Artikel, baru

Testimoni The Message of the Quran dari Yadi Saeful Hidayat

Saya pernah terlibat diskusi panjang dengan Mas Ilham (tim editor The Message of the Quran) terkait makna satu kata di dalam Al-Quran. Waktu itu Mas Ilham lagi sibuk-sibuknya sunting The Message of the Quran. Saya sodorkan makna-makna kata tersebut dalam bahasa Arab (sayang, saya lupa apa kata yang ditanyakan itu).

Sampai akhirnya kami sepakat untuk menerjemahkan kata tersebut sesuai simpulan diskusi kami. The Message of the Quran berani mendobrak tradisi penafsiran-penafsiran Al-Quran. Saya sudah terbiasa membaca kitab-kitab tafsir klasik, dan menemukan keasyikan sendiri saat membaca The Message of the Quran.

 

Baca juga:
Cahaya Gemerlapan Al-Quran: Muhammad Asad & “Tafsir”-nya di Mata Murad Wilfred Hofmann
– Testimoni The Message of the Quran dari Haidar Bagir

Dalam deretan literatur kitab tafsir sendiri, ada metode-metode yang berbeda yang disajikan oleh masing-masing pengarahnya. Ada yang pendekatannya bir riwayah (tafsir tekstual), seperti Ibn Katsir, Al-Thabari, dan lain-lain. Ada juga yang pendekatan tazkiyah nafs (gagasan penjernihan hati).

The Message of the Quran ini menghadirkan tafsir bir ra’yi (tafsir rasional), yang boleh jadi bagi sebagian kita akan mengalami keguncangan. Padahal, tafsir rasional juga pernah sama-sama dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Zamakhsyari dengan Al-Kasyaf atau Al-Razi dengan Mafatihul Ghaib. Saya menikmati penafsiran kata demi kata yang dihadirkan oleh Asad.

Tampak lain dan ada gagasan baru yang ingin diupayakan untuk dikenalkan kepada masyarakat modern, yang tentunya akan bisa lebih memahami penafsiran teks-teks Al-Quran secara logis. Misalnya, seperti dicatat oleh Buya Syafii Ma’arif, Asad menerjemahkan ungkapan ummatan wasatha, ayat 143 Al-Baqarah sebagai a community of the middle way (komunitas jalan tengah), tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan, tetapi berada pada posisi tengah dengan doktrin tauhid yang tegas dan tegak.

Umat Islam semestinya terus bergerak tanpa henti menuju posisi jalan tengah ini dengan kepala tegak sebagai tanda kepercayaan diri yang tinggi sebagai umat beriman dan berilmu.

Barangkali, closing statement-nya Asad dalam pengantar The Message of the Quran, yang juga dikutip oleh Buya Syafii dalam artikelnya, ini cukup menarik, “… saya sadar sepenuhnya bahwa terjemahan saya tidak dan memang sesungguhnya tidak mungkin ‘berlaku adil’ terhadap Al-Quran dan lapisan di atas lapisan maknanya: karena jika seluruh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalam Tuhanku, pasti lautan itu akan kering sebelum habis kalam Tuhanku.”

—Yadi Saeful Hidayat, CEO Mizania & Co.


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

Author


Avatar