membaca namanya. Ya, buku-buku Dan Brown memang selalu masuk dalam jajaran bestseller di seluruh penjuru dunia selama 15 tahun terakhir.


Tema-tema kontroversial yang diangkat Dan Brown dalam buku-bukunya selalu berhasil menarik minat para pembaca. Setelah menggebrak dengan tema pencarian Holy Grail dalam The Da Vinci Code pada 2003, dalam novel terbarunya yang berjudul Origin, Dan Brown mengangkat tema agama versus sains.

Tak diragukan lagi, Dan Brown sukses menyajikan kisah-kisah yang membuat para pembaca ketagihan.


Baru-baru ini, Dan Brown menjadi salah satu mentor Masterclass, sebuah kursus online, dan berbagi ilmu tentang kepenulisan. Penasaran apa saja yang dia ajarkan? Mari kita intip sedikit bocorannya di artikel ini.



1. Buat janji kepada pembaca

Dan tepati janji tersebut. “Dalam menulis novel, genre apa pun, penulis seolah-olah membuat janji kepada pembaca, dan itu tidak boleh dilanggar,” ujar Dan Brown. Memperkenalkan tokoh-tokoh misterius, teori-teori konspirasi, dan teka-teki di awal cerita akan menjerat para pembaca, dan mengarahkan mereka pada pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab. Tidak perlu dijawab semua sekaligus, yang pasti di akhir cerita, semua pertanyaan itu harus terjawab. “Kalau kau menulis ada sebuah senapan tergantung di dinding pada bab satu, maka pada akhir cerita harus ada seseorang yang menggunakan senapan tersebut.”




2. Waktu yang terbatas


 Beri batasan waktu, di mana sesuatu harus terjadi. Ini akan membuat alur cerita terus maju. Contohnya, keseluruhan kisah Angels and Demons terjadi dalam waktu 24 jam, di mana dalam batas waktu itu Profesor Robert Langdon harus menyelamatkan dunia dari senjata nuklir. Batas waktu meningkatkan urgensi suatu thriller dan membantu mempertahankan laju cerita.


3. Konflik itu penting

Bagi Dan Brown, konflik mengacu pada konsep membuat suatu tokoh menjalani ujian yang sulit. Harus hanya ada satu cara untuk mencapai resolusi, dan itu tidak boleh dibuat mudah. “Memberi keterbatasan pada tokoh itu penting,” ujarnya. “Dan ini adalah salah satu hal yang tidak semata-mata berdasarkan intuisi.”


4. Bereksperimen dengan cliffhanger

Dalam buku-buku Dan Brown, banyak bab diakhiri dengan cliffhanger yang membuat pembaca gemas. Menurut Dan Brown, cliffhanger itu tentang penundaan memberi informasi dan pengaturan waktu. “Kita tidak memberitahu sesuatu… dan menciptakan jeda sebelum resolusi,” ujarnya. Brown menyarankan untuk mengutak-atik struktur narasinya, dengan mengakhiri suatu bab lebih cepat atau menyimpan pancingan (misalnya petunjuk bahwa di bab berikutnya, sang protagonis akan berada di benua lain) agar tetap menarik minat pembaca.


5.Gunakan alur-alur cerita yang berkelindan

Satu alur cerita yang menarik itu bagus. Tapi beberapa alur cerita yang menarik adalah cara yang bagus untuk memikat pembaca. (Terutama jika kau memegang janji, memberi batasan waktu, dan tidak memberi jalan mudah bagi resolusi cerita.) Brown menyampaikan bahwa dia menulis alur-alur cerita secara terpisah terlebih dulu, baru kemudian menjalinnya. “Alur-alur cerita ini harus berkelindan. Kalau tidak, alur-alur itu tidak akan relevan satu sama lain,” kata Dan Brown.


6. Lakukan banyak riset, karena mungkin kau akan menemukan hal-hal tak terduga

Dan Brown membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menulis buku, salah satunya karena dia selalu melakukan banyak riset. Dia merekomendasikan untuk sebanyak mungkin membaca tentang topik yang sedang kau tulis, entah itu sejarah, filosofi, sains, perjalanan, atau teori konspirasi. Namun di antara banyaknya informasi yang tersedia, bagaimana caranya menemukan bahan-bahan yang tepat untuk sebuah cerita thriller?

 



“Caranya adalah dengan terus menerus menyaring informasi,” ujar Brown. Simpan informasi-informasi yang menarik bagimu, meskipun mungkin pada saat itu terkesan tidak cocok dengan alur cerita yang sedang kau tulis. “Simpan informasi-informasi itu di kepalamu selama tahun-tahun kau menulis buku,” katanya. Suatu hari mungkin kau menulis suatu kalimat dan teringat akan fakta atau latar belakang yang berguna. Dan Brown menyimpan semua hasil risetnya dalam bentuk daftar elektronik, meskipun hal-hal yang terpenting dia tulis tangan.


