Share
Scroll down

Baca
Artikel

Kenapa Harus Membaca Buku Fiksi?

13-03-2020Category : Remaja
Kenapa harus membaca buku fiksi>

Manfaat Membaca Fiksi Dalam Dunia Kerja

Beberapa keterampilan paling penting yang dicari para manajer dalam diri anak buahnya seringkali sulit didefinisikan, apalagi dievaluasi dan diukur: di antaranya kedisiplinan diri, kesadaran diri, kreatifitas dalam menyelesaikan masalah, empati, kegesitan belajar, kemampuan beradaptasi, fleksibilitas, kepositifan, menilai secara rasional, kedermawanan, dan kebaikan hati. Bagaimana bisa tahu bahwa calon anak buah Anda memiliki keterampilan-keterampilan ini? Dan jika anak buahmu saat ini kurang memiliki keterampilan-keterampilan tersebut, bagaimana cara mengajarkannya? Studi terbaru neuroscience menyiratkan bahwa solusinya bisa dicari di perpustakaan; membaca karya-karya fiksi membantu orang mengembangkan empati, teori pikiran, dan berpikir kritis.

Ketika membaca, kita melatih dan memperkuat beberapa otot kognitif yang berbeda, yang merupakan landasan dari EQ. Dengan kata lain, kegiatan membaca—jika dilakukan dengan benar—dapat mengembangkan kualitas, ciri-ciri, dan karakteristik karyawan yang layak dipekerjakan dan dipertahankan oleh perusahaan.

Bill Gates dan Buku-Bukunya
Bill Gates dan Buku-Bukunya
Sumber: https://www.gatesnotes.com/About-Bill-Gates/Summer-Books-2019

Para pemimpin bisnis papan atas telah menggembar-gemborkan manfaatnya membaca. Warren Buffet, CEO Berkshire Hathaway, menghabiskan sebagian besar waktunya dengan membaca dan menyarankan untuk membaca 500 halaman setiap hari. Mark Cuban, pemilik tim basket NBA Dallas Maverick menyatakan bahwa dia membaca lebih dari tiga jam setiap hari. Elon Musk, CEO SpaceX menyatakan bahwa dia belajar membuat roket dari membaca buku. Namun para visioner bisnis yang memuji-muji manfaat membaca hampir selalu merekomendasikan buku non-fiksi. Di tahun 2019, Buffet merekomendasikan 19 judul buku; dan tidak satu pun buku fiksi. Dari 94 buku yang direkomendasikan oleh Bill Gates dalam jangka waktu tujuh tahun, hanya 9 buku fiksi.

Bicara soal membaca, kita berasumsi bahwa membaca demi ilmu pengetahuan adalah alasan utama dalam memilih buku. Namun riset  membuktikan bahwa membaca fiksi bisa jadi memiliki manfaat yang jauh lebih penting daripada membaca non-fiksi. Misalnya, membaca fiksi memprediksikan peningkatan kepekaan sosial dan kemampuan yang lebih tajam untuk memahami motivasi orang lain. Membaca non-fiksi jelas bermanfaat untuk menambah pengetahuan, namun hanya sedikit membantu mengembangkan EQ.

Bagaimana Buku Membentuk Pengalaman Karyawan

Satu manfaat karya fiksi di lingkungan kerja adalah karena tokoh-tokoh, plot, dan latar belakang tempat fiksi berguna dalam melandasi diskusi-diskusi sulit. Kisah fiksi memungkinkan para pembacanya membahas isu-isu sensitif secara terbuka dan jujur.

Joseph Badaracco, Profesor Etika Bisnis di Harvard, menyatakan bahwa fiksi memberikan peluang untuk merumitkan standar baik versus buruk. Buku-buku bisnis biasanya membahas suatu isu dengan begitu mendalam hingga tersisa dua pilihan: benar atau salah. Sedangkan buku-buku fiksi yang baik memiliki tokoh-tokoh dengan sudut pandang yang berbeda namun sama-sama valid. Para calon pimpinan mungkin tidak akan menemui skenario yang sama persis dalam kehidupan nyata, tapi mereka akan dapat memanfaatkan kemampuan yang mumpuni untuk memahami dan merespon berbagai sudut pandang berbeda yang saling bertentangan.

