fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel
Apakah kamu sudah membaca Turtles All The Way Down, novel terbaru dari John Green yang sebelumnya sukses besar dengan The Fault in Our Stars? Aza Holmes, tokoh utama dari novel tersebut, bisa dibilang jauh dari kata sempurna. Dia mengidap anxiety disorder yang menyebabkannya melakukan beberapa kebiasaan buruk, salah satunya melukai jari sendiri.

Kisah Turtles All The Way Down mau tak mau membuat pembaca melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Apakah kamu punya kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkan? Tahukah kamu bahwa beberapa kebiasaan buruk itu berbahaya bagi kesehatan jiwa? Simak 12 kebiasaan buruk di bawah ini dan ubahlah sebelum terlambat, agar hidupmu lebih bahagia.


1. Berjalan Membungkuk


Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry menemukan bahwa orang-orang yang berjalan dengan bahu lemas dan membungkuk akan memiliki suasana hati yang lebih buruk dibandingkan orang-orang yang berjalan dengan bersemangat.

Ditambah lagi, orang yang berjalan membungkuk cenderung akan mengingat hal-hal negatif dibandingkan hal-hal positif. Mulai sekarang, berjalanlah dengan dagu terangkat dan bahu tegap.


2. Memfoto SEMUA Hal


Hai seleb-seleb Instagram, simak nih… Menurut penelitian yang dipublikasikan di Psychological Science, jika orang terlalu sering memfoto, dia akan kesulitan mengingat momen atau hal yang dia foto. Dalam penelitian tersebut, sejumlah partisipan berjalan-jalan di museum untuk memfoto sebagian benda dan mengamati sebagian lainnya.

Setelahnya, mereka lebih sulit mengingat benda-benda yang mereka foto, dibandingkan benda-benda yang mereka amati. Karena itulah, lain kali sebaiknya kamu kurangi foto-foto, dan berusaha lebih menikmati momen.


3. Mengindahkan Perundungan


Perundungan tidak hanya terjadi di sekolah, melainkan juga di tempat kerja. Jika kamu membiarkan harga dirimu terus-menerus diserang, mood baik jadi mudah menguap, hingga kamu akan merasa kesulitan bangun pagi dan pergi kerja.

Mengatasi perundungan bisa dengan bersikap cuek (tidak mengindahkan perilaku atau kata-kata para perundung) atau melawan. Namun jangan ragu untuk mencari pertolongan medis jika perundungan sudah tak tertahankan.


4. Tidak Pernah Berolahraga

Berdasarkan penelitian di University College London, ada korelasi antara aktivitas fisik dan depresi. Jika kamu berolahraga tiga kali seminggu, risiko mengalami depresi akan berkurang 19%.

Tidak perlu memaksakan diri untuk berolahraga berat, karena olahraga terbaik adalah berjalan kaki. Sesungguhnya, aktivitas apa pun akan membantu benakmu berpacu, dan menjauhkanmu dari depresi.


5. Berlengah-Lengah


Apakah ada pekerjaan yang selalu kamu tunda atau hindari karena pekerjaan tersebut membuatmu cemas atau kamu takut gagal? Yah, berlengah-lengah malah akan semakin membuatmu cemas.

Triknya, sebelum mulai melakukan pekerjaan tersebut, lakukan hal-hal yang bisa meringankan stres. Misalnya mendengarkan musik atau jogging.


6. Terjebak Dalam Hubungan Buruk


Sebagian orang yang mengalami kecemasan dan depresi tidak menyadari bahwa penyebabnya adalah hubungan yang buruk. Pasangan mereka entah bagaimana membuat mereka merasa tidak kompeten atau egoistis.

Kamu akan membutuhkan bantuan orang lain untuk masalah yang satu ini. Jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan keluarga, sahabat, atau dokter.


7. Terlalu Serius


Tertawalah lebih sering, karena tertawa adalah obat ampuh dalam mengatasi kecemasan dan depresi. Setiap hari, carilah hal-hal yang bisa membuatmu tertawa, misalnya menonton acara komedi di TV atau melihat berbagai meme lucu di 9gag.


8. Kurang Tidur


Menurut Diedra L. Clay, profesor di departemen konseling dan kesehatan psikologis Bastyr University, tidur mempengaruhi segalanya. Tidur mempengaruhi kapabilitas emosi dan jiwa, juga fungsi tubuh. Tidur adalah cara tubuh kita melakukan regenerasi.

JIka kamu kesulitan tidur, cari tahu penyebabnya, dan berusahalah untuk menciptakan suasana yang nyaman dan tenang untuk tidur.


9. Tidak Pernah Sendirian


Setiap hari, kamu berurusan dengan berbagai macam orang: keluarga, teman sekolah, rekan kerja. Kapan terakhir kali kamu benar-benar sendirian? Meluangkan waktu untuk diri sendiri itu penting, bisa sepuluh menit, satu jam, atau satu hari. Lakukanlah hal-hal yang benar-benar demi dirimu sendiri.


10. Sangat Jarang Berbicara dengan Orang Lain


Bagaimana caramu berkomunikasi dengan orang lain? Lewat WhatsApp, Facebook, atau media sosial lainnya? Itu bukan interaksi yang bermakna. Menurut Profesor Clay, Facebook itu hiburan, tidak memuat percakapan nyata yang dapat membantu kita memahami orang lain.

Jika kamu terlalu sering berhubungan secara virtual, kemampuanmu untuk berbicara tatap muka jadi berkurang. Di pengujung hidup nanti, jumlah pengikutmu di media sosial tidak akan ada artinya.

Mulai sekarang, upayakan untuk berkencan dengan teman, pasangan, atau anggota keluarga, setidaknya seminggu sekali.


11. Tidak Bisa Hidup Tanpa Ponsel


Kapan terakhir kali kamu sama sekali tidak memegang ponsel? Jika kamu selalu terhubung dengan dunia maya lewat berbagai gawai, tubuh dan pikiranmu tidak bisa benar-benar beristirahat dan beregenerasi.

Ini bisa berujung pada depresi. Cobalah jauhkan diri dari ponselmu setidaknya seminggu sekali, selama setengah hari.


12. Melakukan Multitasking

Siapa pun pasti pernah melakukan multitasking. Makan siang di meja kerja, mengecek media sosial sambil menonton TV, chatting di mana pun dan kapan pun. Berdasarkan penelitian, banyak orang yang mengira multitasking meningkatkan produktivitas, padahal tidak demikian.

Multitasking membuat orang stres, tidak memperhatikan situasi sekitar, dan tidak mampu berkomunikasi dengan efektif. Solusinya mudah: simpan ponselmu, matikan TV, konsentrasi pada apa yang sedang kamu lakukan dan apa yang terjadi di sekitarmu. Itu baik untuk kesehatan mentalmu.



Nah, dari daftar di atas, apakah ada yang menjadi kebiasaanmu? Segera ambil tindakan ya. Seperti yang dilakukan Aza Holmes dalam Turtles All The Way Down, ketika dia berusaha mengubah kebiasaan buruknya dan mengakui bahwa dia butuh pertolongan medis, dia dapat berdamai dengan anxiety disorder dan hidup lebih bahagia.  



[Oleh : Dyah]
0

X