fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, baru

Beberapa waktu yang lalu aku mulai membaca buku tentang Stephen Hawking yang dikemas dalam format majalah, Stephen Hawking: A Mind Without Limits. Karena tinggal beberapa halaman lagi, buku ini aku bawa untuk segera menyelesaikannya dalam perjalanan liburan kali ini.

 

Aku juga secara acak mengambil 1 buku lagi dari tumpukan bacaan yang belum sempat dibaca, tanpa secara khusus memedulikan judulnya. Yang jelas harus tipis supaya nggak berat.

 

Terambillah novel House of Tales dari Jostein Gaarder.




Dari ketinggian 35 ribu kaki, di dalam tubuh pesawat, aku selesaikan buku Stephen Hawking dan lanjut, terserap dalam novel House of Tales. Pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula kehidupan, keabadian, mati, atom, supernova, big bang, bahkan soal lingkungan mengisi novel tipis ini. Sedikit mengingatkan pada Dunia Sophie, karya bestseller penulis yang sama.

 

 

Yang tidak disangka, tokoh utama dalam House of Tales yang mengalami cinta dan kegalauan hidup ini adalah seorang pengajar sastra pecinta buku-buku Stephen Hawking, dan yang kemudian juga mendapat diagnosis yang sama dengan Stephen Hawking, yaitu penyakit ALS.

 

Bagian ini benar-benar membuatku terperanjat. Bagaimana aku bisa membawa dua buku yang seperti saling terkait? Bagaimana kebetulan semacam ini bisa terjadi? Rasanya seperti mengalami kebingungan yang dialami Sophie dalam Dunia Sophie yang mencari jawab tentang kebetulan dan kehidupan di dunia ini.[]

*Tulisan ini pertama kali diterbitkan di facebook.

 

0

Artikel, baru, Ruang Redaksi

Hanya sesaat setelah memulai penerjemahan buku Stephen Hawking: A Mind Without Limits, saya sudah menyesal. Ini adalah salah satu buku tersulit yang pernah saya kerjakan, bukan karena pengalihbahasaan yang rumit, melainkan otak saya yang cukup ngos-ngosan mencernanya. Mohon dimaklumi, saya lulusan Sastra Inggris, dan terakhir kali mendapatkan pelajaran Fisika adalah saat SMA, puluhan tahun silam. Ketika itu, meskipun saya mengambil jurusan IPA, nilai Fisika saya pas-pasan saja. Maka, bekal saya dalam menerjemahkan buku ini bisa dibilang hanyalah bertahun-tahun mengikuti serial komedi The Big Bang Theory.

 



Baca juga:
– Apa Itu Lubang Hitam?
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta

Reputasi taruhannya. Proyek yang sudah dimulai, mau tidak mau harus dituntaskan. Hanya riset pilihannya. Saya pun mulai membaca beragam jurnal tentang teori segalanya, teori kuantum, teori dawai, singularitas, supersimetri, dan sebagainya. Iya, saya belajar seakan-akan hendak menempuh Ujian Nasional.

 

Lantas, kenapa saya tidak menyerah saja? Karena menyerah adalah ironi, terlebih ketika buku yang saya terjemahkan ini membahas tentang Stephen Hawking. Selain menguraikan kiprah Hawking di dunia Fisika (bagian yang membuat saya kelimpungan), buku ini juga mengulas tentang kehidupannya.

 

 

Vonis penyakit ALS diterima Hawking pada usia sangat muda, 21 tahun. Di titik itu, dia bisa saja langsung pasrah, apalagi dokter telah memperkirakan bahwa sisa umurnya hanya dua tahun lagi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Vonis mati malah menjadi cambuk bagi Hawking (yang semula mengaku pemalas) untuk memusatkan pikiran dan menyelesaikan penelitiannya. Ajaibnya, seiring kariernya yang semakin moncer, laju penyakitnya pun melambat. Dua tahun terlewati, dan Hawking terus berkarya dan menjalani kehidupan penuh warna hingga puluhan tahun kemudian.

