fbpx

Your address will show here +12 34 56 78



Kronologi Kehidupan
Muhammad Asad
(Leopold Weiss)
(1900-1992)

 
1900        
Leopold Weiss lahir pada 2 Juli di Lwow (Lemberg), Galicia Timur, dari sebuah keluarga keturunan rabi-rabi Yahudi. (Kota Lwow kini masuk wilayah Ukraina.)


1900-13   
Pada masa kecilnya di Lwow, Leopold mempelajari kitab-kitab Yahudi dan menguasai bahasa Ibrani dengan fasih.


1914   
     
Keluarga Weiss hijrah ke Wina.


1914-17  
Menempuh pendidikan di Wina.


1917-18  
Menempuh pendidikan di Czernowitz.


1918-20  
Mengikuti wajib militer dan bergabung dengan Angkatan Bersenjata Austria. Namun, Kerajaan Austria runtuh beberapa minggu kemudian. Karena itu, Leopold memasuki Universitas Wina untuk mempelajari Sejarah Seni dan Filsafat.


1919        
Ibunda Leopold wafat pada usia 43 tahun.


1920-22   
Tinggal di Berlin, bepergian menjelajahi Eropa Tengah, berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat, dan berjumpa dengan seorang perempuan pelukis bernama Elsa Schiemann. Leopold diundang oleh pamannya, Dorian, yang mengepalai sebuah rumah sakit jiwa di Yerusalem, untuk tinggal bersamanya.


1923-27   
Bekerja sebagai koresponden Harian Frankfurter Zeitung.


1922-23   
Bepergian ke Kairo, Yerusalem, Amman, Damaskus, dan Istanbul.


1924        
Terbit buku pertamanya, Unromantisches Morgenland. Aus dem Tagebuch einer Reise, Frankfurt/Main: Verlag der Frankfurter Societäts-Druckerei.


1924-26   
Melakukan perjalanan kedua ke Kairo, Amman, Damaskus, Tripoli, Aleppo, Bagdad, melalui pegunungan di wilayah Kurdi, Iran, Kabul, Ghazni, Kandahar, Herat, Marv, Samarkand, Bukhara, Tashkent, melintasi stepa-stepa Turkmenistan menuju pegunungan Ural dan Moskow.


1926       
Sekembalinya ke Berlin, memberikan serangkaian kuliah pada Academy of Geopolitics. Mengundurkan diri dari Harian Frankfurter Zeitung. Masuk Islam pada bulan September di Berlin dan menggunakan nama Muhammad Asad. (Asad adalah versi bahasa Arab dari namanya Leopold, yang berarti “singa”.)


1927   
    
Menandatangani kontrak-kontrak baru sebagai koresponden untuk harian-harian terkemuka di Eropa, yakni Neue Zürcher Zeitung (Zurich), Kölnische Zeitung (Köln), dan De Telegraaf (Amsterdam). Menikahi Elsa Schiemann sesuai dengan syariat Islam di Kairo. Elsa adalah janda dengan seorang putra, yakni Heinrich. Mereka bertiga menunaikan haji, dan tidak lama setelah itu Elsa meninggal di Makkah karena terserang malaria.


1927-32  
Diterima sebagai tamu oleh keluarga Ibn Sa‘ud (yang kemudian memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada 23 September 1932).


1930      
Menikahi Munira binti Husain Al-Syammari; putra pertama mereka, Tariq, meninggal ketika lahir.


1932        
Anak kedua, Talal, lahir.


1932       
Bersama istri dan anaknya meninggalkan Jazirah Arab, lalu hijrah ke Anak Benua India yang pada saat itu masih dijajah Inggris. Di sana, pada 1934 dia bertemu dan bersahabat baik dengan Muhammad Iqbal.


1934        
Terbit buku Islam at the Crossroads, Delhi: Arafat Publications.


1935-38  
Terbit buku Shahîh Al-Bukhârî: The Early Years of Islam, annotated translation in 5 installments, Arafat Publications: Srinagar dan Lahore. (Terjemahan dan komentar atas kitab hadis Shahîh Al-Bukhârî.)


1939        
Pergi ke London dan berupaya menolong ayah, ibu tiri, dan saudara perempuannya yang ditahan rezim Nazi. Pada saat itu, kakaknya, Heinrich, diungsikan ke Palestina.


1939-45  
Ditawan Inggris pada 4 September 1939 sampai berakhirnya PD II karena berkewarganegaraan Jerman, negara musuh sekutu.


1945-47  
 
Tinggal bersama istri dan anaknya di Dalhousie di Punjab timur. Pada 1946, mulai menerbitkan majalah bulanan Arafat yang bertahan hingga 10 edisi.


1947       
Ketika Anak Benua India dipecah menjadi India dan Pakistan, Asad bersama keluarganya pindah dari Dalhousie menuju Lahore.


1947-52   
Mengabdi sebagai negarawan dan diplomat Pakistan. Pertama-tama sebagai Direktur Departemen Rekonstruksi Islam, kemudian sebagai Deputi Sekretaris dan Direktur Divisi Timur Tengah pada Kementerian Luar Negeri di Karachi.


1950        
Anak Asad, Talal, pergi ke Inggris untuk menempuh pendidikan.


1952       
Bercerai dengan Munira, yang kemudian tinggal bersama anaknya, Talal.


1952       
Diutus ke New York sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh untuk mewakili Pakistan di PBB. Di sana, Asad menikahi Pola Hamida Kazimirska dan mengundurkan diri dari tugas-tugas diplomatik.


1952-59   
Bersama Pola tinggal di New York, Badenweiler di Black Forest, dan Beirut.


1954       
Terbit bukunya, The Road to Mecca, New York: Simon and Schuster; London: Max Reinhardt.


1959-64  
Bersama Pola tinggal di Syarjah, Lebanon, dan Swiss.


1960       
Terbit bukunya, Islam und Abendland. Begegnung zweier Welten, Olten and Freiburg in Breisgau: Walter-Verlag.


1961        
Terbit bukunya, The Principles of State and Government in Islam, Berkeley and Los Angeles: University of California Press.


1964-83  
Bersama Pola tinggal di Tangier, Maroko.


1978        
Munira binti Husain Al-Syammari wafat di Riyadh, Arab Saudi.


1980       
Terbit bukunya, The Message of the Qur’ân, Translated and explained by Muhammad Asad, Gibraltar: Dar Al-Andalus.


1983-87   
Bersama Pola tinggal di Spanyol dan kemudian di Portugal.


1987       
Terbit bukunya, This Law of Ours and Other Essays, Gibraltar: Dar Al-Andalus.


1987-92   
Kembali ke Spanyol bersama Pola.


1992        
Wafat pada 20 Februari di Marbella, Spanyol. Dimakamkan di pemakaman Muslim di Granada, Andalusia.
0


Muhammad Asad | Image 6



Pameran mengenang Muhammad Asad di Malaysia, tahun 2009, sekaligus peluncuran The Message of the Quran karya Muhammad Asad, dihadiri mantan PM Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad, Prof. Tariq Ramadan, dan Prof. Dr. M. Kamal Hassan (Rektor Universitas Islam Internasional Malaysia).



Sebagai cucu seorang rabi Yahudi ortodoks, sejak berumur 13 tahun dia tidak hanya mahir membaca bahasa Ibrani dengan lancar, tetapi bahkan dapat berbicara dalam bahasa itu dengan fasih, dan sebagai tambahan, memiliki pengetahuan yang lumayan tentang bahasa Aram (yang memudahkannya belajar bahasa Arab di kemudian hari).

Sedari kecil, Weiss mempelajari Bibel Perjanjian Lama dalam bahasa aslinya. Kitab Mishnah dan Gemara, yakni teks dan tafsir Talmud, diakrabinya sedemikian rupa sehingga dia dapat membahas perbedaan-perbedaan antara Talmud Babilonia dan Talmud Yerusalem dengan meyakinkan. Dia juga menyelami kerumitan tafsir Bibel, yakni Targum, seolah-olah dia sedang dipersiapkan untuk menjalani karier sebagai rabi, tradisi leluhurnya dari generasi ke generasi.

Namun, terlepas dari segala pendidikan agama ini, atau mungkin justru karenanya, Weiss muda akhirnya bersikap kritis terhadap banyak dasar agama Yahudi yang dianut keluarga dan leluhurnya.

Sejak masih remaja, Weiss sudah tidak puas dengan Tuhan dalam agama Yahudi yang terlalu menyibukkan diri dengan perincian ritual, dan sebagaimana tampak dalam Kitab Perjanjian Lama yang dikuasainya, Tuhan ini hanya memperhatikan bangsa Yahudi, sehingga lebih merupakan Tuhan suatu suku bangsa tertentu, bukan Tuhan bagi seluruh umat manusia. Maka, seperti kebanyakan anak muda pada masanya, dia menjadi agnostik dan menolak semua agama terlembaga.


Pada 1914, keluarganya hijrah ke Wina, Austria. Weiss pun bersekolah di kota ini, sehingga menguasai bahasa Jerman dengan baik. Selama dua tahun dia belajar filsafat dan sejarah seni di Universitas Wina, sambil mengunjungi kafe-kafe tempat banyak tokoh cendekiawan dan pelopor psikoanalisis bertemu dan berdiskusi. Namun, karena filsafat, sejarah seni, psikoanalisis, dan kehidupan universitas tidak dapat memuaskan dahaga jiwanya, dia pun memutuskan hijrah ke Berlin, Jerman, untuk menjadi wartawan.

Tahun 1922, Weiss diundang pamannya—seorang direktur rumah sakit jiwa di Yerusalem, seorang murid awal Sigmund Freud—untuk berlibur di Yerusalem. Inilah kali pertama Weiss bertemu dengan orang-orang Arab dan Muslim, yang membuatnya amat terkesan.

Pada tahun yang sama, Weiss menjadi koresponden Frankfurter Zeitung, sebuah surat kabar Eropa terkemuka, untuk wilayah Timur Dekat. Karier jurnalistik ini mengantarkannya ke Palestina, Mesir, Suriah, Irak, Persia, Yordania, Jazirah Arab, dan Afghanistan, sehingga dia memiliki perspektif yang unik mengenai isu-isu dunia saat itu, terutama yang berkaitan dengan masalah antara orang-orang Yahudi dan Arab.

