Share
Scroll down

Baca
Artikel

Dunia Anna, Dunia BTS, Dunia Anak-anak Kita.

sesuai_11zon>

Dunia Anna, Dunia BTS, Dunia Anak-anak Kita

"Yang terjadi saat ini adalah krisis iklim. Bukan sekadar perubahan iklim. Kita harus menyadari itu."

Kutipan RM, leader BTS, yg diungkapkan dalam wawancara mereka dengan Juju Chang dari ABC News segera mengingatkan pada novel "Dunia Anna" karya Jostein Gaarder. Edisi bahasa Indonesia novel ini diterbitkan Mizan pada Oktober 2014.

Buat saya novel ini menjadi salah satu yang paling mengusik pikiran karena pesannya yang menyesakkan. Pesan RM dan BTS dalam pidato mereka di United Nations General Assembly di New York City, minggu lalu, mengingatkan kembali pada "kode keras" yang disampaikan generasi muda kepada kita, generasi lebih tua.

Saya tidak membuat resensi atas novel tersebut. Nama Jostein Gaarder harusnya cukup untuk meyakinkan pembaca mengenai kedalaman yang ditawarkan. Kita semua masih mengingat dengan baik novel filsafatnya yang fenomenal, Dunia Sophie (Sofies Verden), yang terbit hampir seperempat abad silam. Saya hanya ingin menukilkan beberapa bagiannya untuk mendukung kepedulian yang disuarakan anak muda tersebut, sekali ini melalui BTS, Utusan Khusus Presiden Korea Selatan untuk Generasi Mendatang dan Kebudayaan, berikut ini:

“Salah satu dasar segala permasalahan etika adalah aturan emas atau prinsip resiprositas: Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Namun aturan emas ini tidak bisa lagi hanya menyangkut dimensi horizontal—yaitu “kita” dan “orang lain”. Kini, telah disadari bahwa prinsip resiprositas juga mempunyai dimensi vertikal: Perlakukanlah generasi selanjutnya sebagaimana engkau telah diperlakukan oleh generasi sebelummu.

Sesederhana itu. Cintailah tetanggamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Dan itu tentu saja harus mencakup “tetangga” generasi atau generasi selanjutnya. Ini harus melingkupi seluruh makhluk yang akan hidup di Bumi sesudah kita.

Umat manusia di Bumi ini tidak selalu hidup secara bersamaan. Keseluruhan umat manusia tidak hidup hanya dalam satu kurun waktu. Telah hidup umat manusia sebelum kita, lalu kita yang hidup saat ini, dan generasi selanjutnya yang akan hidup sesudah kita. Dan mereka yang hidup sesudah kita haruslah diperlakukan sebagai satu-kesatuan. Kita harus memperlakukan mereka seperti perlakuan yang kita harapkan dari mereka jika saja mereka hidup di planet ini sebelum kita.

Sesederhana itu aturan lainnya. Jadi, kita tidak boleh mewariskan bumi yang lebih buruk daripada saat kita tinggali. Jumlah ikan di laut yang lebih sedikit. Air minum yang lebih sedikit. Alam pegunungan yang lebih sedikit. Terumbu karang yang lebih sedikit. Gunung es dan jalur-jalur ski yang lebih sedikit. Jenis flora dan fauna yang lebih sedikit …

Keindahan yang lebih sedikit! Keajaiban yang lebih sedikit! Kemuliaan dan kebahagiaan yang lebih sedikit.

Duh! Anna jadi lemas membaca teks ini lagi. Ini sudah kali ketiga atau keempat dia membacanya, dan teks yang sama ini juga yang ditemukan cicitnya di Internet tujuh puluh tahun dari sekarang! Segala hal yang ada di Internet saat ini mungkin akan terus ada selamanya. Seluruh kata dan gambar dari zaman kita akan terus tersimpan dalam “elektrosfer”.

Kasihan generasi mendatang, pikirnya. Mereka tidak hanya harus menemukan cara bertahan hidup di planet yang sakit akibat egoisme dan kesembronoan generasi sebelumnya, tapi mereka juga harus hidup dengan segala peringatan ini. “Cintailah tetanggamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Dan itu saja harus mencakup ‘tetangga’ generasi atau generasi selanjutnya …” Tidak heran kalau mereka sengit saat membaca kalimat-kalimat teguran dari masa lampau seperti ini—dan jauh. Jauh sesudah semuanya terlambat untuk diubah.

Namun masih ada lagi. Sesuatu yang Nova temukan di Internet. Anna membolak-balik lembaran kertas dan kliping dari kotak Apa yang harus dilakukan? Sampai akhirnya dia menemukan lembaran yang dicarinya.

