fbpx

Your address will show here +12 34 56 78
Artikel

Banyak yang menganggap gangguan obsesif kompulsif , atau sering disebut OCD, selalu berkaitan dengan kebersihan atau kerapian. Padahal gangguan ini adalah gangguan yang berakar di pikiran pengidapnya, bukan hanya tentang apa yang bisa dilihat. Lebih parah, banyak orang menjadikan kata OCD sebagai bercanda belaka.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), OCD adalah satu dari 20 teratas penyebab penyakit terkait ketidakmampuan secara mental di dunia. Biasanya menyerang orang dalam rentang usia 15 sampai 44 tahun.


Berikut beberapa hal yang jarang dimengerti oleh orang awam tentang OCD.

1. OCD adalah gangguan kecemasan mental yang mengganggu pikiran dan menghasilkan gambaran atau pikiran berulang tentang berbagai hal yang berbeda, seperti takut kuman, kotoran, atau penyusup; tindak kekerasan; menyakiti orang yang dicintai; tindakan seksual; atau terlalu rapi.

2. Gejala OCD terbagi antara obsesi

pikiran yang berulang dan terus-menerus, dorongan, atau impuls, dan kompulsi: perilaku berulang atau tindakan mental yang dirasakan individu didorong untuk bekerja sebagai respons terhadap obsesi.

3.OCD adalah gangguan yang serius

Kebanyakan publik mengetahui OCD bukanlah penyakit yang serius. Bahkan sering dijadikan bercandaan  dan menjadikan penderitanya OCD tidak dimengerti ketika serangan itu datang.

4.OCD bukan hanya tentang gila kebersihan

Salah paham yang sering terjadi adalah ketika OCD dianggap hanya tentang membersihkan sesuatu. Ada juga pengidap OCD yang sama sekali tidak tertarik dengan membersihkan sesuatu.

5.Gak semua orang pengidap OCD terorganisir

Faktanya, beberapa pengidap OCD menderita pemikiran dari total atau tidak sama sekali yang dapat mengacaukan organisir.

6.OCD tidak bisa dengan mudah diatasi dengan kemauan dalam diri

banyak yang mengira para pengidap OCD dapat mengendalikan kondisi mereka. Orang biasa berpikir kalau OCD hanyalah rentetan dari kebiasaan yang bisa kamu hentikan.

Tapi  mereka tidak mengerti betapa ritual ini dapat mengganggu setiap aspek dalam hidupnya dan betapa sulit menghentikannya.

7.Memiliki OCD bukan berarti rewel

Ada perbedaan besar antara menyukai kerapian dan memiliki OCD. Seseorang yang tidak mengidap OCD mungkin tidak suka kamarnya berantakan atau tangan mereka kotor, tapi mereka bisa melewatinya begitu saja.

Sementara bagi yang memang mengidap OCD, hal tersebut dapat terasa bagai akhir dunia. Dan mereka tidak dapat melanjutkan hidup kecuali mereka ‘membetulkan’ apapun yang menyebabkan stres parah tersebut.



Itulah beberapa fakta yang tidak banyak diketahui orang awam tentang gangguan obsesif-kompulsif. Kita tidak bisa menyamaratakan perilaku OCD karena setiap pengidapnya mungkin memiliki perilaku OCD yang berbeda-beda.

Kisah dari penderita OCD juga bisa Anda baca di Buku Turtles All The Way Down



[Oleh : Rini]
0

Artikel

Apakah kamu sering mengulang-ulang pemikiran yang membuatmu cemas?

Apakah kamu suka kesal jika melihat kaus kaki temanmu tidak sama tinggi?

Atau kamu selalu mengecek tempat sampah sebelum akhirnya membuangnya?

Jika iya, kamu bisa diindikasikan sebagai pengidap OCD.


Disadur dari Psychology Today, OCD (Obsessive Compulsive Disorder) adalah suatu kelainan mental yang membuat pengidapnya mengulang-ulang pikiran, perasaan, bayangan, dan sensasi (obsesi) yang tidak diinginkan, lalu melakukan berbagai hal untuk menanggapi pemikiran atau obsesi tersebut. Perilaku ini sering disebut ritual.

