Share
Scroll down

Baca
Artikel

Ketika Muslimah Bertanya Balik

Kalis Mardiasih, Sister Fillah You'll never be alone, Muslimah, Suara Muslimah, buku nonfiksi>

Ada gambaran menarik tentang Muslimah pada periode-periode awal Islam jika kita membaca kumpulan hadis dalam buku Tahrîrul Mar’ah fî Ashrir Risâlah karya Abu Syuqqah. Secara literal, judul buku ini bisa diartikan sebagai pembebasan perempuan pasca-masa kerasulan, tetapi kemudian diterjemahkan dengan judul Kebebasan Wanita. Ada lagi buku 60 Hadits Shahih Khusus tentang Hak-Hak Perempuan dalam Islam yang ditulis oleh ulama muda Indonesia, Dr. Faqihuddin Abdul Kodir.

Banyak hadis dalam buku-buku tersebut menggambarkan betapa aktifnya Muslimah di kehidupan publik. Mereka tidak mendekam di rumah, tetapi aktif dengan beragam aktivitas bersama sesama Muslim mewujudkan sistem kehidupan baru yang memanusiakan. Tentu saja, terutama pada mereka yang biasa diperlakukan tidak manusiawi, termasuk perempuan.

Khadijah r.a. adalah teladan utama bagaimana seorang Muslimah mesti kuat secara ekonomi sehingga bisa bekerja sama secara maksimal dengan Rasulullah Saw. sebagai suami-istri untuk menebar kemaslahatan seluasnya. Hadis-hadis tersebut juga mengungkapkan bahwa para perempuan sahabat Nabi juga aktif membuat kajian, bahkan meminta Rasulullah Saw. untuk mengajar mereka secara langsung. Mereka pun mempertanyakan kepada Rasulullah Saw. tentang kebiasaan para suami memukul istri sehingga Rasulullah Saw. mengingatkan para suami untuk tidak memukul mereka. Beliau bahkan menegaskan, “Tidaklah memuliakan seorang perempuan, kecuali orang yang mulia; dan tidaklah menghina mereka, kecuali orang yang hina.”

Aisyah r.a. dan Ummu Salamah r.a. adalah teladan utama dalam bersikap kritis terhadap pandangan diskriminatif pada perempuan yang memengaruhi tafsir agama. Misalnya, kritik Aisyah r.a. atas riwayat yang mengatakan bahwa anjing, keledai, dan perempuan sebagai sebab terputusnya shalat. Dalam banyak riwayat, Aisyah banyak memberikan kesaksian bahwa Rasulullah Saw. tetap makan dengan piring yang sama, minum dengan gelas yang sama, menggunakan tempat mandi yang sama saat Aisyah sedang menstruasi. Sementara, masyarakat saat itu masih menganggap semua tindakan ini tabu! Salah satu riwayat tentang sikap kritis Ummu Salamah r.a. sudah ada dalam buku ini.

Kalis Mardiasih - Sister Fillah, You'll never be alone

Sikap kritis atas tafsir agama (tafsirnya, lho ya!) masih sangat diperlukan bagi seorang Muslimah hingga kini, khususnya mereka yang hidup di tengah masyarakat yang masih meletakkan perempuan sebagai subjek sekunder, bahkan objek dalam sistem kehidupan. Dalam sistem sosial seperti ini, keputusan seorang Muslimah selalu dipertanyakan. Memakai jilbab dipertanyakan oleh mereka yang tidak memakainya. Melepaskannya dipertanyakan, apalagi. Memilih menjadi ibu rumah tangga dipertanyakan, berkarier apalagi.

Perempuan kerap pula terjepit di antara dua ideologi yang berbeda. Negara Muslim-sekuler ada yang melarang Muslimah berjilbab pada saat kuliah, apalagi bekerja sebagai pegawai pemerintah. Lalu, para Muslimah itu berstrategi menggunakan wig alias rambut palsu sebagai pengganti jilbab. Sebaliknya, negara Muslim-islamis melarang perempuan keluar rumah, kecuali berjilbab. Kedua model negara ini sama-sama tidak memberi ruang pada perempuan untuk memilih tafsir agama yang berbeda dengan tafsir negara.

Selama perempuan menjadi subjek sekunder—apalagi objek dalam kehidupan—maka bukan perempuan, melainkan pihak lain, baik perseorangan maupun sistem, yang menentukan apa yang terbaik bagi mereka dalam banyak hal, tidak terbatas pakaian.

Sikap kritis seorang Muslimah dapat dilakukan dengan mempertanyakan kembali norma sosial dan tafsir agama yang merendahkan kemanusiaan perempuan, sebab Islam memiliki prinsip dasar bahwa setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, adalah sama-sama hanya hamba Allah sekaligus khalîfah fil ardh yang punya mandat mewujudkan kemaslahatan seluas-luasnya di muka bumi. Keduanya menjadi subjek penuh kehidupan yang sama-sama wajib berikhtiar mewujudkan kemaslahatan di mana pun berada, sekaligus menikmatinya. Seperti juga laki-laki, perempuan adalah manusia, sehingga sama-sama wajib bersikap manusiawi kepada orang lain, sekaligus berhak diperlakukan secara manusiawi oleh orang lain.

