fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel



Qaisra Shahraz adalah seorang novelis dan penulis naskah yang diakui secara luas baik di kalangan kritikus juga kalangan pembaca. Bukunya yang berjudul “Perempuan Suci” (2006) serta “Perempuan Terluka” (2007) pernah diterbitkan Mizan, dan menjadi salah satu novel bergenre drama keluarga yang masuk ke dalam deretan buku terlaris.

Kali ini novel republish dan terbaru dari Qaisra akan kembali terbit di Mizan. Maka itu, sangat menarik bila kita mengenal lebih jauh sosok penulis kenamaan keturunan Pakistan tersebut . Qaisra lahir di Pakistan dan sejak kecil tinggal di Manchester, Inggris. Dia juga memiliki gelar dalam bidang literasi, serta bidang penulisan naskah televisi.

Sebagai seorang wanita sukses di skala internasional, Qaisra dikenal sebagai 1 dari 100 wanita Pakistan paling berpengaruh, dalam daftar “Pakistan Power 100 List”. Dia merupakan Director of Asia Pacific Writers and Translators. Beberapa novel karyanya, seperti The Holy Woman (Perempuan Suci), Typhoon (Perempuan Terluka), dan Revolt telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Mandarin.

Cek Juga, Qanita Candy Series, Bacaan ringan untuk memuaskan dahaga romansamu


Novel The Holy Woman memenangkan Golden Jubilee Award, serta mendapat penghargaan sebagai “Best Book of The Month” di toko buku retail terkemuka di Inggris, Waterstones. Selain itu di Indonesia dan Turki, The Holy Woman juga sempat bertengger di jajaran buku-buku best seller.

Selain karya larisnya, Qaisra juga menulis buku kumpulan cerita yang berjudul A Pair of Jeans & Other Stories. Dalam buku tersebut terdapat sebuah cerita yang ia tulis dalam kurun waktu 25 tahun.Qaisra Shahraz banyak menghadiri festival penulis serta berbagai Book Fair berskala dunia. Termasuk Ubud, Makasar, Abu Dhabi, Ottawa, Jaipur, Philadelphia, dan Beijing.

Selain menulis buku, Qaisra juga berkarya sebagai penulis naskah yang sukses. Serial dramanya yang berjudul Dil Hee To Hai (2003) merupakan serial peraih penghargaan di dunia pertelevisian Pakistan. Karir cemerlang Qaisra tidak hanya seputar dunia tulis menulis.

Dia juga menikmati karir lainnya di British Council (Organisasi budaya Inggris yang bergerak di bidang pendidikan). Di sana Qaisra berkarir sebagai Pengawas di Ofsted (Office for Standars in Education. Children’s Services and Skill), Quality Manager, konsultan, dan trainer untuk para guru.



Ya, itulah sekilas profil Qaishra Shahraz yang sebentar lagi novel terbarunya akan terbit di Mizan. Bila kamu termasuk penyuka genre drama keluarga, maka jangan lewatkan kehadiran novel satu ini. Bila kamu fan Qaisra Shahraz dan memiliki seri novel sebelumnya, versi republish ini akan semakin melengkapi koleksi novel kesayanganmu.

Untuk info novel Mizan terbaru, kamu bisa follow akun medsos @penerbitmizan. Jangan lupa mengunjungi mizanstore.com, untuk mendapatkan buku favoritmu dengan harga spesial!  



Qaishra Shahraz

0

Artikel, Resensi

Arabian Nights Kisah 1001 Malam | Cover

[Oleh: Ratnani Latifah]

Membicarakan asal mula munculnya buku ini sejatinya, cukup membingungkan. Karena tercatat banyak versi hingga akhirnya cerita ini tersebar dan kemudian menjadi karya klasik yang banyak disukai. Buku ini unik dan sangat memikat.

Gaya bahasa dalam bercerita lues dan sangat lihai dalam mengajak pembaca ikut terjebak dengan rasa penasaran, hingga ingin melanjutkan setiap kisah lagi dan lagi. Bisa dibilang kisah-kisah dalam buku ini seolah mengalihkan, mengobati dan menyelamatkan jiwa. Karya ini terdiri dari empat kategori cerita—kisah binatang, dongeng, roman dan komik serta hikayat-hikayat sejarah (hal 11).

