Artikel, baru

The Message

Mendengar kata The Message, ingatan saya langsung kembali ke masa silam, saat saya melihat film yang berdurasi 4 jam dengan judul yang sama (The Message), dimainkan oleh Anthony Queen dan Irene Papas. Film itu menceritakan tentang perjalanan awal penyebaran agama Islam, hijrah ke Madinah dan akhirnya perjalanan kembali ke Makkah yang melambangkan kejayaan Islam. Dan akhirnya, 40 tahun kemudian, saya menerima The Message dari tangan seorang sahabat saya.

 

Baca juga:
Testimoni The Message of the Quran dari Yadi Saeful Hidayat
– Testimoni The Message of the Quran dari Haidar Bagir

Kali ini The Message (The Message of the Quran, red.) adalah tafsir Al-Quran yang ditulis oleh Muhammad Asad (terlahir sebagai Leopold Weiss). Tentu saja tafsir ini bukan yang pertama kali saya baca, karena memang curiousity saya yang cukup besar untuk mengerti “the real meaning, history and background behind the words” dari ayat-ayat kitab suci kita. Di situlah biasanya curiousity saya cukup stubborn dengan tidak hanya mencerna kata demi kata, tetapi juga mencoba mengerti the context behind the content, sambil mencoba mencari balance antara “Aqli” dan “Naqli”.

Faktor lain yang saya juga akan perhatikan adalah, the story telling, how the story will be told to the audience. Saya mengerti bahwa kitab suci adalah “sungai kebenaran” yang tidak bisa dibantahkan oleh akal pikiran kita yang sangat sederhana ini. Tetapi tentu saja story telling akan memainkan peran yang sangat penting pada saat audience sedang melakukan pengembaraannya untuk mengerti makna dan latar belakang dari setiap ayat yang dibaca.

Dengan background itulah, saya mulai membaca lembar demi lembar dari The Message of the Quran. Dan surprisingly (in a positive way), saya membuka lembar demi lembar The Message of the Quran ini secara “automatic”, dan kadang-kadang tak mampu menahan diri untuk ingin membaca lembar berikutnya.

Saya harus mengakui bahwa Leopold Weiss (yang sekarang menjadi Muhammad Asad) mampu merangkai kata-kata yang menarik perhatian kita sedalam-dalamnya. Kemudian curiousity saya pun mulai muncul, dan seperti biasa saya menanyakan banyak pertanyaan dengan pertimbangan akal saya.

Muhammad Asad seperti memainkan peran guru yang sangat sabar (dan pintar) dan menerangkan (very patiently) kepada anak muridnya yang agak bandel (c’est moi, saya sendiri) untuk konsep-konsep itu. Penjelasannya begitu lugas, lengkap, dan sederhana serta mudah dimengerti. Misalnya pada saat Leopold menjelaskan tentang “life entity”, dan menerangkan tentang “nafs”, Leopold memberikan definisi dan batasan yang sangat jelas tentang jiwa, akal, pikiran, makhluk hidup, kepribadian dan personality.

Kemudian Leopold juga menafsirkan dengan menarik tentang bagaimana seorang manusia mempunyai kelebihan dibandingkan makhluk lain. Bahwa manusia mempunyai pilihan (untuk percaya dan mengabdi kepada Allah Swt. atau tidak, sementara makhluk yang lain tidak mempunyai pilihan. Sekilas kita seperti merasa bahwa kemampuan (dan kekuasaan) untuk memilih itu adalah kelebihan (atau rahmat).

Padahal akhirnya kita menyadari bahwa kemampuan untuk memilih itu ternyata adalah ujian yang mahaberat bagi kita, karena tentunya ada konsekuensi yang berat atas pilihan kita tersebut. Kita mengerti, bahwa in the end of the day, quality yang kita punya itu ternyata adalah ujian berat. Misalnya harta, banyak orang yang tidak punya harta berkata “Begitu enaknya mereka yang punya harta”.

Padahal ternyata harta yang banyak adalah ujian berat, apakah kita mampu memanfaatkannya dan membawa kebaikan bagi orang lain, atau justru membawa mudarat bagi orang-orang lain dan kita sendiri. Wajah yang cantik (atau tampan), begitu banyak yang menginginkan, bahkan sampai operasi plastik, ternyata bisa menjadi bumerang bagi kita kalau kita tidak mampu menahan godaan, dan ternyata itu membuat kita terjebak dalam kemaksiatan.

Otak yang cerdas, kalau dimanfaatkan dengan baik akan membawa manfaat bagi banyak masyarakat. Tetapi bisa juga dimanfaatkan untuk menjadi psycopath atau malah menjadi public enemy yang “monstrous”.

Konsep anugerah adalah ujian ini digunakan oleh Leopold Weiss untuk menerangkan konsep poligami. Pada saat banyak orang beranggapan bahwa poligami (izin untuk menikahi lebih dari seorang wanita) dianggap sebagai kelebihan atau anugerah, Leopold men-challenge kita dengan menuliskan bahwa poligami hanya diperbolehkan untuk kasus-kasus luar biasa, dan poligami itu akan menjadi ujian yang luar biasa bagi kita (apabila kita tidak bisa berlaku “adil” kepada istri-istri kita).

Maka Leopold menutup bab poligami itu dengan menyatakan bahwa apabila lelaki tidak mampu melalui ujian yang berat itu (untuk bersikap dan berperilaku adil kepada beberapa istri), maka sebaiknya lelaki itu mempunyai satu istri saja. Kesimpulan yang sangat “dalam”.

Intinya, banyak sekali masalah-masalah yang tadinya rumit dan sulit dimengerti menjadi sesuatu yang positif dan mudah diterima oleh akal sehat. Leopold mampu menjelaskan itu dengan jelas dan gamblang, baik itu masalah poligami, pengetahuan alam, hubungan antarmanusia maupun hubungan kita dengan Yang Maha Pencipta.

Terima kasih kepada Leopold yang sudah membukakan mata hati saya. Dan terima kasih kepada sahabat saya, Sari Meutia, yang memperkenalkan The Message of the Quran kepada saya yang masih ingin terus mengembara meneruskan learning journey saya yang panjang. Salam Hangat

— Pambudi Sunarsihanto (HR Director Perusahaan Multi-nasional, Career Coach & Mentalist, penulis Think Different, Act Differently)


Dapatkan The Message of the Quran di Mizanstore.com!
*Diskon 20% dan gratis Al-Quran khusus periode pembelian 2 Mei – 24 Mei 2019.

Author


Avatar