 

Buku ini membuat saya mengerti mengapa Hawking begitu dikagumi. Sebagai ilmuwan, dia bersinar. Tidak hanya di dunia sains yang digelutinya, tetapi juga di ranah sosial, kemanusiaan, dan hiburan. Dengan segala keterbatasannya, Hawking mendobrak berbagai batasan. Meskipun tubuhnya terkekang di kursi roda, pikirannya bebas berkelana menjelajahi alam semesta.


Baca juga:
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia
– Tokoh Astronomi Terkenal di Dunia

Pada akhirnya, saya menyelesaikan penerjemahan buku ini dengan penuh kepuasan. Tidak hanya karena pencerahan tentang berbagai teori fisika yang sebelumnya tidak pernah saya pahami maksudnya, tetapi juga inspirasi akan kehidupan yang begitu mengena. Hawking adalah ilmuwan terbesar di dunia, dan membaca buku ini adalah salah satu cara untuk turut merayakan kiprahnya.[]
0

Artikel, baru
Dunia astronomi di zaman modern ini bisa dibilang berkembang cukup pesat jika dibandingkan kondisinya pada 100 tahun terakhir. Kini, kita sudah mengetahui ketampakan lubang hitam dan planet katai Pluto, yang bahkan dalam 10 tahun terakhir belum kita ketahui.

Namun, patut diingat bahwa apa yang kita ketahui sekarang tak lepas dari kontribusi sekian banyak astronom dan ilmuwan. Pengetahuan mereka saling melengkapi, bahkan sejak ratusan tahun Sebelum Masehi.

Berikut ini adalah beberapa ilmuwan yang punya peran besar dalam perkembangan astronomi di dunia, tanpa mengecilkan peranan ilmuwan lain.

1. Stephen Hawking (1942-2018)



Pemikiran Hawking tentang pembentukan Alam Semesta, lubang hitam, dan banyak hal lain memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dunia astronomi sejak tahun 1970-an. Keterbatasan fisik tak cukup untuk menghalanginya memperoleh beberapa penghargaan di bidang sains. Selain itu ia juga bisa membuat segala kerumitan dalam bidang yang dipelajarinya menjadi mudah dipahami oleh masyarakat luas. Salah satunya ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul A Brief History of Time, yang sudah terjual lebih dari 10 juta kopi sejak pertama kali penerbitannya di tahun 1988. Buku tentang Stephen Hawking terbaru berjudul A Mind Without Limits sudah beredar di toko buku terdekat atau di toko buku online mizanstore.com

Baca juga:
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia

2. Ptolemius (90–168 M)



Dari Yunani ada Ptolemius, yang membuat model Alam Semesta (tata surya) dengan Bumi sebagai pusatnya (geosentrisme). Walaupun rumit dan belakangan diketahui salah, tapi modelnya digunakan sebagai acuan dalam bidang astronomi selama lebih dari 1200 tahun.

3. Abd al-Rahman al-Sufi (903-986 M)



Al Sufi (Azophi) dari Persia merupakan astronom pertama yang melakukan dokumentasi pengamatan terhadap objek di luar galaksi Bima Sakti, yaitu Andromeda. Galaksi tetangga kita itu disebutnya sebagai “awan kecil”. Selain itu, ada juga Awan Magellan Besar yang tak tampak dari Eropa dan baru dikenal setelah ekspedisi Magellan di abad ke-16.

4. Copernicus (1473–1543)



Model geosentris milik Ptolemius akhirnya mendapatkan sanggahan dari Copernicus yang mempopulerkan kembali model Alam Semesta heliosentris (Matahari di pusat sistem). Meskipun masih mengandung kesalahan, modelnya membuat pandangan ilmuwan terhadap Tata Surya dan Alam Semesta mulai berubah.

