fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Fenomena dilangkahi menikah oleh adik memang bisa jadi beban bagi si kakak di keluarga dan orang-orang terdekat. Risiko jadi bahan gunjingan menghadang di depan mata. Namun, apa iya mau menghalangi adik, yang jelas-jelas sudah bertemu jodoh dan siap menikah, hanya demi ego si kakak yang tak ingin dilangkahi?

Kalau kamu ada di posisi si kakak bagaimana cara menenangkan hati saat dilangkahi adik?

Baca juga:
3 Hal Persiapan Nikah Ini Bakal Bikin Mentalmu Lemah
#MuslimGirl: Traveling ala Muslim?

dilangkahi nikah


Minta Dukungan Keluarga


Dalam budaya Sunda dikenal istilah ngarunghal. Budaya ini berupa pemberian barang atau perhiasan dari adik untuk kakaknya agar rela melepas si adik lebih dahulu menikah. Namun, dalam Islam tak ada syarat demikian. Yang lebih dibutuhkan oleh si kakak adalah dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat.

Sedikit atau banyak akan ada rasa berat hati melihat adik kecil kita baik perempuan apalagi adik laki-laki, bertemu jodohnya lebih cepat dari bayangan. Bicarakan dengan keluarga jika memang merasa masih perlu waktu untuk menerima.

Namun, tentu jangan sampai berlarut hingga mengulur-ulur waktu pernikahan si adik. Wajar sekali kalau kamu meminta keluarga untuk menghargai perasaanmu saat mempersiapkan pernikahan adik. Keluarga pasti akan mengerti perasaan kamu sebagai kakak. Apalagi jika ada saudara atau orang lain yang memanas-manasi.

Jangan dipendam sendiri ya rasa sakitnya, lebih baik dikeluarkan agar cepat terobati.

 

Tetap Berprasangka Baik


Mungkin dilangkahi adik tak akan begitu berpengaruh jika memang si kakak belum begitu memikirkan pernikahan. Pasti semua akan berjalan lebih mudah. Tak perlu percaya pada mitos bahwa jodoh akan jadi sulit bagi si kakak.

Namun, jika si kakak dalam posisi yang sudah siap menikah, sedang menunggu waktu jodoh datang, atau baru saja ditinggalkan calon pasangan, semua akan terasa lebih berat untuk dihadapi.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Buat kamu yang lagi menunggu jodoh.. #JanganNikahDulu #Pranikah #Nikahsakinah #Pernikahan #BukuNikah #SunnahNikah #BukuQanita #PenerbitQanita #QanitaInspirasi

A post shared by Penerbit Qanita (@penerbitqanita) on



Hal pertama yang harus kamu pikirkan adalah tetap berprasangka baik kepada Allah Swt.. Menyadari bahwa jodoh adalah urusan-Nya. Waktu terbaik pasti akan dating. Jangan nikah dulu jika hanya mengejar target usia agar tak dilangkahi adik.

Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan

Pernikahan bukanlah soal status semata. Lebih baik fokus memperbaiki diri demi menjemput sang pangeran impian kelak.

Dilangkahi menikah
Terakhir, sebagai kakak, jangan lupa untuk mendukung pernikahan adik. Jangan sampai karena terlalu memikirkan jodoh yang belum dating, kita membiarkan adik merasa tak nyaman dengan pernikahannya. Apalagi pernikahan bukan untuk satu hari, melainkan untuk seumur hidup.[]

Penulis: Lilih S. Hilaliah



Segera terbit buku Jangan Nikah Dulu karya Hanny Dewanti!

Menunda Menikah

0

Artikel, baru

Traveling ala Muslim

Muslim travel, apa yang muncul di benakmu ketika mendengar istilah tersebut? Hmm, mungkin gambaran orang-orang yang mengenakan jubah berwarna putih dan abaya hitam sedang mengelilingi Kakbah? Menikmati makanan khas timur tengah seperti lamb shawarma (kebab domba khas Turki) dan ayam tandoori yang membuat ngiler? Atau, mungkin membayangkan influencer berhijab favorit kamu yang berfoto OOTD di tengah gurun dengan hashtag #VisitDubai?



