fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel, Resensi
  Turtles All The Way Down, buku terbaru dari John, penulis mega bestseller The Fault in Our Stars, mengisahkan tentang Aza Holmes, gadis remaja yang mengidap anxiety dan obsessive-compulsive disorder.  

Aza selalu dirongrong oleh pikiran-pikirannya sendiri yang tidak bisa dia kendalikan. Dia cemas bahwa entah bagaimana dia terkena bakteri pencernaan yang bisa berakibat maut. Dia cemas bahwa luka di jarinya entah bagaimana terinfeksi, sehingga dalam sehari dia bisa berkali-kali mengganti plester untuk memastikannya tetap steril.

  Penggambaran tokoh Aza terasa amat realistis dan membuat para pembaca bersimpati. Salah satu alasannya adalah karena John Green sendiri mengidap anxiety disorder. Usianya 6 tahun ketika dia menyadari ada yang aneh dengan pola pikirnya. Green seringkali khawatir makanannya terkontaminasi, dan dia hanya mau mengkonsumsi makanan-makanan tertentu pada jam-jam tertentu.

  Setelah dewasa, Green mengatasi kecemasannya dengan obat-obatan dan terapi perilaku kognitif. Namun tetap saja, terkadang pikiran-pikirannya yang tak terkendali membuatnya lumpuh. Pernah dia merasa begitu depresi hingga tak dapat makan, hanya meminum berbotol-botol soda.   Bagi Green, menulis novel adalah “cara untuk melepaskan diri, agar tidak terjebak dalam diri sendiri.”

Ketika The Fault in Our Stars meledak di pasaran, ketenaran yang begitu mendadak mengganggu ketenangan Green. Green yang cemas jika harus menyentuh orang lain, tiba-tiba harus menghadiri berbagai acara, menghadapi kerumunan fans yang ingin memeluknya dan berfoto bersama.   Kesuksesan The Fault in Our Stars begitu luar biasa, hingga rasanya tidak mungkin lagi menulis novel yang akan sesukses itu.

Green mulai menulis beberapa buku, namun mengabaikan semuanya. Dia cemas bahwa dia tidak akan pernah lagi menulis novel.   Kemudian dia berhenti mengkonsumsi obat, berharap dapat memicu kembali kreatifitasnya, dan dia pun terjun bebas. “Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiran-pikiranku layaknya spiral yang berputar-putar dan tulisan corat-coret,” ujarnya. Begitu dia dapat mengendalikan diri, lahirlah draft novel Turtles All The Way Down.

Dalam buku terbarunya, John Green berterima kasih pada para dokternya, menuliskan betapa beruntungnya dia bisa mendapat akses terhadap layanan kesehatan jiwa, dan memiliki keluarga yang selalu mendukung. “Penyakit psikologis ini bukanlah gunung yang kau taklukkan atau rintangan yang kau lompati, melainkan sesuatu yang hidup bersamamu setiap hari,” ujar Green. [Dyah]  


Green berharap bahwa Turtles All The Way Down dapat membantu orang-orang yang menghadapi penyakit yang sama dengan Aza dan dirinya agar tidak merasa sendirian.   Disadur dari NYTimes; John Green Tells a Story of Emotional Pain and Crippling Anxiety. His Own (10/10/2017)


 
[Oleh: Dyah Agustine]
0

X