Share
Scroll down

Baca
Artikel

Jesmyn Ward, penulis wanita pertama yang dua kali memenangi National Book Award kategori fiksi

Jesmyn Ward, penulis wanita pertama yang dua kali memenangi National Book Award kategori fiksi>

Jesmyn Ward adalah professor Bahasa Inggris di Tulane University, sekaligus novelis ternama Amerika. Dia lahir tahun 1977 di Berkeley, California, dan pindah ke DeLisle, Mississippi, bersama keluarganya pada usia 3 tahun. Dia menyayangi sekaligus membenci kampung halamannya, karena suatu pengalaman pahit. Di sekolah negeri, dia dirundung anak-anak kulit hitam, sedangkan di sekolah swasta yang dibayari oleh majikan ibunya, dia dirundung anak-anak kulit putih.

Jesmyn adalah orang pertama di keluarganya yang berhasil mengenyam bangku kuliah. Dia mendapat gelar B.A. dalam Bahasa Inggris pada 1999, dan gelar M.A dalam studi media dan komunikasi pada 2000. Kedua gelar tersebut dia raih di Universitas Stanford. Salah satu motivasi Jesmyn menjadi penulis adalah untuk menghormati kenangan adik laki-lakinya yang tertabrak pengemudi mabuk pada Oktober 2000, tepat setelah Jesmyn menyelesaikan gelar masternya.

Pada tahun 2005, Jesmyn menerima MFA dalam Penulisan Kreatif dari University of Michigan. Tak lama berselang, dia dan keluarganya menjadi korban Badai Katrina. Waktu itu, rumahnya di DeLisle tertelan banjir dahsyat. Ward dan keluarga berangkat dengan mobil menuju ke gereja lokal, namun akhirnya terdampar di ladang penuh traktor. Ketika pemilik ladang tersebut, seorang kulit putih, memeriksa barang-barang mereka, orang itu mengusir mereka. Keluarga Ward terlunta-lunta, kelelahan, dan trauma, sebelum akhirnya mendapat perlindungan keluarga kulit putih lain.

Selama bekerja di Universitas New Orleans, Jesmyn menempuh rute yang menyentuh ingatan dan luka masa lalu. Dia kerap melintasi lingkungan yang dilanda badai. Dalam getaran kenangan itu, dia menaruh empati pada para korban dan berdamai dengan pengalamannya sendiri saat badai. Akan tetapi, hal itu tidak membuatnya produktif untuk menulis kreatif. Jesmyn butuh waktu 3 tahun untuk merampungkan karya dan menemukan penerbit untuk novel pertamanya, Where the Line Bleeds.

Where the Line Bleeds

Pada tahun 2008, Jesmyn memutuskan berhenti menulis dan mendaftar program keperawatan. Namun justru pada saat itulah bakat kepenulisannya mendapat titik terang. Where the Line Bleeds diterima oleh Doug Seibold di Agate Publishing. Novel tersebut menjadi Buku Pilihan Klub Buku Majalah Essence dan menerima Black Caucus of the American Library Association (BCALA) pada 2009.

Where the Line Bleeds bercerita tentang saudara kembar, Joshua dan Christophe DeLisle, yang baru lulus sekolah menengah atas. Mereka tidak ingin meninggalkan kota kecil di Pantai Teluk, tempat mereka dibesarkan dengan penuh kasih oleh sang nenek. Si kembar berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Joshua menjadi buruh pelabuhan, sedangkan Christophe bergabung dengan sepupunya yang bandar narkoba. Publishers Weekly memuji novel ini, menyebutnya sebagai suara baru yang segar dalam literatur Amerika, menggambarkan dunia penuh keputusasaan, tetapi tidak hilang harapan.

Salvage the Bones

Jesmyn Ward
Salvage the Bones, drama keluarga berlatar Badai Katrina

Dalam novel keduanya, Salvage the Bones, Jesmyn sekali lagi mengisahkan hubungan persaudaraan antara anak-anak kulit hitam yang miskin: Esch Batiste, gadis remaja yang sedang hamil, dan tiga saudara laki-lakinya, yang tinggal bersama sang ayah. Latar waktunya adalah 10 hari menjelang Badai Katrina, hari badai, dan sehari sesudahnya. Jesmyn menggunakan bahasa yang bersemangat, penuh metafora, dan menguraikan aspek-aspek mendasar tentang cinta. Konflik persahabatan, hasrat, dan kelembutan hati membumbui alur ceritanya.Pada 16 November 2011, Salvage the Bones memenangi National Book Award untuk kategori fiksi.

Men We Reaped

Jesmyn Ward
Memoar adik laki-laki Jesmyn

Pada 2013, Jesmyn menerbitkan buku ketiganya, memoir berjudul Men We Reaped. Baginya, ini hal tersulit yang pernah dia tulis, karena mengisahkan saudara laki-lakinya dan empat pemuda kulit hitam lainnya yang kehilangan nyawa di kota kelahiran Jesmyn.

Sing, Unburied, Sing

Sing, Unburied, Sing
Sing, Unburied, Sing versi Bahasa Indonesia (2020)

Pada 2017, novel ketiga Jesmyn terbit. Bertajuk Sing, Unburied, Sing, novel ini mengisahkan tentang Jojo, bocah lelaki 13 tahun dari keluarga berantakan; ayahnya mendekam di penjara dan ibunya pecandu narkoba. Selain harus menjadi figur orangtua bagi adiknya yang masih batita, Jojo juga diganggu oleh sesosok arwah penasaran yang butuh bantuannya untuk dapat tenang.

Sing, Unburied, Sing berhasil memenangi National Book Award tahun 2017. Novel ini menjadikan Jesmyn wanita pertama peraih dua National Book Award kategori Fiksi. Novel ini juga memenangkan Anisfield-Wolf Book Award.

Dapatkan novel "Sing, Unburied, Sing" dengan diskon khusus hanya di #Outoftheboox! Klik tautan di bawah ini!

Sing, Unburied, Sing adalah novel pertama Jesmyn yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Novel ini telah diterbitkan oleh Penerbit Qanita, diapresiasi oleh Ratih Kumala (penulis Gadis Kretek, nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2012) dan Chandra Bientang (penulis Dua Dini Hari, dan emerging writer Ubud Writers and Readers Festival 2019).[]

 

Penulis: Fajar M. Fitrah
Editor: Dyah Agustine

tags : Sing Unburied Sing, Jesmyn Ward, Qanita, Novel Terjemahan,

Related Post

Back to top