Walaupun dia sendiri seorang Yahudi, cucu seorang rabi Yahudi ortodoks, dia sudah menentang zionisme dan bersimpati pada orang-orang Arab bahkan sebelum masuk Islam. Tahun-tahun 1920-an itu adalah masa-masa penuh kekacauan di Eropa pasca-Perang Dunia I: manusia Eropa dari berbagai bangsa saling bunuh dalam perang yang mengerikan.

Pemimpin-diktator dan fasis lahir. Bangsa Eropa juga menyerbu dan menjajah bangsa-bangsa lain untuk memperluas kekuasaan dan kekayaannya. Eropa dilanda kehampaan jiwa, relativisme, dan ketiadaan harapan akan masa depan manusia. Benar-salah diukur hanya dari segi pragmatisme dan sukses materiel.

Sebagaimana ditulis Asad: “Saya melihat sendiri betapa hidup kami di Eropa menjadi kacau balau, membingungkan, dan tidak bahagia; alangkah renggang pergaulan antara sesama manusia dan tiada jalinan hubungan yang sejati antarinsan, terlepas dari segala gagasan mengenai ‘masyarakat’ dan ‘bangsa’ yang disuarakan dengan amat lantang dan nyaris histeris; alangkah jauhnya kita telah tersesat, menyimpang dari naluri bawaan kita; dan betapa sempit, picik, dan berkaratnya jiwa kita …. Saya merasakan dunia yang tak serasi, pahit, dan serakah ….

Sementara itu, dalam kunjungan pertama kalinya ke negeri Arab, dalam sebuah kereta api, wartawan berdarah Yahudi-Eropa ini langsung terkesan dengan kehangatan hati seorang Arab Badui yang duduk persis di depannya, yang memegang sekeping roti Arab lalu memecahnya jadi dua bagian dan menawarkannya kepadanya. “Kita sama-sama menumpang kereta ini, tujuan kita sama,” kata si Arab Badui ini kepadanya. Selanjutnya, wartawan Eropa ini semakin tertarik dengan cara hidup orang-orang Arab.

Ketika bangsa-bangsa Eropa saling berperang dan membunuh atas nama nasionalisme, komunisme, kapitalisme, liberalisme, dan berbagai isme dan ideologi lainnya—saling-bunuh dengan senjata-senjata canggih hasil perkembangan sains, teknologi, dan industri modern; memperebutkan batas-batas wilayah di negerinya sendiri dan di negeri-negeri jajahan mereka demi menumpuk sukses materiel—, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana para pengelana Badui Arab hidup bebas merdeka dan saling berbagi di hamparan padang pasir yang terbentang luas tanpa batas di kolong langit, dengan kemantapan hati, persaudaraan, kehangatan jiwa, dan pandangan hidup yang membuatnya iri.

Di kali lain, dari depan teras rumah pamannya di Yerusalem, dia melihat orang-orang Arab melakukan shalat berjamaah di lapangan terbuka. Karena heran melihat pemandangan ini, dia pun bertanya kepada sang imam shalat itu, haruskah Tuhan disembah dengan begitu rupa? Penjelasan sang imam membuatnya terkesan, dan itulah pintu-pintu awal baginya yang membuatnya tertarik memahami dunia Islam lebih jauh.

Maka, lewat pemandangan sehari-hari yang dia saksikan di Arabia pada waktu itu, wartawan Yahudi-Eropa ini pun tertarik mempelajari Islam, pandangan hidup bangsa Arab. Leopold Weiss memperdalam bahasa Arabnya secara akademis di Kairo, lalu menjalin persahabatan dengan Syaikh Mushthafa Al-Marâghi, seorang murid Syaikh Muhammad ‘Abduh, sang tokoh pembaru terkemuka asal Mesir.

Al-Marâghi ini—sang mufasir Al-Quran, pembaru dan pemikir Islam terkemuka—kemudian menjadi Rektor Universitas Al-Azhar, Mesir. Weiss menggambarkan Al-Marâghi sebagai “sarjana Islam terkemuka pada masa itu, yang paling cemerlang di antara kaum ulama Universitas Al-Azhar … seorang pemikir yang kritis dan tajam”. Dari Al-Marâghi inilah Weiss belajar banyak mengenai Islam.

Al-Marâghi pulalah yang menyadarkan kepada Weiss bahwa keindahan Islam ditutupi oleh umat Muslim sendiri, yang keadaan dan perilakunya saat itu sudah jauh merosot dari cita-cita Islam. Weiss bepergian ke Amman, Damaskus, Tripoli, Aleppo, hingga ke Bagdad, ke Pegunungan Kurdi dan Iran, dan melintasi pegunungan dan stepa Afghanistan.

Berkat perjalanannya yang malang-melintang di berbagai negeri Muslim ini, dia semakin tertarik mempelajari Islam dari sumber-sumber aslinya. Dia pelajari Al-Quran, hadis, dan sejarah Islam dengan amat mendalam, sehingga dia pun menyadari betapa jauh kesenjangan antara cita Islam dan fakta umat Muslim.

Maka, sama seperti ‘Abduh dan Al-Marâghi—ulama yang banyak menginspirasinya—, Leopold Weiss pun bersikap kritis terhadap kemerosotan dan stagnasi yang dialami umat Islam, dan mencurahkan segala perhatiannya untuk membantu umat Muslim bangkit dari tidurnya yang lama.

Setelah masuk Islam di Berlin pada 1926, dia berganti nama menjadi Muhammad Asad, dan memutuskan untuk hijrah ke negeri Muslim dan menenggelamkan diri untuk mengkaji dan memahami sumber Islam, Al-Quran. Sambil memulai kajian intensif atas bahasa Arab klasik, pada saat yang sama dia mulai tinggal bersama orang-orang Arab Badui di Arabia Tengah dan Timur, yang bahasa lisan dan asosiasi linguistiknya pada dasarnya tidak berubah sejak zaman Nabi Muhammad Saw. ketika Al-Quran pertama kalinya diwahyukan.

Ini memungkinkannya sekaligus menghayati “rasa” naluriah dan ruh-bahasa Arab, kemampuan yang mustahil diperoleh jika seseorang hanya mempelajari bahasa Arab secara akademis atau dari buku-buku saja. Asad juga tinggal selama lima tahun di Madinah, tenggelam dalam perpustakaan dan mempelajari ilmu hadis dan sejarah Islam di Masjid Nabawi.

Dari hasil studi-hadisnya itu, lahirlah terjemahan dan komentar yang memukau atas Shahîh Al-Bukhârî dalam bahasa Inggris pada 1938: Shahîh Al-Bukhârî: The Early Years of Islam. Kitab terjemahan hadisnya ini, yang terbit ketika dia berumur 35 tahun, dilengkapi dengan catatan-catatan kaki berisi penjelasan yang amat kaya tentang hadis itu, konteks sejarahnya, kaitannya dengan hadis lain dan Al-Quran, serta deskripsi mengenai tokoh-tokoh yang dibicarakan dalam hadis tersebut.

Sedianya terjemahan dan penjelasan Asad atas Shahîh Al-Bukhârî dalam bahasa Inggris ini akan diterbitkan secara lengkap, namun rencana ini terhalang oleh meletusnya Perang Dunia II. Lalu, ketika Pakistan berpisah dari India pada 1947, sebagian besar manuskrip yang sudah ditulisnya hilang dalam huru-hara, sehingga hanya satu jilid yang terbit, yakni hadis-hadis tentang masa-masa awal Islam (bab awal Nabi menerima wahyu, bab para sahabat, dan bab peperangan Nabi).

Bekal kajian dan pengalaman-pengalamannya yang kaya inilah yang membantu Asad menghasilkan The Message of the Quran, sebuah terjemahan dan tafsir Al-Quran dalam bahasa Inggris, yang dikerjakannya dengan sepenuh cinta selama puluhan tahun.

Dalam karya ini jelas terlihat bagaimana Asad amat terpengaruh oleh tafsir Muhammad ‘Abduh yang modern, juga tafsir Al-Zamakhsyarî dan Al-Râzî yang klasik, di samping tafsir Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Baidhâwî, Al-Baghawî, dan lain-lain. Asad bukan hanya manusia pemikir yang tenggelam dalam perpustakaan, melainkan pertama-tama adalah manusia pengelana yang penuh tindakan dan bergaul aktif dengan berbagai kalangan.

Tugas jurnalistiknya membawa dia bertemu dan bersahabat dengan para raja, pemimpin, dan ulama terkemuka dunia Islam pada masanya, di antaranya: Raja Ibn Sa‘ud, Pangeran Faisal, Amir Abdullah dari Transjordan, Syaikh Mushthafa Al-Marâghi, Syaikh Abdullah ibn Bulaihid, Muhammad Iqbal, dan Agus Salim dari Indonesia.

Agus Salim-lah, tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, yang memperkenalkan Asad dengan Syaikh Ahmad Sanusi, pemimpin Tarekat Sanusiyyah yang aktif berjuang melawan penjajahan Italia di Libia. Berkat pergaulannya dengan Syaikh Ahmad, Asad pun terlibat membantu perjuangan pahlawan bangsa Libia, Umar Mukhtar, seorang murid setia Syaikh Ahmad.


Muhammad Asad | Image 1



Foto

kiri:
Umar Mukhtar, pejuang kemerdekaan Aljazair, yang ditemui Asad di akhir-akhir perjuangannya.

Kanan: Asad berfoto bersama Syaikh Ahmad Sanusi, pemimpin Tarekat Sanusiyyah, orang yang paling Asad cintai di seluruh Arabia.


Muhammad Asad | Image 2


Syaikh Abu Samh, imam Masjid Madinah atau Masjidil Haram Makkah pada tahun 20-an. Foto oleh Muhammad Asad.


Muhammad Asad | Image 3


Foto-foto karya Asad.

Kiri:
Sayyid Ahmad Sanusi Al-Syarif bersama pengikutnya. Beliau adalah pemimpin Tarekat Sanusiyyah yang sekaligus pemimpin perlawanan terhadap kolonialis Italia, Prancis, dan Inggris. Asad diperkenalkan kepadanya oleh sahabatnya, H. Agus Salim, dari Indonesia.

Kanan: Emir Abdullah dan Dr. Risa Taufik Bey di Transjordan.


Image 5


Tak ketinggalan, Asad pun berkawan dengan Haji Agus Salim ketika tokoh Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia ini masih bertugas di Kedutaan Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Bahkan, Agus Salim-lah yang memperkenalkan Asad dengan Syaikh Ahmad Sanusi.