Belakangan ini, istilah muslim travel sering dikaitkan dengan 2 hal yang ‘ekstrim’: perjalanan religius untuk melaksakan ibadah haji serta umrah atau perjalanan yang hanya sekadar mencari tempat kuliner halal dan berfoto menggunakan baju tertutup di tempat yang eksotis.

Spoiler alert: muslim travel lebih dari hal-hal itu lho!

Baca juga:
Daftar Selebriti Dunia yang Membantu Kampanye Kemanusiaan
7 Negara yang Menerima Arus Pengungsi

Yang Hilang dari Tulisan-tulisan Mainstream tentang Muslim Travel


Konten-konten pada kanal blogger yang membahas muslim travel biasanya membahas hal-hal di bawah ini.

1. Cara menabung dan mempersiapkan perjalanan ibadah haji atau umrah.
2. Rekomendasi hotel-hotel dan restoran berlabel halal.
3. Tips-tips mempersiapkan pakaian yang harus dibawa dan cara memakai hijab supaya nyaman menghadapi perbedaan cuaca.

 

Tema-tema yang umum dan mirip, ya?

Saat ini artikel tentang muslim travel sangat berpusat pada proses perencanaan untuk menunjukkan bagaimana cara mengurus kebutuhan fisik seperti makan, penginapan, pakaian, serta tempat berbelanja ketika berada di luar negeri. Tentu saja, hal-hal tersebut merupakan informasi yang sangat berguna karena membuat perjalanan lebih mudah dan nyaman bagi wisatawan muslim.



Namun, artikel-artikel mainstream ini juga kekurangan sesuatu yang sangat penting.


Muslim travel lebih dari sekadar ibadah haji, makanan halal, dan pakaian nyaman bagi hijabers—tetapi juga tentang traveling yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Ironisnya, hal yang hilang dari percakapan umum tentang muslim travel adalah muslim itu sendiri.


Menempatkan Kembali ‘Muslim’ dalam Muslim Travel


Sebagai seorang blogger muslim dan pecinta traveling, Annum Munir percaya bahwa memang ada cara yang Islami ketika melakukan perjalanan—yaitu lebih merasakan kehadiran Allah, mempelajari sejarah umat manusia, dan planet Bumi yang kita tinggali.

1. Mengingat Allah dengan Mengamati Ciptaan-Nya


Cara pertama untuk menempatkan kembali ‘muslim’ dalam muslim travel adalah dengan mengurangi frekuensi mengambil swafoto (selfie), foto yang malah membuat tempat wisata hanya menjadi latar belakang untuk postingan OOTD. Muslim travel lebih berfokus kepada sisi spiritualitas perjalanan.

Dalam Q.S. Al-Ankabut ayat 20, Allah berfirman:

Katakanlah, “Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (mahkluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir”.


Dalam ayat ini, manusia diminta untuk bepergian dan menemukan hal-hal menakjubkan yang telah Allah ciptakan di Bumi.  Ayat yang sederhana tapi kuat ini memiliki makna filosofis yaitu aku melihat, maka aku percaya. Ketika kamu meninggalkan ‘hutan kota’ buatan manusia dan mengunjungi tempat-tempat dengan keindahan alam yang mempesona (seperti pulau Maldives pada gambar di atas), kamu pasti akan merasa takjub.

Baca juga:
Jangan Putus Asa, Ini 9 Cara Untuk Bangkit Lagi!
5 Kata Nouman Ali Khan Tentang Al Quran

Ketika kamu memperhatikan keragaman yang ada dalam hidup ini dengan saksama dari mulai berbagai macam keunikan manusia, flora serta fauna, maka kamu akan menyadari betapa semuanya berada dalam harmoni yang begitu sempurna. Hal-hal tersebut akan menjadi pengingat bahwa dunia ini tidak muncul secara tiba-tiba; dunia ini diciptakan oleh Al-Khaliq, Maha Pencipta. Seorang hamba mampu menghargai Sang Pencipta ketika dirinya menyediakan waktu untuk mengagumi hasil ciptaan-Nya.

Marilah melakukan perjalanan untuk mengagumi kekuasaan Sang Pencipta, tidak hanya sekadar menjadi model di depan sebuah landmark.