7. Jaga prosesnya


Penulis thriller yang sukses perlu memahami berapa lama waktu yang diperlukan untuk menulis sebuah buku, dan kebiasaan yang kuat menjadi faktor penting. Seperti penulis-penulis lainnya, Dan Brown memiliki rutinitas (dia bangun jam empat pagi untuk menulis di sebuah ruangan yang sama sekali tidak punya jaringan internet) dan menekankan pentingnya berpegang pada kebiasaan itu dan menyadari bahwa itu akan dilakukan untuk jangka waktu lama. “Jaga prosesnya,” dia bilang. “Hasilnya akan mengikuti.”


8. Tulis yang salah dulu


Ini adalah cara Dan Brown untuk keluar dari kebuntuan dalam menulis, sekaligus saran terbaik yang pernah dia terima. “Tulis yang salah dulu, dan biarkan itu jadi proses untuk menulis yang benar.” Alih-alih menulis satu paragraf kemudian menghapusnya karena tidak sesuai keinginan, menulis saja terus. Revisi-revisi bisa dilakukan belakangan.



9. Mulai dengan dunia yang spesifik


Seringkali, memulai menulis adalah langkah yang paling sulit, dan Dan Brown menyarankan untuk memulai dengan memilih dunia yang menarik bagimu. Bisa jadi dunia jurnalisme, atau dunia kuliner. Setidaknya ini akan memberikan batasan tempat dari cerita yang kau tulis. Brown memberi contoh sebagai berikut: “Kalau kau memiliki restoran, tokoh antagonisnya bisa saja seorang mafia. Kau meminjam uang dari orang salah untuk membuka restoran, dan jadilah sebuah cerita thriller—atau setidaknya fondasi dari cerita thriller.”



10. Ingatlah untuk berambisi


Tidak, ini bukan berarti memutuskan untuk mulai menulis cerita thriller (yang merupakan suatu keputusan besar). Meskipun memiliki teknik menulis yang luar biasa, kau butuh kreatifitas untuk menaikkan kualitas tulisanmu ke tingkat selanjutnya. Semua buku Dan Brown mengandung isu-isu penting yang sudah terkenal luas—seperti isu agama atau kelebihan populasi. Dan Brown memilih isu-isu ini karena menurutnya isu-isu ini berguna. Intinya, tema-tema ambisius membuat taruhannya lebih tinggi.

 

“Jika kau membuat cliffhanger tentang akhir dunia, isunya akan menjangkau lebih banyak orang, dibandingkan jika kau membuat cliffhanger tentang mengantarkan anak ke sekolah tepat waktu. Keduanya efektif dalam genrenya masing-masing, tapi aku memilih tema-tema besar karena lebih menarik bagi banyak orang.”

 

Jadi, mulailah berambisi, belajar dan mulai menulis. Siapa tahu, mungkin kau akan menjadi Dan Brown berikutnya.


[Diterjemahkan dan disadur oleh Dy dari artikel Quartzy karya Aisha Hassan] 
https://qz.com/quartzy/1449852/dan-browns-top-10-tips-on-how-to-write-a-bestselling-thriller/



Baca juga: Ingin Jadi Penulis? Simak Pesan Penting dari Dan Brown Yuk!


Baca juga: 10 Fakta Menarik Dibalik Sosok Dan Brown

0

Artikel

dan-brown-inferno


Pada artikel wawancara sebelumnya, Dan Brown mengaku bahwa tempat paling favorit dari semua tempat yang pernah dia kunjungi di seluruh dunia adalah Istanbul. Dan Brown menganggap Istanbul sebagai kota tempat “timur” dan “barat” bertemu secara geografis. Kota yang semula bernama Konstantinopel tersebut, merupakan ibu kota dari empat kekaisaran, yaitu Romawi, Byzantium, Latin dan Ottoman. Setiap kekaisaran memiliki ciri khas dan peninggalan yang berbeda satu sama lain. Sehingga membuat Istanbul menjadi kota yang kaya akan warisan sejarah dan budaya.


Dalam artikel tourturki.co.id,  dikatakan bahwa meskipun Istanbul bukan ibu kota Negara Turki, tetapi Istanbul merupakan kota terluas dengan 13 juta penduduk. Istanbul juga merupakan kota lintas benua, Asia dan Eropa, yang dipisahkan oleh suatu selat bernama Selat Bosporus. Kedua benua tersebut dihubungkan oleh sebuah jembatan yang juga diberi nama Jembatan Bosporus. Di sisi lain Jembatan Bosporus (atau dikenal dengan nama Jembatan Fatih Sultan Mehmed), terdapat sebuah tanda selamat datang ke dua benua tersebut, Benua Asia atau Benua Eropa.


Istanbul merupakan salah satu tempat yang menjadi latar belakang novel best-seller karya Dan Brown, Inferno. Karakter utama dalam novel, Robert Langdon, mengakhiri petualangan untuk memecahkan teka-teki puisi Dante di kota terbesar di Turki tersebut. Langdon sempat mengunjungi beberapa lokasi di Istanbul sampai akhirnya dia mampu menemukan jawaban dari teka-teki puisi Dante.



