Small Fry" - Penerbit Buku Mizan"> Small Fry" - Penerbit Buku Mizan">
Share
Scroll down

Baca
Artikel

Dia Memanggilku "Small Fry"

14-11-2019Category : Dewasa
small fry>

Small Fry—Artikel ini diterjemahkan dari wawancara Lisa Brennan-Jobs oleh Emma Brockes di laman theguardian.com.

 

Small Fry 

 

Lisa mengaku bahwa menulis memoar tentang dirinya yang tumbuh di balik bayang-bayang ayahnya, Steve Jobs, ketika dirinya tidak berada di usia 20-an adalah hal yang sangat bagus. Wanita yang kini berusia 41 tahun dan tinggal bersama suami beserta anaknya di Brooklyn itu, khawatir jika dirinya tidak memiliki perspektif yang seimbang dalam melihat masa lalunya.

 

“Aku tidak tahu apakah aku bisa mengatasi rasa kasihan pada diri sendiri,” ujar Lisa. Dia juga lega karena tidak menulis memoar tersebut ketika berusia 40-an, saat dirinya telah menjadi ibu dari Thomas, anaknya–karena pengalaman menjadi seorang ibu membuatnya menjadi pribadi yang lebih lembut dan pemaaf. Dalam kenyataannya, Lisa menghabiskan bagian terbaik dari usia 30-annya untuk menulis memoar bertajuk Small Fry, sebuah kisah yang tidak menye-menye ataupun terkesan lembek.

 

Small Fry merupakan potret masa kecil Lisa dengan cerita utama bahwa ayahnya bukanlah seorang pria yang mengubah dunia, tetapi ia merupakan seorang pria biasa, yang dengan gigih terus mencoba meskipun berulang kali mengalami kegagalan.

 

Baca juga:
- Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Baumu Seperti Toilet”
- Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Dia Bukan Anakku”

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Steve Jobs, yang meninggal di tahun 2011 karena kanker pankreas, memiliki seorang anak di usia 20 tahun-an dari hasil hubungannya dengan kekasih semasa SMA. Beberapa tahun setelah kelahiran Lisa, Jobs yang kala itu tecatat memiliki kekayaan ratusan juta dolar, dituntut dengan tuduhan melalaikan kewajiban memberikan tunjangan anak–sebuah kasus yang menambah aroma skandal Jobs dan mantan kekasihnya tersebut.

 

Kemiripan Lisa Brenann-Jobs dengan ayahnya tidak bisa dimungkiri lagi, terutama ketika bertemu secara langsung. Lisa mewarisi warna kulit ayahnya dan juga, seperti yang Jobs katakan sendiri, bentuk alis yang begitu mirip. Tidak hanya secara fisik, mereka berdua juga memiliki kemiripan sifat yaitu bersemangat dan percaya diri–sampai kadang terlihat terlalu berani dan menantang. Tidak dapat dihindari pula fakta bahwa banyak orang yang tertarik pada Lisa semata hanya karena kesohoran Jobs, atau karena rasa penasaran ketika melihat Lisa masuk ke apartemen di Brooklyn yang memiliki tiga lantai tapi berukuran kecil sehingga membuat orang bertanya-tanya ke mana warisan ayahnya? (ternyata, tempat itu hanyalah salah satu properti miliknya yang digunakan sebagai kantor dan bukan sebagai tempat tinggal).

 

Sejak kecil, Lisa sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang mencoba mendekatinya karena dia anak seorang Steve Jobs. Meskipun Lisa adalah tipe gadis yang ceria, terkadang dirinya lelah menghadapi orang-orang seperti itu. Lisa juga lelah dengan ‘drama masa kecilnya’ yang berkutat pada kenyataan bahwa Steve Jobs, pria yang dipuji dunia sebagai seorang visioner, ternyata membutuhkan waktu lama untuk mencintainya atau bahkan sekadar mengakui dirinya sebagai anak.

 

Lisa sekarang bisa menceritakan kisahnya sambil tersenyum–namun dulu tidak demikian. “Ketika pertama kali menulis buku tersebut, aku ingin mengumpulkan dan memunculkan rasa kasihan, karena aku memiliki perasaan sangat buruk tentang diri sendiri,” ujarnya. Thomas duduk rileks di pangkuannya dan Lisa terlihat agak mabuk bahagia.

