Share
Scroll down

Baca
Artikel

Hindari Klise: 7 Tips Menulis dari Ary Nilandari

22-04-2020Category : Remaja
belajar menulis bareng penulis novel the visual art of love>

Ary Nilandari merupakan penulis seri Keo&Noaki yang telah menerbitkan lebih dari 50 buku untuk anak. Sebelum menjadi penulis, Ary Nilandari pernah juga berprofesi sebagai penerjemah dan editor lepas dan salah satu karya terjemahannya memenangi Islamic Book Fair Award 2011, untuk kategori buku terjemahan terbaik. Ary Nilandari aktif menjadi trainer pelatihan menulis dan pembicara dalam seminar/konferensi seputar buku anak baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota International Society of Children’s Book Writers and Illustration (SCBWI), chapter Indonesia.

The Visual Art of Love

Salah satu novel Ary Nilandari yang terbit pada 2018 berjudul The Visual Art of Love. Novel ini mengisahkan tentang Gemina, seorang mahasiswa DKV yang tiba-tiba harus berurusan dengan IgGy, seorang penulis yang penuh misteri. The Visual Art of Love tak melulu bercerita tentang kisah percintaan Gemina dan IgGy. Konflik terbesar justru harus dihadapi IgGy seorang diri yang bergelut dengan depresinya. Novel ini juga menyisipkan cerita seputar perbukuan, seperti proses pembuatan desain ilustrasi dan sampul buku, penataan buku di rak toko, serta hal lain yang berhubungan dengan buku. The Visual Art ol Love memang kisah yang pilu, namun berhasil ditutup dengan begitu manis dan nyata.

Ngobrol Bareng Ary Nilandari di IG Live

Pada hari Rabu, 16 April 2020, Ary Nilandari berbagi tips menulis lewat akun instagram Penerbit Qanita. Dalam bincang-bincang yang dipandu oleh editor buku fiksi Qanita, Dyah Agustine, Ary Nilandari mengungkapkan bahwa ide untuk menulis memang tidak ada yang benar-benar baru. Namun meskipun ide tidak sama sekali baru, tiap penulis memiliki ciri khas tersendiri sehingga ide akan diolah secara berbeda dan menghasilkan cerita yang berbeda pula. Ary Nilandari juga menekankan bahwa jangan sampai penulis menunggu ide –ide harus dicari.

Out of the boox id

Dapatkan novel "The Visual Art of Love" dengan diskon khusus hanya di #OOTB! Klik tautan di bawah ini!

Selanjutnya Ary Nilandari juga menyinggung soal trope atau gaya bahasa yang digunakan pada tulisan supaya jadi lebih menarik. Sama halnya dengan ide, trope juga sudah banyak sekali dan umum. Misalnya seperti kisah Cinderella, gadis miskin yang dicintai pangeran tampan serta kaya raya. Trope umum semacam itu bila diolah secara kreatif oleh penulis pasti akan menjadi cerita yang menarik. Namun jangan sampai usaha membuat cerita menarik malah membuat jalan cerita menjadi klise.

Berikut 7 tips dari Mbak Ary Nilandari supaya cerita yang dihasilkan tidak menjadi klise.

1. Banyak membaca

Penulis yang banyak membaca bisa mempelajari berbagai macam jalan cerita sehingga pada akhirnya menemukan ‘jalan’ atau situasi lain untuk membuat cerita baru. Penulis yang banyak membaca juga bisa tahu pola-pola seperti apa yang harus dihindari.

2. Percaya diri

Seperti yang dibahas di awal tadi, meskipun ide yang digunakan tergolong umum, penulis tetap harus percaya diri dalam mengolah cerita. Setiap penulis pasti memiliki pemaknaan berbeda-beda terhadap suatu ide, tergantung dari pengalaman si penulis. Jadi tetap percaya diri, ya!

3. Jangan terbawa tren

Sebisa mungkin penulis tidak perlu mengikuti ide cerita yang sedang tren. Misalnya saja tema pelakor sedang booming, usahakan tidak membuat cerita tentang pelakor juga karena biasanya hanya satu atau dua buku pertama saja yang akan diminati pembaca, sedangkan buku-buku tema pelakor sesudahnya jadi terasa membosankan.

4. Hindari stereotype

Penulis harus menghindari stereotype seperti misalnya menggambarkan karakter seorang perempuan yang miskin, tertindas dan lemah –usahakan ada sisi uniknya. Misalnya dalam cerita Pangeran Bumi, Kesatria Bulan, si tokoh utamanya diberi keunikan yaitu seorang yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.

5. Jangan mau biasa-biasa saja

Penulis harus berusaha menonjolkan sisi luar biasa ceita yang ditulis.

6. Jangan ‘asal selesai’ ketika menulis suatu cerita

Tidak ada tulisan yang langsung bagus. Tulisan yang bagus harus melewati banyak proses, editing, revised, rewrite. Jangan berharap sekali menulis langsung sempurna, namun semakin tinggi jam terbang si penulis akan mengurangi proses revisi itu tadi.

7. Memperkaya ide

Kreativitas penulis harus dimaksimalkan supaya bisa mengolah ide biasa dengan cara yang tidak biasa.

***

Ary Nilandari juga menjawab beberapa pertanyaan dari penonton yang bertanya lewat kolom komentar. Yuk, simak beberapa pertanyaan yang dibahas oleh Ary Nilandari!

Apa ide dan premis itu sama?

Tentu saja berbeda. Ide itu ibarat benih dan untuk menjadi premis harus diolah dulu. Ide diolah menjadi konsep, kemudian menciptakan karakter, memunculkan konflik, baru bisa disebut premis. Sebuah premis harus sudah ada konflik.

Bagaimana kalau kita ingin menulis buku fiksi tapi tidak ingin ada adegan ‘romance’?

Tidak apa-apa. Menulis buku fiksi itu tidak melulu soal romance. Menurut saya, romance hanya bumbu. Tema di luar itu banyak, misalnya keluarga atau persahabatan.

Bagaimana supaya tidak malas menulis?

Harus dibiasakan, setiap hari, kalau bisa pada waktu yang sama. Bertahap dari misalnya 50 kata per hari, kemudian 100 kata dan semakin lama semakin banyak. Jadikan menulis sebagai kebutuhan, sehingga kalau satu hari tidak menulis rasanya ada yang kurang.

Apakah peran antagonis selalu orang jahat?

Antagonis itu tidak harus selalu dalam bentuk manusia, karena antagonis itu berarti segala sesuatu yang menghambat si tokoh utama. Bisa berupa situasi, seperti bencana alam atau bisa juga berupa konflik batin yang dialami si tokoh.

Kapan waktu terbaik untuk menulis?

Waktu menulis yang paling bagus adalah ketika suasana masih fresh, misalnya waktu subuh. Menulis juga tidak perlu lama-lama, yang penting konsisten.

Apakah Mbak Ary mempunyai first readers?

First readers itu penting. Biasanya ada dua orang yang paling pertama membaca karya saya. Usianya disesuaikan dengan tema buku. First readers ini merupakan pertimbangan yang sangat penting dalam proses revisi naskah.[]

 

Penulis: Fauziah Hafidha

tags : Novel, Ary Nilandari, The visual art of love, tips menulis, Out of the Boox, Fauziah Hafidha,

Related Post

Back to top