Walaupun awalnya bersahabat dekat dengan Raja Ibn Sa‘ud, Asad akhirnya kecewa karena ternyata Ibn Sa‘ud bukanlah seorang pemimpin yang sesuai dengan harapannya. Ibn Sa‘ud ternyata hanyalah seorang raja, seperti raja-raja lain.

Saat itu, kedalaman ilmu Asad sudah sedemikian mengesankan sehingga Muhammad Iqbal, filosof-penyair Islam masyhur yang sekaligus bapak spiritual Pakistan, mengajak anak-manusia Eropa itu tinggal di India yang kala itu masih dijajah Inggris, untuk membantunya mempersiapkan kemerdekaan dan lahirnya negara baru: Pakistan.

Iqbal sendiri adalah di antara orang Muslim-India pertama yang belajar filsafat di universitas Eropa, di Jerman. Iqbal dan Asad pun menjalin persahabatan yang akrab. Maka, Asad pun mengurungkan niatnya terus berkelana ke Turkmenistan, Cina, dan Indonesia, dan alih-alih mencurahkan hidup serta pikirannya di Pakistan.

Pada 1947, Asad diminta pemerintah Pakistan untuk mengorganisasikan dan mengepalai Departemen Rekonstruksi Islam, yang bertugas meneliti konsep-konsep ideologis Islam dalam bidang kenegaraan dan kemasyarakatan, sebagai dasar untuk membangun negara yang baru lahir itu.

Selanjutnya, pada 1949 dia menjadi Kepala Divisi Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Pakistan. Dan pada 1952, cucu rabi Yahudi ortodoks ini akhirnya ditunjuk mewakili Republik Islam Pakistan di Markas Besar PBB di New York sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh.

Pemikirannya dalam bidang ketatanegaraan dan politik dia tuangkan dalam buku yang penting: The Principles of State and Government in Islam. Asad juga terlibat aktif menyusun konstitusi Pakistan, namun gagasan-gagasan modern dan reformisnya—di antaranya kebolehan perempuan menjadi perdana menteri—banyak ditentang kalangan ulama konservatif.



Akhirnya, Asad memutuskan undur diri dari dunia politik dan meninggalkan Pakistan, lalu tinggal di berbagai belahan dunia: Amerika Serikat, Badenwieler di Black Forest, Swiss, Beirut, Syarjah, Lebanon, Maroko, Portugal, dan Spanyol. Setelah mengundurkan diri dari dunia politik inilah dia menerbitkan autobiografi spiritualnya yang menjadi bestseller internasional, The Road to Mecca.

Lalu, dia mencurahkan puluhan tahun hidupnya untuk menyusun terjemahan dan tafsir Al-Quran dalam bahasa Inggris, The Message of the Qur’ân, yang akhirnya terbit utuh pada 1980, yakni ketika dia sudah berusia 80 tahun.

“Asad meninggal di Mijas, domisili terakhirnya, di Provinsi Malaga, Spanyol, pada 20 Februari 1992. Pemakaman Muslim di Granada—kota yang hingga abad ke-15 merupakan pusat kebudayaan Islam yang penting, dan yang di dalamnya baru-baru ini dibangun permukiman masyarakat Muslim—menjadi tempat dia dimakamkan. Adakah gerangan tempat lain yang lebih simbolik ketimbang lokasi itu, baginya?”


Untuk mengenang jasa-jasanya membangun jembatan pengertian yang lebih baik antara dunia Barat dan Islam, pada 2008, sebuah lapangan di muka gerbang pintu masuk markas PBB di Wina dinamai Muhammad Asad Platz (Lapangan Muhammad Asad). Inilah lapangan pertama di Austria yang memakai nama seorang Muslim.


⇐ Kembali ke halaman utama
0

  1. Iman, Akal, dan Al-Ghaib

“Nalar (akal) adalah suatu sarana yang valid untuk mencapai keimanan.”
The Message of the Quran memang sengaja dipersembahkan Asad—sesuai dengan bunyi ayat Al-Quran sendiri—liqaumin yatafakkarûn: “untuk orang-orang yang berpikir”. Bagi Asad, sesungguhnya Al-Quran menekankan penggunaan “nalar (akal) sebagai suatu sarana yang valid untuk mencapai keimanan” (“Prakata Penulis”, h. lv).

“Al-Quran secara khusus menyeru akal manusia dan, karena itu, tidak mengasumsikan suatu dogma yang hanya dapat diterima berdasarkan kepercayaan buta semata” (QS Al-Anbiyâ’ [21], catatan no. 102). Dan, “bahwa ‘perasaan’ semata tidak dapat menjadi dasar keimanan yang memadai” (QS Yûsuf [12], catatan no. 3).

Lalu, bahwa “‘seruan kepada Allah’ yang diucapkan oleh Nabi digambarkan sebagai hasil dari pengetahuan sadar yang dapat diterima dan dapat diverifikasi oleh akal manusia: sebuah pernyataan yang dengan sempurna menggambarkan pendekatan Al-Quran terhadap semua persoalan iman, etika, dan moralitas, dan digemakan berkali-kali dalam ungkapan-ungkapan seperti ‘agar kalian menggunakan akal kalian’ (laallakum taqilûn), atau ‘maka, tidakkah kalian menggunakan akal kalian?’ (afalâ taqilûn), atau ‘agar mereka dapat memahami [kebenaran]’ (laallahum yafqahûn), atau ‘agar kalian dapat berpikir’ (laallakum tatafakkarûn); dan, akhirnya, dalam pernyataan yang sering kali diulang, bahwa pesan Al-Quran itu sendiri ditujukan secara khusus ‘bagi orang-orang yang berpikir’ (li qaumin yatafakkarûn)” (QS Yûsuf [12], catatan no. 104).

Sebaliknya, “kekafiran diperlihatkan sebagai akibat dari keengganan apriori seseorang untuk menggunakan akalnya dengan tujuan untuk memahami pesan-pesan Allah” (QS Yûnus [10], catatan no. 124). Namun, bagi Asad, akal manusia ini tentu tetaplah mesti dibimbing oleh petunjuk kenabian (wahyu): “Allah telah menyerahkan pada akal manusia, yang dibantu dengan petunjuk kenabian, untuk menemukan jalan menuju kebenaran secara berangsur-angsur” (QS Yûnus [10], catatan no. 29).

Harmoni akal dan iman ditandaskan Asad ketika menafsirkan Ayat Cahaya pada Surah Al-Nûr [24]. Di sini, Asad mengutip riwayat Ubayy ibn Ka‘b yang tercantum dalam Tafsir Al-Thabarî, sebagai berikut: “Cahaya” adalah wahyu yang diberikan Allah kepada para nabi-Nya dan yang terpantul di dalam hati orang beriman—yang disebut “relung di dinding” (misykat) di dalam perumpamaan di atas …

— setelah diterima dan dipahami oleh akal atau nalarnya (yang diumpamakan sebagai “kaca [zujâjah, yang bersinar terang] laksana bintang kejora”): karena, hanya melalui akallah iman sejati dapat menemukan jalannya untuk sampai ke lubuk hati manusia (QS Al-Nûr [24], catatan no. 51).

Namun, bahkan sejak ayat-ayat pertama dalam Surah Al-Baqarah, Asad telah menyampaikan posisinya, ketika menafsirkan ayat ke-3 surah itu, bahwa Kitab Suci ini hanya bisa dipahami (dibaca dan diambil manfaatnya) oleh orang-orang yang percaya pada yang gaib: “segala bidang atau tahapan realitas yang berada di luar jangkauan persepsi manusia dan, karena itu, tidak dapat dibuktikan atau disangkal oleh pengamatan ilmiah (sains), atau bahkan tidak dapat dimasukkan secara memadai ke dalam kategori-kategori umum dalam pemikiran spekulatif: misalnya, keberadaan Tuhan, adanya tujuan hakiki yang mendasari alam semesta, hidup setelah mati, hakikat waktu, adanya kekuatan-kekuatan spiritual dan interaksinya, dan sebagainya.

Hanya orang yang yakin bahwa realitas tertinggi itu jauh melampaui wilayah yang dapat kita amati-lah yang dapat mencapai iman kepada Allah dan, karena itu, sampai pada keyakinan bahwa hidup itu me­miliki makna dan tujuan.

Dengan menunjukkan bahwa ia merupakan ‘suatu petunjuk bagi orang-orang yang beriman pada adanya hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia’, pada dasarnya Al-Quran mengatakan bahwa dirinya—pasti—akan tetap tertutup bagi pikiran orang-orang yang tidak dapat menerima premis mendasar ini.” (QS Al-Baqarah [2], catatan no. 3)  

  1. Takwa
“Takwa adalah kesadaran akan kemahahadiran-Nya.” Terjemahan konvensional dari kata muttaqî menjadi “orang yang takut kepada Allah” kurang memadai untuk menerjemahkan makna positif ungkapan tersebut—yaitu kesadaran akan kemahahadiran-Nya dan keinginan seseorang untuk membentuk eksistensinya berdasarkan kesadaran ini;

sedangkan, penafsiran yang dikemukakan beberapa penerjemah, seperti “orang yang menjaga dirinya dari kejahatan” atau “orang yang sangat hati-hati dalam melaksanakan kewajiban”, hanya menjelaskan salah satu aspek tertentu dari konsep kesadaran akan Allah [taqwâ,God-consciousness]. (QS Al-Baqarah [2], catatan no. 2)  


  1. Sucikanlah Pakaianmu: Sucikanlah Hatimu
Tsiyâb (pakaian) sering digunakan untuk menunjuk pada apa yang ditutupi pakaian, yakni “badan”, “diri”, “hati”, atau bahkan “kondisi spiritual” atau “perilaku” seseorang. Dalam terjemahan Al-Quran Depag RI, Surah Al-Muddatstsir [74]: 4 berbunyi demikian: dan pakaianmu bersihkanlah.

Dalam The Message of the Quran karya Asad, ayat yang sama diterjemahkan begini: Dan lubuk hatimu sucikanlah!2. Lalu dalam catatan tafsirnya, Asad mencantumkan terjemahan harfiah ayat tersebut (yang sama dengan terjemahan harfiah Depag RI), sambil menjelaskan pilihan terjemahan tidak harfiahnya itu dengan mengutip pendapat mufasir klasik. Simak uraian tafsirnya sebagai berikut:

Lit., “pakaianmu (tsiyâb) sucikanlah”: akan tetapi, kebanyakan mufasir klasik menunjukkan bahwa nomina tsaub dan bentuk jamaknya tsiyâb sering diterapkan secara metonimia pada apa yang ditutupi pakaian, yakni “badan” seseorang atau, dalam pengertiannya yang lebih luas, “diri” atau “hati”-nya, atau bahkan “kondisi spiritual” atau “perilaku”-nya (Tâj Al‘Arûs).

