Share
Scroll down

Baca
Artikel

Dari Pojok Sejarah: Sebuah Heroisme Kesemestaan

17-02-2020Category : Dewasa
Dari Pojok Sejarah: Sebuah Heroisme Kesemestaan>

Oleh: Mohamad Arif Luthfi

 

Membaca buku karya Emha Ainun Nadjib yang diberi judul Dari Pojok Sejarah ini, rasanya kita dibawa melintasi beragam peristiwa lintas benua, lintas zaman, tetapi dikemas dalam satu rasa heroisme kesemestaan.

Emha sebagai penulis dalam buku ini mengawali bab pembukanya dengan “Doa Selamatan”. Dia menyampaikan pesan penting kepada setiap pembaca bahwa, “Dil, Saudaraku, inilah surat-suratku: menirukan suara-suara liar dari jalanan, gang-gang kampung, sudut desa-desa, napas dan bau keringat berjuta orang yang dibelakangi oleh perkembangan. Inilah surat, dari pojok-pojok sejarah, dari pinggiran tandus ladang-ladang yang disebut kemajuan”. Dalam “doa selamatan” itu, ia menyelipkan harapan agar Tuhan bisa mengantarkan dirinya dan setiap pembaca untuk diberangkatkan “menjadi manusia”.

Dari Pojok Sejarah Emha Ainun Nadjib

/1/

Emha Ainun Nadjib menggambarkan laku khas dinamika kehidupan. Ia menganalogikan berbagai “tukang potret” harus bekerja sama untuk menghasilkan ragam gambaran tentang kehidupan agar mendekati kemenyeluruhannya, untuk mengejar kenyataan betapa tidak gampangnya realitas ini dicerap tanpa ada yang tertinggal dimensinya. Penulis menegaskan hidup adalah gambar-gambar bergerak: kita harus menstatiskannya di ruang-ruang kuliah atau di buku-buku agar ada “kepastian” yang lebih gampang dianalisis.

Penulis melakukan kritik atas realitas. Ia bercerita bahwa di sebuah institut ilmu-ilmu sosial di Belanda, di mana para pegawai negeri atau pegawai ornop dari negeri-negeri dunia ketiga pada berdatangan untuk menjadi master-master, di mana kemiskinan beratus juta manusia tiap saat dibicarakan sampai melimpah dan bagikan terbuang ke tong-tong sampah, di mana penderitaan yang menggergaji berbagai bangsa dan mengepung hari-hari sejarah dipercakapkan sambil minum wine, di mana film-film tentang darah dan kelaparan hampir tiap hari diputar, di mana kaum melarat hina papa sungguh-sungguh merupakan objek proyek-proyek basah yang tak henti-hentinya memberi ilham – terdapatlah sebuah ide yang terpojok, karena naif: Pernahkah diteliti berapa sudah jumlah sarjana, master, dan doktor yang dihasilkan oleh tema kemiskinan, penindasan, dan keprihatinan manusia? Apa sajakah relevansi atau irrelevansi dari yang dilakukan oleh para “ilmuwan kemiskinan” itu kemudian, terhadap usaha melawan kemiskinan? Berapakah  derajat penurunan atau kenaikan kemiskinan berkat pengaruh makin banyaknya para piawai yang “makanan utamanya” masalah kemiskinan itu? (hal. 26).

An image

source: caknun.com

/2/

Ilmu-ilmu sosial mampu menggambarkan tulang rangka masalah kemiskinan, tetapi sosok manusia-manusia miskin, sosok keseluruhan kehidupannya bisa tertinggal di pojok layar pertunjukan – meskipun yang disebut kebudayaan-kemiskinan sudah pula coba digambarkan. Artinya, kita memerlukan juga ilmu yang “manusiawi”, ilmu yang sehari-hari.

Ilmu sehari-hari tampak absurd di depan rangka disiplin ilmu sosial “resmi”, seperti juga ilmu sosial terasa tidak bisa memuat segi-segi hidup sehari-hari manusia – yang sering kali tidak sekadar ilustratif sifatnya, tetapi substansial.

/3/

“Orang bisa sesekali”, tulis Emha, “mengambil jarak dari lembaga, justru agar bisa merumat nilai. Orang bisa menyegarkan kembali manusianya, untuk mengatifikasi daya ilmiahnya, dengan atau tanpa lembaga keilmuan. Orang bisa selalu melahirkan kembali manusianya: pusat ruh daya keilmuan itu sendiri.”

Benar, orang bisa selalu melahirkan kembali manusianya. Di tengah kehidupan dewasa ini yang makin simpang siur menghadapi era informasi dan industri yang kian cepat ini, menghadirkan kembali rasa kemanusian memang menjadi inti tanggung jawab setiap diri. Isi kepala kita adalah pusat ruh daya keilmuan kita sehingga dijuluki sebagai manusia. Dan isi kepala kita ini, adalah yang membedakan antara kita dengan makhluk yang lain; akal. Menjadi manusia.

***

Heroisme kesemestaan ini adalah dengan manjadi manusia seutuhnya. Hidup ini adalah medan waktu. Seseorang tidak bisa menghentikannya hanya dengan kesejenakan. Penulis memberikan analoginya bahwa ia belajar sangat banyak kepada kawan-kawan. Tapi hanya ngasak (memungut). Ia tidak mungkin bisa memenuhi syarat untuk ikut panen ilmu di universitas, maka biarlah menelateni memunguti sisa-sisa padi di belakang para pemanen.

Dari Pojok Sejarah, kita memerlukan kuliah dasar mengenai elemen-elemen nilai. Jangan sampai kita menjadi korban dari pentradisian acuan nilai itu yang akhirnya menjadi eksemplar yang rutin, tinggal rangka, dan kehilangan intinya. Dan jangan sampai kita terjebak kembali oleh fotokopi penyariatan ilmu. Sudah saatnya kita memerlukan tarekat: cara, jalan, untuk mencapai hakikat sebagai manusia. Menjadi manusia seutuhnya seperti yang tersurat dalam Al-Qur’an surat Yasin (surat ke-36) ayat ke-61, “Haadzaa Shiraathum Mustaqiim: Inilah Jalan yang Lurus”.[]

 

Bandung, 9 Februari 2020

20.52 wib

tags : Emha Ainun Nadjib, Pojok Sejarah,

Related Post

Back to top