Share
Scroll down

Baca
Artikel

Keberangkatan: Pendahuluan buku The Socrates Express karya Eric Weiner

socrates>

Kita lapar. Kita makan, makan, dan makan lagi, tapi kita masih lapar.

Terkadang kita merasakan lapar sebagai sebuah kehadiran samar; pada lain waktu, ketika dunia terasa jungkir balik dan panik tak terkendali, lapar itu menggembung dan seakan­akan hendak melahap kita.

Kita mengambil ponsel pintar kita. Alat yang sungguh ajaib! Hanya dengan sekali sentuh, kita bisa mengakses segala pengetahuan manusia: dari Mesir kuno sampai fisika kuantum. Kita melahap semuanya, tapi kita masih saja lapar.

Apa gerangan rasa lapar tak terpuaskan ini? Kita tidak menginginkan hal­hal yang kita pikir kita inginkan. Kita pikir kita menginginkan informasi dan pengetahuan. Tidak. Kita menginginkan kebijaksanaan. Ini berbeda. Informasi merupakan campur aduk fakta­fakta, pengetahuan merupakan campur aduk yang lebih terorganisasi. Kebijaksanaanlah yang menguraikan fakta­fakta itu, memahaminya, dan yang paling penting, menyarankan cara terbaik menggunakannya. Seperti kata musisi Inggris Miles Kington: “Pengetahuan artinya tahu bahwa tomat adalah buah. Kebijaksanaan artinya tidak memakai tomat untuk salad buah.” Pengetahuan mengetahui. Kebijaksanaan memahami.

Perbedaan antara pengetahuan dan kebijaksanaan terletak pada jenisnya, bukan tingkatannya. Lebih banyak pengetahuan tidak berarti lebih bijaksana, dan malah bisa membuat kita kurang bijaksana. Kita bisa terlalu banyak tahu, dan kita bisa keliru mengetahui.

Pengetahuan itu sesuatu yang kau miliki. Kebijaksanaan itu, sesuatu yang kau perbuat. Kebijaksanaan merupakan keterampilan, dan seperti keterampilan lainnya, kebijaksanaan bisa dipelajari. Namun, memerlukan upaya. Berharap meraih kebijaksanaan secara kebetulan sama saja dengan belajar memainkan biola secara kebetulan.

Namun, pada dasarnya itulah yang kita lakukan. Kita terseok­seok dalam kehidupan, berharap memungut remah­remah kebijaksanaan di sana­sini. Sementara kita bingung. Kita keliru menganggap hal mendesak sebagai hal penting, hal bertele­tele sebagai hal yang mendalam, yang populer sebagai yang baik. Kita, seperti ungkapan seorang filsuf  kontemporer, “hidup dengan cara yang salah”.

***

An image

 

Aku juga lapar—lebih lapar dari kebanyakan orang, kurasa, akibat adanya rasa murung berkepanjangan yang selalu membayangiku sejauh ingatanku. Bertahun­tahun, aku telah mencoba berbagai sarana demi memuaskan rasa lapar itu: agama, psikoterapi, buku­buku pemberdayaan diri, berkelana, dan eksperimen singkat yang celaka dengan jamur psikedelik. Setiap cara itu memuaskan rasa laparku, tapi tidak pernah sepenuhnya atau bertahan lama.

Kemudian, suatu Sabtu pagi, aku mencoba turun ke dunia bawah tanah: ruang bawah tanah rumahku. Di tempat itu, aku menyekap buku­buku yang kuanggap tidak pantas dipajang di ruang tengah. Di sana, di antara judul­judul seperti The Gas We Pass dan Personal Finance for Dummies, aku menggali dan menemukan buku Will Durant terbitan tahun 1926, The Story of Philosophy. Bobot buku itu benar­benar berat dan, saat sampulnya kubuka, sungguh­sungguh mengepulkan debu. Aku menyekanya sampai bersih dan mulai membaca.

Kata­kata Durant tidak ada yang membuatku merasa “wow”, atau membuat pandanganku seketika “berubah 180 derajat”. Namun, ada sesuatu yang mendorongku terus membaca. Bukan gagasan yang tersimpan dalam buku tersebut, melainkan gelora dalam penyajian gagasan itu. Durant jelas seorang lelaki yang sedang kasmaran, tapi kasmaran dengan siapa? Dengan apa?

“Filsuf ”, dari kata Yunani philosophos, berarti “pencinta kebijaksanaan”. Dalam definisi itu, tak sedikit pun dikatakan soal memiliki kebijaksanaan, seperti juga tak pernah disebutkan dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat perihal mendapatkan kebahagiaan. Kau bisa mencintai sesuatu yang tidak kau miliki, dan tidak akan pernah kau miliki. Pencariannya yang bermakna.