Karena itu, ketika menafsirkan ayat di atas, Al-Zamakhsyarî menarik perhatian pembaca pada ungkapan idiomatik yang terkenal thâhir al-tsiyâb (lit., “orang yang bersih pakaiannya”) dan danis al-tsiyâb (“orang yang amat kotor pakaiannya”), dan menekankan makna kiasannya, yakni “bebas dari kesalahan dan keburukan perilaku” dan “jahat dan durhaka”.

Al-Râzî menyatakan bahwa “menurut kebanyakan mufasir [terdahulu], maknanya [ayat ini] adalah ‘sucikanlah hatimu dari segala hal yang tercela’”, dan dia menyetujui penafsiran ini. (QS Al-Muddatstsir [74], catatan no. 2)
   

  1. Kafir
Kafir = menutupi, menyembunyikan, mengingkari kebenaran Hari itu akan menjadi hari duka lara, tidak mudah bagi orang-orang yang [kini] mengingkari kebenaran!4 (QS Al-Muddatstsir [74]: 9-10)

Karena ini merupakan kemunculan paling awal dari ungkapan kâfir dalam Al-Quran (surah ini didahului hanya oleh 5 ayat pertama Surah Al-‘Alaq [96]), penggunaannya di sini—dan secara tersirat, dalam keseluruhan Al-Quran—jelas dibatasi oleh makna yang dikandungnya dalam percakapan orang-orang Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw.:

dengan kata lain, istilah kâfir tidak dapat disamakan begitu saja—seperti yang telah dilakukan oleh banyak ulama Muslim era pascaklasik dan oleh hampir semua penerjemah Al-Quran berkebangsaan Barat—dengan “orang yang tidak beriman” (unbeliever) atau “orang kafir” (infidel) dalam pengertian khusus dan terbatasnya, yakni orang yang menolak sistem doktrin dan hukum yang diajarkan Al-Quran dan dijelaskan oleh ajaran-ajaran Nabi.

Alih-alih, istilah ini pasti memiliki makna yang lebih luas dan lebih umum. Makna ini mudah ditangkap jika kita ingat bahwa verba-akar dari nomina partisip kâfir (dan dari nomina infinitif kufr) adalah kafara, “dia [atau ‘itu’] menutupi [sesuatu]”: karena itu, dalam Surah Al-Hadîd [57]: 20, petani penggarap tanah disebut (tanpa implikasi peyoratif/merendahkan) sebagai kâfir, “orang yang menutupi”, yakni menutupi taburan benih dengan tanah, seperti halnya malam disebutkan telah “menutupi” (kafara) bumi dengan kegelapan.

Dalam pengertian abstraknya, baik verba maupun nomina yang berasal dari kata tersebut memiliki makna “menyembunyikan” sesuatu yang ada, atau “mengingkari” sesuatu yang benar.

Karenanya, dalam penggunaan Al-Quran—kecuali dalam satu ayat (dalam Surah Al-Hadîd [57]: 20), yang di dalamnya nomina partisip ini berarti seorang “petani penggarap tanah”—seorang kâfir berarti “orang yang mengingkari [atau ‘menolak untuk mengakui’] kebenaran” dalam pengertian yang terluas dan spiritual dari kata yang disebut terakhir ini: yakni, terlepas apakah ia berkaitan dengan suatu pemahaman akan kebenaran tertinggi—yakni, keberadaan Tuhan—ataukah berkaitan dengan sebuah doktrin atau ketentuan yang ditetapkan dalam kitab Ilahi, ataukah dengan proposisi moral yang terbukti dengan sendirinya, ataukah dengan pengakuan akan, dan karena itu rasa syukur atas, karunia yang diterima.

(Tentang ungkapan alladzîna kafarû, yang menunjukkan niat yang penuh kesadaran, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 6.) (QS Al-Muddatstsir [74], catatan no. 4)
   
  1. “Wajah Tuhan”
“Wajah Tuhan” maksudnya Wujud Esensial-Nya. Dalam terjemahan Al-Quran Depag RI, ayat Al-Quran Surah Al-Rahmân [55]: 27 diterjemahkan demikian: tetapi Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. Tidak ada tafsir penjelasan atas istilah “Wajah Tuhan” ini, sehingga pembaca mungkin akan bertanya-tanya, apa kira-kira maksud kata-kata ini.

Bukankah “tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia” (QS Al-Ikhlâsh [112]: 4)? Lalu, apa maksud frasa “Wajah Tuhan” ini? Dalam The Message of the Quran, (QS Al-Rahmân [55]: 27) tersebut diterjemahkan Asad begini: namun, tetap kekal abadi Wujud Pemeliharamu,11 penuh kemuliaan dan kejayaan, lalu dijelaskan dalam catatan tafsirnya sebagai berikut:

Lit., “wajah”, atau “muka”, istilah yang dalam bahasa Arab klasik digunakan secara metonimia untuk menunjuk pada “diri” atau “keseluruhan diri” seseorang—dalam kasus ini, maksudnya adalah Diri atau Realitas Hakiki Allah.

Bdk. juga Surah Al-Qashash [28]: 88, “Segala sesuatu pasti akan binasa, kecuali Diri-Nya [yang kekal]”. (QS Al-Rahmân [55], catatan no. 11)
   
  1. Tujuh Langit
“Langit” berarti “sistem kosmik”; “tujuh” berarti “beberapa” atau “banyak”.

Istilah samâ (“angkasa” atau “langit”) digunakan untuk menunjuk pada segala yang membentang bagaikan atap di atas apa pun. Jadi, langit yang tampak membentang bagaikan kubah di atas bumi dan membentuk tudung—begitulah kira-kira—bagi bumi, disebut samâ: dan inilah makna utama istilah samâ dalam Al-Quran. Dalam pengertiannya yang lebih luas, ia berkonotasi “sistem kosmik”.

Adapun mengenai “tujuh langit”, harus diingat bahwa dalam bahasa Arab—dan juga dalam bahasa Semit lainnya—angka “tujuh” sering sama artinya dengan “beberapa” (lihat Lisân Al-‘Arab), sebagaimana “tujuh puluh” atau “tujuh ratus” sering berarti “banyak” atau “sangat banyak” (Tâj Al-‘Arûs).

Hal ini, jika dipahami dengan mempertimbangkan definisi linguistik lazimnya—yakni bahwa “setiap samâ adalah sebuah samâ dalam kaitannya dengan apa yang ada di bawahnya” (Râghib)—dapat menjelaskan bahwa “tujuh langit” di sini menunjukkan banyaknya sistem kosmik. (QS Al-Baqarah [2], catatan no. 20)
   
  1. Agama Manusia: Kesatuan dalam Keragaman
“Al-Quran merupakan titik puncak semua wahyu dan memberikan jalan yang sempurna dan final untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Namun, uniknya, risalah Al-Quran ini tidak menghalangi semua penganut agama yang terdahulu untuk meraih rahmat Allah.”
Ungkapan “masing-masing di antara kalian” menunjukkan beragam komunitas yang membentuk umat manusia. Istilah syir‘ah (atau syarî‘ah) secara harfiah berarti “jalan menuju tempat air” (tempat manusia dan hewan mengambil unsur penting itu, yang sangat diperlukan bagi kehidupan mereka), dan digunakan dalam Al-Quran untuk menjelaskan sebuah sistem hukum yang diperlukan bagi kesejahteraan sosial dan spiritual sebuah masyarakat.

Pada sisi lain, istilah minhâj berarti “jalan yang terbuka”, biasanya dalam pengertian abstrak: yakni, “jalan hidup” (way of life). Makna istilah syir‘ah dan minhâj lebih terbatas daripada istilah dîn, yang mencakup tidak hanya hukum-hukum yang berhubungan dengan suatu agama tertentu, tetapi juga kebenaran spiritual yang mendasar dan tetap yang, menurut Al-Quran, telah disampaikan oleh setiap rasul Allah.

Di lain pihak, batang-tubuh yang spesifik dari hukum-hukum tersebut (syir‘ah atau syarî‘ah) yang telah diajarkan melalui rasul-rasul itu, dan cara hidup (minhâj) yang dianjurkan oleh mereka, bervariasi sesuai tuntutan zaman dan perkembangan kebudayaan setiap masyarakat.

“Kesatuan dalam keragaman” ini sering ditekankan dalam Al-Quran (seperti di awal ayat Surah Al-Baqarah [2]: 148, dalam Surah Al-Anbiyâ’ [21]: 92-93, atau dalam Surah Al-Mu’minûn [23]: 52 dan seterusnya).

Karena ajarannya dapat diterapkan secara universal dan bentuk tekstualnya tidak bisa diselewengkan—juga fakta bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah “penutup semua nabi”, yakni nabi terakhir (lihat Surah Al-Ahzâb [33]: 40)—Al-Quran merupakan titik puncak semua wahyu dan memberikan jalan yang sempurna dan final untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia.

Namun, uniknya, risalah Al-Quran ini tidak menghalangi semua penganut agama yang terdahulu untuk meraih rahmat Allah: sebab—sebagaimana yang sering Al-Quran tunjukkan—siapa saja di antara mereka yang dengan teguh beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan kepada Hari Pengadilan (yakni, mengimani pertanggungjawaban moral individu) dan hidup secara saleh, “tidak perlu takut dan tidak pula akan bersedih hati”. (QS Al-Mâ’idah [5], catatan no. 66)
 
  1. Perang dalam Islam
Satu-satunya alasan dibolehkannya perang dalam ajaran Islam adalah untuk membela diri. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa ayat-ayat damai dalam Al-Quran sudah di-mansukh (dibatalkan keberlakuannya) oleh ayat-ayat perang, atau “ayat-ayat pedang”. Ini adalah pendapat golongan ekstrem yang dijadikan landasan bagi para teroris untuk menjalankan aksi-aksi terornya dengan berdalih agama.

Dalam tafsiran Asad, semua ayat perang dalam Al-Quran selamanya dipahami—dan mesti dipahami—sebagai bersifat defensif: untuk membela diri. Prinsip ini selamanya tetap berlaku, baik pada ayat-ayat perang yang paling awal diwahyukan sampai ayat-ayat perang yang paling akhir diwahyukan.