Ritual dapat mengurangi atau melenyapkan pemikiran obsesif untuk sementara waktu. Jika ritual tidak dilakukan, pengidap OCD akan merasa luar biasa cemas dan tidak mampu beraktifitas sehari-hari dengan nyaman. Hal ini bisa sangat mengganggu dan membuat risih orang-orang di sekitarnya.

Para penderita OCD sering kali menganggap orang-orang di sekitarnya tidak peduli akan perasaannya, atau bahkan memusuhinya. OCD sangat erat kaitannya dengan kecemasan (anxiety) dan salah satu kecemasan penderita OCD berkaitan dengan hal-hal yang berbau seksual dan lingkungannya. Namun pada beberapa kasus penderita OCD, mereka akhirnya bisa menikah, bahkan memiliki keturunan.

Penerbit Turtles All The Way Down

Dalam novel terbaru John Green, Turtles All The Way Down di mana sang tokoh utama, Aza, selain pengidap anxiety disorder, juga pengidap OCD. Di novel tersebut disebutkan bahwa Aza jatuh cinta kepada pemuda bernama Davis.

Kemudian Aza melihat banyak kemungkinan buruk yang akan ditimbulkan Davis untuknya; seperti bagaimana jika kuman di tangan Davis membunuhnya sewaktu mereka berpegangan tangan? Atau bagaimana jika banyak virus mematikan yang ditularkan ketika menonton bioskop bersama? Walaupun Aza hanya tokoh fiksi, namun kisahnya sangat mungkin terjadi di dunia nyata.

Dilansir dari psychcentral.com, seorang konselor OCD di New England menceritakan kisah pasiennya yang mengidap OCD dan suaminya (yang tidak mengidap OCD) menjalani hari-hari mereka. Nyatanya pernikahan keduanya berjalan baik, walau awalnya sangat sulit bagi sang suami untuk menerima fakta bahwa istrinya lebih memilih arahan dari sifat OCD-nya ketimbang dirinya dan anak-anak.

Namun di tahun-tahun berikutnya, segalanya menjadi mudah. Mereka bisa menjadi sebuah tim yang baik. Mereka tidak bertengkar satu-sama lain, melainkan melawan OCD. Mereka juga rutin mengunjungi klinik konsultasi untuk mengurangi kecemasan hasil dari penyakit tersebut.

Penyakit OCD memang menyebalkan, namun tidak ada hal yang tidak bisa diatasi. Seperti halnya Aza dan para penderita OCD lainnya yang bisa melewati segala macam jenis pergulatan batin untuk berusaha sembuh, berusaha hidup normal, dan memiliki pasangan.



[Penulis: Deby Nemo | Penyunting: Dy]
0

Artikel

Turtles All The Way Down - pixabay
Setiap orang tentu mendambakan keluarga yang harmonis. Namun terkadang, muncul masalah besar yang membuat satu keluarga hancur begitu saja, penyebab nya pun beragam, bisa karena sang orang tua memutuskan untuk bercerai, dipenjara, sakit berkepanjangan hingga meninggal dunia. Kondisi inilah yang disebut broken home.

Kenyataan broken home seperti ini dialami pula oleh pemeran utama dalam novel ‘Turtles All The Way Down’ karya John Green. Sang pemeran utama yang bernama Aza Holmes merupakan anak broken home setelah ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak. Aza juga harus melewati hidup yang cukup berat karena mengidap gangguan psikologis Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Kondisi broken home seperti itu ternyata bisa berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Anak-anak bisa merasakan kondisi yang berbeda bila kondisi keluarganya semakin memburuk, bahkan psikis anak pun jadi taruhannya.

Dilansir dari theasianparent.com, anak-anak broken home bisa memiliki beberapa masalah yang akan berdampak pada pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan pasangan, serta hubungan sosial. Berikut beberapa fakta tentang anak broken home :


1. SulitPercaya Orang Lain

Turtles All The Way Down - pixabay
Penelitian dari Brown University menunjukkan bahwa sering dibohongi oleh keluarga sendiri membuat anak sulit percaya kepada orang lain.


