Share
Scroll down

Baca
Artikel

Rumah Berjendela Banyak: Dari Bedah Buku Recehan Bahasa-Aksaraloka

16-09-2020Category : Dewasa
Recehan bahasa>

“Saya merasa masuk ke sebuah rumah yang banyak jendelanya. Jika jendela-jendela itu dibuka, kita bisa melihat berbagai cakrawala dan khazanah.” Demikian penuturan Kang Uu Suhardi mengenai buku Recehan Bahasa: Baku Tak Mesti Kaku.

Itulah salah satu kelebihan buku karya Ivan Lanin yang terbit pada pertengahan 2020.

Melalui jendela-jendela itu, pembaca bisa tahu segala hal tentang bahasa Indonesia, tambah Redaktur Bahasa kelompok Tempo ini. “Jendela” dalam rumah tersebut adalah tautan yang dicantumkan dalam sejumlah tema bahasan, misalnya asal-usul kata. Untuk mengembangkan lebih lanjut, pembaca dipersilakan membuka tautan berbentuk kode QR. Itulah karakter sang Kamus Berjalan: Ivan memang suka memancing dan bersiasat, sebagaimana gayanya di Twitter.

An image

 

Kode QR dalam Recehan Bahasa untuk pengetahuan lebih lanjut. (Sumber: Recehan Bahasa, Qanita, 2020)

 

Satu kata dengan Kang Uksu, Iqbal Aji Daryono berpendapat, Recehan Bahasa adalah jendela masuk ke bahasa Indonesia dengan lebih cair. Menurut penulis Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira ini, bahasa Indonesia yang selama ini dianggap sebagai sebuah mata pelajaran—bukan sebagai bagian dari kehidupan—disajikan dengan menyenangkan. Pertama, melalui Twitter. Kemudian, di dunia bahasa, penentu kebenaran berbahasa bukan penguasa bahasa semata, tetapi juga ada penutur bahasa. Bahasa, tak hanya logis, perlu dikembangkan juga sesuai penuturnya. Nah, Ivan Lanin yang juga dekat dengan otoritas bahasa itu mampu membuat penutur bersepakat dan menyebarkan kesepakatan itu lewat Twitter, alih-alih melakukan penertiban. Dampaknya, orang menjadi kenal dan tertib berbahasa Indonesia berkat Ivan Lanin. Tak salah, jika Badan Bahasa menganugerahkan penghargaan Peneroka Bahasa Indonesia Daring pada 2016 kepada sang Kamus Berjalan ini.

Masih menurut Iqbal, yang mengasyikkan dari Recehan Bahasa adalah ditampilkannya dinamika proses berbahasa, yakni bagaimana cara kerja bahasa. Misalnya, dinamika berbahasa berupa penyerapan dan penerjemahan suatu istilah. Jadi, tidak sekadar sebuah fatwa atau ”vonis”, tetapi disampaikan pula bagaimana proses itu berjalan. Hal ini pun jelas terlihat pada pembahasan “Rundung atau Risak?”. Ivan yang semula memilih “risak”, pada akhirnya mengikuti ketetapan Badan Bahasa: “rundung”.

An image

 

Twitter Ivan Lanin. (Sumber: @ivanlanin)

 

Menanggapi kedua pembedah buku yang dijuluki pembantai, Ivan Lanin menuturkan bahwa Recehan Bahasa ini adalah kompilasi dari kicauannya di Twitter. Pengetahuan tentang bahasa Indonesia sambil lalu yang dibagikan. Informasi sedikit demi sedikit yang bisa menjadi pengetahuan yang bulat dan besar; sebagaimana uang receh yang jika ditabung bisa untuk membeli mobil, bahkan “pesawat terbang”. Penerbitan buku ini juga merupakan salah satu upayanya “meracuni” orang bahwa bahasa baku itu tak mesti kaku.