Simak uraian Asad ketika menafsirkan Surah Al-Baqarah [2]: 190: DAN, PERANGILAH di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah melancarkan agresi—sebab, sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melancarkan agresi.167, sebagai berikut:

Ayat ini dan ayat-ayat berikutnya dengan tegas menetapkan bahwa perang hanya dibolehkan bagi kaum Muslim untuk membela diri (dalam pengertian yang terluas). Kebanyakan mufasir sepakat bahwa ungkapan lâ ta‘tadû, dalam konteks ini, berarti “janganlah melancarkan agresi” (do not commit aggression); sedangkan, al-mu‘tadîn berarti “orang-orang yang melancarkan agresi”.

Selanjutnya, karakter defensif perang “di jalan Allah”—yaitu, yang sesuai dengan prinsip etis yang diperintahkan Allah—terlihat jelas dalam sebutan “orang-orang yang memerangi kalian” dan sudah dijelaskan lebih lanjut dalam Surah Al-Hajj [22]: 39 (“izin [untuk berperang] telah diberikan kepada orang-orang yang telah diperangi secara zalim”) yang, menurut semua riwayat hadis yang ada, merupakan ayat Al-Quran paling awal (dan karenanya fundamental) yang membahas masalah jihâd atau perang suci (lihat Al-Thabarî dan Ibn Katsîr dalam penafsirannya atas Surah Al-Hajj [22]: 39).

Bahwa prinsip pembelaan-diri yang paling awal dan fundamental ini merupakan satu-satunya alasan pembenaran atas perang—dan bahwa prinsip ini tetap berlaku di dalam seluruh Al-Quran—terlihat jelas dari Surah Al-Mumtahanah [60]: 8, dan juga dari kalimat penutup Surah Al-Nisâ’ [4]: 91, yang keduanya termasuk ke dalam periode yang lebih belakangan daripada ayat di atas. (QS Al-Baqarah [2], catatan no. 167)

Dalam tafsiran di atas, jelas terlihat metode Asad dalam penafsiran, yakni memahami Al-Quran secara utuh sebagai satu kesatuan, dan menafsirkan satu ayat Al-Quran dengan ayat-ayat Al-Quran lainnya dengan saling merujuk silang sehingga saling memperkuat dan menjelaskan. (Lihat juga Nasikh dan Mansukh: Adakah Ayat Al-Quran yang Dibatalkan?)  

  1. Bahagia Surga atau Derita Neraka: Takdir atau Kehendak-Bebas (Free Will)?
“Kebahagiaan di akhirat nanti juga merupakan konsekuensi logis dari perjuangan manusia untuk mencapai kesalehan dan pencerahan batin.”

Dalam Surah Al-Baqarah [2]: 7, Allah berfirman, Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan di mata mereka terdapat suatu tabir;7 dan derita yang dahsyat menanti mereka. Ayat di atas dijelaskan demikian dalam The Message of the Quran karya Asad:

[Ini adalah] suatu sebutan untuk hukum alam yang ditetapkan oleh Allah, yang di dalamnya seseorang yang terus-menerus mengikuti keyakinan batil dan menolak mendengarkan kebenaran, lama-kelamaan akan kehilangan kemampuan untuk memahami kebenaran “sehingga pada akhirnya, demikianlah kira-kira, sebuah tutup dikenakan pada hatinya” (Râghib).

Karena Allah-lah yang telah menetapkan segala hukum alam—yang secara keseluruhan dikenal sebagai sunnatullâh (“ketetapan Allah”, the way of God)—“tindakan menutup” ini dinisbahkan kepada-Nya: namun, jelaslah bahwa penutupan itu merupakan akibat dari pilihan bebas manusia dan bukan karena telah ditetapkan sebelumnya (predestined).

Begitu juga dengan azab (derita, siksa)—yang di akhirat nanti disediakan bagi mereka yang semasa hidupnya di dunia ini sengaja tetap tuli dan buta terhadap kebenaran—merupakan konsekuensi logis dari pilihan bebas mereka, sebagaimana kebahagiaan di akhirat nanti juga merupakan konsekuensi logis dari perjuangan manusia untuk mencapai kesalehan dan pencerahan batin.

Dalam pengertian inilah, paparan Al-Quran tentang “pahala” dan “hukuman” Allah harus dipahami. (QS Al-Baqarah [2], catatan no. 7)
 
  1. Nasikh dan Mansukh: Adakah Ayat Al-Quran yang Dibatalkan?
“Tidak ada satu pun hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi pernah menyebutkan suatu ayat Al-Quran ‘dibatalkan’ (mansukh).

Pernyataan di atas {ayat 42 Surah Fushshilat [41]} merupakan salah satu pasase Al-Quran yang dijadikan dasar oleh sang mufasir besar, Abû Muslim Al-Ishfahânî (seperti dikutip Al-Râzî), untuk menolak mutlak teori “penghapusan” (nasakh)—untuk penjelasan tentangnya, lihat catatan no. 87 pada Surah Al-Baqarah [2]: 106.

Karena “penghapusan” ayat Al-Quran mana pun sama saja dengan ibthâl-nya—yakni, penyataan tersurat atau tersirat bahwa sejak saat itu, ia harus dianggap tidak ada dan tidak berlaku—ayat tersebut harus dipandang “batil” (bâthil) dalam konteks Al-Quran sebagaimana adanya di hadapan kita: dan hal ini, seperti yang ditunjukkan oleh Abû Muslim, akan jelas-jelas berlawanan dengan pernyataan di atas, bahwa “tiada kebatilan (bâthil) dapat menyentuhnya”. (QS Fushshilat [41], catatan no. 35)

Prinsip yang ditetapkan dalam ayat ini—berkenaan dengan penggantian era/sistem religi Biblikal dengan era/sistem religi Qurani—telah menimbulkan suatu penafsiran keliru oleh banyak ulama. Kata âyah (“message”, pesan, risalah) yang ada dalam konteks ini juga digunakan untuk menunjukkan sebuah “ayat” Al-Quran (sebab, setiap ayat mengandung sebuah pesan).

Dengan berpegang pada makna terbatas dari istilah âyah ini, sejumlah ulama menyimpulkan dari ayat di atas bahwa sebelum pewahyuan Al-Quran selesai, ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran telah “dibatalkan” (mansukh) sesuai dengan perintah Allah. Terlepas dari keganjilan penafsiran ini—yang mengingatkan kita pada gambaran tentang seorang pengarang yang, setelah berpikir ulang, mengoreksi cetakan manuskripnya dengan menghapus satu bagian dan menggantinya dengan bagian lain—tidak ada satu pun hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi pernah menyebutkan suatu ayat Al-Quran “dibatalkan” (mansukh).


Intinya, “doktrin pembatalan” (nasikh-mansukh) itu mencerminkan ketidakmampuan sejumlah mufasir awal untuk menyelaraskan kandungan suatu ayat tertentu dalam Al-Quran dengan ayat lain: suatu kesulitan yang diatasi dengan menyatakan bahwa salah satu ayat yang dibahas tersebut telah “dibatalkan”.

Prosedur yang arbitrer ini juga menjelaskan mengapa tidak ada kebulatan pendapat di antara para penganut “doktrin nasikh-mansukh” mengenai mana saja dan berapa jumlah ayat Al-Quran yang dibatalkan; dan selanjutnya, mengenai apakah pembatalan yang diduga-duga ini berarti penghapusan total atas ayat tersebut dari konteks Al-Quran, ataukah hanya suatu pembatalan perintah atau pernyataan tertentu yang terkandung di dalamnya?

Singkatnya, “doktrin nasikh-mansukh” tidak memiliki dasar apa pun dalam fakta historis dan harus ditolak. Di sisi lain, kesulitan yang muncul dalam menafsirkan ayat Al-Quran di atas akan segera sirna jika istilah âyah dipahami—secara benar—sebagai “risalah” (pesan, message), dan jika kita membaca ayat ini dalam kaitannya dengan ayat sebelumnya, yang menyatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen menolak menerima setiap wahyu yang bisa menggantikan wahyu Bibel:

sebab, jika dibaca begini, pembatalan (nasakh) itu mengacu pada risalah Allah sebelumnya dan bukan pada bagian mana pun dari Al-Quran itu sendiri. (QS Al-Baqarah [2], catatan no. 87)  



⇐ Kembali ke halaman utama
0


Selengkapnya, berikut inilah karya-karya yang dirujuk Asad dalam tafsirnya:



Abû Dâwûd: Abû Dâwûd Sulaimân Al-Asy‘ats (w. 275 H), Kitâb Al-Sunan.

Asâs: Mahmûd ibn ‘Umar Al-Zamakhsyarî (w. 538 H), Asâs Al-Balâghah.

Baghawî: Al-Husain ibn Mas‘ûd Al-Farrâ’ Al-Baghawî (w. 516 H), Ma‘âlim Al-Tanzîl.

Baidhâwî: ‘Abd Allâh ibn ‘Umar Al-Baidhâwî (w. 685 atau 691 H), Anwâr Al-Tanzîl wa Asrâr Al-Ta’wîl.

Baihaqî: Abû Bakr Ahmad ibn Al-Husain Al-Baihaqî (w. 458 H), Kitâb Al-Sunan Al-Kubrâ.

Bidâyat Al-Mujtahid: Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd (w. 595 H), Bidâyat Al-Mujtahid wa Nihâyat Al-Muqtashid, Kairo, t.th.

Bukhârî: Muhammad ibn Ismâ‘îl Al-Bukhârî (w. 256 H), Al-Jâmi‘ Al-Shahîh.

Dârimî: Abû Muhammad ‘Abd Allâh Al-Dârimî (w. 255 H), Kitâb Al-Sunan.

Dârquthnî: ‘Ali ibn ‘Umar Al-Dârquthnî (w. 385 H), Kitâb Al-Sunan.

Encyclopaedia of Islam: (edisi pertama) Leiden, 1913-38.



Fâ’iq:
 
Mahmûd ibn ‘Umar Al-Zamakhsyarî (w. 538 H), Kitâb Al-Fâ’iq fî Gharîb Al-Hadîts, Hiderabad, 1324 H.

Fath Al-Bârî: Ahmad ibn ‘Alî ibn Hajar Al-‘Asqalânî (w. 852 H), Fath Al-Bârî bi Syarh Shahîh Al-Bukhârî, Kairo, 1348 H.