Kalau sudah membaca Inferno, Anda pasti familiar dengan tempat-tempat di bawah ini. Apa saja keunikan dari tempat-tempat tersebut?



Hagia Sophia, Museum Kebijakan Suci Bersepuh Emas



hagia-sophia


Bangunan yang dibangun pada tahun 360 M ini awalnya menjadi katedral Ortodoks Timur sampai tahun 1204. Setelah terjadinya Perang Salib Keempat, Enrico Dandolo mengubah Hagia Sophia menjadi gereja Katolik. Pada abad kelima belas, menyusul penaklukan Konstantinopel oleh Fatih Sultan Mehmed, bangunan itu diubah menjadi masjid. Selanjutnya pada tahun 1935, Hagia Sophia akhirnya difungsikan sebagai sebuah museum.


Dan Brown dalam novel Inferno menyebut bangunan bersejarah ini sebagai museum kebijakan suci bersepuh emas. Semua dinding Hagia Sophia, kecuali yang dilapisi marmer, dihiasi mosaik sangat indah yang terbuat dari emas, perak, kaca, terakota, dan batu berwarna-warni. Beberapa mosaik di Hagia Sophia merupakan seni Byzantium dan dianggap sebagai mahakarya. Motif yang digunakan untuk menciptakan mosaik sebagian besar adalah potret kekaisaran dan gambar religius dari ajaran Kristen.

 


Kubah Hagia Sophia merupakan elemen yang paling mencolok dalam bangunan tersebut. Seperti dilansir pada florenceinferno.com, perbedaan paling penting dalam desain arsitektur Hagia Sophia adalah ukuran yang jauh lebih besar dan kubah yang lebih tinggi daripada bangunan gereja pada umumnya. Kubah yang berada di atas ruang tengah memiliki tinggi 55,60 meter dari permukaan tanah, 31,87 meter dari bagian utara ke selatan dan 30,87 meter dari bagian timur ke barat.



Fakta menarik tentang Hagia Sophia: Sophia dalam bahasa Yunani berarti kebijaksanaan. Nama lengkap Hagia Sophia dalam bahasa Yunani berarti ‘Shrine of the Holy Wisdom of God’, Tempat Kebijaksanaan Suci dari Tuhan.




Istana Topkapi, Kota di dalam Kota Istanbul



istana-topkapi

Seperti yang digambarkan Dan Brown dalam novelnya, Istana Topkapi menjadi favorit di kalangan turis karena memiliki pemandangan strategis ke jalur air Bosporus. Turis kebanyakan datang mengunjungi istana tersebut untuk mengagumi keindahan pemandangan dan koleksi menawan harta karun Ottoman. Mencakup jubah dan pedang yang konon pernah digunakan oleh Nabi Muhammad.

 

Istana Topkapi merupakan pusat kekuasaan Ottoman dan menjadi pusat administrasi, pendidikan, serta artistik kekaisaran Ottoman selama hampir empat ratus tahun. Istana ini sering dianggap sebagai kota di dalam kota karena begitu luas. Istana Topkapi terdiri dari 4 bagian utama yang berisi taman-taman yang indah, dapur yang sangat besar, masjid, rumah sakit, paviliun-paviliun serta Harem. Harem merupakan tempat tinggal sultan Ottoman bersama keluarga, selir-selir, dan para pelayan serta para penjaga Harem. Seperti yang dilansir pada worldwanderista.com, bangunan kamar-kamar yang ada di Harem dipenuhi dengan mosaik mewah dan ubin yang berwarna cerah. Begitu juga dengan detail-detail emas yang ada di jendela Harem, semuanya cantik dan indah!

 

Setelah berdirinya Republik Turki, Istana Topkapi dialihfungsikan menjadi museum pada tanggal 3 April tahun 1924. Museum ini berisi koleksi porselen, jubah, senjata, perisai, baju besi, miniatur kekaisaran Ottoman, kaligrafi Islam, serta perhiasan-perhiasan khas Ottoman.

 

Fakta menarik tentang Istana Topkapi: Dalam bahasa Turki, ”Topkapi” berarti ”Gerbang Meriam”. Nama tersebut berasal dari meriam besar yang berdiri kokoh di luar gerbangnya.



Basilica Cistern, Waduk Bawah Tanah Istanbul



Basilica-cistern


Hanya beberapa menit dari Hagia Sophia, Robert Langdon keliru menganggap bahwa pintu masuk sederhana yang dia lihat mengarah ke klub dansa bawah tanah, namun kenyataannya pintu tersebut menuju ke sebuah konser di dalam waduk. Bertrand Zobrist, ilmuwan yang telah membuat teka-teki puisi Dante dalam novel Inferno, telah meninggalkan virus berbahaya di waduk yang kini dipenuhi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.