An image
(sumber: Wikimedia Commons)

Saat menulis kata­kata ini, aku sedang berada di kereta api. Aku berada di suatu tempat, di negara bagian North Carolina, atau mungkin South Carolina, Amerika Serikat, aku tak tahu. Di kereta api, kita lekas lupa akan tempat, juga waktu.

Aku suka kereta api. Tepatnya, aku suka naik kereta api. Aku bukan “foamer”—penggila kereta api yang mulutnya langsung berbuih begitu melihat, misalnya, lokomotif diesel­elektrik SD45. Aku tak peduli dengan tonase lokomotif atau lebar rel. Aku menyukai pengalamannya: kombinasi langka antara keleluasaan dan kenyamanan yang hanya bisa diperoleh dari menumpang kereta api.

Ada suatu rasa terlindung ketika berada di dalam kereta api. Suhu yang nyaman, cahaya yang hangat. Kereta api membawaku ke alam prasadar yang lebih bahagia. Masa sebelum formulir­formulir laporan pajak, tabungan biaya kuliah, asuransi gigi, dan kemacetan lalu lintas. Masa sebelum selebriti ala keluarga Kardashian.

Ibu mertuaku menderita penyakit Parkinson tingkat lanjut. Penyakit itu amat kejam, merampas kemampuannya dan ingatannya. Ibu mertuaku sudah banyak lupa. Namun, dia masih mengingat dengan sangat terang kenangan masa kecilnya, saat menumpang kereta api di utara negara bagian New York. Albany ke Corning, ke Rochester, lalu pulang ke Albany. Pemandangan, suara­suara, dan aneka aroma kembali membanjiri ingatannya, seolah­olah semua berlangsung kemarin. Kereta api menyimpan sesuatu yang tak bisa dilupakan.

 

Filsafat sangat serasi dengan kereta api. Aku bisa berpikir di dalam kereta api. Aku tidak bisa berpikir di dalam bus. Sama sekali tidak bisa. Aku curiga ini karena sensasinya yang berbeda, atau karena asosiasi tertentu: bus mengingatkanku akan perjalanan masa kecil ke sekolah dan berkemah, tempat­tempat yang tidak ingin aku datangi. Kereta api membawaku ke tempat yang ingin aku tuju, dan kereta api berjalan dalam kecepatan pikiran.

Namun, filsafat dan kereta api sama­sama memiliki suatu keusangan: yang dahulu merupakan bagian vital dalam kehidupan kita, kini telah menyusut menjadi anakronisme yang ganjil. Zaman sekarang, hanya sedikit orang naik kereta api karena lebih memilih sarana lain, dan tidak ada yang mempelajari filsafat, karena tidak diizinkan orangtua. Filsafat, seperti menumpang kereta api, sesuatu yang orang lakukan sebelum mereka lebih banyak tahu.

Aku berlangganan majalah berjudul Philosophy Now. Majalahnya dikirimkan setiap dua bulan sekali, terbungkus amplop manila cokelat, seperti novel stensilan. Salah satu tajuk beritanya baru­baru ini berbunyi “Apakah Dunia Ini Ilusi?” Tajuk lain: “Samakah yang Benar dengan Kebenaran?” Saat kubacakan tajuk­tajuk ini kepada istriku, dia memutar bola mata. Bagi istriku—juga bagi banyak orang lain, artikel­artikel semacam ini merupakan contoh sempurna kesalahan terbesar filsafat: mengajukan pertanyaan­pertanyaan absurd yang mustahil diketahui jawabannya. Kata “filsafat” dan “praktis” hampir tidak pernah muncul berdampingan.

Teknologi merayu kita agar percaya bahwa filsafat tidak penting lagi. Untuk apa Aristoteles jika kita punya algoritme? Teknologi digital sangat mahir menjawab pertanyaan­pertanyaan kecil kehidupan—Di mana burrito paling lezat di Boise? Manakah rute tercepat ke kantor?—sehingga kita mengira teknologi digital pandai juga menjawab pertanyaan­pertanyaan besar. Ternyata tidak. Siri, si asisten virtual Iphone, mungkin piawai mencari restoran burrito yang enak, tapi coba bertanya kepadanya cara terbaik menikmati burrito, dan Siri tak akan mampu menjawab.

Atau, bayangkan perjalanan dengan kereta api. Teknologi, dan induknya, sains, mampu menyebutkan kecepatan kereta tersebut, berat dan massanya, dan mengapa koneksi Wi­Fi dalam gerbong sering terputus. Sains tidak bisa menjawab apakah kau harus menumpang kereta api ke acara reuni SMA­mu, atau harus menjenguk Paman Carl, yang bagimu selalu menyebalkan tapi sekarang sedang sakit keras. Sains tidak bisa memberitahumu apakah dapat diterima secara etis jika kau menjewer bocah rewel yang menendang­nendang kursimu dari belakang. Sains tidak bisa menilai apakah pemandangan di luar jendelamu indah atau klise. Filsafat juga tidak bisa, tidak secara pasti, tapi filsafat dapat membantumu memandang dunia dari lensa berbeda, dan di sinilah nilai besar filsafat.