Hâkim: lihat, Mustadrak.

Ibn Hanbal: Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal (w. 241 H), Al-Musnad.

Ibn Hazm: lihat, Muhallâ.

Ibn Hibbân: Muhammad ibn Ahmad ibn Hibbân (w. 354 H), Kitâb Al-Taqâsîm wa Al-Anwâ‘.

Ibn Hisyâm: ‘Abd Al-Malik ibn Hisyâm (w. 243 H), Sîrat Al-Nabî.

Ibn Katsîr: Abu Al-Fidâ’ Ismâ‘îl ibn Katsîr (w. 774 H), Tafsîr Al-Qur’ân, Kairo, 1343-47 H.

Ibn Khallikân: Ahmad ibn Ibrâhîm ibn Khallikân (w. 681 H), Wafâyât Al-A‘yân wa-Anbâ’ Abnâ’ Al-Zamân, Kairo, 1310 H.

Ibn Mâjah: Muhammad ibn Yazîd ibn Mâjah Al-Qazwînî (w. 273 atau 275 H), Kitâb Al-Sunan.

Ibn Qayyim: Abû ‘Abd Allâh Muhammad ibn Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751 H), Zâd Al-Ma‘âd fî Hajj Khair Al-‘Ibâd, Kairo, 1347 H.

Ibn Sa‘d: Muhammad ibn Sa‘d (w. 230 H), Kitâb Al-Thabaqât Al-Kabîr, Leiden, 1904-28.

Ibn Taimiyyah: Taqî Al-Dîn Ahmad ibn Taimiyyah Al-Harrânî (w. 728 H), Tafsîr Sitt Suwar, Bombay, 1954.



Itqân: ‘Abd Al-Rahmân Jalâl Al-Dîn Al-Suyûthî (w. 911 H), Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân.

Jauharî: Abû Nashr Ismâ‘îl ibn Hammâd Al-Jauharî (w. sekitar 400 H), Tâj Al-Lughah wa Shihâh Al-‘Arabiyyah, Bûlâq, 1292 H.

Kasysyâf: lihat, Zamakhsyarî.

Lane: William Edward Lane, Arabic-English Lexicon, London, 1863-93.

Lisân Al-‘Arab: Abû Al-Fadhl Muhammad ibn Mukarram Al-Ifrîqî (w. 711 H), Lisân Al-‘Arab.

Manâr: Muhammad Rasyîd Ridhâ, Tafsîr Al-Qur’ân (terkenal sebagai Tafsîr Al-Manâr), Kairo, 1367-72 H.

Mufradât: lihat, Râghib.

Mughnî: Jamâl Al-Dîn ‘Abd Allâh ibn Yûsuf Al-Anshârî (w. 761 H), Mughnî Al-Labîb ‘an Kutub Al-A‘ârib.

Muhallâ: Abû Muhammad ‘Alî ibn Hazm (w. 456 H), Al-Muhallâ, Kairo, 1347-52 H.

Muslim: Muslim ibn Al-Hajjâj Al-Nîsâbûrî (w. 261 H), Kitâb Al-Shahîh.



Mustadrak: Muhammad ibn ‘Abd Allâh Al-Hâkim (w. 405 H), Al-Mustadrak ‘alâ Al-Shahîhain fi Al-Hadîts, Hiderabad, 1334-41 H.

Muwaththa’ : Mâlik ibn Anas (w. 179 H), Al-Muwaththa’.

Nasâ’î: Ahmad ibn Syu‘aib Al-Nasâ’î (w. 303 H), Kitâb Al-Sunan.

Nail Al-Authâr: Muhammad ibn ‘Alî Al-Syaukânî (w. 1255 H), Nail Al-Authâr Syarh Muntaqâ Al-Akhbâr, Kairo, 1344 H.

Nihâyah: ‘Alî ibn Muhammad ibn Al-Atsîr (w. 630 H), Al-Nihâyah fî Gharîb Al-Hadîts.

Qâmûs: Abû Al-Thâhir Muhammad ibn Ya‘qûb Al-Fîrûzâbâdî (w. 817 H), Al-Qâmûs.

Râghib: Abû Al-Qâsim Husain Al-Râghib (w. 503 H), Al-Mufradât fî Gharîb Al-Qur’ân.

Râzî: Abû Al-Fadhl Muhammad Fakhr Al-Dîn Al-Râzî (w. 606 H), Al-Tafsîr Al-Kabîr.

Syaukânî: lihat, Nail Al-Authâr.

State and Government: Muhammad Asad, The Principles of State and Government in Islam, University of California Press, 1961.

Suyûthî: lihat, Itqân.

Thabaqât: lihat, Ibn Sa‘d.

Thabarî: Abû Ja‘far Muhammad ibn Jarîr Al-Thabarî (w. 310 H), Jâmi‘ Al-Bayân ‘an Ta’wîl Al-Qur’ân.

Tâj Al-‘Arûs: Murtadhâ Al-Zabîdî (w. 1205 H), Tâj Al-‘Arûs.

Tirmidzî: Muhammad ibn ‘Îsâ Al-Tirmidzî (w. 275 atau 279 H), Al-Jâmi‘ Al-Shahîh.

Wâqidî: Muhammad ibn ‘Umar Al-Wâqidî (w. 207 H), Kitâb Al-Maghâzî.

Zamakhsyarî: Mahmûd ibn ‘Umar Al-Zamakhsyarî (w. 538 H), Al-Kasysyâf ‘an Haqâ’iq Ghawâmidh Al-Tanzîl. (Untuk karya-karya leksikografinya, lihat Asâs dan Fâ’iq.)


***


Selain tafsir ‘Abduh, yang juga banyak dikutip Asad adalah tafsir Al-Zamakhsyarî, seorang mufasir Mu‘tazilah terkenal. Karena itu, mungkin ada yang curiga bahwa tafsir Asad ini pun bercorak Mu‘tazilah.

Sebenarnya, hampir tidak ada satu pun mufasir Ahlussunnah yang tidak merujuk pada Al-Zamakhsyarî, termasuk mufasir tanah air, Buya HAMKA, sang Ketua MUI Pertama, dalam Tafsir Al-Azhar-nya.

Simak penuturan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi berikut, yang begitu mengapresiasi tafsir Al-Zamakhsyarî: [Awal kutipan] “Bagi Ahlus-Sunnah—meski bagaimanapun mereka membid‘ahkan golongan Mu‘tazilah—tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkan ilmu dan produk pemikiran golongan Mu‘tazilah dalam beberapa hal yang mereka sepakati, sebagaimana tidak terhalangnya mereka untuk menolak pendapat Mu‘tazilah yang mereka pandang bertentangan dengan kebenaran dan menyimpang dari Sunnah.

Contoh yang paling jelas ialah kitab Tafsir Al-Kasysyâf karya Al-Allamah Al-Zamakhsyarî, seorang Mu‘tazilah yang terkenal. Dapat dikatakan hampir tidak ada seorang alim pun (dari kalangan Ahlus Sunnah)—yang menaruh perhatian terhadap Al-Quran dan tafsirnya—yang tidak menggunakan rujukan Tafsir Al-Kasysyâf ini, sebagaimana tampak dalam Tafsir Al-Râzî, Al-Nasafî, Al-Nîsâbûrî, Al-Baidhâwî, Abu Al-Su’ud, Al-Âlûsî, dan lainnya.

Begitu pentingnya Tafsir Al-Kasysyâf ini (bagi Ahlus-Sunnah) sehingga kita dapati orang-orang seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar mentakhrij hadis-hadisnya dalam kitab beliau yang berjudul Al-Kaafil Asy-Syaaf fi Takhriji Ahaadiits Al-Kasysyaaf. Kita jumpai pula Al-Allamah Ibnul Munir yang menyusun kitab untuk mengomentari Al-Kasysyâf ini, khususnya mengenai masalah-masalah yang diperselisihkan dengan judul al-Intishaaf min al-Kasysyaaf.”


(Dr. Yusuf Qardhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, Gema Insani Press, Jakarta; ISBN 979-561-276-X;

[Akhir kutipan]



⇐ Kembali ke halaman utama
0

  1. Ringkas-mendalam: membantu memahami isi Al-Quran kapan dan di mana saja.

Formatnya handy dan mudah dibawa: membantu kita memahami isi Al-Quran kapan dan di mana saja. The Message of the Quran hanya 3 jilid. Bandingkan dengan tafsir-tafsir lainnya yang bisa sampai belasan jilid setebal beribu-ribu halaman. Namun, dalam keringkasan formatnya, tafsir ini tetaplah mendalam.

 
  1. Praktis: bisa dipakai mengaji dan mengkaji pada waktu yang sama (teks Al-Quran, terjemahan, dan tafsirnya disajikan dalam satu halaman).

Tafsir The Message of the Quran ditulis dalam bentuk catatan-catatan kaki di bawah setiap halaman. Karena itu, teks Al-Quran, terjemahan, dan tafsirnya selalu tersaji dalam satu halaman yang sama. Sebelum ini, orang harus memilih antara mengaji—membaca Al-Quran biasa (untuk mendapatkan berkah dan pahala)—atau mengkaji tafsirnya.

Jika mengaji Al-Quran, biasanya orang menggunakan mushhaf biasa, paling banter yang dilengkapi terjemahan. Adapun mengkaji Al-Quran memerlukan buku-buku tafsir yang panjang-panjang, sehingga kegiatan mengajinya akan berjalan sangat lambat, kalau tak malah mustahil sama sekali akibat kita harus menghabiskan banyak waktu untuk membaca tafsir panjang ayat per ayat. Dengan The Message of the Quran, persoalan ini terpecahkan.
 
  1. Ditulis berdasarkan riset puluhan tahun atas berbagai tafsir tradisional, hadis, sejarah Rasul, dan penelitian bahasa Arab di kalangan suku Badui Arabia, yang dipercayai masih memelihara tradisi berbahasa Arab yang paling dekat dengan bahasa Arab yang dipakai pada zaman Rasulullah Saw.

Seperti diakui Asad sendiri, The Message of the Quran didasarkan atas kajian sepanjang hayat saya dan sepanjang tahun-tahun yang saya habiskan di Jazirah Arab”. Sang mufasir tinggal selama 5 tahun di Madinah, mempelajari ilmu-ilmu Islam dan hadis di Masjid Nabawi.

