Share
Scroll down

Baca
Artikel

2 Abad Multatuli: Max Havelaar dan Urgensinya di Dunia

200 tahun multatuli>

Max Havelaar merupakan salah satu karya penting dalam kesusastraan dunia. Karya tersebut menjadi sebuah gaung perubahan dan bertanggung jawab atas hadirnya Politik Etis Indonesia. Bukankah karya sastra yang hebat juga akan mengubah pandangan dunia? Multatuli, atau kita kenal sebagai Edward Douwes Dekker, melakukannya dengan brilian.

Max Havelaar dihargai karena inilah untuk kali pertama ada sebuah karya yang dengan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di Lebak, Banten. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.

An image

Sejak karya pada abad 19, pelbagai gerakan tercipta di bumi Nusantara. Mulai dari kesadaran akan pentingnya pendidikan, hingga kesadaran akan pentingnya melawan ketertindasan.

Sudah dua abad berlalu, tapi apakah Max Havelaar masih relevan dibaca hari ini? Setiap kali membacanya, kita akan menemukan sesuatu yang baru dan menarik. Bukankah itu pertanda sebuah tulisan disebut klasik?

Salah satu pengertian dari klasik ialah karya tersebut dapat dinikmati terus menerus, akan selalu relevan untuk dibaca ulang. Karya klasik akan menjadi pengingat akan sesuatu yang penting di sejarah sebuah bangsa.

Multatuli

Max Havelaar yang pertama kali terbit di negeri Belanda pada tahun 1860 ini menimbulkan kegemparan di negeri tersebut. Selanjutnya, Max Havelaar melahirkan tuntutan-tuntutan dari dalam negeri Belanda sendiri, agar pemerintah memberlakukan politik etis bagi rakyat negeri seberang.

Karya ini diterjemahkan pada tahun 1972 oleh H.B Jassin dan menjadi salah satu karya yang hangat diperbincangkan. Bahkan pada masa itu ada kesan pelarangan terhadap bacaan Multatuli ini. Tetapi sekarang, dengan masa keterbukaan ini, semua bacaan dapat dinikmati, dan ada baiknya kita baca Max Havelaar sekali lagi.

Keresahan Max Havellar Hari Ini

An image
Patung Multatuli di Museum Multatuli Indonesia

Membaca buku ini kita akan melihat secara gamblang kebobrokan-kebobrokan birokrasi di tanah Jawa, terutama di daerah Lebak, Banten. Dengan geram kita akan menjumpai sifat-sifat manusia munafik, para aparat bumiputra sendiri yang demi jabatannya rela menindas rakyat kecil, seperti yang juga dilakukan pemerintah kolonial Belanda.

Selain membongkar penindasan yang dilakukan sesama bumiputra, Dengan gaya tulisan yang satiris, Multatuli menceritakan budaya berdagang Belanda yang hanya mengeruk keuntungan. Multatuli menggugat pejabat kolonial korup dan memuji mereka yang berusaha mendobrak ketimpangan tersebut.

Pembongkaran noda-noda kemanusiaan yang dibongkar Multatuli tersebut ternyata masih terjadi saja hari ini, semisal Pram. Pramoedya dalam sebuah wawancara mengatakan:

“SEORANG politikus tidak mengenal Multatuli praktis tidak mengenal humanisme, humanitas secara modern. Dan politikus tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politisi kejam. Pertama, dia tidak mengenal sejarah Indonesia. Dua, tidak mengenal humaniteit, humanisme secara modern. Dan bisa menjadi kejam.” –Pramoedya Ananta Toer

Ya, yang dikatakan oleh Pram saat itu bisa kita rasakan hari ini. Politikus-politikus yang tidak membaca Multatuli abai dengan sejarah negerinya sendiri. Lebih dari itu, baik politikus ataupun tidak, kondisi Indonesia hari ini seakan bias akan sejarah, lebih mengindahkan sesuatu yang ada di luar dirinya sementara yang ada di dalam bobrok habis-habisan.

Berlimpah penderitaan di dalam negeri sendiri telah mengalahkan perasaan simpatimu terhadap apa yang terjadi di tempat jauh.

Dari kutipan tersebut, masalah hari ini pun terbongkar satu. Saat ini perasaan apatis meliputi masyarakat Indonesia. Kalau di poin sebelumnya kita bahas bagaimana politikus juga apatis dengan penderitaannya yang: kekuasaan saya hanya ini, harus lebih, sehingga ia abai dengan yang terjadi pada rakyatnya sendiri.

Juga bisa kita lihat di keseharian kita masing-masing, orang telah sibuk dengan deritanya sendiri sehingga enggan bersimpati dengan dunia sekitarnya, bahkan lingkungan luar rumahnya sendiri. Ternyata sampai di hari ini pun pesan dari kutipan Max Havelaar tadi masih relevan, dan masih menjadi persoalan. Atau mungkin akan terus menjadi persoalan. Lantas, apa salahnya kita membaca Multatuli lagi?[]

 

Dapatkan novel "Max Havelaar" dengan diskon khusus, hanya di #OutoftheBoox! Klik tautannya di bawah!

tags : Max Havelaar, Multatuli, Qanita, Novel, Novel Klasik, Qanita,

Related Post

Back to top