2. Mempelajari Sejarah Keislaman

 


Cara kedua yang bisa diterapkan dalam traveling secara Islami adalah mempelajari tentang kebudayaan dan sejarah dari negara yang sedang dikunjungi. Hal ini dapat memunculkan rasa syukur atas seberapa jauh perjalanan yang telah dilalui dan menyadari bahwa perjalanan tersebut telah ikut andil dalam mengubah dunia.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, No. 2699)


Hadist ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu jalan menuju surga. Begitu juga dengan traveling, kesempatan terbaik untuk mempelajari tentang warisan-warisan Islam. Memahami pengaruh generasi muslim terdahulu yang datang dari berbagai belahan dunia dapat membuat kita lebih terhubung dengan sejarah serta masa lalu umat muslim.

Dengan mempelajari tantangan dan perjuangan yang dihadapi oleh generasi muslim terdahulu, kita akan merasa sangat bersyukur atas pengorbanan yang telah mereka lakukan. Kita juga akan menemukan inspirasi dan pelajaran berharga jika mempelajari kemenangan dan pencapaian para leluhur muslim tersebut.

Baca juga:
Real Madrid Beri Penghormatan Kepada Ahed Tamimi
Persamaan Ahed Tamimi Dengan Para Pejuang Wanita

Sebagai contohnya, tahukah kamu bahwa Grand Mosque of Paris (Masjid Agung Paris, gambar di atas) dibangun sebagai tanda terima kasih kepada para pejuang muslim yang berperang melawan Jerman dalam Perang Dunia I? Selama Perang Dunia II, masjid ini menyediakan tempat berlindung dan jalur aman bagi orang-orang Yahudi. Grand Mosque of Paris melindungi mereka dari penganiayaan yang dilakukan oleh Nazi Jerman ketika menduduki kota Paris.

Bepergian-lah untuk mengisi pikiran—tidak sekadar mengisi perut dengan makanan halal.

3. Melindungi Planet Bumi

 


Cara ketiga untuk traveling ala muslim adalah dengan menerapkan sikap ramah lingkungan—turut andil dalam upaya melestarikan, bukan sekadar memotret tempat-tempat yang dikunjungi.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian” (H.R. Muslim: 2742).


Ada banyak ayat Al-Quran dan perkataan Nabi Muhammad SAW yang menekankan tanggung jawab umat manusia untuk menjaga Bumi ini. Allah telah menjadikan manusia sebagai penjaga Bumi—planet yang memberikan kita kehidupan. Oleh karena itu, kita harus melakukan perjalanan dengan penuh kehati-hatian, misalnya membatasi sampah dan konsumsi yang berlebih serta meminimalkan jejak ekologis yang kita timbulkan.

Salah satu contoh yaitu wilayah Algarve di Portugal (lihat gambar di atas) yang merupakan tempat bagi beberapa pantai paling indah di Eropa. Jika berkesempatan mengunjungi Algarve, kamu bisa turut mendukung gerakan inisiatif keberlanjutan dengan memilih untuk mengunjungi pantai-pantai yang terakreditasi dengan label ramah lingkungan Blue Flag—salah satu lembaga terkenal di dunia yang berkecimpung di bidang ekologi, khususnya pantai.

Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan

Tanggung jawab untuk menjaga alam juga berhubungan dengan menjaga kelestarian hidup satwa-satwa. Ketika traveling, sebisa mungkin jangan terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan kekerasan pada binatang, misalnya seperti yang terjadi pada Owl Cafe di Jepang.

Jadilah seorang traveler beretika–bukan traveler egois.***

Artikel ini diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari artikel berjudul There Is a Muslim Way to Travel and It’s Not What You Think.

0

Artikel, baru

Sudah merasa cocok dengan pacar atau calon yang sekarang? Atau, sudah tak tahan ingin segera menikah? Sebaiknya luangkan waktu untuk membahas persiapan nikah. Tiga hal berikut wajib didiskusikan baik bersama-sama pasangan maupun masing-masing. Jangan nikah dulu, sebelum merenungkannya matang-matang.