Dari hasil studi-hadisnya itu, lahirlah karya terjemahan dan komentar yang memukau atas Shahîh Al-Bukhârî dalam bahasa Inggris pada 1938, puluhan tahun sebelum Asad menerjemahkan dan menafsirkan Al-Quran.

Selama bertahun-tahun tinggal di Arabia itu, Asad menyempatkan berkelana bersama suku Badui di Semenanjung Arabia, khususnya suku-suku yang tinggal di wilayah Arabia Tengah dan Timur, yang dipercayai masih memelihara tradisi berbahasa Arab yang paling dekat dengan bahasa Arab yang dipakai pada zaman Rasulullah Saw.—yakni, ketika Al-Quran diturunkan dan dipahami pada awalnya.

Ini memungkinkannya melakukan penelitian bahasa Arab secara intensif, sekaligus menghayati “rasa” naluriah dan ruh-bahasa Arab, kemampuan yang mustahil diperoleh jika seseorang hanya mempelajari bahasa Arab secara akademis atau dari buku-buku saja.

Selain itu, Muhammad Asad—yang sebelum masuk Islam bernama asli Leopold Weiss—terlahir dari keluarga rabi Yahudi dan sejak kecil telah mempelajari kitab-kitab Yahudi, Mishnah, Gemara, Targum, dan lain-lain dalam bahasa Ibrani: bahasa Semit yang serumpun dengan bahasa Arab. Pertemuan, pergaulan, dan persahabatan Asad yang luas dengan berbagai ulama dan tokoh Islam terkemuka pada zamannya semakin menambah bobot pemikiran dan keulamaannya.

 
  1. Merujuk kitab-kitab tafsir klasik maupun modern yang sudah diakui: Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Zamakhsyarî, Al-Râzî, Al-Baghawî, Al-Baidhâwî, Muhammad ‘Abduh, dll.

Terjemahan dan tafsir The Message of the Quran banyak merujuk pada tafsir-tafsir yang sudah diakui, seperti tafsir tradisional Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Zamakhsyarî, Al-Râzî, Al-Baghawî, Al-Baidhâwî, dan sebagainya; maupun, yang lebih sering, tafsir modern seperti Al-Manâr-nya ‘Abduh dan Rasyîd Ridhâ.
 
  1. Menjadikan Al-Quran sebagai kumpulan Kalam Allah “yang hidup” dan masuk akal sehingga relevan dengan konteks kekinian.

The Message of the Quran menjadikan Al-Quran sebagai kumpulan Kalam Allah “yang hidup”. Ayat-ayat Al-Quran di tangan Asad tidak tinggal sebagai suatu kitab kuno. Uraiannya tampak sekali diupayakan untuk beresonansi dengan situasi dan kondisi kontemporer serta kebutuhan orang-orang yang hidup di zaman ini.

Ketika menafsirkan Surah Al-Hadîd [57]: 25, dan Kami turunkan [kepada kalian kemampuan untuk mempergunakan] besi, yang di dalamnya terdapat kekuatan yang dahsyat serta [sumber] manfaat bagi manusia, Asad juga mengaitkannya dengan fenomena modern manusia: kecanggihan teknologi, eksploitasi alam, dan mekanisasi yang membuat hidup manusia semakin terpusat pada mesin.

Ini berpotensi menjauhkan manusia dari alam, sehingga mengalami alienasi (keterasingan dari dirinya sendiri dan dari alam). Ini semua berdampak pada bahagia-sengsaranya manusia, sehingga agama pun hadir membimbing manusia untuk mengingatkan: besi dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang menguntungkan maupun merugikan.

Mengakhiri tafsirnya atas ayat tersebut, Asad menyatakan, “Al-Quran mengingatkan terhadap bahaya yang timbul dari tindakan manusia dalam membiarkan kecerdikannya dalam bidang teknologi berkembang secara liar sehingga menutupi kesadaran spiritualnya dan, pada akhirnya, menghancurkan segala kemungkinan untuk meraih kebahagiaan individu dan sosial” (QS Al-Hadîd [57], catatan no. 42).
 
  1. Lebih memungkinkan pemahaman atas ajaran Islam dan pembangunan peradaban Islam yang progresif dan terbuka, tetapi pada saat yang sama tetap autentik.

Dalam prakatanya, Asad menulis sebagai berikut: [Awal kutipan] “Supaya benar-benar dapat dipahami dalam bahasa lain, pesan Al-Quran harus diterjemahkan sedemikian rupa sehingga dapat mereproduksi, sedekat mungkin, pengertian Al-Quran sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang yang belum terbebani oleh gambaran-gambaran konsep yang muncul dalam perkembangan Islam yang lebih kemudian: dan hal itulah yang menjadi prinsip paling utama yang menuntun saya dalam mengerjakan karya ini. … sebagian ungkapan Al-Quran—khususnya yang berhubungan dengan konsep-konsep yang abstrak—telah mengalami perubahan dalam pikiran masyarakat awam secara hampir tidak terasa seiring dengan berjalannya waktu dan, karena itu, ungkapan-ungkapan tersebut seharusnya tidak diterjemahkan menurut pengertian yang digunakan pada masa sesudah zaman klasik … sehingga melupakan maksud asalnya serta makna yang dipahami—dan yang dimaksudkan agar dipahami—oleh orang-orang yang pertama kali mendengarnya dari mulut Nabi sendiri.

Misalnya, ketika orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi mendengar kata islâm dan muslim, mereka memahami kedua kata itu masing-masing sebagai “sikap berserah diri manusia kepada Allah” dan “orang yang berserah diri kepada Allah”, tanpa membatasi kedua istilah itu pada suatu komunitas atau golongan agama tertentu—misalnya, di dalam Surah Âlu ‘Imrân [3]: 67, yang di dalamnya Ibrahim dikatakan sebagai “orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah” (kâna musliman), atau di dalam Surah Âlu ‘Imrân [3]: 52, yang di dalamnya murid-murid Isa mengatakan, ‘saksikanlah bahwa kami telah berserah diri kepada-Nya (bi-annâ muslimûn)’.

Dalam bahasa Arab, makna asal ini tetap tidak berubah dan tidak seorang pun ulama Arab yang pernah melupakan konotasi yang luas dari istilah-istilah tersebut. Namun, tidak demikian halnya dengan orang-orang non-Arab pada zaman kita, baik yang Mukmin maupun yang bukan: bagi mereka, istilah islâm dan muslim biasanya mengandung signifikansi yang terbatas dan memiliki lingkup historis tertentu, dan hanya berlaku bagi para pengikut Nabi Muhammad Saw.”

[Akhir kutipan] Prinsip yang sama juga dipakai Asad ketika menerjemahkan istilah kâfir, kitâb, dan ahl al-kitâb: alih-alih menerjemahkannya seperti lazimnya terjemahan yang kita temui: “unbeliever” [orang yang tidak percaya], “book” [buku], dan “people of the book” [orang-orang buku], Asad menerjemahkannya masing-masing sebagai berikut: “those who deny the truth” [orang yang mengingkari kebenaran], “divine writ” [ketetapan atau kitab Ilahi], dan “followers of earlier revelation” [para penganut wahyu terdahulu].
 
  1. Menyediakan rujuk silang antarayat Al-Quran yang satu tema (sesuai metode tafsîr Al-Qur’ân bi Al-Qur’ân: ayat Al-Quran ditafsirkan dengan ayat Al-Quran lainnya).

The Message of the Quran berisi rujukan silang antarayat Al-Quran yang memiliki kesamaan atau kaitan tema. Dan rujukan silang antarayat ini melimpah ruah banyaknya dalam karya Asad ini. Ini sesuai metode tafsîr Al-Qur’ân bi Al-Qur’ân yang dia tempuh: ayat Al-Quran ditafsirkan dengan ayat Al-Quran lainnya.

Seperti dikatakan Asad: [Awal kutipan] “Al-Quran tidak boleh dilihat sebagai suatu kompilasi dari perintah-perintah dan peringatan-peringatan yang terpisah, tetapi harus dipahami sebagai satu keseluruhan yang terpadu: yaitu, sebagai suatu penjelasan mengenai sebuah doktrin etika yang di dalamnya setiap ayat dan kalimat mempunyai kaitan yang erat dengan ayat dan kalimat yang lain, yang seluruhnya saling menjelaskan dan menguatkan.

Karena itu, makna Al-Quran yang sebenarnya hanya dapat dipahami jika kita menghubungkan setiap pernyataannya dengan apa yang telah dinyatakan di tempat lain di dalam halaman-halamannya, dan mencoba menjelaskan gagasan-gagasannya dengan sering melakukan rujukan silang, sambil senantiasa menundukkan pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus kepada pernyataan-pernyataan yang umum, dan pernyataan-pernyataan yang bersifat cabang kepada pernyataan-pernyataan yang pokok.

Manakala aturan ini benar-benar ditaati, kita akan menyadari bahwa Al-Quran—dalam kata-kata Muhammad ‘Abduh—adalah ‘tafsir terbaik bagi dirinya sendiri’.” (Muhammad Asad, dalam Prakata The Message of the Quran) [Akhir kutipan] Contohnya, tafsir Asad untuk ayat perang dalam Surah Al-Baqarah [2]: 216 ini: PERANG diwajibkan atas kalian, meskipun kalian membencinya; akan tetapi, boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia buruk bagi kalian: dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.201

Ayat di atas dijelaskan Asad dalam tafsirnya sebagai berikut: [Awal kutipan] “Karena ayat ini berbicara tentang peperangan, ia harus dibaca dalam kaitannya dengan Surah Al-Baqarah [2]: 190-193 dan Surah Al-Hajj [22]: 39: namun, selain itu, ayat ini juga mengungkapkan kebenaran umum yang dapat diterapkan pada banyak situasi.”

(QS Al-Baqarah [2], catatan no. 201) [Akhir kutipan] Lalu, ketika kita menengok tafsir Asad atas Surah Al-Baqarah [2]: 190-193, selain menemukan tafsirnya tentang ayat perang, kita pun mendapati rujukan silang lebih lanjut ke Surah Al-Mumtahanah [60]: 8, dan juga Surah Al-Nisâ’ [4]: 91. Konteks turunnya ayat (asbâb al-nuzul) pun diulas, dilengkapi dengan uraian mana ayat yang turun lebih awal, mana yang turun lebih kemudian.

Dengan demikian, ayat-ayat Al-Quran dipahami dalam satu kepaduan, dan tafsir antarayat dan antarsurah menjadi amat selaras dan saling memperkuat, sehingga pemahaman pembaca terhadap suatu tema pun akan menjadi lebih luas, komprehensif, dan utuh.
 