2. Bisa Membenci Orang tua

Turtles All The Way Down - wp
Perselisihan dan perceraian yang dilihat anak-anak bisa membuat dirinya benci dengan orang tua. Ekspektasi keluarga harmonis seketika hilang karena hubungan orang tua renggang.


3. Takut Dibohongi


Anak broken home mempunyai ketakutan berlebih setelah melihat sang orang tua bercerai. Salah satunya takut dibohongi oleh orang lain karena trauma dengan masa lalunya.


4. Takut Menjalin Hubungan dengan Pasangan


Berkaca pada hubungan sang orang tua, anak-anak broken home terkesan sulit menjalin hubungan karena ketidakpercayaan terhadap cinta.


5. Sulit Mengekspresikan Perasaan


Kehilangan sosok orang tua atau menyaksikan sendiri pertikaian orang tua membuat kondisi psikis anak jadi tak stabil. Akibatnya, anak-anak jadi sulit mengekspresikan perasaan kepada orang lain. Kendati demikian, tak semua anak-anak broken home mengalami kenyataan pahit dalam keluarganya.

Banyak juga anak broken home yang justru semakin kuat, sabar, dan tegar menghadapi masalah yang ada. Anak broken home juga bisa menjadi pribadi yang setia, tanggung jawab, dan disiplin karena tak ingin mengikuti jejak sang orang tua.


Oleh karena itu, tumbuh dalam keluarga broken home bukan berarti tak bisa menikmati hidup. Anak broken home juga sama seperti anak-anak lain yang bisa menjalani kehidupan dengan penuh rasa sayang.  



[Oleh : Amal]
0

Artikel
Apakah kamu sudah membaca Turtles All The Way Down, novel terbaru dari John Green yang sebelumnya sukses besar dengan The Fault in Our Stars? Aza Holmes, tokoh utama dari novel tersebut, bisa dibilang jauh dari kata sempurna. Dia mengidap anxiety disorder yang menyebabkannya melakukan beberapa kebiasaan buruk, salah satunya melukai jari sendiri.

Kisah Turtles All The Way Down mau tak mau membuat pembaca melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Apakah kamu punya kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkan? Tahukah kamu bahwa beberapa kebiasaan buruk itu berbahaya bagi kesehatan jiwa? Simak 12 kebiasaan buruk di bawah ini dan ubahlah sebelum terlambat, agar hidupmu lebih bahagia.


1. Berjalan Membungkuk


Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry menemukan bahwa orang-orang yang berjalan dengan bahu lemas dan membungkuk akan memiliki suasana hati yang lebih buruk dibandingkan orang-orang yang berjalan dengan bersemangat.

Ditambah lagi, orang yang berjalan membungkuk cenderung akan mengingat hal-hal negatif dibandingkan hal-hal positif. Mulai sekarang, berjalanlah dengan dagu terangkat dan bahu tegap.


2. Memfoto SEMUA Hal


Hai seleb-seleb Instagram, simak nih… Menurut penelitian yang dipublikasikan di Psychological Science, jika orang terlalu sering memfoto, dia akan kesulitan mengingat momen atau hal yang dia foto. Dalam penelitian tersebut, sejumlah partisipan berjalan-jalan di museum untuk memfoto sebagian benda dan mengamati sebagian lainnya.

Setelahnya, mereka lebih sulit mengingat benda-benda yang mereka foto, dibandingkan benda-benda yang mereka amati. Karena itulah, lain kali sebaiknya kamu kurangi foto-foto, dan berusaha lebih menikmati momen.


3. Mengindahkan Perundungan


Perundungan tidak hanya terjadi di sekolah, melainkan juga di tempat kerja. Jika kamu membiarkan harga dirimu terus-menerus diserang, mood baik jadi mudah menguap, hingga kamu akan merasa kesulitan bangun pagi dan pergi kerja.

Mengatasi perundungan bisa dengan bersikap cuek (tidak mengindahkan perilaku atau kata-kata para perundung) atau melawan. Namun jangan ragu untuk mencari pertolongan medis jika perundungan sudah tak tertahankan.