 

Waduk tersebut bernama Basilica Cistern, dibangun pada abad ke-6 di bawah kekaisaran Byzantium. Bangunan bawah tanah ini memiliki tinggi 70 meter dengan lebar 140 meter. Ruangan ini memiliki gaya khas romawi dengan tiang beton sebanyak 336 buah. Menurut informasi dari cheria-travel.com, Basilica Cistern mampu menyimpan air sampai 80.000 meter kubik. Sejak era kekaisaran Byzantium, Basilica Cistern berfungsi menyuplai air untuk kota Istanbul -bahkan hingga masa kekaisaran Ottoman memasuki era modern. Air dari tempat ini juga merupakan suplai utama ke Istana Topkapi.

 

Salah satu keunikan yang dimiliki Basilica Cistern adalah terdapat pahatan patung Medusa yang berbentuk persis sama dengan letak menghadap yang berbeda. Menurut mitologi Yunani, Medusa merupakan salah satu mahkluk Gorgon, tokoh perempuan yang hanya dengan pandangannya saja dapat mengubah makhluk hidup menjadi batu. Belum ada teori pasti yang menjelaskan mengapa kedua pahatan Medusa di Basilica Cistern tersebut menghadap ke arah yang berbeda.

 

Basilica Cistern memiliki 336 kolom, terbuat dari marmer dan granit yang sebagian besar bergaya Corinthian. Salah satu keunikan lain yang ada di Basilica Cistern adalah kolom ‘Hen’s Eye’ yang memiliki motif setetes air mata di bagian atasnya. Bentuk air mata tersebut dikaitkan dengan 7.000 budak yang dipekerjakan untuk membangun Basilica Cistern dan ratusan dari mereka tewas selama pembangunan berlangsung.

 

Fakta menarik tentang Basilica Cistern: Tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi film James Bond, From Russia with Love pada tahun 1963.



[Oleh: Fauziah Hafidha]



Baca juga: Artificial Intelligence Bisa Gantikan Manusia? Ini Kata Dan Brown


Baca juga: Ingin jadi Penulis? Simak Pesan Penting dari Dan Brown Yuk!

0

Artikel

Buku Origin merupakan karya kedelapan dari penulis asal Amerika, Dan Brown. Penulis berusia 53 tahun ini membutuhkan waktu empat tahun untuk proses penelitian serta penulisan buku tersebut. Seperti yang dilansir pada artikel nytimes.com, Dan Brown merupakan penulis yang sangat disiplin. Dan bangun pada pukul 4 setiap pagi, menyiapkan minuman sehat dan kemudian menulis novel.

 

Pada artikel sebelumnya, Dan Brown sudah menceritakan bagaimana serunya proses menulis Origin yang melibatkan kisah tentang artificial intelligence. Pada artikel kali ini kita akan mengetahui buku mana yang paling sulit ditulis menurut Dan Brown dan alasan kenapa Dan Brown tidak lelah ketika menghadapi antrian panjang di acara booksigning.

 

Temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seru lainnya pada artikel ini.


Q: Origin memiliki plot cerita yang berbeda dengan novel-novel Dan Brown sebelumnya. Origin terasa sangat modern dan mungkin terjadi pada masa sekarang. Apakah Dan Brown mengalami kesulitan memindahkan hasil riset untuk mengakomodasi aspek teknologi dari karakter Winston?

A: Oh, pertanyaan tersebut sangat bagus. Jawabannya adalah, ya. Sangat sulit. Saya lebih banyak tau tentang seni daripada tentang artificial intelligence. Saya melakukan banyak sekali penelitian, berdiskusi dengan orang-orang sangat pintar yang harus menjelaskan pada saya dalam bahasa yang sederhana sampai saya benar-benar mengerti.

Saya menyukai teknologi, menurut saya teknologi sangat menarik. Saya rasa teknologi akan memengaruhi budaya manusia pada tingkat yang jauh lebih besar daripada katalis lain, termasuk agama, filosofi atau perang. Saya rasa semakin lama manusia semakin bergantung kepada teknologi. Perkembangan teknologi sangat menakjubkan.

 

Saya ceritakan sesuatu, ambil contoh pada masa Yunani Kuno. Mereka harus melihat jauh sekali melewati beberapa generasi untuk melihat kehidupan manusia yang berbeda dengan mereka. Manusia dulu membutuhkan waktu yang sangat panjang dari mengetahui cara menggunakan api ke menemukan cara membuat roda, lalu menemukan teleskop; kemudian menemukan mesin uap, lalu komputer, semakin kesini jangka waktunya semakin pendek. Sehingga, pada masa kini, kita hanya cukup melihat satu generasi sebelum kita untuk melihat bagaimana kehidupan manusia yang tidak memakai teknologi seperti yang hari ini kita pakai. Mungkin di kemudian hari, anak-anak kita akan menertawakan kita karena tidak memiliki teknologi yang mereka pakai.


Q:
Jika Dan Brown membandingkan dirinya dengan Robert Langdon, apa saja persamaan dan perbedaan yang mereka miliki? Apabila diberi pilihan, siapakah yang akan Dan Brown pilih, dirinya atau Robert Langdon?