 

“Ya ampun, itu semua telah berlalu. Perasaan malu perlahan hilang, entah karena usia yang semakin dewasa atau karena menulis memoar tersebut–atau karena keduanya. Tapi aku juga ingin menghadirkan adegan yang membuat pembaca merasa sangat kasihan padaku. Aku malu sekali pada kenyataan bahwa dia adalah ayahku–karena jelas-jelas aku tidak cukup memikat dan memesona untuk benar-benar memiliki pria luar biasa itu. Aku sering berpikir, apakah aku ini terlalu jelek? Aku pernah menanyakan padanya sekali tentang hal ini. Memang terasa seperti lelucon murahan untuk ditanyakan atau terdengar manipulatif. Tapi aku perlu menanyakan tentang hal tersebut lantaran perasaan itu terus muncul karena dia tidak mau melihat album foto masa bayiku. Aku pernah sengaja menaruh album itu supaya terlihat olehnya, pernah sekali dia berkata “Siapa itu?”, dan aku hanya bisa menjawab “Aku!”

 

 

View this post on Instagram

Sahabat Qanita, Mita mau nanya dong. Kalian udah pernah dengar buku berjudul Small Fry belum? Kalo belum, Mita mau kasih informasi sedikit tentang buku Small Fry ah hehehe. Small Fry merupakan memoar putri sulung Steve Jobs, yaitu Lisa Brennan-Jobs, mengisahkan dilema kehidupan Lisa yang harus memilih tinggal bersama ibunya yang nyentrik dan miskin, atau bersama ayahnya yang super kaya tapi acuh tak acuh. Small Fry diterbitkan pertama kali di Amerika Serikat pada September 2018, dan masuk ke dalam daftar 10 buku terbaik 2018 versi New York Times. Keren, ya! Berita baiknya, Small Fry akan segera terbit dalam Bahasa Indonesia! #SmallFry #MemoarSmallFry #MemoarLisaBrennanJobs #LisaBrennanJobs #SteveJobs #PenerbitQanita #BukuQanita

A post shared by Penerbit Qanita (@penerbitqanita) on Oct 3, 2019 at 12:02am PDT

 

Lisa Brennan-Jobs berbicara dengan relatif cepat dan kadang berhenti untuk memotong pembicaraannya sendiri–sepertinya bukan karena dia tidak yakin tentang yang dia katakan, tapi lebih karena dia terus menerus memikirkan makna kata-kata yang diucapkannya: ada makna yang sesuai dengan kondisi saat ini, dan ada pula makna yang nantinya akan digunakan untuk mendefinisikan Steve Jobs. Hal ini membuatnya seperti berada dalam suasana menegangkan yang dirasakan oleh seseorang calon politikus.

 

Lisa juga dihadapkan dengan kisah yang telah diceritakan berulangkali oleh banyak orang sehingga dia harus berjuang mati-matian untuk mendefinisikan cerita tersebut bagi dirinya sendiri. Garis besarnya adalah: Steve Jobs dan Chrisann Brennan mulai berpacaran ketika masih menjadi murid SMP di Cupertino, California, dan hubungan tersebut sempat putus-nyambung sampai akhirnya Chrisann mengandung tepat di saat mereka berdua telah memutuskan untuk benar-benar berpisah.

 

Jobs baru saja mendirikan Apple bersama rekannya, Steve Wozniak, dan sedang mengerjakan proyek yang nantinya menjadi Macintosh. Singkatnya, menjadi seorang ayah tidak ada dalam rencana Steve Jobs. Namun, setelah kelahiran Lisa, Steve Jobs menamai versi awal komputer hasil produksinya (yang gagal) sebagai Lisa –dan menghabiskan 20 tahun berikutnya berpura-pura bahwa nama itu hanya kebetulan.

 

small fry 

 

Mengapa ini terjadi? Penjelasan terbaik yang dapat Lisa berikan adalah, “Dia begitu cinta padaku sehingga membuatnya bersikap tidak rasional. Kalau kamu adalah orang yang terbiasa mengatur segala hal dan mendapatkan kesuksesan di setiap hal yang kau lakukan tapi ternyata tidak berhasil pada satu area ini, rasa sakit secara emosional akan membuatmu ingin menghindar.”