Kisah dimulai dengan kisah Raja Syahrayar dan Syahrazad—putri wazirnya. Di mana dipaparkan bahwa Raja Syahrayar yang memimpin kerajaan di India dan Indocina, memiliki adik yang juga memimpin kerajaan di tanah Samarkand, bernama Syahzaman.

Pada suatu waktu Syahzaman memergoki istrinya berselingkuh dengan sang  juru masak. Hal itu sungguh memukul Syahzaman hingga lebih suka murung. Dalam kemurungannya itu, Syahzaman memutuskan mengunjungi kakaknya. Tapi tetap saja pertemuannya dengan sang kakak, tidak bisa menyembuhkan kesedihan akibat sebuah penghianatan. Dia terus bertanya-tanya, “Kenapa kesialan ini menimpa orang seperti aku! Tak seorang pun pernah melihat apa yang telah kulihat.” (hal 51).

Sampai sebuah kejadian yang dilakukan istri kakaknya, Syahrayar yang kemudian membuat Syahzaman kembali ceria. Dia berkata, “ternyata yang terjadi padaku sungguh lebih kecil jika dibandingkan dengan itu. Aku selama ini mengira bahwa akulah satu-satunya orang yang menderita, tetapi dari apa yang aku lihat, ternyata semua orang menderita. Demi Tuhan kemalanganku lebih ringan dibandingkan kemalangan kakakku.” (hal 53).

Syahrayar pun penasaran ada gerangan apa yang membuat adiknya kembali semringah setelah sekian lama terjebak pada kesedihan. Syahzaman sebenarnya tidak ingin memberitahu, dia tidak tega melihat dampak apa yang akan terjadi pada kakaknya. Hanya saja kakaknya terus memaksa hingga akhirnya perbutan tercela istri dan selir-selirnya dilihat dengan kepalanya sendiri.

Syahrayar marah, lalu sejak itu dia membuat keputusan akan menikah hanya untuk satu malam dan membunuh wanita itu keesokan harinya, agar terhindar dari kelicikan dan kejahatan wanita. Kenyataan ini tentu saja membuat semua ibu-ibu khawatir. Banyak wanita muda di India yang meninggal.

Keadaan itulah yang kemudian membuat Syahrazad ingin menikah dengan raja, agar bisa mengentikan perbuatan keji itu. Dia memiliki strategi yang menarik. Hanya saja berhasil atau tidaknya itu masih menjadi misteri.

Setalah kisah itu, perlahan pembaca akan digiring dengan kisah-kisah lain di setiap malam yang sangat menarik dan selalu mengundang rasa penasaran untuk terus membaca lagi dan lagi.  Seperti kisah Pedagang dan Jin,  lalu kisah Nelayan dan Jin Nabi Sulaiman, Kisah Raja Yunan dan Orang Bijak, Kisah Suami dan Burung Beo, Kisah Raja yang Tersihir dan masih banyak lagi.

Penulis  sangat pandai membangun rasa penasaran pembaca agar tidak berhenti membaca. Kelebihan lainnya adalah terjemahan buku ini juga sangat lugas, enak dibaca. Hanya saja dalam buku ini masih ditemukan beberapa kesalahan tulis. Namun tentu saja itu tidak mengurangi keseruan cerita.

Buku ini sunggah sarat makna. Banyak hal yang bisa dimbil untuk renungan dan muhasabah. Seperti anjuran untuk ikhlas ketika menerima segala cobaan dari Allah.  Selalu berhati-hati dengan segala tindakan yang kita lakukan. Karena karma itu masih berlaku. Selalu ada balasan dari perbuatan kita.

Ada juga nasihat tersirat agar tidak suka menggunjing. “Barang siapa membicarakan apa yang tidak bersangkutan dengan dirinya, akan mendengar apa yang tidak menyenangkan darinya.” (hal 156). Serta larangan agar tidak suka berbohong “Meskipun suatu kebohongan mungkin dapat menyelamatkan nyawa seseorang, kebenaran itu lebih baik dan lebih aman.” (hal282).  Selalu berkata jujur, “Jujurlah, meskipun kejujuran itu akan menyiksamu dengan api neraka.” (hal 290).



Judul: Arabian Nights

Penulis: Husain Haddawy

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Qanita

Tebal: 700 hlm

Cetakan: Pertama, Oktober 2016

ISBN: 978-602-402-046-0

Peresensi: Ratnani Latifah. Alumni Unisnu Jepara.
0

X