5. Johannes Kepler (1571–1630)



Sebagai seorang matematikawan, Kepler mungkin akan tampak tidak berperan dalam astronomi. Namun, justru perannya sangat besar sebagai pendukung model Copernicus dan sekaligus pemegang kunci penting dalam model tersebut. Asumsi orbit planet berbentuk lingkaran sempurna menjadi mentah karena menurut Kepler, bentuknya justru elips. Dengan memanfaatkan data pengamatan berakurasi tinggi milik Tycho Brahe, seorang bangsawan Denmark, Kepler akhirnya dikenal dengan Hukum Kepler tentang orbit planet.

6. Galileo Galilei (1564–1642)



Jika sebelumnya model heliosentris masih belum diterima di kalangan luas, maka peran Galileo adalah membuat model tersebut makin kuat. Sering disebut sebagai penemu teleskop padahal bukan, Galileo mengubah teleskop yang sudah ada menjadi lebih baik lalu menggunakannya untuk mengamati objek langit. Satelit Jupiter, cincin Saturnus, bintik Matahari, dan fase Venus adalah sebagian dari banyak kontribusi penting Galileo dalam astronomi.

7. Sir Isaac Newton (1643–1727) 



Dikenal dengan hukum Newton tentang gerak benda dan juga gravitasi, Newton memberikan landasan hukum fisika atas model yang dibuat oleh Copernicus, hukum orbit benda oleh Kepler, dan bukti pengamatan dari Galileo. Bisa dikatakan bahwa perlu waktu sekitar 200 tahun bagi model heliosentris untuk dapat diterima secara luas sejak diangkat kembali oleh Copernicus.

8. Albert Einstein (1879–1955)



Einstein membawa kita untuk memandang Alam Semesta dengan cara yang berbeda. Gravitasi yang dikenal sebagai gaya tarik benda dipandang berbeda oleh Einstein menjadi kelengkungan ruang-waktu. Bukti pengamatannya, yang dilakukan oleh Sir Arthur Eddington dalam peristiwa gerhana Matahari total pada tahun 1919 juga tak kalah terkenal.

9. Carl Sagan (1934-1996)



Selain sebagai ilmuwan, Sagan juga dikenal sebagai komunikator yang ulung. Ia bisa menyampaikan informasi tentang sains dengan bahasa yang mudah dicerna masyarakat awam. Buku dan program televisinya hingga kini masih menjadi salah satu produk edukasi yang populer.

Baca juga:
– 5 Fakta Penyakit ALS yang Diderita Stephen Hawking
– Apa Itu Lubang Hitam?

10. Eratosthenes (276–195 SM)



Ketika kebanyakan orang berpikir bahwa Bumi datar, Eratosthenes sudah tahu bahwa Bumi bulat dan bahkan kemudian berhasil menghitung keliling Bumi dengan ketelitian yang cukup baik. Semuanya dari pengamatan dan perhitungan yang sederhana menggunakan bayangan tongkat di bawah sinar Matahari.***
0

Artikel, baru
Stephen Hawking adalah salah satu ilmuwan terbesar di zaman modern. Sudah lebih setahun Hawking Wafat (14 Maret 2018). Namun, kontribusinya terhadap dunia sains akan terus memberi inspirasi kepada para ilmuwan dunia dan calon ilmuwan masa depan.

Berikut ini adalah 5 kontribusi Stephen Hawking terhadap dunia sains.



1. Radiasi Hawking


Menurut pemahaman awal kita terhadap lubang hitam, tak ada apapun yang dapat terlepas dari tarikan gravitasinya. Namun, Hawking punya kesimpulan yang berbeda pada tahun 1974. Ide yang diperolehnya dari diskusi bersama fisikawan Yakov Borisovich Zel’dovich dan Alexei Starobinsky ini menyebutkan bahwa di sekitar horison peristiwa dapat saja terjadi pancaran partikel. Partikel yang dimaksud adalah salah satu antara partikel dan anti-partikel pasangannya.  Ketika terbentuk dekat horison peristiwa, salah satunya tertarik masuk ke lubang hitam sedangkan satunya tidak.