1. Keluarga


Kalau masih berpikir menikah itu hanya tentang kamu dan aku, segera buang jauh-jauh. Kenyataannya, menikah juga melibatkan dua keluarga besar. Tak hanya keinginan suami dan istri yang perlu diwujudkan, tapi juga inginnya ibu, ayah, kakak, adik, tante, paman, belum lagi ayah mertua, ibu mertua, kakak ipar, nenek, kakek, dan seterusnya seterusnya. Wah banyak ya jamaahnya? Tapi itulah isi dari pernikahan.

Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan

Bicarakan dengan si calon, nanti saat persiapan nikah maupun saat mengarungi bahtera rumah tangga, keinginan siapa yang harus diprioritaskan. Kembalikan lagi pada tuntunan agama. Dalam Islam prioritas utama seorang wanita adalah suaminya, sementara laki-laki meskipun sudah beristri tetap prioritasnya adalah ibunya. Jangan sampai setelah menikah hal-hal mendasar seperti ini belum terpikirkan.



2. Kebebasan


Pernikahan memang tak mengekang kebebasan siapa pun. Baik suami maupun istri memiliki hak yang sama sebagai seorang pribadi dan juga seorang muslim. Tapi, kebebasan saat sudah menikah tak bisa disamakan dengan bebasnya kita saat masih single. Ada hal-hal yang harus dibatasi bukan karena tak boleh, melainkan untuk saling menjaga ikatan.

Seperti sudah tak bisa lagi travelling bersama teman-teman satu geng selama seminggu, sementara suami pulang ke rumah tak ada yang menemani. Atau, seorang suami menghabiskan semua uangnya untuk diri sendiri dan orangtuanya sementara istri hanya dapat sisa-sisa.

Hal-hal besar hingga sepele seperti liburan, keuangan, makan sehari-hari, semua perlu dibahas bersama. Kalau belum siap, jangan nikah dulu!

Baca juga:
Jangan Nikah Dulu, Kalau Masih Ingat Mantan


3. Impian


Manusia akan selalu penuh kejutan. Tak hanya mengejutkan orang lain, dirinya sendiri pun kadang menyadari betapa pilihannya berubah drastis. Impian saat masih sendiri mungkin akan berubah seiring berjalannya pernikahan.

Visi, misi, rumah tangga juga harus dibahas saat persiapan nikah. Apa yang akan kita lakukan sebagai pasangan untuk jangka pendek, jangka sedang, dan yang akan datang.

Perbedaan demi perbedaan akan muncul menjadi sebuah tantangan. Dulu masih mungkin bermimpi ingin kuliah lagi sambil bisnis. Tapi, setelah menikah dan punya anak? Bukan saja tak bisa, melainkan ada hal-hal lain yang perlu dikorbankan. Jika masih ragu, jangan nikah dulu.[]

Penulis: Lilih S. Hilaliah



Segera terbit buku Jangan Nikah Dulu karya Hanny Dewanti!

Menunda Menikah

0

Artikel, baru

Baru sebulan putus, sudah dengar kabar si teman menikah? Hah? Cepet banget move on-nya! Pasti langsung kepo cerita di balik pernikahannya. Jangan-jangan hamil? Astaghfirullah, jangan suudzon dulu, mungkin memang sudah bertemu dengan jodoh dunia akhiratnya. Eh, tapi kok masih suka update status galau ingat mantan, ya?

Ternyata setelah membuka diri baru ketahuan alasan si teman menikah adalah ingin manas-manasin mantan. Hati-hati ya, guys! Jangan nikah dulu kalau alasan kamu menikah hanya untuk memamerkan keindahan foto prewedding, kekhidmatan akad nikah, dan kemesraan masa-masa honeymoon. Sampai kapan sih semua itu akan bertahan?



Baca juga:
3 Alasan Kenapa Menunda Menikah Bukanlah Kegagalan

Merasa puas karena dendam terbalaskan, si mantan pedih dan sakit hati. Lalu, setelah sebulan menikah kita pun akan mulai menghadapi kehidupan pernikahan yang sebenarnya. Yang nggak cuma berisi senyum manis dan pemandangan indah di Instagram. Pernikahan adalah tentang menghadapi masalah aku dan kamu bersama-sama. Karena belum pernah terbayangkan sebelumnya, akhirnya kenangan manis bersama mantan pun kembali menghantui pikiran.