4. Tidak Pernah Berolahraga

Berdasarkan penelitian di University College London, ada korelasi antara aktivitas fisik dan depresi. Jika kamu berolahraga tiga kali seminggu, risiko mengalami depresi akan berkurang 19%.

Tidak perlu memaksakan diri untuk berolahraga berat, karena olahraga terbaik adalah berjalan kaki. Sesungguhnya, aktivitas apa pun akan membantu benakmu berpacu, dan menjauhkanmu dari depresi.


5. Berlengah-Lengah


Apakah ada pekerjaan yang selalu kamu tunda atau hindari karena pekerjaan tersebut membuatmu cemas atau kamu takut gagal? Yah, berlengah-lengah malah akan semakin membuatmu cemas.

Triknya, sebelum mulai melakukan pekerjaan tersebut, lakukan hal-hal yang bisa meringankan stres. Misalnya mendengarkan musik atau jogging.


6. Terjebak Dalam Hubungan Buruk


Sebagian orang yang mengalami kecemasan dan depresi tidak menyadari bahwa penyebabnya adalah hubungan yang buruk. Pasangan mereka entah bagaimana membuat mereka merasa tidak kompeten atau egoistis.

Kamu akan membutuhkan bantuan orang lain untuk masalah yang satu ini. Jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan keluarga, sahabat, atau dokter.


7. Terlalu Serius


Tertawalah lebih sering, karena tertawa adalah obat ampuh dalam mengatasi kecemasan dan depresi. Setiap hari, carilah hal-hal yang bisa membuatmu tertawa, misalnya menonton acara komedi di TV atau melihat berbagai meme lucu di 9gag.


8. Kurang Tidur


Menurut Diedra L. Clay, profesor di departemen konseling dan kesehatan psikologis Bastyr University, tidur mempengaruhi segalanya. Tidur mempengaruhi kapabilitas emosi dan jiwa, juga fungsi tubuh. Tidur adalah cara tubuh kita melakukan regenerasi.

JIka kamu kesulitan tidur, cari tahu penyebabnya, dan berusahalah untuk menciptakan suasana yang nyaman dan tenang untuk tidur.


9. Tidak Pernah Sendirian


Setiap hari, kamu berurusan dengan berbagai macam orang: keluarga, teman sekolah, rekan kerja. Kapan terakhir kali kamu benar-benar sendirian? Meluangkan waktu untuk diri sendiri itu penting, bisa sepuluh menit, satu jam, atau satu hari. Lakukanlah hal-hal yang benar-benar demi dirimu sendiri.


10. Sangat Jarang Berbicara dengan Orang Lain


Bagaimana caramu berkomunikasi dengan orang lain? Lewat WhatsApp, Facebook, atau media sosial lainnya? Itu bukan interaksi yang bermakna. Menurut Profesor Clay, Facebook itu hiburan, tidak memuat percakapan nyata yang dapat membantu kita memahami orang lain.

Jika kamu terlalu sering berhubungan secara virtual, kemampuanmu untuk berbicara tatap muka jadi berkurang. Di pengujung hidup nanti, jumlah pengikutmu di media sosial tidak akan ada artinya.

Mulai sekarang, upayakan untuk berkencan dengan teman, pasangan, atau anggota keluarga, setidaknya seminggu sekali.


11. Tidak Bisa Hidup Tanpa Ponsel


Kapan terakhir kali kamu sama sekali tidak memegang ponsel? Jika kamu selalu terhubung dengan dunia maya lewat berbagai gawai, tubuh dan pikiranmu tidak bisa benar-benar beristirahat dan beregenerasi.

Ini bisa berujung pada depresi. Cobalah jauhkan diri dari ponselmu setidaknya seminggu sekali, selama setengah hari.


12. Melakukan Multitasking

Siapa pun pasti pernah melakukan multitasking. Makan siang di meja kerja, mengecek media sosial sambil menonton TV, chatting di mana pun dan kapan pun. Berdasarkan penelitian, banyak orang yang mengira multitasking meningkatkan produktivitas, padahal tidak demikian.