Baca juga:
– 5 Fakta Penyakit ALS yang Diderita Stephen Hawking
– Apa Itu Lubang Hitam?


Akibatnya lubang hitam akan kehilangan massa. Jika hal ini terjadi secara konstan, pada akhirnya lubang hitam akan lenyap sambil memancarkan sinar gamma. Namun, kita belum bisa memperoleh bukti pengamatannya. Karena untuk lubang hitam bermassa 1 massa Matahari saja proses penguapannya perlu waktu 10^67 tahun. Sementara lubang hitam yang bermassa lebih kecil dari itu lebih sulit diamati.


2. Singularitas di Alam Semesta Dini


Sebelum tahun 1970an, pengetahuan kita mengenai awal Alam Semesta yang dikenal dengan Big Bang (Dentuman Besar) barulah dalam hal waktu, bahwa ada permulaan waktu. Selain itu, kita tak tahu apa-apa. Big Bang yang dipahami saat itu hanya menjelaskan apa yang terjadi setelah Big Bang, bukan menjelaskan kejadian Big Bang itu sendiri.

Hal ini tak lepas dari ketidakmampuan ilmuwan saat itu untuk menjelaskan kondisi singularitas, yaitu ketika volume Alam Semesta mendekati nol dan kerapatannya menuju tak terhingga. Bahkan, Einstein pun belum bisa menjelaskannya.

Titik terang untuk hal ini barulah muncul saat Roger Penrose, di tahun 1965 membuktikan bahwa singularitas dapat terjadi pada skala bintang yang memiliki massa cukup besar dan kemudian menjadi lubang hitam. Di tempat lain, Hawking kemudian menguji gagasan tersebut dalam skala Alam Semesta. Pada tahun 1970, Hawking dan Penrose pun berhasil menunjukkan bahwa singularitas tak hanya ada pada lubang hitam, tapi juga pada awal mula Alam Semesta.


3. Ketidakteraturan di Awal Pembentukan Alam Semesta


Pembentukan galaksi generasi pertama di Alam Semesta dikatakan dipicu oleh ketidakteraturan kuantum, tak lama setelah Big Bang. Dalam kondisi tersebut, terdapat area yang lebih rapat dibanding yang lain. Sehingga terbentuklah galaksi dan bintang-bintang di area tersebut. Salah satu petunjuk dari hal ini adalah keberadaan sinar mikro kosmis latar belakang (comis microwave background), yang memiliki ketidakteraturan di banyak titik.


4. Lubang Hitam Mini


Terkait dengan radiasi Hawking, keberadaan lubang hitam mini akan memberikan kesempatan bagi kita untuk mengamati dan membuktikan adanya radiasi Hawking. Namun, karena proses penguapan lubang hitam berbanding lurus dengan massanya, maka kita seharusnya mencari lubang hitam mini. Di masa sekarang hal ini mungkin sulit dilakukan, tapi tidak di masa lalu. Hawking menyebutkan bahwa lubang hitam mini bisa saja banyak terbentuk di masa awal pembentukan Alam Semesta.

 

Baca juga:
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta


5. Buku A Brief History of Time


Sebagai seorang saintis, Hawking juga memiliki reputasi sebagai seorang komunikator ulung. Segala kerumitan dalam bidang yang dipelajarinya dapat disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat luas. Salah satunya dapat dibaca di bukunya yang berjudul A Brief History of Time, yang sudah terjual lebih dari 10 juta kopi sejak pertama kali penerbitannya di tahun 1988.***

0

Artikel, baru
Lubang hitam adalah salah satu objek eksotis di alam semesta kita. Terlebih lagi lubang hitam supermasif (bermassa sangat besar), yang diduga lazim terdapat di setiap inti galaksi. Termasuk di pusat galaksi kita, Bima Sakti.