An image
(sumber: Wikimedia Commons)

Di toko buku dekat rumahku, aku melihat dua bagian: “Filsafat” dan di sebelahnya, “Transformasi Diri”. Di toko buku zaman Athena kuno, kedua bagian ini pasti disatukan. Filsafat adalah transformasi diri. Filsafat dapat dipraktikkan. Filsafat juga terapi. Obat bagi jiwa.

Filsafat mampu menyembuhkan, tapi bukan seperti terapi pijat batu panas. Filsafat tidak mudah. Tidak menyenangkan. Tidak meredakan nyeri. Lebih seperti gym ketimbang spa.

***

An image
Maurice Merleau­Ponty (1908—1961)
(sumber gambar: Estudo Prático)

Filsuf Prancis, Maurice Merleau­Ponty menyebut filsafat sebagai “pikiran yang radikal”. Aku suka caranya membubuhi filsafat dengan kegelisahan dan aroma bahaya, yang memang sudah sepatutnya. Para filsuf di masa silam memikat seluruh dunia. Mereka heroik. Mereka rela mati demi filosofi mereka, dan sebagian dari mereka, seperti Socrates, bahkan sungguh­sungguh mati demi kebijaksanaannya. Sekarang, yang heroik dari filsafat hanya perjuangan gila­gilaan untuk meraih posisi pengajar tetap.

Kebanyakan sekolah masa kini tidak mengajarkan filsafat. Mereka mengajarkan tentang filsafat. Siswa tidak diajarkan berfilsafat. Filsafat berbeda dari mata pelajaran lain. Filsafat bukan batang tubuh pengetahuan, melainkan cara berpikir— cara hidup di tengah dunia. Bukan “apa” atau “mengapa” melainkan “bagaimana”.

Bagaimana. Kata ini sering kali kurang dihargai pada zaman sekarang. Di ranah sastra, buku­buku “how-to” dianggap memalukan, seperti sepupu yang sukses tapi kurang beradab. Para penulis serius tidak menulis buku “how-to”, dan para pembaca serius tidak membacanya. (Setidaknya, mereka tak mengaku membacanya.) Namun, sebagian besar dari kita kesulitan tidur malam bukan karena bertanya­tanya “apakah sifat asli realitas?” atau “mengapa sesuatu ada dan bukan tidak ada?” Yang menyandera kita dan tidak mau membebaskan kita, yaitu pertanyaan bagaimana—bagaimana cara kita hidup?

Filsafat, tak seperti sains, bersifat preskriptif. Filsafat tidak hanya menggambarkan dunia sebagaimana adanya tapi juga dunia seandainya, membukakan mata kita terhadap kemungkinan. Pengarang Daniel Klein berpendapat soal filsuf Yunani kuno Epicurus, dan pendapatnya berlaku untuk semua filsuf hebat: bacalah filsafat mereka bukan sebagai filsafat, melainkan sebagai “puisi yang memperkaya kehidupan”.

Aku menghabiskan beberapa tahun terakhir mereguk puisi itu, perlahan­lahan, dalam kecepatan pikiran, sambil duduk meringkuk nyaman di kursi dekat jendela di dalam kereta api. Aku menumpang kereta api ke mana pun dan kapan pun bila memungkinkan. Aku berkunjung ke tempat berpikir sebagian pemikir terhebat sepanjang sejarah. Aku memberanikan diri mengikuti Kemah Stoik di Wyoming dan menantang birokrasi Indian Railways di Delhi. Aku menaiki kereta rute F di New York City lebih lama dari yang seharusnya dilakukan orang. Perjalanan­perjalanan ini istirahatku, kesempatanku untuk meregangkan tungkai, dan meregangkan pikiran, di antara dua babak filosofi. Perjalanan­perjalanan ini memberiku jeda, dalam maknanya yang terbaik.

***

An image

 

Cobalah Google “filsuf ” dan kau akan menemukan ratusan nama, barangkali ribuan. Aku telah memilih 14 orang filsuf. Bagaimana caranya? Aku memilih secara cermat. Mereka semua bijaksana, meskipun dalam cara yang berbeda­beda. Rasa filsafat mereka berlainan. Mereka berasal dari rentang waktu yang sangat panjang—Socrates hidup pada abad ke­5 sebelum Masehi, Simone de Beauvoir pada abad ke­20—dan juga dari rentang jarak yang amat luas: Yunani ke Tiongkok, Jerman ke India. Ke­14 filsuf itu sudah meninggal, tapi para filsuf yang hebat tidak sungguh­sungguh mati; mereka hidup di dalam pikiran orang lain. Kebijaksanaan dapat dipindahkan. Ia melampaui ruang dan waktu, tak pernah usang.