Meskipun sama-sama manusia, perempuan punya pengalaman biologis dan sosial yang tidak dialami oleh laki-laki dan penting untuk dipertimbangkan karena pengalaman ini berkaitan langsung dengan kemanusiaan mereka.

Kalis Mardiasih - Sister Fillah, You'll never be alone

Laki-laki memiliki pengalaman biologis berupa mimpi basah dan hubungan seksual. Keduanya hanya berlangsung dalam hitungan menit dan memberi sensasi biologis kenikmatan. Sementara, perempuan punya pengalaman biologis berupa hubungan seksual, menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Durasinya bervariasi antara hitungan menit (hubungan seksual), jam dan hari (melahirkan), minggu (menstruasi), bulan (hamil), hingga tahun (menyusui). Secara biologis, semua itu memberikan sensasi rasa sakit, walaupun secara psikologis bisa menimbulkan kenikmatan. Jadi, ada lima pengalaman biologis perempuan, yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Kelimanya mesti menjadi perhatian khusus agar perempuan tidak semakin sakit, baik secara biologis maupun psikologis, dalam menjalaninya.

Secara sosial, cara pandang atas perempuan sebagai subjek sekunder, apalagi sebagai objek dalam sistem kehidupan, kerap melahirkan kezaliman pada perempuan, semata-mata karena menjadi perempuan. Jenisnya ada lima yang bisa disebut sebagai lima pengalaman sosial perempuan, yaitu stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda. Menjadi perempuan adalah ketentuan Allah, maka tindakan zalim kepada mereka hanya karena mereka menjadi perempuan jelas bertentangan dengan kehendak Allah. Lima pengalaman sosial perempuan ini juga perlu perhatian khusus agar tidak terjadi sama sekali.

Sepuluh pengalaman perempuan ini—meskipun tidak dialami oleh laki-laki—sah untuk dipertimbangkan dalam konsep kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan agama, maupun kebijakan negara. Semua pengalaman ini menyebabkan apa yang baik (manusiawi) bagi laki-laki belum tentu baik (manusiawi) bagi perempuan; dan apa yang baik (manusiawi) bagi perempuan, menurut laki-laki, belum tentu baik (manusiawi) bagi perempuan, menurut perempuan.

Tentu wajar jika laki-laki tidak memahami sejauh mana rasa sakit yang dialami perempuan saat menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Maka, tugas perempuanlah memberi tahu mereka. Demikian pula, laki-laki sangat jarang menerima kezaliman hanya karena menjadi laki-laki. Maka, menjadi wajar jika mereka tidak mengetahui sakitnya mengalami stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda hanya karena menjadi perempuan. Nah, tugas perempuan jugalah memberitahukan ketidakadilan dan rasa sakit saat mengalami salah satunya.

Jika mereka tidak tahu, semua rasa sakit ini dianggap tidak ada. Jika dianggap tidak ada, maka tidak dipertimbangkan dalam rumusan kebijakan negara dan kemaslahatan agama. Nah, jika laki-laki sudah diberi tahu, tetapi tetap tidak mau tahu, ini sudah bukan wajar, melainkan ... kurang (w)ajar!

Tentu saja ada banyak cara untuk memberitahukan. Demikian pula bersikap kritis. Salah satunya adalah dengan bertanya balik. Misalnya, ketika dipertanyakan, jika istri sedang sakit keras sehingga tidak mampu melayani suami dengan baik, apa yang harus dilakukan oleh istri salehah? Nah, sebelum secara spontan menjawab, perempuan bisa secara spontan pula bertanya balik: Jika istri sakit keras sehingga tidak mampu melayani suami dengan baik, apa yang harus dilakukan oleh suami saleh?

Kekuatan semua tulisan Kalis Mardiasih, termasuk yang ada dalam buku ini, adalah gayanya dalam mempertanyakan balik banyak hal yang dianggap baik-baik saja dalam perspektif umum—yang kadang berarti perspektif kelompok yang lebih kuat dalam sebuah relasi. Baginya, apa yang baik bagi laki-laki belum tentu baik bagi perempuan, dan apa yang baik buat perempuan kaya belum tentu baik buat perempuan miskin, apalagi apa yang baik buat laki-laki kaya, berpendidikan tinggi, tentu saja belum tentu baik buat perempuan miskin yang tidak bisa mengakses pendidikan tingkat dasar sekalipun. Hasilnya, tentu saja menarik, bahkan kerap mengejutkan!

Selamat membeli, membaca, dan menikmati sensasinya![]

 

An image
Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. (Founder Ngaji KGI (Keadilan Gender Islam), Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran, Jakarta)

tags : Kalis Mardiasih, Sister Fillah You'll never be alone, Muslimah, Suara Muslimah, buku nonfiksi,

Related Post

Back to top