Cahaya sinar cincin di sekitar black hole terbentuk karena gravitasi luar biasa black hole. Di mana menurut Albert Einstein dan Stephen Hawking, cahaya pun tak bisa lari darinya.

Para astronom bisa yakin di pusat galaksi Bima Sakti terdapat lubang hitam supermasif.  Karena ditunjang hasil pengamatan bintang yang mengorbit cukup cepat di sekitar pusat Galaksi (daerah Sagittarius A*/A-star) dengan jarak yang cukup dekat. Dari perhitungan diperoleh bahwa objek yang dikelilingi bintang tersebut memiliki massa sekitar 4 juta kali massa Matahari dengan ukuran sekitar diameter orbit Uranus. Berdasarkan pengetahuan terkini, tidak ada objek yang memiliki massa dan ukuran seperti itu selain lubang hitam supermasif.




Meskipun banyak yang sudah ditemukan, asal usul dan proses pembentukan lubang hitam supermasif masih belum diketahui dengan pasti hingga kini dan masih terbuka untuk penelitian. Ada beberapa hipotesis yang diusulkan, namun yang sudah jelas disetujui adalah bahwa lubang hitam dapat menambah massanya sendiri dengan cara menghisap materi dari sekitarnya. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa lubang hitam supermasif mungkin berasal dari lubang hitam bintang dengan massa puluhan atau ratusan massa Matahari. Benda tersebut kemudian tumbuh dan menjadi supermasif karena menghisap materi dari banyak objek di sekitarnya.



Saat ini, lubang hitam terbesar yang pernah diamati berada di quasar TON 618 yang terletak di rasi Canes Venatici di dekat Kutub Utara Langit. Jarak quasar ini adalah 10,4 miliar tahun cahaya dan magnitudo (kecerlangan) mutlaknya -30,7. Jauh lebih terang dari Matahari yang memiliki magnitudo mutlak -26,74, yaitu sekitar 140 triliun kali Matahari. Lubang hitam di pusat galaksi ini dihitung memiliki massa 66 miliar kali Matahari sehingga disebut juga sebagai lubang hitam ultramasif.





Quasar (quasi-stellar object) adalah penamaan untuk objek terang yang kenampakannya seperti bintang (cahaya titik). Namun sebenarnya terletak sangat jauh sehingga benda ini sebenarnya adalah sebuah galaksi. Quasar/galaksi yang sangat jauh seperti itu bisa menjadi sangat terang karena terdapat piringan akresi di bagian pusatnya, yang biasanya juga menunjukkan adanya lubang hitam supermasif di situ.

Piringan akresi adalah piringan yang berisi sekumpulan materi yang terhisap masuk ke dalam suatu objek masif (bintang atau lubang hitam) yang terletak di bagian tengahnya. Materi tersebut terhisap dengan cara bergerak spiral dan karenanya membentuk piringan. Akibat tekanan yang tinggi dan gesekan, piringan ini menjadi sangat panas dan terang. Bahkan kecerlangannya bisa melebihi kecerlangan satu galaksi.


Quasar dan galaksi Seyfert adalah 2 jenis galaksi yang memiliki bagian inti yang aktif, atau disebut Inti Galaksi Aktif (Active Galactic Nucleus, AGN). Perbedaan keduanya adalah pada quasar galaksinya tidak tampak karena kalah terang dari pusat galaksinya. Sementara pada galaksi Seyfert, galaksinya tampak dengan jelas karena bagian pusatnya tidak terlalu terang jika diamati pada panjang gelombang visual. Namun jika diamati di panjang gelombang lain seperti inframerah, ultraungu, atau sinar X, maka akan terlihat bagian pusatnya bisa sama atau lebih terang dari galaksi normal seperti Bima Sakti.