Daftarku berisi banyak filsuf Eropa, tapi tidak melulu. Dunia Barat tidak memonopoli kebijaksanaan. Sebagian filsufku, seperti Nietzsche, sangat subur menghasilkan karya. Yang lainnya, seperti Socrates dan Epictetus, tidak pernah menulis satu kata pun, (Untunglah murid­muridnya menulis.) Beberapa di antaranya meraih ketenaran semasa hidup. Yang lainnya mati tanpa dikenal. Sebagian akan langsung kita kenali sebagai filsuf, sebagian lagi, seperti Gandhi, barangkali tidak dianggap filsuf. (Padahal iya.) Beberapa nama, seperti bangsawan istana kerajaan Jepang dan pengarang, Sei Sh?nagon, mungkin asing bagimu. Tidak mengapa. Pada akhirnya, kriteriaku dipersempit menjadi: Apakah para pemikir ini mencintai kebijaksanaan dan apakah kecintaan itu menular?

An image

 

Kita biasanya menganggap filsuf sebagai jiwa tanpa raga. Tidak demikian halnya dengan orang­orang ini. Mereka makhluk jasmaniah yang aktif. Mereka berjalan kaki dan menunggang kuda. Mereka terjun ke medan perang, minum anggur, dan bercinta. Dan, mereka semua, baik yang lelaki maupun perempuan tanpa terkecuali, filsuf praktis. Mereka tidak tertarik pada makna kehidupan, tapi bagaimana menjalani kehidupan yang bermakna.

Mereka tidak sempurna. Mereka punya dosa­dosa kecil. Socrates mengalami kesurupan yang terkadang berlangsung berjam­jam. Rousseau memperlihatkan pinggulnya di muka umum beberapa kali. Schopenhauer berbicara dengan anjing pudelnya. (Nietzsche bahkan lebih parah lagi.) Yah, mau bagaimana lagi. Kebijaksanaan jarang terbalut setelan jas mahal Brooks Brothers, tapi siapa tahu?

Kita selalu membutuhkan kebijaksanaan, tapi kita membutuhkan kebijaksanaan yang berlainan pada tahap­tahap berbeda dalam kehidupan. Pertanyaan “bagaimana caranya” yang penting bagi seorang remaja 15 tahun, tidak penting bagi seseorang berusia 35 tahun—atau 75 tahun. Filsafat memiliki pendapat vital tentang setiap tahap kehidupan.

Aku belajar bahwa tahap­tahap kehidupan ini berlangsung sangat cepat. Terlalu banyak di antara kita yang menjalaninya dengan santai, mengotori pikiran dengan hal­hal yang sepele dan konyol, seakan­akan waktu kita melimpah. Waktu kita sedikit. Waktu­ku tak banyak. Aku menganggap diriku berusia paruh baya. Putriku yang masih remaja, yang sangat jago matematika, baru­baru ini menyadarkanku bahwa aku bukanlah paruh baya, kecuali jika umurku nanti mencapai 110 tahun.

Jadi, meskipun aku menumpang kereta yang lamban saat menulis kata­kata ini, penaku digerakkan oleh rasa tergesa. Rasa terdesak seseorang yang tidak ingin mati sebelum menjalani kehidupan yang bahagia. Kehidupan bukan masalah bagiku, belum, aku merasa waktu sudah sedemikian dekat mengejarku, dan semakin kuat setiap harinya. Akuingin—tidak, aku butuh—mengetahui mana yang penting dan mana yang tidak, sebelum semuanya terlambat.

“Lambat laun, hidup mengubah kita semua menjadi filsuf,” kata pemikir Prancis Maurice Riseling.

Ketika kali pertama aku menemukan kata­kata itu, beberapa tahun lalu, dunia merupakan tempat yang lebih menyenangkan. Pandemi hanya ada di dalam buku­buku sejarah dan film­film Hollywood. Namun, perkataan Riseling menyentuhku karena, bahkan saat itu, aku punya kecurigaan yang mengusik bahwa aku tersesat.

Secara impulsif dan dengan kesadaran yang ganjil, aku berpikir, “Untuk apa menunggu?” Untuk apa menunggu sampai kehidupan menjadi permasalahan bagiku? Mengapa tak kubiarkan saja kehidupan mengubahku jadi filsuf hari ini, sekarang juga, selagi masih ada waktu?[]

tags : eric weiner, socrates, marcus aurelius, geography of bliss,

Related Post

Back to top