Artikel, baru

Testimoni The Message of the Quran dari Haidar Bagir

Asad, dengan The Message of the Quran, seperti tak hendak membiarkan satu pun ayat Allah tak terpahamkan bagi akal manusia. Bagi yang tidak biasa, sebagian tafsirnya akan terasa seperti berupaya merasionalkan hal-hal yang tak rasional. Termasuk keajaiban-keajaiban para Nabi utusan Allah. Tapi, tak ada yang tak dia usahakan semuanya itu dengan dukungan entah kitab-kitab tafsir klasik, data-data historis, atau penjelasan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran lain.

Sehingga, kalau pun akhirnya kita tak setuju dengan tafsirnya, kita tak akan bisa menolaknya begitu saja sebagai tanpa dasar. Lagipula, sebagian dari apa yang tampak sebagai inovasi Asad, sebenarnya sudah banyak juga disinggung para ulama atau ahli tafsir sebelumnya. Tapi Asad-lah penerjemah dan penafsir Quran yang tak ragu-ragu memasukkannya ke dalam suatu karya yang akan dibaca jutaan orang. Asad tak takut kontroversi.

 

Baca juga:
Cahaya Gemerlapan Al-Quran: Muhammad Asad & “Tafsir”-nya di Mata Murad Wilfred Hofmann
– Testimoni The Message of the Quran dari Dr. Ir. H. Suharyadi, M.S.

Sebelumnya kita hanya mendengar bahwa hurr ‘iyn itu bermakna bukan cuma bidadari, melainkan juga bidadara dan bahwa (maaf) penerjemahan yang terasa sangat grafis akan kata kawa’ib sebagai “perawan-perawan berdada montok” adalah salah (karena literalistik), dan harus diartikan sebagai perawan-perawan (perempuan-perempuan suci yang sebaya) sebagai penafsiran yang hanya mungkin lahir dari kaum modernis, kalau bukan liberal.

Tapi, dalam Asad, pemahaman yang sebetulnya lebih masuk akal orang-orang yang berpikir itu, dia tampilkan sebagai pemahaman yang alami belaka. Dan memang sudah seharusnya demikian …. Jika mau kita ringkaskan, Asad mulai dengan berusaha memahami dan menangkap “pikiran” Al-Quran (the mind of the Qur’an).

Paradigma Al-Quran … sebelum masuk ke detail-detailnya. Dan ketika masuk ke detail, dia gunakan semua alat untuk membongkar berbagai medan semantik konsep-konsepnya. Baru setelah itu, dia menciptakan dialog (bolak-balik, hermeneutik) antara detail-detail Kitab Suci ini dengan “pikiran Quran” yang ditangkapnya.

Suatu cara yang masuk akal, bahkan harusnya satu-satunya cara yang masuk akal, untuk mendekati makna yang dimaui Sang Pemfirman. Saya bayangkan, bertahun-tahun Asad berusaha menjadikan dirinya seperti Al-Quran. Menceburkan diri ke kedalaman wahyu Yang Maha Tak Terbatas, persis sepertt firman-Nya: “Celupan Tuhan. Dan apa yang lebih baik dari Celupan Tuhan?!” Maka apa pun yang keluar dari Asad, mudah-mudahan adalah warna yang terbias dari Yang Memfirmankan-Nya.

Memang, pada akhirnya, semua tafsir, sesungguhnya semua pemahaman tentang apa saja, harus bersifat eksistensial, dan bukan objektif saja. Sebuah tafsir, yang di dalamnya jarak antara subjek dan objek sudah diminimumkan, dan orang menjadi seperti apa yang hendak dimaknai. Betapapun kita sadar, sebaik apa pun, manusia adalah manusia. Yang terbatas. Bahkan terlalu kecil, lebih kecil dari debu, dibanding berlipat-lipat samudra ilmu-Nya.

Akhirnya, sikap kita adalah, Asad orang besar, Asad mufasir hebat. Tapi Asad bisa saja salah. Sedikitnya, kita bisa saja tak setuju pada sebagian pandangannya. Tapi akankah kita buang tambang emas ilmu Allah hanya karena kecampuran sedikit tembaga? (dan belum tentu juga itu tembaga. Jangan-jangan emas juga, hanya tertutupi tanah, dalam pandangan sebagian kita).

Buya Hamka pun memuji. Juga Pak Miftah Farid. Dan saya tahu, bukan berarti para guru besar itu setuju dengan semua isinya (saya pun tidak). Tapi setidaknya mereka tak ragu, bahwa ini karya besar. Dan sejak saya mengenal The Message of the Quran, saya tak pernah mendaras Al-Quran pakai yang lain. Tafsir lain tentu tetap perlu untuk melengkapi. Tapi tafsir yang satu ini seperti bisa membaca makna apa yang saya harapkan dari ayat-ayat Allah Swt.

Mudah-mudahan Allah Swt. selalu memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada kita, agar kita bisa memahami makna-makna wahyu-Nya, betapapun sedikitnya. Lalu, memberi kita taufik-Nya agar kita bisa hidup sejalan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Yaa’ Aalim, Yaa Kariim ….

—Haidar Bagir, Penulis Islam Tuhan, Islam ManusiaPenggagas Gerakan Islam Cinta


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

Author


Avatar