  1. Dilengkapi dengan Indeks Istilah dan Indeks Nama yang memudahkan pencarian kata dan topik tertentu.

Ini memudahkan pembaca mencari makna kata, konsep, atau tema tertentu dalam Al-Quran, beserta rujukan nomor surah dan ayatnya, serta tafsirnya, dengan cepat. Entri kata/konsep tersedia dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arabnya. Indeks semacam ini jarang ditemui dalam tafsir-tafsir Al-Quran lainnya yang berbahasa Indonesia.
 
  1. Sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa (Swedia, Turki, Jerman, dan sekarang bahasa Indonesia) dan telah membantu banyak orang di Barat maupun Timur untuk memahami ajaran Islam dengan lebih baik.


  ⇐ Kembali ke halaman utama
0



“Al-Quran diturunkan untuk manusia berakal dan menyeru kepada pembacanya untuk berpikir. Tafsir ini unik, mungkin satu-satunya di dunia. Penulisnya adalah seorang Muslim mualaf Eropa yang bertahun-tahun tinggal bersama suku-suku Badui Arab untuk mempelajari bahasa Arab yang dianggap paling murni dan mendekati bahasa ketika Al-Quran diturunkan.

Dengan demikian, terciptalah suatu tafsir yang memadukan pemikiran modern yang kritis dan rasional, dengan kecermatan menjaga kesahihan pemaknaan Al-Quran berdasarkan pemahaman bahasa Arab yang mendalam.”


K.H. Miftah Faridl, cendekiawan Muslim



“… Leopold Weiss, seorang wartawan dan pengarang ternama dari Austria; dahulunya dia beragama Yahudi, lalu masuk Islam. Pengetahuannya tentang Islam, pandangan hidup, dan keyakinannya dia tulis dalam berbagai buku … (yang sebagiannya diterjemahkan ke dalam) … bahasa Arab, untuk diketahui oleh orang-orang Islam sendiri di negeri Arab, yang telah Islam sejak turun-temurun.

Bahkan, pada waktu dia menyatakan pendapatnya tentang dajal di dalam suatu majelis yang dihadiri oleh Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Bulaihid, maka beliau ini telah menyatakan kagumnya dan mengakui kebenarannya. Namanya setelah Islam ialah Muhammad Asad.”


Buya HAMKA, mufasir-sastrawan terkemuka, Ketua MUI Pertama: dalam Tafsir Al-Azhar, Juz 1, Surah Al-Baqarah [2]: 62



“Muhammad Asad adalah salah satu dari mufasir kontemporer yang mampu menghubungkan alam pikiran klasik dalam peradaban Islam dengan suasana kekinian yang sarat tantangan.”


—Buya Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah



“Dengan interpretasi rasional yang dipengaruhi Muhammad ‘Abduh, jadilah The Message of the Quran ini tidak saja sebagai translation and explanation (terjemahan dan penjelasan), tetapi sebuah tafsir menawan, rasional, dan ‘berani’, dengan pilihan kata yang akurat, yang disandarkan pada referensi-referensi otoritatif, plus informasi-informasi luar yang mungkin tidak ditemukan dalam tafsir-tafsir Al-Quran lainnya.”


Prof. Dr. Afif Muhammad, guru besar Tafsir-Hadis UIN Bandung



“Muhammad Asad adalah cendekiawan Muslim-Eropa paling berpengaruh pada abad ke-20. Dia berkontribusi penting dalam semua bidang ilmu keislaman; Al-Quran, Sunnah, yurisprudensi, teori sosial, dan sejarah.

The Message of the Quran karyanya, tidak diragukan lagi, merupakan terjemahan Al-Quran yang paling berhasil pada zaman kita ini.”


Murad Wilfried Hofmann, Diplomat Republik Federal Jerman, penerima penghargaan Islamic Personality of the Year (2009) dari Dubai International Holy Quran Award


 
The Message of the Quran, sebuah tafsir Al-Quran yang baik dan menarik. Muhammad Asad asal Austria ini sudah mempelajari juga bahasa Arab pedalaman … dan banyak mengacu kepada Muhammad ‘Abduh, Al-Zamakhsyarî, dan Al-Râzî, ketiganya termasuk mufasir yang rasional.

Diharapkan, tafsir ini dapat memberi warna tersendiri dalam memperkaya pengertian kita tentang Al-Quran dan tafsirnya.”


Ali Audah, ulama-cendekiawan, penerjemah Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal



“Asad mengerjakan The Message of the Quran dengan tekad menangkap seteliti mungkin diksi, denotasi, alusi, konotasi, dan pelbagai nuansa bahasa Al-Quran agar dia dapat memberikan terjemahan/tafsir terbaik dari kitab suci ini ke dalam bahasa Inggris.

Umat Islam Indonesia patut menghaturkan penghargaan setinggi-tingginya kepada Penerbit Mizan atas upayanya menampilkan karya utama ini dalam bahasa Indonesia.”


Mochtar Pabottingi, peneliti LIPI



“Baru ketika kutemukan terjemahan Al-Quran yang lebih baik, terutama karya Muhammad Asad dan Maududi, aku merasakan getaran gairah kegembiraan: sebab, akhirnya kusadari ada kehadiran Ilahi di sini, yang bukan sekadar menyampaikan pesan bagi orang lain, melainkan Tuhan yang benar-benar berbicara kepadaku.

Al-Quran adalah teks yang menuntut kajian yang terus-menerus—ia memiliki makna-permukaan dan makna yang lebih dalam, dan isyarat-isyarat yang hanya bisa ditangkap oleh orang-orang yang berwawasan istimewa. Orang bisa mengkajinya sepanjang hayat, dan tetap saja menemukan sesuatu yang baru setiap hari.”


Ruqayyah Waris Maqsood (Rosalyn Rushbrook), mualaf, cendekiawan, dan penulis buku-buku Islam asal Inggris



“Tafsir Muhammad Asad sebagian besarnya didasarkan atas tafsir-tafsir agung yang ditulis oleh sejumlah ulama Muslim paling bijak sepanjang berabad-abad silam. Kitab-kitab tafsir ini tidak bisa diakses oleh orang yang tidak mengerti bahasa Arab, dan bahkan orang-orang yang berbahasa Arab sendiri menemukan kesulitan dalam memahaminya, namun tafsir-tafsir itu amat mendasar untuk dapat memahami teks Al-Quran dengan baik ….

Sejauh ini, tidak ada orang yang berhasil—atau mendekati berhasil—dalam menyampaikan makna Al-Quran kepada pembaca yang tidak memiliki akses terhadap teks Arabnya, yakni tidak memiliki akses kepada Al-Quran itu sendiri, atau kepada kitab-kitab tafsir klasik.

Jika seseorang mesti mencari istilah untuk mendefinisikan kelebihan utama karya ini, kita dapat berkata bahwa The Message of the Quran menggabungkan pengertian yang baik dengan presisi yang amat saksama. Tidak ada panduan memahami Al-Quran dalam bahasa Inggris yang lebih berguna [daripada karya ini].”


Charles Hasan Le Gai Eaton, tokoh Muslim Inggris, Masjid London (dalam Prolog The Message of the Quran edisi bahasa Inggris terbaru)



“Bahasa Arab Al-Quran yang menggunakan gaya bahasa eliptis (sering disebut îjâz oleh filolog Arab) terus dipertahankan dan dipahami dengan sangat tepat oleh orang-orang Badui di Semenanjung Arabia, baik pada masa Nabi Muhammad maupun pada abad-abad berikutnya. Bahkan, orang-orang Islam Arab yang lahir di luar tradisi Badui itu mengalami kesulitan dengan banyak ayat di dalam kitab suci mereka.

Rintangan-rintangan yang ditemui ketika berusaha menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa asing lebih besar lagi. Tafsir yang dibuat Muhammad Asad mengandung kemajuan penting dalam mengatasi beberapa masalah ini.”


Jeffrey Lang, Profesor Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, AS; mualaf dan tokoh Muslim terkemuka Amerika (dalam bukunya, Struggling to Surrender, Berjuang untuk Berserah: Pergulatan sang Profesor Menemukan Iman, Serambi, h. 68)



“Muhammad Asad, salah seorang pemikir Islam teragung yang pernah hidup, akan tetapi hampir tidak dikenali di Barat dan suatu misteri bagi kebanyakan orang Islam sendiri.

Tetapi, kepada mereka yang mengikuti kehidupannya melalui buku-buku dan penulisannya, pasti mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang lebih banyak memberi sumbangan di dalam zaman ini terhadap kepahaman Islam dan kebangkitan umat Islam, atau bekerja lebih keras untuk membina jembatan di antara Timur dan Barat, melebihi daripada Muhammad Asad.”


Dr. Farouk Musa, Monash University, dalam Rationalism: Understanding Symbolism and Allegory in the Quran Through the Lens of Muhammad Asad, “Seminar on Al-Quran” bertempat di Universiti Darul Iman pada 19 Agustus 2008



The Message of the Quran karya Muhammad Asad dan The Holy Koran: Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali ibarat Yin dan Yang: tidak terpisahkan.”


M. Kamal Hassan, mantan Rektor Islamic International University Malaysia



“Tak diragukan lagi, (The Message of the Quran karya Muhammad Asad ini adalah) terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris dengan komentar yang sangat informatif dan mencerahkan.”


Ziauddin Sardar, penulis buku-buku pemikiran Islam, teknologi, sains, dan ilmu informasi. Tinggal di London (dalam Muhammad for Beginners, Icon Books Ltd., Cambridge, 1994)


 
The Message of the Quran karya Muhammad Asad, yang dipersembahkan untuk ‘orang-orang yang berpikir’, merupakan alat bantu yang tiada tandingan untuk memahami Kitab Suci Islam dan dengan sendirinya memberikan pendidikan iman yang lengkap.”


The Book Foundation, lembaga pendidikan dan dakwah Islam di Inggris



The Message of the Quran karya Asad tetap merupakan salah satu terjemahan Al-Quran terbaik yang ada, baik dari segi bahasa Inggrisnya yang bisa dipahami dan catatan-catatan tafsirnya yang amat teliti dan informatif.”


Khaleel Mohammed, asisten profesor di Department of Religious Studies, San Diego State University (dalam artikelnya: “Assessing English Translations of the Qur’an”, http://www.meforum.org/717/assessing-english-translations-of-the-quran)
0

X