 

Baca juga:
– Apa Itu Lubang Hitam?
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia

 

BTW, Penerbit Mizan menyajikan kisah hidup dan ulasan teori-teori Stephen Hawking dalam buku A Mind Without Limits yang sudah terbit pada Mei 2019 lalu. Dapatkan segera buku A Mind Wihout Limits di toko buku kesanganmu atau di mizanstore.com!***

1

Artikel, baru
Bulan April 2019 akan diingat sebagai salah satu periode terpenting oleh pecinta astronomi di seluruh dunia, khususnya untuk topik lubang hitam. Bagaimana tidak, pada tanggal 10 April 2019 Event Horizon Telescope (EHT) mencetak sejarah dengan menerbitkan foto pertama lubang hitam. Lubang hitam yang berhasil difoto tersebut bernama M87* (M87 star) dan terletak di pusat galaksi M87 yang berjarak 53 juta tahun cahaya dari Bumi serta memiliki massa 6,5 miliar kali Matahari.

Cahaya sinar cincin di sekitar black hole terbentuk karena gravitasi luar biasa black hole, dimana menurut Albert Einstein dan Stephen Hawking, cahaya pun tak bisa lari darinya.

gambar lubang hitam pertama



Lubang hitam adalah sebuah objek yang memiliki massa besar namun ukurannya sangat kecil. Salah satu jenisnya terbentuk dari sisa kematian bintang bermassa besar. Matahari, yang termasuk bintang bermassa kecil, tidak akan menjadi lubang hitam di akhir hayatnya melainkan menjadi planetari nebula. Lubang hitam baru bisa terbentuk jika massa awal bintang lebih dari 20 kali massa Matahari.

 

Baca juga:
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta


Menurut teori evolusi bintang, penyebab bintang dapat tetap berbentuk bulat dan utuh selama jutaan tahun adalah karena adanya reaksi pembangkitan energi di bagian intinya. Ketika proses ini melambat atau bahkan berhenti, tekanan gravitasi bagian luar bintang tidak dapat ditahan lagi dari dalam bintang. Sehingga bagian luar tersebut runtuh ke pusat bintang. Hal ini akan mengakibatkan tekanan dan temperatur di pusat bintang  meningkat, menghasilkan energi, lalu melontarkan bagian luar bintang tadi dan menyisakan bagian pusat yang sangat padat. Untuk bintang yang bermassa besar, peristiwa ini disebut supernova. Sisa bintang yang padat tadi akan menjadi lubang hitam jika massanya lebih dari 2,2 massa Matahari.




Besarnya massa lubang hitam dalam ukuran yang sangat kecil akan mengakibatkan gaya gravitasi yang berlaku di permukaannya sangat besar. Begitu besarnya sehingga cahaya pun tidak dapat lolos darinya. Untuk memahaminya, ingatlah bahwa kita harus membuat roket dengan kecepatan lebih dari 11 km/detik (disebut juga dengan kecepatan lepas) jika ingin mengirimnya luar angkasa dari permukaan Bumi. Untuk lepas dari gravitasi Matahari di permukaannya perlu kecepatan lebih dari 617 km/detik. Sedangkan untuk lepas dari gravitasi di lubang hitam, kita perlu kecepatan lebih dari 300.000 km/detik, alias lebih cepat dari cahaya. Karena tidak ada benda yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya, maka tidak ada benda apapun yang dapat lolos dari tarikan gravitasi lubang hitam, termasuk cahaya itu sendiri.

Baca juga:
– 5 Fakta Penyakit ALS yang Diderita Stephen Hawking
 Tokoh Astronomi Terkenal di Dunia


Selain bermassa besar, sebuah benda juga harus berukuran kecil agar bisa menjadi lubang hitam. Batas ukuran ini disebut dengan radius Schwarzschild, yang dinamakan menurut astronom Jerman Karl Schwarzschild. Jika kita ingin Bumi berubah menjadi lubang hitam, maka dari radiusnya yang sekarang (6.371 km) harus diubah menjadi 9 mm saja. Sedangkan Matahari yang radiusnya 695.700 km, akan menjadi lubang hitam jika mengecil hingga berukuran 3 km saja. Coba bayangkan bola berdiameter 6 km (sedikit lebih panjang dari Jembatan Suramadu) berisi keseluruhan massa Matahari yaitu 2×1030 kg (2 triliun triliun juta kg).