A: Wow, pertanyaan yang sulit. Saya memilih jadi diri saya sendiri karena Langdon jauh lebih pintar, lebih pemberani dan bertalenta –dan dia juga adalah hasil imajinasi, gabungan dari beberapa karakter orang. Saya memiilih jadi diri saya sendiri karena saya lebih suka tinggal di rumah, menulis tentang Langdon, daripada harus jatuh dari helikopter dan berlari-lari menghindari orang-orang yang mencoba menembak saya. Langdon bisa pergi ke berbagai tempat karena saya yang pergi ke tempat-tempat tersebut. Saya bisa melakukan yang Langdon lakukan tanpa mengalami hal yang berbahaya 🙂


Q: Dalam menulis novel, apakah Dan Brown sudah merencanakan “ending”-nya sebelum mulai?

A: Saya merencanakan setiap novel dengan sangat hati-hati. Novel yang saya tulis adalah thriller, sehingga saya harus tahu bagaimana alur ceritanya akan berakhir. Kalau tidak begitu, akhirnya akan saling tumpang tindih dan tidak relevan. Outline yang saya buat untuk novel The Da Vinci Code saja lebih dari 400 halaman.

Kadang-kadang saya menulis plot akhir sebelum menulis plot awal. Kadang juga saya menulis prolog dan epilog-nya terlebih dulu, kemudian tugas saya sebagai seorang novelis adalah membawa pembaca dari titik A (prolog) ke titik B (epilog). Banyak orang berpikir bahwa mereka harus memiliki ide yang sangat brilian untuk dapat menulis novel. Novel bukan tentang “What” tapi tentang “How”.

Saya ambil contohnya Ian Fleming, penulis James Bond. Setiap tema dari buku-buku James Bond memiliki “What” yang pada dasarnya sama, yaitu “Apakah James Bond akan berhasil menyelamatkan dunia dan mendapatkan gadis yang dia inginkan?”, atau “Apakah James Bond akan berhasil menjinakkan bom?” Kita semua tahu jawaban dari pertanyaan “What” tersebut, kita tidak membaca buku James Bond atau menonton filmnya dan bertanya-tanya “Oh, apakah James akan berhasil menjinakkan bom?” Tentu saja dia akan berhasil. Alasan kita membaca buku dan menonton film James Bond adalah untuk melihat “bagaimana” hal itu terjadi.

Jadi, begitulah tugas saya sebagai seorang penulis. Saya harus mampu menentukan bagaimana jalan yang dilalui si tokoh, Langdon misalnya, sehingga membuat pembaca saya tertarik, terkejut dan juga membawa mereka ke tempat yang ingin mereka lihat. Alur tersebut bisa memungkinkan untuk membagi ide, fakta, informasi tentang teknologi atau seni yang belum pernah mereka pikirkan. Itulah yang menyebabkan pekerjaan saya ini begitu menyenangkan.


Q: Buku apa yang menurut Dan Brown paling sulit untuk ditulis sejauh ini?

 

A: Jawabannya adalah The Lost Symbol. Saya membutuhkan waktu 6 tahun untuk menulis buku tersebut. Salah satu alasannya karena buku tersebut dibuat setelah The Da Vinci Code dan hidup saya berubah sangat drastis. Alasan lainnya adalah karena buku tersebut membahas tentang misteri kuno dan persaudaraan freemason sehingga membutuhkan banyak sekali penelitian. Saya membutuhkan banyak waktu untuk menyusun buku tersebut. Omong-omong, judul awal untuk novel The Last Symbol adalah The Secret of Secret.

 


Q: Apa yang membuat Dan Brown tidak berhenti menulis setelah buku pertamanya tidak begitu mendapat banyak perhatian?

 

A: Saya tidak tahu. Keras kepala, atau mungkin juga karena kebodohan. Saya hanya ingin menulis dan merasa bahwa saya memiliki kisah yang ingin diceritakan. Saya harap para penulis muda atau siapa pun yang ingin jadi penulis memiliki perasaan yang sama. Anda menulis demi menceritakan suatu kisah. Jika Anda mengejar kesuksesan finansial, mungkin Anda akan merasa kecewa. Tapi jika Anda menulis karena ingin menceritakan suatu kisah, dengan sungguh-sungguh, dan berusaha memberikan tulisan terbaik Anda, sukses akan menemukan Anda.

 

There are a lot of luck to success, but there is also a lot of persistents –Dan Brown

 

Saat menyelesaikan novel The Da Vinci Code, yaitu novel keempat saya (setelah novel-novel sebelumnya tidak begitu laku), saya duduk dan membaca manuskrip sembari berpikir “Jika buku ini kembali tidak sukses dan orang-orang tidak menyukai ceritanya, saya akan berhenti menulis. Saya merasa orang-orang tidak memiliki selera yang sama dengan saya. Kenapa? karena ketika membaca The Da Vinci Code, saya sangat menyukai ceritanya”.