Malam-malam bersama suami jadi semakin suram, karena masih ingat mantan. Rasa bersalah pun muncul karena sudah memilih alasan yang buruk saat menikah dengan suami. Sementara sang mantan sudah move on dan tak peduli lagi kisah masa lalunya bersamamu. Hal-hal lain pun menjadi semakin kacau.

 

Ya, anggap saja barusan kita sedang simulasi bagaimana kehidupan akan berjalan jika keputusan menikah dilandasi hati yang sedang patah dan pikiran gundah. So, jangan nikah dulu! Pernikahan adalah kehidupan yang harus kamu jalani bersama seseorang yang mau tumbuh dan belajar bersama sebagai pasangan. Kalau salah satunya masih ingat mantan dengan terus mengenang masa lalu, bagaimana pernikahan itu dapat berjalan? Pasti akan terasa berat karena pincang.

 

Untuk yang sedang sakit meredam emosi karena dikecewakan mantan, bersabarlah dengan tidak lari dari masalah dan membuat masalah baru. Jangan nikah dulu jika alasan kamu adalah hanya ingin move on dari mantan.[]

Penulis: Lilih S. Hilaliah



Segera terbit buku Jangan Nikah Dulu karya Hanny Dewanti!

Menunda Menikah

0

Artikel, baru

Satu Kata yang Mengungkap Semilyar Cinta: Bunda…


katanya jadi ibu itu

Teduh,
saat sepasang mata itu memandang
Lembut,
ketika jemari lentik mengurai kasih di tiap jenak-jenak sentuhan
pias wajah yang mengandung kesabaran
genggam tangan yang menguat jalinan..

Ada cinta,
dari tutur lisan suci yang mengucap kata
serta ringan langkah yang memijak
untuk sekedar memeluk, membelai, mencium….

cinta Bunda, aku bisa merasainya…

Dan tulus itu terangkum indah,
dalam bingkis gelak dan marahmu…
Dan tulus itu tergurat cantik,
melalui rangkai lelah dan letihmu…

hingga sering sumbangku bertanya,
Bunda… bisakah ku menyamai tulusmu nanti?

Ada cinta,
di tiap kelok jalan yang kau tuntun aku padanya
di tajam segenap kerikil yang terhampar mencadas langkah-langkah kecilku

Itu cinta, Bunda…
tak peduli dengan apa kau menamainya
aku hanya tau itu, cinta…
itu cinta, sungguh mudah aku merasainya…

Lahir cinta dari rautmu, dalam lisanmu, melalui gerak-gerikmu…
hingga ku sadari bahwa kau hanya tersusun oleh cinta, cinta, dan cinta…

Aku jatuh cinta padamu, sejak pertama kali menghirup wangi dekapmu…
cinta ku terbangun untukmu, setelah beribu malam kasihmu memelukku

Dan Bunda,
aku akan selalu cinta padamu….


Bunda tahu, bila semua udara bernama cinta
dan dapat ku persembahkan untukmu,
maka itu belum tentu cukup
dan tidak akan pernah cukup… 


(Abdurrahman Faiz)

Atas raga,
yang tak lelah menerbit mentari
menghangat gelisah diri dengan kemilau cahaya
teruntuk jiwa,
yang tiada payah memercik embun
membasuh dahaga melalui tentram alirannya 

Aku mencintaimu, Bunda… 
Lillah… Fillah… 

*****************************************************************

Hanya sehari hari untukmu di rayakan di bumi, Bunda..
akan tetapi percayalah,
cinta untukmu menyeruak di tiap telusur jejak nafas yang ku hela..
Dan sungguh,
betapa ingin diri ini menjadi penghantar syurga bagimu, Bunda..




Segera terbit buku Katanya, Jadi Ibu Itu karya Jayaning Hartami.