BTW, Penerbit Mizan menyajikan kisah hidup dan ulasan teori-teori Stephen Hawking dalam buku A Mind Without Limits yang telah terbit pada Mei 2019. Dapatkan segera bukunya di toko kesanyanganmu atau di mizanstore.com!***

0

Artikel

Telah setahun lebih dunia kehilangan salah satu ilmuwan tersohor dan ikon budaya yang unik, Prof. Stephen Hawking. Meskipun didiagnosis mengidap ALS, penyakit saraf motorik yang membuat nyaris seluruh tubuhnya lumpuh, sejak usianya 21 tahun, Stephen Hawking tetap bersemangat menjalani hidup dan mencapai berbagai prestasi yang mencengangkan. Benak Hawking yang brilian telah melahirkan berbagai teori fisika, di antaranya teori tentang lubang hitam dan singularitas.

 

Kini Penerbit Mizan menyajikan kisah hidup dan ulasan teori-teori Stephen Hawking dalam buku A Mind Without Limits yang akan segera terbit pada Mei 2019. Agar tidak ketinggalan untuk memiliki buku Edisi Kolektor yang eksklusif dan sarat foto-foto berwarna ini, Mizaners bisa langsung memesannya via toko-toko buku online berikut:

1. Bookishstorage | Pemesanan via WhatsApp ke nomor 082138040186


bookish-storage

2. Klasikabookstore | Pemesanan via WhatsApp ke nomor 081310402144


klasika-bookstore


3. Bukabuku.com | Pemesanan via website atau WhatsApp ke nomor 089-888-999-50


buka-buku-com


4. ParcelBuku.net | Pemesanan via website atau WhatsApp ke nomor 087877892584


parcel-buku-net


5. bukukita.com | Pemesanan via website atau WhatsApp ke nomor 081285000570


buku-kita-com


6. bukku.id | Pemesanan via website atau WhatsApp ke nomor 081218162434


bukku-id


7. Mizanstore.com | Pemesanan via website atau WhatsApp ke nomor 085781817817


mizanstore


8. myindobook | Pemesanan via WhatsApp ke nomor 082299540007


my-indo-book


Oleh: Dyah Agustine


Baca juga: 5 Fakta Penyakit ALS yang Diderita Stephen Hawking



0

Artikel, baru



Siapa yang tidak kenal dengan Stephen Hawking? Beliau seorang fisikawan teoretis, kosmologi, pengarang, dan Direktur Penelitian Centre of Theoritical Cosmology di Universitas Cambridge. Hawking merupakan ilmuwan besar dengan tiga teori kontroversial yang menggemparkan dunia. Ketiga teorinya yang terkenal yakni teori Big Bang, gravitasi kuantum, dan teori radiasi Hawking. Dengan reputasinya sebagai fisikawan ternama, Hawking bukan tanpa kekurangan. Beliau mengidap penyakit Amiothropic Lateral Sclerosis (ALS) sejak usia 21 tahun.


Baca juga: 
– Apa Itu Lubang Hitam?
– Lubang Hitam Terbesar di Alam Semesta


ALS merupakan penyakit yang menyerang saraf motorik pada otak dan tulang belakang yang mengatur gerakan otot-otot lurik. Otot lurik merupakan otot yang digerakkan dengan kemauan sendiri. Singkatnya, sel-sel tertentu (neuron) dalam otak dan sumsum tulang belakang penderita ALS mengalami kematian secara perlahan.

Penyebab penyakit ALS sendiri masih diteliti sampai sekarang oleh para ahli. Dugaan-dugaan yang muncul dari para ilmuwan terkait penyebab penyakit ini antara lain ketidakseimbangan kadar glutamat dalam tubuh dan penyakit autoimun.

