Share
Scroll down

Baca
Artikel

Bagaimana Sih Rasanya Mengotopsi Mayat Saat Jadi Koas?

09-12-2019Category : Dewasa
Bagaimana Sih Rasanya Mengotopsi Mayat Saat Jadi Koas?>

Bukan hal yang mudah bagi seseorang melihat mayat jika memang itu bukanlah seseorang yang special dihidupnya


Ada rasa ngeri, takut dan membuat membayangkan yang macam macam. Sebab, ketika kita dihadapkan dengan jenazah orang yang kita kenal, otak kita akan mensugesti bahwa kita akan kehilangan interaksi dari orang tersebut. Namun berbeda hal dengan orang lain. Kita tak pernah berinteraksi sebelumnya dengan beliau dan merasa tak terlalu penting dan malah takut.

Pun demikin dengan apa yang dialami dokter muda atau koas yang menjalani stase bagian forensic yang memang difokuskan untuk mengotopsi mayat yang ada. Bisa jadi mayat tersebut korban pembunuhan, kecelakaan, atau bunuh diri. Disini, para koas yang sedang menempuh pelajaran kedokteran pun harus membuang rasa takut yang menghinggapi dirinya. Apa yang dikerjakan saat membedah korban harus didasari karena mencari penyebab alasan mengapa seseorang bisa meninggal.

Hal ini pun disampaikan dengan terperinci di kisah yang di sampaikan oleh dokter Gia, dokter yang saat ini menggemari tulis menulis. Bahkan beliau pun membukukan cerita yang sering diceritakan di akun twitter pribadinya. Pengalaman sebagai koas kedokteran saat stase forensic pun tak luput dari bahan cerita yang dia buat.

 


Baca Juga: Dokter Gia Diteror Mahluk Halus Saat Koas? Begini Kisahnya

Baca Juga: Pengalaman Dokter Gia Saat Koas yang Bikin Merinding


 

Saat itu, ada sebuah kasus perampokan yang menyebabkan seseorang meninggal karena luka tusukan. Dokter Gia pun mempunyai tugas untuk menemani dokter forensik seniornya untuk mengotopsi mayat dan mencari penyebab meninggal si korban. Singkat kisah beliau pun segera bergegas menuju ruang otopsi yang sudah dihadiri oleh dokter senior di rumah sakit tersebut. Dengan perlengkapan lengkap seperti sarung tangan karet berwarna kuning, baju khusus membedah, kacamata otopsi dan berbagai perlengkapan lainnya.  Tak kalah ketinggalan Gia pun juga memakai perlengkapan yang sama dengan seniornya.

An image

sumber: unsplash.com

Ketika ingin memakai sebuah masker, ada sebuah teguran dari seniornya untuk tidak menggunakannya. “Gia, jangan pake itu ! kamu harus merasakan  saripati wangi dari jenazah yang akan diotopsi. Indra penciuman kamu adalah senjata paling utama disaat kamu melakukan otopsi” jelasnya. Gia pun mengurungkan niatnya untuk menggunakan masker, padahal masker adalah tujuan utama agar bisa terhindar dari bau busuk.

Saat memulai otopsi, dokter senior tersebut pun melakukan aksinya sambil memberikan nasihat. “ Ingat ! Kamu melakukan ini bukan karena untuk menyiksa, bukan karena ingin merusak tubuhnya. Tapi kamu melakukannya karena ingin membantu dia dan keluarga. Sebab dia tidak bisa membela dirinya sendiri lagi”. Dia berbicara sambil membelah dada korban dengan sayatan. “Semua yang dilakukan adalah hanya untuk menetapkan sebab kematiannya yang tidak tertulis di dahinya” jelasnya sembari menggergaji tulang iga dan dilanjut mengambil paru paru dan jantung.

Gia yang terbengong bengong pun di tegur oleh seniornya. Lantas dokter Gia pun melanjutkan tugasnya mencatat dan membantu untuk menimbang mengambil dan berbagai suruhan yang disuruh oleh si dokter senior. Saat membuka lambung sang korban dan mengambil isinya, itu seperti ada bau menyengat yang tiba tiba keluar dari organ tersebut. Dr Gia pun sontak ingin muntah namun dia tahan karena baunya itu. Setelah membedah semuanya, sampai di kesimpulan terakhir bahwa ada luka sayatan yang terjadi di rongga perut dan hampir putus. Itulah penyebab sang korban meninggal dan akhir tugas mereka mengembalikan organ organ yang telah dikeluarkan ke tempatnya masing masing.

tags : koas, dokter gia,

Related Post

Back to top