Baik permasalahan iklim maupun berbagai masalah terkait ancaman terhadap keanekaragaman hayati lainnya adalah akibat dari keserakahan. Namun, keserakahan biasanya tidak merisaukan orang-orang yang serakah itu sendiri. Telah banyak kejadian serupa dalam sejarah.

Menurut prinsip resiprositas kita seharusnya hanya boleh menggunakan sumber daya tak-terbarukan sebanyak yang bisa kita kompensasikan untuk generasi selanjutnya.

Pertanyaan-pertanyaan etis tidaklah perlu dijawab dengan cara yang sulit, tapi kemampuan kita untuk melaksanakan jawabannyalah yang sering kali tidak ada.

Saya bisa membayangkan anak-cucu kita dalam keputusasaan—baik karena kehilangan sumber daya alam seperti gas dan minyak maupun kehilangan keanekaragaman alam hayati: Kalian telah menghabiskan semuanya! Kalian tidak menyisakan sedikit pun untuk kami!

...

Dalam banyak hal, kita saat ini hidup dalam kurun waktu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di satu sisi kita adalah bagian dari sebuah generasi yang berhasil mengeksplorasi alam semesta dan memetakan genom manusia, tapi di sisi lain kita adalah generasi pertama yang melakukan kerusakan alam yang serius. Kita menyaksikan bagaimana tindakan manusia mengikis sumber daya alam dan mengakibatkan rusaknya habitat. Kita mengubah alam sedemikian rupa hingga kita bisa menyebut masa hidup kita ini sebagai sebuah zaman geologi baru, yaitu antroposen.

Pada tumbuhan dan hewan, di dalam lautan dan kandungan minyak, batu bara, dan gas tersimpan kandungan karbon yang siap untuk teroksidasi dan dilepaskan ke atmosfer. Di planet mati seperti Venus, kandungan CO2 mendominasi atmosfernya, dn kondisi di Bumi akan menjadi seperti itu bila proses-proses alam tidak mempertahankan keseimbangnya. Namun, sejak akhir tahun 1700-an, cadangan bahan bakar fosil telah menggoda kita bagaimana jin dalam lampu Aladin. “Bebaskan kami dari lampu ini,” begitu bisik sang karbon. Dan kita menyerah pada godaan itu. Nah, sekarang kita malah berupaya memaksa jin tersebut masuk kembali ke dalam lampu wasiat.

Jika seluruh cadangan minyak, batu bara, dan gas bumi yang masih tersimpan dalam planet ini dipompa keluar dan disebarkan ke atmosfer, mungkin peradaban kita tidak akan bisa bertahan. Walaupun begitu, masih banyak yang menganggap bahwa Tuhan memberi hak kepada kita untuk menambang dan membakar seluruh sumber energi fosil itu untuk kepentingan territorial suatu negara. Mengapa kita tidak membiarkan negara-negara pemilik hutan tropis itu melakukan hal yang sama dengan sumber alamnya? Apa bedanya? Apa bedanya dalam konteks keseimbangn karbon global?

Dan apa bedanya dalam konteks punahnya keragaman hayati?

Anna melangkah ke jendela yang menghadap ke lembh. Dia memandang kea rah pom bensin yang ramai itu. Terlintas dalam benaknya bahwa yang sedang dilihatnya itu adalah sebuah fosil hidup: begitu kuno dan tidak modern, yang berasal dari zaman berbeda, tapi masih terus berlangsung dengan kecepatan penuh.

Dia teringat kembali pada sesuatu dalam mimpinya …

Di pom bensin di bawah sana banyak mobil berdatangan masuk ke lapangan parkirnya, dan biasanya para pengemudi membiarkan mesin terus menyala saat mereka masuk ke toko dan membeli hotdog atau keripik kentang. Anna jengkel melihat semburan asap knalpot mobil-mobil yang sedang berhenti itu. Mobil hotdog, pikirnya. Asap knalpot yang biru keabu-abuan itu tampak lebih tajam dan jelas karena suhu sedang di bawah nol, mungkin sepuluh atau dua belas. Di jendela sempit di kamarnya tidak terpasang thermometer luar, tapi pada saat musim dingin seperti ini Anna telah belajar seni menebak suhu dengan melihat warna dan konsistensi asap knalpot mobil.

Anna terus berdiri di depan jendela dan merenungkan apa yang telah dibacanya tentang minyak bumi. Dia mencatat angka-angka yang hampir tak terperikan di selembar Post-It kuning yang ada dalam genggamannya itu.

