Share
Scroll down

Baca
Artikel

Merenungkan Keberagamaan di Tengah Kemodernan

keberagamaan>

Orang pernah meramalkan ihwal kemunduran, bahkan kematian, agama terutama setelah kebangkitan revolusi saintifik/teknologis pasca abad ke-16. Namun, ramalan itu sama sekali tidak terbukti. Alih-alih melemah, agama setidak-tidaknya sejak awal abad ke-20 justru menunjukkan kebangkitan secara mencengangkan.

Kebangkitan agama di satu sisi memberi sinyal positif bahwa umat manusia masih memiliki kesadaran kosmik akan Tuhan.  Tetapi, di sisi lain gejala ini juga mengirim sinyal negatif bahwa agama telah menjadi salah satu kekuatan destruktif bagi umat manusia, melalui serangkaian peristiwa teror, perang, dan perseteruan yang terus-menerus di berbagai belahan dunia—meski tentu agama bukan satu-satunya faktor yang bermain di sana.

Nah, tampaknya dari sinilah renungan tentang agama itu mendapatkan konteks dan menjadi benang merah yang menjalin tulisan-tulisan di dalam buku ini.

 

Bagaimana Kita Mengurai Persoalan Ini?

Dalam berbagai peristiwa—apalagi yang mempertaruhkan hidup-mati atau risiko nyawa—orang sering mengatakan, “ini demi Tuhan.” Atau “hidupku, matiku, dan ibadahku demi Tuhan.” Artinya, Tuhan di sana menjadi tujuan akhir dari segenap perbuatan dalam hidup. Begitupun dalam beragama: beragama untuk Tuhan. Logika semacam ini sepintas oke-oke saja. Tetapi, apabila kita selidiki, terutama bagaimana ketika hal itu diwujudkan dalam praktik/tindakan, maka perlu diselidiki lebih saksama.

Kalau dikatakan agama itu untuk Tuhan, maka ada kesan bahwa Tuhan itu membutuhkan agama. Padahal Tuhan jelas tidak membutuhkan agama. Tuhan maha kaya, tidak membutuhkan apa pun, termasuk agama. Kalau agama itu dimaksudkan sebagai petunjuk, Tuhan jelas tidak perlu petunjuk. Justru Tuhan itulah Sang Sumber Petunjuk. Jadi, lebih tepat jika dikatakan bahwa agama itu untuk manusia. Manusialah sasaran dari diturunkannya agama oleh Tuhan. Manusialah yang memerlukan agama sebagai petunjuk bagi hidupnya.

Sampai di sini, pertanyaan bisa dilanjutkan, apakah agama berfungsi sebagai petunjuk agar manusia kelak masuk surga setelah meninggal—sebagaimana dicita-citakan oleh semua orang? Kalau petunjuk dimaknai dalam konteks tujuan ukhrawi, maka manusia umumnya akan lebih sibuk dengan shalat, zikir, doa, tadarus Quran, dan sebagainya. Mereka sibuk dengan pelbagai kegiatan yang berorientasi surga di akhirat kelak. Akibatnya, perhatian mereka terhadap kehidupan dunia sekadarnya saja—kalau tidak bisa dikatakan abai atau kurang sekali.

Kalau itu yang terjadi, kehidupan kaum Muslim akan mengalami stagnasi, bahkan kemunduran. Kemunduran di bidang ekonomi, sosial, politik, sains/teknologi, dll. Dampaknya, umat Islam akan semakin bergantung pada peradaban-peradaban lain yang lebih berkembang dan maju di segala bidang. Bukan hanya itu, umat Islam akan mengalami keterjajahan karena tidak mampu menghadapi pihak-pihak lain yang bermaksud mengalahkan, menyerang, atau menaklukkan mereka. Bukankah sejarah imperialisme Barat atas negara-negara Muslim sepanjang abad ke-16 hingga 19 merupakan bukti sejarah yang amat gamblang?

Jadi, agama memang berfungsi sebagai petunjuk tapi orientasi bukan (hanya) untuk akhirat, tetapi juga orientasinya kehidupan di sini dan kini, bukan di sana dan nanti. Agama menjadi petunjuk agar kita dapat memakmurkan bumi. Agar manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah fi al-ardh, sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi. Agar manusia dapat menyebarkan rahmat bagi alam semesta raya, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi hewan, tanaman, dan ekosistem kebumian.

Dengan agama, manusia didorong untuk menjadi makhluk etis, yang memiliki ilmu, berkembang secara jasmani dan ruhani, mengeksplorasi pelbagai potensi dan kemungkinan yang tersimpan di alam raya, sebagai ayat-ayat kauniyah yang mesti disibak dan disingkap. Dengan agama, manusia didorong untuk mengembangkan kehidupan yang berkeadilan, dilandansi sikap saling membantu, saling mengasihi, dan berkembang bersama.