 

Memang Jobs bukan satu-satunya orang yang mengabaikan anaknya demi mencapai kesuksesan pribadi, tetapi yang menarik dalam kasus ini adalah Steve Jobs tidak bisa benar-benar mengabaikan Lisa. Selama 7 tahun pertama, Jobs memang sama sekali absen dalam kehidupan Lisa, namun beberapa tahun setelahnya Jobs mulai sering mampir ke tempat tinggal Lisa dan ibunya–atau terkadang ia berjanji untuk datang, tapi gagal menepati. Hubungan keduanya semakin membaik ketika Lisa mulai berselisih dengan ibunya, sehingga Lisa memutuskan untuk tinggal di kediaman Steve Jobs. Meskipun hal tersebut sebenarnya tidak melulu bisa Lisa andalkan.

 

Baca juga:
- Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: "Aku Punya Rahasia, Ayahku Steve Jobs"
- Hubungan Rumit Lisa Brennan Jobs dengan Steve Jobs

 

Banyak adegan mengejutkan dalam memoar ini merupakan perilaku-perilaku kasar Jobs yang mungkin berasal dari rasa keterkejutannya karena memiliki seorang anak perempuan di usia muda. “Kau tidak akan dapat apa-apa,” bentak Jobs pada anak yang kala itu berusia 9 tahun setelah dengan lugu bertanya apakah boleh memiliki mobil Porsche ayahnya, kalau-kalau mobil tersebut sudah tidak digunakan lagi. “Mengerti, kan? Kamu tidak akan dapat apa-apa.”

 

Tatkala Lisa yang saat itu beranjak remaja tinggal dengan Jobs, Jobs dengan sengaja tidak memperbaiki pemanas ruangan yang rusak di kamar Lisa atau memperbaiki mesin pencuci piring. Jobs juga ogah-ogahan membayar uang kuliah Lisa dan akhirnya berhenti membayar setelah tahun pertama Lisa di Harvard. Untunglah seorang tetangga berkecukupan yang bersimpati pada Lisa mau membantu membayar uang kuliah Lisa–meskipun pada akhirnya Jobs mengembalikan semua biaya yang telah dikeluarkan oleh tetangga tersebut.

 

Steve Jobs punya aturan ketat untuk Lisa jika dirinya ingin diterima menjadi bagian dari keluarga Jobs: harus pulang ke rumah tepat waktu, tidak menghabiskan banyak waktu dengan ibunya (Jobs, meskipun memiliki harta yang berlimpah, sangat kesal karena menganggap ibu Lisa selalu meminta uang), dan Lisa harus sangat menghormati otoritas ayahnya.

 

Ada peristiwa sepele yang menyebalkan terjadi di restoran ketika Lisa yang beranjak remaja sedang makan bersama kedua orangtuanya dan seorang sepupu bernama Sarah. Tiba-tiba Jobs marah saat Sarah memesan roti burger (Steve Jobs tidak menyukai daging) dan ia membentak gadis itu sambil berkata “Pernah terpikir kalau suaramu itu sangat mengerikan? Berhenti berbicara menggunakan suara mengerikan itu.”

 

Ketika ditanya perihal kejadian tersebut Lisa tampak malu dan bergumam menjelaskan bahwa suara sepupunya memang agak mengganggu. “Saat kupikirkan kembali tentang kejadian di hari itu, apa jangan-jangan Jobs baru mendapat kabar bahwa perusahaannya akan bangkrut? Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi aku ingat kalau suasana hatinya sedang buruk.”

 

Sangat sulit bagi Lisa untuk menerima dan memahami perlakuan-perlakuan buruk Steve Jobs. “Memoar ini bukan tentang penderitaan,” katanya dengan tegas. “Ada orang-orang yang mengalami kejadian lebih buruk. Pengalamanku masih memiliki sisi yang sangat menyenangkan.”[]

 

 

Kisah rumit hubungan antara Lisa Brennan-Jobs dengan Steve Jobs dapat disimak oleh pembaca lewat buku memoar Small Fry yang akan segera terbit dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Qanita.

tags : Lisa Brennan-Jobs, Memoar, Nonfiksi, Small Fry, Steve Jobs, Biografi,

Related Post

Back to top