 

Jadi jika Anda adalah orang yang kreatif, entah itu seorang novelis, koki, atau musisi, Anda harus menciptakan karya yang Anda suka. Selera Anda harus menjadi panduan. Anda menciptakan karya yang Anda suka, kemudian Anda membagikannya kepada orang lain –dengan harapan mereka juga akan menyukainya. Beberapa orang akan menyukainya –mereka adalah penggemar Anda. Beberapa orang tidak menyukainya –mereka adalah kritikus Anda. Tapi jika Anda beruntung dan memiliki cukup banyak penggemar, mungkin Anda bisa menjadikan hal tersebut sebagai mata pencaharian. Saya memang menjadi penulis sudah cukup lama, tetapi menulis bukan selalu mata pencaharian utama saya. Dulu saya tidak menghasilkan uang sama sekali sebagai penulis.

 

Bagi para penulis pemula atau para penulis yang sudah menerbitkan buku tapi belum begitu laku, saya ada satu cerita. Pada acara penandatanganan buku Digital Fortress, kalau tidak salah di depan sebuah toko buku di dalam mall di New Hampshire, para panitia dengan baiknya menyediakan sebuah meja dan menaruh beberapa eksemplar buku Digital Fortress. Saat itu saya berpakaian sangat rapi –memakai jas dan dasi. Saya terlihat konyol, tetapi saya sangat bersemangat karena akan menandatangani buku-buku saya. Saya bahkan menyediakan tiga pulpen untuk berjaga-jaga kalau tintanya habis. Saya duduk di sana selama tiga jam. Orang-orang berlalu lalang di depan saya, tapi tidak ada yang mau melakukan kontak mata dengan saya atau berbicara dengan saya.

 

Pada akhirnya ada seseorang yang berjalan ke arah saya sambil melakukan kontak mata sehingga saya bersiap-siap mengambil pulpen. Saya terkejut karena ternyata dia menanyakan di mana letak kamar mandi! Saya tidak menandatangani satupun buku hari itu. Saya tidak pernah lupa hari itu. Sekarang, ketika saya menghadiri acara penandantanganan buku dengan antrian yang sangat panjang, orang akan berkata “Oh, Anda pasti sangat lelah”. Saya akan menjawab “Tidak, saya tidak lelah. Saya akan tetap berada di sini sampai selesai.

Saya sangat bersyukur ada orang yang mau membaca buku saya –karena saya ingat hari-hari ketika tidak ada yang membaca buku saya”.





[Oleh: Fauziah Hafidha]




Baca juga: Artificial Intelligence Bisa Gantikan Manusia? Ini Kata Dan Brown

Baca juga: 7 Blog Penulis Keren yang Bisa Dikunjungi Saat Butuh Inspirasi

0

Artikel

Apakah Artificial Intelligence bisa gantikan manusia?


Dan Brown merupakan penulis best-seller novel-novel thriller dengan karya terbarunya Origin. Seperti dirilis nytimes.com, novel tersebut membahas beberapa topik menarik seperti kekhasan serta keunikan gereja Sagrada Familia dan juga perkembangan pesat dari artificial intelligence (AI) yang diwakili oleh komputer bernama Winston.

Pada bulan Agustus 2018, Dan Brown melakukan live di Facebook-nya dan menjawab berbagai pertanyaan seru dari para pembaca di seluruh dunia. Penulis merangkum sebagian pertanyaan dan jawaban tersebut dalam artikel ini. Salah satu topik yang dibahas pada artikel ini adalah apakah Winston akan benar-benar hadir di tengah-tengah kehidupan manusia?

(Artikel ini disadur oleh Fauziah Hafidha dari video live Facebook Dan Brown.)  

Q: Apa saran Dan Brown untuk penulis-penulis baru?

 

A: Salah satu hal terpenting yang bisa dilakukan sebagai penulis baru adalah Anda harus sangat serius tentang proses yang sedang dijalani. Hal tersebut berarti Anda harus menyediakan waktu tersendiri, setiap hari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari setahun; untuk menulis. Saya tahu bahwa kita semua sibuk, namun bahkan jika waktu luang yang Anda miliki hanya 30 menit, luangkanlah.

Waktu menulis Digital Fortress, saya memiliki dua pekerjaan sekaligus. Saya bangun jam 4 pagi, menulis sampai jam 7, kemudian berangkat ke tempat kerja saya yang pertama. Sore hari saya pergi bekerja ke tempat pekerjaan saya yang lain. Keesokan harinya saya bangun pagi dan melakukan hal yang sama lagi.

Anda juga harus bisa menemukan tempat privasi khusus, di rumah atau apartemen Anda misalnya, atau bahkan jika Anda harus duduk di dalam mobil sendirian untuk menulis; lakukanlah. Saya menyarankan agar Anda menulis di pagi hari, tapi beberapa orang lebih suka menulis di malam hari; itu juga tidak apa-apa. Pastikan saja bahwa Anda menulis di waktu yang sama setiap harinya. Anda juga harus melindungi proses penulisan tersebut. Saya bahkan punya stiker yang saya tempelkan di komputer bertuliskan “protect the process and the result will take care of themselves”. Saya sangat percaya hal itu. Menulislah dan disiplin terhadap proses penulisan tersebut.

