Share
Scroll down

Baca
Kolom

Overdosis Keberagamaan

Friedrich Nietzsche>

oleh Abdillah Toha

 

Ketika Friedrich Nietzsche mengatakan bahwa God is dead (Tuhan telah mati), kata-kata itu telah banyak disalahartikan oleh masyarakat, kata ahlinya. Dia bermaksud mengatakan bahwa Tuhan yang tadinya ada telah menjadi tidak ada karena manusia telah “membunuh” dan melenyapkan-Nya dari kehidupan sehari-hari.

Ungkapan itu disampaikannya sebagai gambaran Nietzsche terhadap masyarakat Eropa saat itu yang telah mulai meninggalkan Wujud Suci (Divine Being) sebagai fondasi nilai-nilai moral mereka yang transendental. Sebagai gantinya, nila moral menjadi relatif dan diartikan sebagai nilai yang membolehkan segalanya selama tidak tertangkap.

Bila di Barat Tuhan telah dilenyapkan, maka di negeri lain, termasuk negeri kita, justru manusia menciptakan tuhan-tuhan baru atau mengambil alih fungsi Tuhan. Agama dijadikan alat untuk membentengi dan menguatkan syahwat keduniaan, nafsu kekuasaan, dan keserakahan materi. Massa pengikut direkrut untuk menjadikan imam (wakil Tuhan)-nya menentukan mana yang boleh dan mana yang dilarang, mana yang akan diganjar surga dan mana yang akan dijebloskan ke neraka.

Pada tingkat yang lebih rendah, tuhan-tuhan baru ini memvonis kehidupan duniawi hanya sebagai episode sementara dibandingkan kehidupan kekal di akhirat dan karenanya tidak bisa diandalkan, sebab hanya membebani manusia dengan berbagai kewajiban yang berisiko menjebloskan manusia ke neraka.

Bila di Eropa agama ditinggalkan karena sains diunggulkan, maka di negeri-negeri Muslim yang terjadi justru sebaliknya. Oleh sebab ketertinggalan jauh dalam sains dan teknologi, maka agama dijadikan benteng pertahanan dan sains dicurigai sebagai ilmu keduniaan yang fana, sementara, dan penuh dengan permainan serta tipuan. Ayat Al-Quran tentang tujuan manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah ditafsirkan melulu sebagai ibadah ritual dengan aturan fiqih yang ketat dan jelimet.

Di Eropa banyak gereja yang tutup dan bangunannya dijual, bahkan sebagian dibeli oleh Muslim setempat untuk dijadikan masjid. Di negeri Muslim, umat berlomba membangun masjid-masjid baru, dari yang sangat megah sampai masjid sederhana di desa dan kampung. Donasi ke gereja di Barat merosot dan dialihkan ke donasi untuk pembangunan lembaga-lembaga pendidikan. Di negeri Muslim, umat lebih suka menyumbang pembangunan masjid karena menganggap pahalanya lebih besar dan akan terus mengalir sampai penyumbang dikubur.

Bersamaan dengan matinya agama, di Eropa terjadi sekularisasi kehidupan masyarakat. Agama dianggap sebagai urusan pribadi dan gereja dipisahkan serta dijauhkan dari urusan politik dan pemerintahan. Meski di sebagian besar negeri Muslim sistem politik dan kenegaraannya juga sekuler, ulama dan petinggi agama masih mendapat porsi dan peran yang cukup signifikan untuk ikut menentukan arah kebijakan negara, khususnya yang menyangkut kepentingan umat beragama.

Bila di Eropa semua dihalalkan sampai kepada perkawinan sesama jenis, mengisap ganja, dan sebagainya, maka di negeri Muslim ada kecenderungan mewajibkan yang tidak wajib, seperti shalat berjamaah di masjid, dan mengharamkan yang tidak haram, seperti mengucapkan selamat Natal dan lainnya. Ada kecenderungan overdosis keberagamaan di sini dan sebaliknya pelenyapan nilai-nilai transenden agama di Barat.

Jelas kita tidak ingin sekularisasi agama yang kebablasan seperti di Barat menjalar ke sini. Namun, kita juga tidak mau keberagamaan kita dilanda fanatisme dan ekstremisme yang menghilangkan fungsi akal sebagai pembimbing perilaku kita. Kita tidak ingin sains sebagai satu-satunya pegangan hidup, tetapi kita juga tidak rela bila demi menjaga keberimanan, semua yang baru dan modern serta berbau ilmu pengetahuan kita singkirkan dari kehidupan keagamaan kita.

Jalan keluarnya adalah hampir selalu jalan tengah. Sekarang kita banyak berbicara tentang Islam Jalan Tengah yang lebih dikenal dengan nama Islam Wasathiyah (IW). Jalan tengah adalah jalan keseimbangan. Seimbang antara dunia dan akhirat serta seimbang antara kehidupan fisik dan ruhani.

Menurut Prof. Quraish Shihab, Islam Wasathiyah harus minimum memenuhi tiga syarat, yakni kepemilikan pengetahuan keagamaan yang memadai, menjaga emosi, dan memelihara kewaspadaan. Islam Wasathiyah adalah shirâth al-mustaqîm, jalan yang lurus dan lebar sehingga di satu sisi lebih cepat mencapai tujuan dan di sisi lain cukup lebar untuk menampung berbagai kendaraan yang berbeda. Islam Wasathiyah adalah jalan damai dan toleran.

Kita menginginkan dakwah Islam diarahkan untuk membangun semangat kemajuan di kalangan umat sehingga tidak sekadar menjadi konsumen, tetapi juga penyedia alternatif kebutuhan hidup yang kreatif. Jangan sampai menguatkan iman ditafsirkan dengan membangun benteng pertahanan yang tertutup dengan terus-menerus merasa khawatir dan curiga atas invasi pihak luar ke tubuh Islam. Ukuran keberagamaan yang pas, tidak berlebih dan tidak berkurang, diperlukan untuk menjaga keseimbangan.[]

 

Artikel ini juga dimuat dalam buku Buat Apa Beragama?.

tags : ,

Related Post

Back to top