Tak sampai di situ, acara bedah buku yang digelar di acara puncak Aksaraloka oleh Narabahasa pada Sabtu, 12 September 2020 ini semakin seru. Windy Ariestanty sang “wasit” berhasil memanaskan acara.

 

Sebagai pembantai pertama, Kang Uksu, bahkan hafal betul nomor halaman bahasan yang dianggap tidak tepat. Misalnya tentang “Harga Teman” di halaman 88 yang merusak tata ekonomi karena harga seharusnya ditentukan oleh penjual. Juga, tentang pilihan “kawan bicara”, penulis buku seri Celetuk Bahasa ini menggugat, mengapa bukannya “lawan bicara”? Toh, sudah benar karena saat berbicara, kedua belah pihak menghadap ke arah yang berlawanan, tidak searah. Sementara untuk “ganti untung”, mengapa Ivan bisa menerima, padahal bahasa itu egaliter? Dan, yang ngeselin, Ivan tidak pernah membantah, tetapi senantiasa menjawab, “Oke, bagus ....” atau “Bisa, ….” Namun demikian, “Buku yang luar biasa. Tak usah diperdebatkan lagi. Harus dibaca,” pungkas Uu Suhardi, yang sudah empat tahun menjadi salah satu juri dalam penilaian untuk penghargaan media berbahasa Indonesia terbaik.

Iqbal Aji Daryono mempersoalkan kontranim “haram = terlarang, suci” yang dipadankan dengan “Jogja sebagai kota gudeg dan kota pelajar” karena gudeg tidak sama dengan pelajar. Tak hanya itu, Iqbal juga menganggap ada yang nanggung, seperti “Mas Menteri, Banthe, Ustaz” yang tak berlanjut. Namun demikian, menurut esais kisah perjalanan ini, Recehan Bahasa bukan sekadar recehan, melainkan ngemil bahasa: sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi tambun. Bahkan, dia menganggap sosok penulis adalah juru kampanye bahasa yang perfekto, lengkap, karena memesona dan tidak mau twitwor walaupun dipancing-pancing.

Menanggapi kedua pembantai, Ivan Lanin menerima semua itu jadi bahan penyempurnaan, yaitu berhati-hati menggunakan ironi yang diseriusi orang lain. Demikian pula, bahwa untuk kejelasan, cuitannya harus disempurnakan dengan buku tata bahasa praktis bahasa Indonesia. *Sebuah kode?*

Bagi Ivan Lanin, ketidakpuasan bisa akibat dari main yang kurang jauh. Maksudnya, pengguna bahasa Indonesia masih kurang menggunakan komparasi dengan bahasa lain dan kurang menelusuri etimologi kata. Mungkin, karena dibiasakan “pokoknya begitu”. Padahal, jika disampaikan mengapa begitu, kita bisa lebih ikhlas menerima.

Bagaimanapun, hakikatnya, bahasa adalah konsensus. Yang menyebabkan ada banyak konsensus yang berbeda-beda adalah penyebaran konsensus yang sudah disepakati itu tidak luas. “Nah, itulah yang sebenarnya saya himpun. Saya mencoba menyebarkan konsensus bahasa ini lebih luas. Perkara ada konsensus yang berbeda, biarkan saja. Toh, nanti akan ada seleksi alami mana yang bertahan.” Dalam konsensus, tidak ada yang benar atau salah, tetapi mana yang dipilih.

Ivan aktif di Twitter sejak 2010. Kadang-kadang, pendirian Ivan bisa berubah, sesuai perkembangan yang ada. Bahasa pun dinamis. Namun, sejumlah pertanyaan yang sama berulang terus.

Sudah baca Recehan Bahasa?

An image

 

Gambar buku Recehan Bahasa: Baku Tak Mesti Kaku (Sumber: https://mizanpublishing.com/recehan-bahasa/)

 

[Redaksi Qanita]

tags : Bahasa Indonesia, Ivan Lanin, Recehan Bahasa,

Related Post

Back to top