Share
Scroll down

Baca
Artikel

Mengurai Akar Konflik Sains dan Agama

sainsdanagama>

Sains Religus, Agama Saintifik

(Pengantar Penulis—Haidar Bagir & Ulil Abshar Abdalla)

 

Awalnya salah seorang penulis di antara kedua penulis buku ini, Haidar Bagir diundang untuk bicara di sebuah diskusi zoom bertajuk agama dan sains. Konteksnya adalah wabah Covid 19, yang di dalamnya orang—termasuk, khususnya, para agamawan—harus menurut pada sains sebagai satu-satunya autoritas sains (kedokteran) untuk menghadapi wabah ini.

Tapi tentu saja, ada saja dari kelompok agama—sebetulnya bukan tak ada juga dari kelompok non-agama, dengan alasan berbeda—yang ngeyel untuk tak peduli pada nasihat ilmu kedokteran dalam hal protokol pencegahan penularan dan lebih memilih untuk pasrah kepada Tuhan. Mereka bahkan memilih untuk tetap berkerumun dalam melakukan ibadah-ibadah berjamaah dengan berpendapat bahwa, kalau Tuhan mau mereka tidak tertular, maka pasti mereka tidak tertular. Dan sebaliknya.

Maka, untuk mendiskusikan hal ini Haidar Bagir pun membawakan pointers “Mengurai Akar Konflik Sains dan Agama”, yang menjadi salah satu tajuk juga dalam buku ini. Haidar Bagir memaparkan, berdasar data-data sejarah interaksi Islam dan sains, tak ada sama sekali fenomena konflik (para ahli, bukan awam) agama dengan temuan-temuan sains di sepanjang sejarah.

Ketika dibuka sesi tanya jawab, moderator memberi kesempatan kepada penulis lain buku ini, Ulil Abshar Abdalla untuk memulai memberikan tanggapan, mengingat Ulil Abshar Abdalla harus segera meninggalkan pertemuan untuk acara lain.

Dalam tanggapannya itu, Ulil Abshar Abdalla antara lain menekankan agar dalam diskusi seperti ini tak perlu muncul sikap Wahabisme dalam sains—belakangan, dalam salah satu tulisannya yang dimuat dalam buku ini, Ulil Abshar Abdalla menyebut fenomena seperti ini sebagai Qutbisme—yang memperolok-olok agama.

Ternyata, perasaan Ulil Abshar Abdalla, yang sudah mengenal baik lingkungan diskusi tersebut, benar belaka. Segera setelah penanggap lain bicara, keluarlah olok-olok terhadap agama itu. Bahwa, kira-kira, pernyataan tak adanya konflik antara agama (Islam) dan sains itu cuma "sopan-santun" belaka. Dengan kata lain, omong kosong.

Baca juga: Perbedaan antara Sains dan Agama (Itu Biasa Saja)

Maka Haidar Bagir "meledak" dan melakukan protes keras. Bukan karena perbedaan pendapat tentu saja, tapi karena sedikitnya dua hal: Pertama, mencemooh agama—sebetulnya mencemooh pemikiran atau keyakinan apa pun—adalah sesuatu yang tidak baik dan cuma menunjukkan kebebalan (insensitivitas) dan kepongahan. Kemungkinan besar juga kesempitan wawasan. Kita selama ini sudah cukup kerepotan dengan bigot-bigot di kalangan pengikut agama. Betapa lebih repotnya jika orang-orang yang yakin kepada suatu pemikiran yang seharusnya begitu canggih—seperti sains—juga ikut-ikutan jadi bigot, yang sudah tentu akan menambah komplikasi dalam hubungan antarkelompok.

Kedua, meski amat ringkas, dalam paparan Haidar Bagir, ia kemukakan berbagai data kesejarahan tentang interaksi yang penuh apresiasi di pihak kelompok agamawan dan pemikir agama (Islam) terhadap sains di sepanjang sejarahnya. Tapi, tiba-tiba, semuanya itu dimentahkan hanya dengan kalimat-kalimat kenes dan kosong makna. Tanpa dasar, tanpa data, tanpa analisis, tanpa bantahan terhadap apa yang disampaikan dalam presentasi.

Alhasil, setelah itu Haidar Bagir berpikir tak akan pernah lagi memberi waktu bagi pertemuan-pertemuan penuh omong kosong tentang sains ini. Ketika kemudian terjadi polemik, Haidar Bagir sama sekali tak tergerak untuk terjun ke dalamnya. Sebaliknya, Ulil Abshar Abdalla cukup aktif merespon itu dalam tulisan-tulisan yang dipublikasikannya setelah itu.