Berikut 5 fakta penting mengenai penyakit ALS, catat baik-baik, ya!

1. ALS bukan penyakit keturunan



Dilansir dari hellosehat.com, ALS bukanlah suatu penyakit turunan yang diwariskan secara genetik. Hanya sepuluh persen dari jumlah pengidap ALS yang diturunkan oleh anggota keluarga. Sementara itu, sembilan puluh persen lainnya terserang penyakit ini secara sporadis.

Meskipun kemungkinannya kecil, faktor genetik dapat meningkatkan risiko untuk mengidap ALS. Jadi, kalau keluarga kamu ada yang mengidap ALS, kemungkinan kamu untuk mengidap ALS juga meningkat.

2. Serangan ALS terjadi secara bertahap


Kamu pernah merasakan otot salah satu lengan atau kakimu melemah? Lidah berkedut dan sulit berbicara? Bisa jadi hal itu merupakan tanda-tanda kamu mengidap ALS. Serangan ALS tidak serta-merta membuat seluruh tubuhmu lumpuh. Gejala awal yang dirasakan bisa saja hanya otot lenganmu saja yang melemah. Akan tetapi, gejala ini diikuti gejala-gejala lainnya seperti melemahnya otot punggung dan leher, sulit berbicara, kehilangan jaringan otot, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, apabila kamu merasakan salah satu gejala di atas tanpa diikuti gejala lainnya, belum tentu kamu mengidap ALS. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika kamu memeriksakan diri ke dokter, ya.

3. ALS dikenal juga dengan nama “Lou Gehrig”


ALS juga menjadi penyebab kematian pemain bisbol ternama asal Amerika, yakni Lou Gehrig. Dia merupakan punggawa utama klub bisbol New York Yankees. Pada tahun 1939, dia didiagnosis mengidap ALS dan menjadi sorotan baik di tingkat nasional maupun internasional. Sejak saat itulah istilah penyakit “Lou Gehrig” mulai dikenal sebagai julukan ALS hingga sekarang.

4. Pengidap ALS tidak dapat disembuhkan secara total


Sampai saat ini, obat untuk menangani ALS masih terus diteliti para ahli. Pengidap ALS tidak dapat sembuh secara total. Perawatan yang diberikan oleh tenaga medis hanya sebatas pengendalian gejala dan mendukung kondisi psikis pasien selama mungkin. Salah satu obatnya bernama riluzole yang mungkin dapat memperpanjang umur pasien serta memperlambat perkembangan ALS, meskipun efeknya terbatas. Efek dari obat ini tentu dirasakan oleh Hawking semasa hidupnya. Terbukti, beliau mampu bertahan hidup hingga usia 76 tahun.

5. Lebih umum terjadi pada laki-laki dan orang-orang ras Kaukasia


Kasus ALS lebih banyak diidap laki-laki dibandingkan perempuan. Lebih dari 20% kemungkinan penyakit ini terjadi pada laki-laki dan 93% penderitanya berasal dari ras Kaukasia. Meskipun kemungkinannya kecil terjadi pada ras lain selain Kaukasia, alangkah baiknya jika kita tetap waspada apabila menemukan gejala-gejalanya.

Baca juga: 
– 5 Kontribusi Stephen Hawking terhadap IPTEK Dunia
– Tokoh Astronomi Terkenal di Dunia


Kisah hidup Stephen Hawking, mulai dari pertama kali beliau didiagnosis mengidap ALS, hingga bagaimana beliau dapat bertahan hidup selama puluhan tahun, jauh lebih lama dari predisi para dokter, dapat disimak dalam Mind Without Limits. Kehidupan dan prestasi Stephen Hawking yang luar biasa tentunya dapat menginspirasi dan memotivasi semua orang untuk menjalani hidup dengan lebih baik dan bermakna.***

Penulis:  Syafira Maulida


0

X