Satu barrel minyak bumi sama dengan 159 liter dan pada saat ini bisa dijual kira-kira seharga seratus dolar, atau 600 kroner. Satu barel minyak ini menghasilkan energi sebanyak 10.000 jam kerja manusia. Di negeri ini angka itu sebanding dengan enam tahun bekerja. Dengan gaji tahunan sebesar 350.000 kroner, itu berarti total pengeluarannya 2,1 juta kroner dalam bentuk gaji. Jadi, satu barrel minyak bumi menghasilkan energi yang sebanding dengan lebih dari dua juta kroner bila harus digantikan dengan kerja manual. Namun rata-rata satu orang Amerika menggunakan 25 barrel minyak per tahun. Ini sebanding dengan 150 tahun kerja dan kira-kira berarti juga setiap orang Amerika menghabiskan seratus lima puluh “budak energi” yang digunakan untuk menjalankan semua mobil dan mesin, semua kulkas dan AC, seluruh pesawat terbang, pabrik, pertanian, dan mesin-mesin hiburan … Dan ini baru bicara tentang minyak bumi saja! Padahal, masih ada batu bara dan gas.

Anna bertanya pada diri sendiri mungkinkah sebenarnya minyak bumi itu sumber energi yang dihargai terlampau murah. Di Amerika, minyak diperkenalkan pada saat hampir bersamaan dengan penghapusan sistem perbudakan. Sebelumnya peternakan-peternakan di Texas berlimpah dengan budak-budak dari Afrika Barat. Lalu mereka berlimpah dengan minyak.

Namun, hanya dengan enam ratus kroner untuk enam tahun kerja manual! Itu artinya tidak lebih dari seratus kroner per tahun kerja. Itu, kan sama saja dengan gaji budak.

Kok, bisa, ya sumber energi yang satu ini jadi sebegitu murahnya? Anna mencoba mencari jawabannya sendiri. Minyak jadi sebegitu murahnya karena tidak ada yang memilikinya. Tidak ada pihak yang bisa disebut pemilik minyak bumi, sehingga tidak ada yang menentukan harganya. Yang ada tinggal memompa saja!

Minyak bumi itu umurnya jutaan tahun. Pada dasarnya itu adalah sebuah simpanan dari jutaan tahun energi matahari. Namun, karena tidak ada yang memilikinya, ia bisa saja dihabiskan begitu saja. Satu, dua, tiga, dan tamatlah riwayatnya!

Anna memandangi lembar kertas kuning itu sambil menggelengkan kepalanya.

Memang benar apa yang dikatakan para politisi dan menteri-menteri perminyakan bahwa minyak bumi telah mengentaskan banyak orang dari kemiskinan. Namun, banyak juga orang-orang yang terentaskan dan lantas masuk ke dalam kemewahan yang sia-sia, sebuah penghamburan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah.

Selain lembar Post-It, dia juga memgang sebuah kliping koran. Sebuah reklame untuk paket penerbangan. Tiket paling murah dari Bandara Moss ke Paris cuma 119 kroner. Berapa banyak tiket yang semurah itu, dia tidak tahu. Bagian yang menarik dari iklan itu adalah yang tertulis kecil-kecil. Bunyinya “Termasuk pajak dan biaya lainnya.” Hanya 119 kroner ke Paris termasuk pajak dan biaya lainnya! Itu sama dengan harga yang biasa dia bayar untuk empat tiket trem di Oslo. Yang tidak tercantum dengan tulisan kecil-kecil, tapi yang telah dibaca Anna di tempat lain, ialah bahwa sebuah perjalanan udara untuk satu orang pulang-pergi Oslo-Paris sama pengaruhnya terhadap iklim dengan orang tersebut berkendara sepanjang tahun pulang dan pergi kerja sejauh 6-7 kilometer sekali jalan. Anna juga telah membaca bahwa sebuah perjalanan udara dari Oslo ke New York pulang pergi pengaruhnya terhadap iklim sama seperti 50.000 mobil pribadi selama satu hari penuh.

Apakah dengan cara ini orang tidak menghabiskan sumber daya alam yang seharusnya bisa digunakan generasi selanjutnya? Apa orang tidak mengisi ulang baterai yang seharusnya bisa bertahan lebih lama? Mungkinkah tidak lama lagi minyak bumi harus diganti dengan tangan-tangan cekatan, leher-leher kaku, dan bahu-bahu pegal akibat bekerja? Apakah dia tidak sedang menjadi saksi sebuah perampokan besar-besaran terhadap generasi di masa depan?

Tidakkah pembakaran berbagai sumber daya fosil ini dalam waktu singkat juga akan memusnahkan berbagai cadangan sumber daya alam yang dapat diperbarui? Tidakkah pesta minyak tak bermoral ini menjadi ancaman signifikan bagi sumber penghidupan tanaman, hewan, dan manusia? Dan bukankah penghancuran alam ini merupakan sebuah perampokan atas mereka yang seharusnya mewarisi Bumi ini?

Penulis : Nurul Agustina

tags : #duniaAnna #JosteinGaarder #BTS,

Related Post

Back to top