Hingga suatu hari Haidar Bagir iseng-iseng membuat sebuah tulisan populer nan ringkas—disebutnya “curhat”—di WhatsApp, sekadar untuk menggugat bigotry para pemuja sains itu. Haidar Bagir menunjukkan bahwa—dalam segenap apresiasi kita terhadap perkembangan sains modern—seharusnya mudah dipahami bahwa produk pemikiran peradaban modern ini bukannya bebas dari kerentanan, khususnya dalam epistemologi dan metodologinya, di sana-sini.

Dan ini bukan suatu penilaian yang negatif terhadap sains. Justru dengan cara inilah semua aspek peradaban modern bergerak maju. Yakni melalui adanya kritik dan koreksi terus-menerus. Pemujaan dan bigotry hanyalah akibat ketakpahaman tentang dinamika peradaban modern ini, termasuk dalam hal ini, sains.

Haidar Bagir bukan saja merasa tak punya waktu, energi, dan ketelatenan untuk menulis tulisan-tulisan panjang, berdakik-dakik dan penuh kutipan tentang hal ini, tapi—ketika kemudian menulis seri tulisan tentang ini—juga ingin membuat gelanggang sendiri dalam percaturan relasi sains-agama ini dengan menukik ke dasar-dasar sains itu sendiri. Maka, mulai dari iseng-iseng itu, terbitlah satu-dua-tiga-empat tulisan lain di sepanjang tema yang sama.

Maka Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla tak jarang bertukar tulisan di antara mereka. Ulil Abshar Abdalla mengapresiasi ceplosan-ceplosan Haidar Bagir, di satu sisi, dan Haidar Bagir juga banyak menikmati tulisan-tulisan Ulil Abshar Abdalla yang kaya dan mengasyikkan tentang relasi Islam dan sains, fenomena intelektualisme keagamaan di kalangan Islam pada umumnya vis á vis apa yang disebut sebagai “new atheism”, di sisi lain.

Baca juga: Benarkah Metode Sains Lebih Baik Dari Agama Dan Filsafat? Tunggu Dulu, Kata Tuan Wittgenstein

 

Sampai akhirnya, muncul ide untuk menggabungkan serial tulisan kedua penulis menjadi sebuah buku kecil. Tanpa direncanakan, Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla bukan saja menyumbang masing-masing separuh dari isi buku ini, tapi urutan-urutan dan iramanya pun terlihat lumayan sistematis dan logis. Mulai diskusi tentang fundamen-fundamen sains dari perspektif sains itu sendiri, masuk ke pemikiran filosofis Islam, relasi Islam dan sains, kritik terhadap new atheism hingga panorama intelektualisme Islam pada umumnya.

Kalau mau, sebutlah kumpulan tulisan ini sebagai snack book (buku kudapan): ringan tapi (mudah-mudahan) enak dibaca sekaligus menyehatkan pikiran. Dengan kata lain, tulisan-tulisan dalam buku ini bukanlah tulisan-tulisan ilmiah (kesarjanaan/scholarly) atau esai-esai ilmiah yang canggih dan mendalam. Memang bukan itu yang dimaksudkan sejak awalnya.

Seperti kami katakan sebelumnya, inilah tulisan-tulisan populer sederhana yang mudah-mudahan punya tempatnya sendiri di kalangan para nonahli sains dan agama, tapi tetap mampu memberikan pencerahan bagi duduk perkara sains dan hubungannya dengan agama, secara seimbang, fair, dan positif.

Selebihnya, terima kasih kami berdua kepada Anda semua, para pembaca, yang sudah berkenan mengapresiasi karya sederhana ini; dan maaf atas kekurangan-kekurangan yang ada. Hanya sederhana pula harapan kami, kiranya buku kecil ini dapat menjadi bekal bagi kita untuk tak mudah gumunan (kelewat kagum hingga kehilangan daya kritis)—sebagaimana yang terjadi pada sebagian pemuja sains—kepada pemikiran apa pun. Karena sikap gumunan hanya akan menimbulkan korban ketidakadilan atas khazanah lain pemikiran umat manusia yang mana pun, seperti filsafat dan agama. Bahkan sains juga. Bahwa sesungguhnya tak ada hasil pemikiran manusia—termasuk pemikiran filosofis dan keagamaan—yang saling kedap pengaruh.

Pada akhirnya, di satu sisi, sains punya religiusitasnya sendiri, punya dogma-dogmanya sendiri; sementara, di sisi lain, agama tidak sepenuhnya absen dari sifat intelektualitas dan sifat saintifik. Dengan sikap penuh keterbukaan  seperti inilah, kita bisa mendapatkan manfaat dari keduanya—yang satu mengisi yang lain—dalam memandu kita menyusuri jalan menuju kebenaran. Semoga.

Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla

Baca Sinopsis

tags : sainsdanagama,

Related Post

Back to top