 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by jayaninghartami (@jayaninghartami) on

0

Artikel, Resensi


Food Combining | Cover

[Oleh: Khairul Amin]

Salah satu jalan meraih hidup sehat adalah dengan menerapkan Food Combining (FC), merupakan pola makan yang memperhatikan asupan makanan tidak hanya dari nilai gizi, tapi pada hal yang lebih substansial, yaitu bagaimana tubuh menyikapi dan mengabsorpsi dengan baik kandungan gizi yang ada dalam satu unsur makanan. Tujuan FC sangat sederhana, yaitu membuat tubuh menjadi sehat dengan menjalani hidup yang juga sehat (hal 8).

Pelaku FC tidak melakukan diet kalori karena tubuh sehat tidak mengacu pada timbangan tepat di angka ideal atau kecilnya lingkar pinggang, juga otot perut bertonjolan. Juga tidak mendekte tubuh mengonsumsi sesuatu berlebihan kerena dianggap baik, misal minum susu karena tinggi kalsium, padahal yang didekte belum tentu diterima tubuh dengan baik karena tidak sesuai kebutuhan.

Melakukan FC secara konsisten menjadikan tubuh mendapatkan kesehatan maksimal. Bentuk tubuh ideal sesuai kebutuhan tubuh, dan melambatkan penuaan (hal 12). FC membagi makanan berdasarkan protein, pati, dan sayuran. FC mengenal padu padan cocok atau tidak untuk setiap unsur makanan tersebut.

Seperti pada protein (hewani) dengan sayur, merupakan paduan serasi. Kombinasi antara protein-sayuran dalam jumlah tepat membuat pH netral jaringan tubuh tercapai. Beragam enzim yang hidup dalam sayur segar akan masuk dan segera dimanfaatkan oleh tubuh, menetralisir beratnya protein hewani (hal 15).

Namun, keidealan ini sulit tercapai apabila konsumsi protein 2-3 kali lipat lebih besar daripada konsumsi sayuran segar. Sementara itu, protein (hewani) dengan pati, padu padan yang tidak ideal, bila dikonsumsi dalam jumlah dominan, sistem cerna akan dibuat kerepotan. Enzim cerna yang terpakai akan kesulitan memilah antara protein dan pati yang harus diproses karena sifat enzimnya.

Pati memerlukan enzim amilase sebagai pemecah agar bisa dicerna dan diserap oleh tubuh, sementara protein memerlukan enzim pepsin sebagai pemecah unsur-unsurnya agar mudah tercerna oleh tubuh. Sayangnya, kerja amilase akan berhenti begitu tubuh mengaktifkan enzim pepsin. Itu sebabnya, konsumsi pati-protein merupakan hal yang keliru.

Konsumsi pati dengan sayuran, merupakan paduan serasi, kerena keduanya berbasis karbohidrat, lebih mudah dicerna dan diterima oleh tubuh. Namun, saat pati dikonsumsi jauh lebih banyak daripada sayuran, bisa tercipta lonjakan gula yang berefek tidak baik bagi tubuh. Atau, bila sayuran dikonsumsi dalam keadaan telah diproses panjang, masak suhu tinggi hingga enzimnya mati, akan tidak serasi (hal 17).

Saat padu padan telah terjadi, tubuh akan menerima dan mencerna semua dengan baik dan juga memprosesnya secara maksimal. Itu sebabnya, FC tidak mempermasalahkan berapa jumlah kalori, kandungan gizi, ataun indeks glikemik, dan sebagainya secara detail, karena fokus utamanya adalah fungsi tubuh dan harmonisasinya dengan unsur makanan yang masuk bisa maksimal bekerja sama.

Penerapan FC juga dibarengi dengan pemahaman seni makan sehat, kesegaran makanan terkait nutrisi penting. Hindari makanan yang dipanaskan atas nama higienitas, diberi rasa atas nama selera, diberi warna atas nama tampilan, dikemas atas nama kebutuhan.

Suka tak suka akan kehilangan beragam unsur vital yang dibutuhkan sistem cerna manusia, terutama kebutuhan asupan tepat dan  segar.




Judul Buku: Food Combining Itu Gampang 2

Penulis: Erikar Lebang

Penerbit: Qanita

Tahun Terbit: Cetakan 1, Januari 2017

Jumlah Halaman: 136 halaman

ISBN: 978-602-402-010-1

Peresensi: Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang.
0

X