Dengan pandangan-dunia demikian, agama bukan sebatas urusan ibadah ritual dan fiqih (hukum)—dua aspek yang sangat menonjol dalam kehidupan keagamaan umat Islam sekarang ini. Lebih dari itu, agama mesti berurusan dan terlibat penuh dengan segala aspek kehidupan manusia—ekonomi, politik, sosial, budaya, termasuk sains dan teknologi.

Apakah itu berarti semua aspek akan mengalami Islamisasi secara integralistik? Di sini ada persoalan lain menyangkut perbedaan pemaknaan tentang Islam dan strategi berislam itu sendiri. Apakah Islam itu mengatur secara pasti dan rigid urusan ekonomi dan politik? Atau apakah Islam memberi landasan-landasan normatif bagi pembentukan struktur ekonomi/politik tanpa menentukan secara pasti bentuk-bentuknya? Di sini perbedaan pendapatnya begitu seru dan hidup, meski kadang menimbulkan perselisihan yang tidak sehat. Isu ini akan kita sisihkan dulu sementara waktu.

Yang segera jelas dan pasti adalah bahwa meski Islam yang dibawa Nabi Muhammad itu satu, tetapi penafsiran atasnya tidaklah monolitik atau homogen, melainkan heteregon alias majemuk. Dapat diperdebatkan manakah di antara penafsiran-penafsiran ini yang layak dinilai autentik atau valid. Abdillah Toha dalam buku Buat Apa Beragama? mengidentifikasi sekurang-kurangnya ada tiga ciri penafsiran Islam yang autentik, yakni (1) berlandaskan tauhid (keesaan Tuhan), (2) bersemangat keadilan, dan (3) mengutamakan akhlak mulia (akhlaq karimah).

Tauhid melandasi seluruh ajaran Islam, yang sesungguhnya merupakan common demoninator (kalimatun sawa’ atau titik kesamaan) dari semua ajaran nabi dan rasul yang diutus oleh Allah sepanjang sejarah umat manusia, dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

Semangat keadilan merupakan ruh Islami dari seluruh sistem hukum, politik, dan ekonomi. Apa pun nama dan bentuknya, apabila semangat keadilan itu ada di sana, maka sistem bersangkutan layak disebut bersifat Islami.

Di atas itu semua, akhlak mulia merupakan puncak tujuan dari diutusnya Nabi ke alam semesta. Akhlak atau adab adalah unsur intrinsik yang mesti menjiwai seluruh ajaran Islam—bukan hanya sesuatu yang dipahami, dilakukan, tetapi yang dihayati di dalam diri dan akhirnya menjadi jati diri dan kepribadian utuh seorang Muslim.

Ideal-ideal di atas sayangnya jarang terlihat di pentas kenyataan sejarah. Islam yang tampil hari ini lebih banyak yang bersifat menyeramkan dan pesimistis (tidak menyenangkan dan optimistis), yang marah (tidak ramah), memecah belah (tidak menyatukan), simbolis (tidak substansial), sulit/menyulitkan (tidak mudah dan memudahkan), yang berwatak legal/hukum/ritualis (tidak berorientasi akhlak atau maqashid syariah). Sudah semestinya Islam kembali ke khittah: agama yang menebarkan kasih sayang dan rahmat kepada alam semesta (rahmat lil ‘alamin).

Sudah waktunya, Islam memberikan solusi dan kontribusi positif atas persoalan-persoalan umat manusia. Sangat jarang tokoh-tokoh filantropi yang muncul dari masyarakat Islam. Memang ada tokoh semacam Edi Abdul Sattar dan Badshan Khan, tetapi jumlah mereka terlalu sedikit untuk bisa tampil menonjol sebagai “Islam ramah dan damai”.

Ketika Islam masuk ke pelbagai segi, yang tampil di sana bukan hanya identitas yang kosong substansi. Islam tidak boleh dibajak oleh kepentingan sektoral yang sempit, berjangka pendek, dan dikomersialisasi menjadi komoditas. Bukankah dalam pemilihan umum (legislatif/eksekutif, Islam dimanfaatkan sebagai alat kampanye demi mendulang suara publik? Tapi begitu peristiwa politik itu selesai, selesai jugalah slogan dan kampanye itu, sementara realitas di lapangan tidak banyak berubah. Begitupun di arena ekonomi: slogan syariah atau Islami bukan hanya simbol-simbol kosong tetapi mesti mengandung substansi tentang keadilan dan kesejahteraan.

Salah satu cara menggali substansi adalah dengan menyingkap makna-makna terdalam dari konsep/ritual sehari-hari, yang biasanya dianggap taken for granted alias sudah dianggap begitu saja. Apa makna ibadah, adil, takbir, basmalah, salam, hidayah, zikir, amal saleh, dst.? Hanya dengan menyelami ke dalam makna-makna itulah kita akan dapat hidup beragama secara mendalam, hakiki, dan substansial, bukan hanya di permukaan nyaris tanpa isi.[]


Baca Juga: Prakata Penulis Buat Apa Beragama? -- Abdillah Toha
Baca Juga: Bagaimana Islam Memaknai Bencana

tags : sainsdanagama,

Related Post

Back to top