Share
Scroll down

Baca
Artikel

Bagaimana Islam Menjawab Kemelut Kultural yang Terjadi di Era Post-Truth?

post truth>

Ulil Abshar-Abdalla berupaya menjawab pertanyaan di atas lewat artikel "Perlunya Beragama yang “Intelek”" yang dimuat di buku Sains "Religius", Agama "Saintifik". Tulisan pendek ini merupakan rangkuman dari artikel tersebut.

Kita tidak-bisa tidak mesti menghadirkan Islam di dunia modern ini dengan kemasan yang “intelek”. Tingkat pendidikan publik meningkat terus, sementara sumber-sumber bacaan yang mereka kunyah kian beragam. Teknologi digital telah menyebabkan lahirnya fenomena  “pluralitas bacaan yang ekstrem”. Kita tak bisa lagi menyampaikan ajaran Islam dengan “bahasa” lama.

Islam bukan semata-mata sebagai iman dan agama, tetapi juga sebagai tradisi pemikiran yang menyuguhkan arsitektur intelektual yang memukau.

Para sarjana klasik Islam, seperi al-Ghazali, Ibn Rusyd, Fakhruddin al-Razi, al-Taftazani, Ibn ‘Arabi, al-Thusi, Suhrawardi, Mulla Sadra, dan lain-lain, di mata saya, adalah the giants of intellect, raksasa-raksasa pemikiran yang levelnya tak kalah dari para filsuf Eropa modern: Bertrand Russell, Alfred N. Whitehead, Louis Althusser, Jacques Derrida, Michel Foucault, Theodor W. Adorno, Jürgen Habermas, dan lain-lain.

Islam hadir dalam sejarah bukan saja sebagai agama, tetapi juga sebagai peradaban ilmu. Dan peradaban inilah yang mesti kita bangkitkan lagi sekarang: hadhârah al-‘ilm (peradaban berbasis ilmu). Hanya satu yang kita butuhkan: kurangi rasa inferioritas di hadapan kehebatan intelektual Barat. Pemikir Muslim harus membangun kepercayaan diri kembali bahwa peradaban ilmu yang diwariskan raksasa-raksasa seperti al-Ghazali itu bisa diteruskan dan dikembangkan lagi.

Dan inilah, kiranya, jawaban Islam untuk kemelut kultural yang terjadi di era post-truth sekarang.[]

tags : ulil, haidar, haidar bagir, ulil abshar, sains dan agama,

Related Post

Back to top