Share
Scroll down

Baca
Artikel

Kalis Mardiasih Menyuarakan Perempuan yang Terpinggirkan

29-07-2020Category : Novel
Kalis Mardiasih>

“Laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah. Berlomba-lomba dalam kebaikanlah alat ukurnya.”
—Kalis Mardiasih, Sister Fillah, You’ll never be alone

Ketika mengetahui bahwa Kalis akan segera merilis buku barunya, aku memasang pengingat agar tidak luput dari jadwal prapesan. Rupanya, aku sempat terlalu sibuk dengan agenda pembuatan konten sehingga sampai hari terakhir prapesan aku belum melakukan transaksi. Aku sempat harap-harap cemas. Apakah penjualan reguler berlangsung segera atau jangan-jangan menunggu 1 bulan lamanya. Ternyata, hadir lebih cepat dari yang aku perhitungkan.

Mengenal Kalis melalui Muslimah yang Diperdebatkan, membawaku pada ekspektasi bahwa tulisannya membawaku pada sisi-sisi pengetahuan yang belum aku pahami. Dalam hal ini perihal posisi perempuan di dalam Islam. Aku akui, apa yang menjadi premis terbitnya buku ini adalah benar. Bahwa yang menulis soal muslimah didominasi oleh penulis pria. Menyebabkan adanya bias pandangan karena pria tidak merasakan pengalaman yang sama dengan perempuan.

Alhasil, aku sendiri sempat takut untuk membaca buku-buku berbau agama. Sebab aku masih ingat sekali bagaimana seseorang pernah mengatakan bahwa “perempuan adalah sumber dosa.” Dan, membaca buku-buku tentang muslimah membuatku takut.

Kalis hadir sebagai secercah cahaya yang mengajakku untuk berdialog soal Islam dan perempuan. Dengan gaya bertuturnya yang apik, aku merasa seperti didongengi daripada “diceramahi”. Dia mengajak pembaca untuk duduk dan memulai dialog. Bukan seperti “akun-akun berkedok memberi dakwah”, padahal isinya semacam memberi doktrin.

Sister Fillah, You'll never be alone berisi kumpulan tulisan Kalis yang semakin mengerucut. Islam, hukum di Indonesia, dan perempuan. Tentang bagaimana dalam hukum pun, perempuan kerap mengalami ketidaksetaraan. Marginalisasi, stigma, subordinasi seakan-akan menjadi hal yang wajar diterima oleh perempuan di Indonesia. Padahal, perempuan ya manusia juga.

Kalis membahas mulai dari ranah pakaian, profesi, reproduksi, hingga memberanikan diri untuk bersuara. Semuanya, bagiku, bisa diterima secara logis. Dilengkapi pula dengan beberapa ayat dari Al-Quran, rasanya Islam memang melihat perempuan sebagai sosok yang setara dengan laki-laki.

Menariknya lagi, Kalis memasukkan pendapatnya terkait RUU PKS yang hingga kini masih belum juga disahkan. Sedih sih. Apalagi masyarakat masih sangat mudah terprovokasi oleh kata-kata yang mengandung elemen “seks”. Mereka kerap mengaitkannya dengan “kampanye seks bebas”. Padahal, bukan itu isinya.

“... akar tindakan kekerasan seksual adalah sebuah dominasi dan sebuah kuasa yang memandang rendah kualitas kemanusiaan seseorang. Kuasa itu bersarang di mana saja: pada jabatan, pada akumulasi modal, dan label-label identitas sosial, yang ternyata cukup kelimpungan menghadapi suara-suara perlawanan yang bersahutan.”
—Kalis Mardiasih, Sister Fillah, You’ll never be alone

Pada buku ketiganya ini, aku merasa puas dengan Kalis. Dia membuktikan bahwa dirinya telah berkembang baik, bagaimana caranya bernarasi hingga meletakkan sudut pandang Islam dan hukum di Indonesia terhadap perempuan. Rasanya aku tidak ragu untuk merekomendasikan siapapun (iya, bukan cuma perempuan saja) untuk membaca buku ini.[]

Ulasan ini pertama kali dipublikasikan di Goodreads.

Penulis: Hestia Istiviani
Twitter: @hzboy

tags : Kalis Mardiasih, Sister Fillah You'll never be alone, Sister Fillah,

Related Post

Back to top