 

Meskipun disiplin, Anda tetap tidak perlu memaksakan hasilnya. Yang artinya, katakanlah pada diri Anda sendiri: meskipun saya hanya memiliki sedikit waktu untuk menulis –tidak apa-apa, yang penting sudah meluangkan waktu.

Writing is like hitting your head against the brick wall until the wall is weakened off and it breaks

Satu saran lagi tentang tempat khusus untuk menulis. Sebetulnya Anda tidak membutuhkan tempat menulis yang “sempurna”. Satu hal yang saya sarankan untuk tempat menulis adalah pastikan tempat tersebut tidak memiliki akses internet. Matikan internet dan fokuslah menulis 🙂


Q: Saya butuh Winston, apakah Dan Brown bisa memberikannya?

A: Saya harap saya memiliki kemampuan untuk membuat Winston, tapi saya tidak bisa. Winston akan datang sebentar lagi. Ketika melakukan riset untuk buku Origin, saya banyak meluangkan waktu dengan para ahli komputer di Barcelona Supercomputing Center –dan saya tahu bahwa artificial intelligence akan segera datang. Entah ini hal yang baik atau buruk, tapi kita akan segera memiliki Winston.

 

Let’s just hope that our morality keeps pace with our technology, and that we can figure out how to use this big technology

Q: Apa arti dari struktur lingkaran yang ada di cover buku Origin?



A: Saya terinspirasi setelah melihat sebuah tangga spiral di Sagrada Familia yang ketika dilihat dari atas terlihat mirip sekali dengan cangkang Nautilus. Bentuk tangga tersebut juga mengingatkan kepada bentuk helix DNA. Karena saya menulis tentang Barcelona, Sagrada Familia, dan DNA… saya merasa tangga spiral itu sesuai dengan bentuk yang saya dan tim ingin gunakan. Jadi Anda bisa melihat struktur lingkaran itu sebagai tangga spiral, melihatnya mirip seperti struktur DNA, atau Anda juga bisa melihatnya seperti cangkang Nautilus. Intinya, Anda bisa melihat struktur tersebut dan menginterpretasikannya sebagai bermacam-macam hal.

Q: Tempat paling menarik yang pernah dikunjungi Dan Brown? Mengapa?

A: Saya sangat beruntung karena bisa berkeliling dunia ketika proses penulisan buku. Saya juga berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang menarik, sejarawan, kurator, serta para sarjana. Saya rasa, dari semua perjalanan yang pernah saya lakukan, Istanbul adalah tempat yang paling berkesan karena keeksotisannya. Istanbul adalah tempat “timur” dan “barat” bertemu secara geografis. Istanbul juga satu-satunya tempat di bumi yang menjadi ibukota tiga kekaisaran.. hmm saya lupa apa nama ketiga kekaisaran tersebut. Roman, Byzantine, dan Ottoman..kalau tidak salah.

Q: Menurut Dan Brown, bagaimana proses pembuatan film yang diadaptasi dari novel-novelnya? Apakah Dan Brown menyukai prosesnya atau lebih memilih untuk menghindar?

A: Saya merupakan fans berat Tom Hanks dan Ron Howard. Saya mencintai film layar lebar. Saya pikir, novel-novel saya sulit untuk diadaptasi menjadi sebuah film karena terlalu banyak konten di dalamnya. Saya merasa berterima kasih kepada Ron Howard dan timnya, karena meskipun sulit sekali memasukkan semua konten yang ada di dalam buku ke dalam film, namun mereka berhasil mempertahankan pertanyaan mendasar dari novel-novel tersebut.

 

Ketika saya melihat script adegan pembuka untuk film Inferno, bunyinya seperti ini: “Akankah Anda membunuh setengah populasi manusia di bumi untuk menyelamatkan ras manusia?”. Saya tahu mereka tidak akan menutupi pertanyaan besar dari novel tersebut, meskipun pertanyaan-pertanyaan tersebut cenderung kontroversial. Harapan saya adalah pertanyaan tersebut membuka dialog, tapi kenyataannya terkadang malah menimbulkan kontroversial.

 

Begitu juga dengan film The Da Vinci Code. Novel tersebut mempertanyakan pertanyaan yang sangat sederhana: “Apa artinya bagi para pengikut agama Kristen, jika Jesus sebetulnya bukanlah anak Tuhan?” Saya besar di lingkungan keluarga yang memperbolehkan saya menanyakan ha-hal seperti itu. Orang tua saya selalu mendorong agar saya aktif bertanya mengenai agama. Setelah novel The Da Vinci Code dirilis, banyak orang yang tidak suka dengan pertanyaan yang saya lontarkan tersebut. Tapi harapan saya hanyalah agar pertanyaan tersebut membuka sebuah dialog.

 

Q: Apakah Robert Langdon akan menikah?