Multitasking membuat orang stres, tidak memperhatikan situasi sekitar, dan tidak mampu berkomunikasi dengan efektif. Solusinya mudah: simpan ponselmu, matikan TV, konsentrasi pada apa yang sedang kamu lakukan dan apa yang terjadi di sekitarmu. Itu baik untuk kesehatan mentalmu.



Nah, dari daftar di atas, apakah ada yang menjadi kebiasaanmu? Segera ambil tindakan ya. Seperti yang dilakukan Aza Holmes dalam Turtles All The Way Down, ketika dia berusaha mengubah kebiasaan buruknya dan mengakui bahwa dia butuh pertolongan medis, dia dapat berdamai dengan anxiety disorder dan hidup lebih bahagia.  



[Oleh : Dyah]
0

Artikel, Resensi
  Turtles All The Way Down, buku terbaru dari John, penulis mega bestseller The Fault in Our Stars, mengisahkan tentang Aza Holmes, gadis remaja yang mengidap anxiety dan obsessive-compulsive disorder.  

Aza selalu dirongrong oleh pikiran-pikirannya sendiri yang tidak bisa dia kendalikan. Dia cemas bahwa entah bagaimana dia terkena bakteri pencernaan yang bisa berakibat maut. Dia cemas bahwa luka di jarinya entah bagaimana terinfeksi, sehingga dalam sehari dia bisa berkali-kali mengganti plester untuk memastikannya tetap steril.

  Penggambaran tokoh Aza terasa amat realistis dan membuat para pembaca bersimpati. Salah satu alasannya adalah karena John Green sendiri mengidap anxiety disorder. Usianya 6 tahun ketika dia menyadari ada yang aneh dengan pola pikirnya. Green seringkali khawatir makanannya terkontaminasi, dan dia hanya mau mengkonsumsi makanan-makanan tertentu pada jam-jam tertentu.

  Setelah dewasa, Green mengatasi kecemasannya dengan obat-obatan dan terapi perilaku kognitif. Namun tetap saja, terkadang pikiran-pikirannya yang tak terkendali membuatnya lumpuh. Pernah dia merasa begitu depresi hingga tak dapat makan, hanya meminum berbotol-botol soda.   Bagi Green, menulis novel adalah “cara untuk melepaskan diri, agar tidak terjebak dalam diri sendiri.”

Ketika The Fault in Our Stars meledak di pasaran, ketenaran yang begitu mendadak mengganggu ketenangan Green. Green yang cemas jika harus menyentuh orang lain, tiba-tiba harus menghadiri berbagai acara, menghadapi kerumunan fans yang ingin memeluknya dan berfoto bersama.   Kesuksesan The Fault in Our Stars begitu luar biasa, hingga rasanya tidak mungkin lagi menulis novel yang akan sesukses itu.

Green mulai menulis beberapa buku, namun mengabaikan semuanya. Dia cemas bahwa dia tidak akan pernah lagi menulis novel.   Kemudian dia berhenti mengkonsumsi obat, berharap dapat memicu kembali kreatifitasnya, dan dia pun terjun bebas. “Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiran-pikiranku layaknya spiral yang berputar-putar dan tulisan corat-coret,” ujarnya. Begitu dia dapat mengendalikan diri, lahirlah draft novel Turtles All The Way Down.

Dalam buku terbarunya, John Green berterima kasih pada para dokternya, menuliskan betapa beruntungnya dia bisa mendapat akses terhadap layanan kesehatan jiwa, dan memiliki keluarga yang selalu mendukung. “Penyakit psikologis ini bukanlah gunung yang kau taklukkan atau rintangan yang kau lompati, melainkan sesuatu yang hidup bersamamu setiap hari,” ujar Green. [Dyah]  


Green berharap bahwa Turtles All The Way Down dapat membantu orang-orang yang menghadapi penyakit yang sama dengan Aza dan dirinya agar tidak merasa sendirian.   Disadur dari NYTimes; John Green Tells a Story of Emotional Pain and Crippling Anxiety. His Own (10/10/2017)


 
[Oleh: Dyah Agustine]
0

X