Nancy Kidder, seorang fasilitator dari organisasi nirlaba, [email protected], menyatakan bahwa orang-orang yang membaca dan mendiskusikannya cenderung lebih berkenan untuk menghadapi masalah-masalah sulit. Beberapa partisipan diskusi merenungkan masalah seperti bagaimana menyeimbangkan antara tradisi dan inovasi, mengapa kita terkadang tak dapat memahami cara pandang orang lain, serta bagaimana caranya agar kita dapat menyimak orang lain dengan lebih baik. Tujuan membaca adalah untuk meningkatkan kemampuan dan ketajaman kognitif, mengembangkan kemampuan-kemampuan emosional yang dibutuhkan di dunia kerja.

An image

Diskusi Buku
Sumber: https://www.penningtonlibrary.org/adult-book-discussion-group-2/

Mengapa Membaca Itu Bermanfaat

Riset membuktikan bahwa membaca karya fiksi adalah cara efektif untuk memperkuat kemampuan otak menjaga pikiran tetap terbuka ketika memproses informasi, suatu kemampuan penting untuk mengambil keputusan secara efektif. Pada 2013, para peneliti mempelajari kebutuhan akan penyelesaian kognitif, atau hasrat untuk “mendapatkan hasil yang cepat dalam membuat keputusan, serta menghindari ambiguitas dan kebingungan.” Orang-orang yang sangat membutuhkan penyelesaian kognitif akan amat bergantung pada “informasi-informasi awal,” yang berarti mereka sulit mengubah pemikiran mereka ketika ada informasi-informasi baru yang muncul. Mereka pun lebih jarang memikirkan penjelasan-penjelasan alternatif, sehingga mereka lebih yakin akan pemikiran awal mereka (meskipun pemikiran tersebut mungkin keliru). Kebutuhan akan penyelesaian kognitif juga berarti orang-orang akan lebih menyukai potongan-potongan kecil informasi dan sedikit pilihan pendapat. Sementara itu, orang-orang yang tidak butuh penyelesaian kognitif akan cenderung lebih bijak, kreatif, dan nyaman menghadapi pendapat yang berbeda-beda—semua ini karakteristik dari EQ tinggi.

Para peneliti dari Universitas Toronto menemukan bahwa orang-orang yang membaca cerpen (alih-alih esai) menunjukkan kebutuhan yang rendah akan penyelesaian kognitif. Ini tidak mengherankan, karena membaca karya sastra mengharuskan kita untuk pelan-pelan, memproses banyak informasi, serta mengubah pemikiran kita sembari membaca. Dalam sastra, tak ada jawaban mudah; hanya ada cara memahami sudut pandang. Dalam sastra, ketika kita membicarakan tindakan-tindakan orang lain, kita tidak merasa harus membela diri. Kita dapat berbicang-bincang tentang sesuatu yang mungkin tak akan terjadi dalam konteks berbeda, setidaknya tidak dengan taraf kejujuran yang sama.

Investasikanlah waktu, uang, dan energi untuk membaca dan mendiskusikan buku
Investasikanlah waktu, uang, dan energi untuk membaca dan mendiskusikan buku
Sumber: https://thedaily.case.edu/build-community-bookswork/

Berinvestasi Membaca

Para CEO mungkin keberatan menginvestasikan waktu, uang, dan energi untuk kegiatan membaca dan diskusi buku, namun data-data yang ada menggambarkan betapa bermanfaatnya klub literasi yang dipandu oleh instruktur.

Marvin Riley, CEO EnPro Industries, ingin menegakkan keselamatan psikologis, melatih kolaborasi, merangkul meritokrasi, menggunakan pemikiran kritis, serta menciptakan keterikatan personal yang kuat. Dia bekerja sama dengan [email protected] untuk mengadakan diskusi literasi. Para pesertanya diminta membaca cerpen dan/atau novel, yang kemudian dibahas bersama, dipandu oleh fasilitator. Riley menyatakan bahwa program ini meningkatkan keterbukaan dalam tim dan kemampuan berkomunikasi dengan efektif.

Riset terhadap kegiatan membaca menunjukkan bahwa studi literatur adalah salah satu metode terbaik untuk membangun empati, pemikiran kritis, dan kreatifitas. Maryanne Wolf, seorang pakar ilmu kognitif, menyatakan bahwa “kualitas bacaan kita” mencerminkan “kualitas pemikiran kita.” Jika kita menginginkan para pemikir yang lebih baik dalam dunia bisnis, kita harus menciptakan para pembaca yang lebih baik.[]

Ditulis oleh:
Christine Seifert
Profesor komunikasi di Westminster College, Salt Lake City.

Diterjemahkan dan disadur oleh:
Dyah Agustine
Editor Penerbit Qanita

tags : buku fiksi, fiksi, membaca, novel,

Related Post

Back to top