A: Ya, mungkin saja. Never say never. Salah satu elemen yang membuat novel saya ber-genre thriller adalah ceritanya bisa membuat Anda bertanya-tanya akankah Robert Langdon menikah dengan Victoria atau menikah dengan Ambra? Hal tersebut menciptakan keromantisan –berbeda jika Robert Langdon menikah, tidak akan ada keromantisan seperti itu. Mungkin saja di buku selanjutnya dia akan bertemu dan menjalin hubungan dengan salah satu wanita yang pernah dia temui, saya tidak yakin… tapi pertanyaan Anda membuat saya memikirkan tentang hal tersebut dan mungkin saja bisa menjadi perubahan yang baik bagi Langdon 🙂 Kita lihat nanti, ya.





[Oleh : Fauziah Hadifha]



Baca juga: Memahami Artificial Intelligence Lebih Dalam

Baca juga: Penasaran dengan Novel Origin? Ini Dia Sinopsisnya

 

 

 

 

0

Artikel, Kolom Editor

Siapapun dirimu

Apa pun keyakinanmu

Semuanya akan berubah


Dan Brown, sang penulis novel-novel bestseller, kembali dengan kisah mencengangkan tentang Profesor Robert Langdon. Bertajuk Origin, novel ini menjadi novel kelima dalam serial Robert Langdon yang sebelumnya telah dikenal oleh jutaan pembaca di sepenjuru dunia lewat Angels and Demons, The Da Vinci Code, The Lost Symbol, dan Inferno.

Origin pertama kali dirilis pada Oktober 2017 dalam Bahasa Inggris. Di tahun yang sama, novel ini mendapat nominasi Goodreads Choice Award untuk kategori Mystery & ThrillerOrigin bertengger di daftar New York Times bestsellers selama lebih dari 20 minggu. Kini, Origin telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam berbagai bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia.

Origin Dan Brown


Butuh waktu 4 tahun bagi Dan Brown untuk melakukan riset dan menulis novel Origin. Dia menghabiskan banyak waktu di Spanyol, yang menjadi latar tempat utama dalam novel ini.

Seperti novel-novel Dan Brown lainnya, Origin juga memiliki ciri khas berupa deskripsi mendetail tentang berbagai lokasi bersejarah yang didatangi oleh Langdon, wanita cantik nan cerdas yang mendampingi Langdon dalam menjalankan misinya, serta tema cerita yang kontroversial.


Penasaran lebih lanjut tentang Origin? Simak sinopsisnya berikut ini


Robert Langdon, profesor simbologi dan ikonologi agama Universitas Harvard, tiba di Museum Guggenheim yang supermodern di Bilbao, Spanyol, untuk menghadiri pengumuman besar tentang penemuan yang “akan mengubah dunia sains.” Tuan rumah acara malam hari itu adalah Edmond Kirsch, seorang miliuner dan futuris berusia empat puluh tahun.

Kirsch adalah sosok yang terkenal di seluruh dunia, berkat penemuan-penemuan teknologi tingkat tingginya yang mengagumkan, serta prediksi-prediksinya yang berani. Dia juga merupakan salah satu mahasiswa Langdon dua puluh tahun yang lalu, dan sekarang dia akan mengungkap suatu terobosan yang mencengangkan… yang akan menjawab dua pertanyaan fundamental terkait eksistensi manusia.

Begitu acara dimulai, Langdon dan beberapa ratus hadirin lainnya terpukau oleh pemaparan yang begitu orisinil, dan Langdon menyadari bahwa ini akan jauh lebih kontroversial daripada dugaannya. Namun acara yang telah diatur dengan amat cermat itu tiba-tiba kacau balau, dan penemuan berharga Kirsch nyaris hilang selamanya.

Terguncang dan menghadapi bahaya besar, Langdon terpaksa melarikan diri dari Bilbao. Dia didampingi oleh Ambra Vidal, sang direktur museum yang bekerja sama dengan Kirsch untuk menyelenggarakan acara. Keduanya bertolak ke Barcelona untuk mencari password teka-teki yang akan mengungkap rahasia Kirsch.

Menyusuri koridor-koridor gelap sejarah rahasia dan agama ekstrim, Langdon dan Vidal harus menghindari lawan yang sepertinya tahu segalanya, yang kemungkinan didukung oleh pihak Istana Kerajaan Spanyol … yang akan melakukan apa pun untuk membungkam Edmond Kirsch.

Mengikuti jejak-jejak tersembunyi dalam karya seni modern dan beragam simbol misterius, Langdon dan Vidal menemukan petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membawa mereka berhadapan dengan penemuan Kirsch… dan kenyataan mencengangkan yang selama ini tidak kita ketahui.

Dan Brown dan Columbia Pictures kini sedang bekerjasama untuk mengadaptasi Origin ke film layar lebar. Ini akan menjadi film keempat yang diangkat dari novel karya Dan Brown setelah The Da Vinci Code pada 2006, Angels and Demons pada 2009, dan Inferno pada 2016.

 

 

0

X