Share
Scroll down

Baca
Artikel

Menjaga Kewarasan di Masa Ketidakpastian

menjaga kewarasan>

Apa yang dapat diajarkan oleh para filsuf kuno tentang merangkul ketidaktahuan

Saat ini kita berada di masa ketika pertanyaan mengambang tanpa jawaban. Apakah aku akan tertinfeksi? Kapan vaksin akan tersedia? Apakah pekerjaanku aman? Kapan kehidupan akan kembali normal? Para ahli mungkin memperkirakan, atau menghitung, untuk beberapa kesulitan ini tapi tak ada kepastian, dan ini membuat kita gila.

Manusia membenci ketidakpastian, dan akan melakukan apa saja demi menghindarinya, bahkan memilih hasil buruk yang sudah diketahui daripada ketidaktahuan yang berkemungkinan baik. Dalam sebuah studi di Inggris, para partisipan mengalami stress yang lebih besar ketika mereka berpeluang 50 persen tersengat listrik dibanding ketika mereka memiliki peluang 100 persen. Intoleransi terhadap ketidakpastian menempatkan orang pada risiko penyakit yang lebih parah seperti depresi dan obsessive-compulsive disorder.

Kita menerima begitu saja bahwa ketidakpastian selalu buruk dan, sebaliknya, kepastian selalu baik. Namun, filsafat kuno, serta bukti ilmiah yang terus tumbuh, menyarankan hal sebaliknya. Ketidakpastian tidak membuat kita pincang, dan “dalam bentuk dan dalam jumlah yang benar, ia sebenarnya kesenangan yang luar biasa,” ucap Daniel Gilbert, seorang professor psikologi dari Harvard.

Kita terlibat dalam aktivitas tertentu—seperti menonton film thrillers atau membaca novel misteri—justru karena hasilnya tidak pasti. Atau, katakanlah kamu menerima secarik surat dari seorang pengagum rahasia. Misteri atas siapa si pengirim, ucap Gilbert, menghasilkan “semacam ketidakpastian yang lezat dan menyenangkan.” Namun, sebagian besar dari kita tetap tidak menyadari atas kecintaan kita terhadap ketidakpastian yang menyenangkan—sebut saja ketidakpastian yang ramah. Gilbert dan para koleganya menemukan bahwa meskipun ketidakpastian tentang peristiwa positif dapat memperpanjang kesenangan orang, umumnya kita meyakini bahwa kita merasa paling gembira ketika ketidakpastian dilenyapkan.

 

An image

Bagaimana dengan jenis ketidakpastian yang lebih gelap, ketidakpastian yang sebagian besar dari kita hadapi saat ini? Bukan saja penderitaan langsung dari penyakit dan kehilangan pekerjaan akibat pandemi, melainkan juga sifatnya yang tak menentu. Kita tak tahu kapan ini akan berakhir. Anda mungkin sudah menyadari bahwa jenis ketidakpastian ini—sebut saja ketidakpastian yang buruk—cenderung memperparah suasana hati yang buruk. Namun, sekali lagi, ini hanya sebuah tendensi, bukan sebuah akibat yang tak dapat dielak. Kita tidak ditakdirkan menderita ketika menghadapi ketidakpastian yang buruk. Kita punya pilihan.

Menurut pengalaman saya, terdapat dua jalan untuk memecahkan “problem” dari ketidaktahuan: dengan menurunkan jumlah risiko yang dirasakan atau meningkatkan toleransi kita terhadap ketidakpastian. Kebanyakan dari kita hampir secara khusus fokus terhadap jalan yang pertama. Banyak filsuf yang berpikir itu sebuah kekeliruan.

Para filsuf telah bergulat dengan ketidakpastian dan kefanaan sejak setidaknya masa Yunani kuno. Stoikisme, sebuah filsafat yang berkembang pada abad ketiga SM di Athena, sangat cocok membantu orang mengatasi ketidakpastian. Dan untuk alasan yang bagus: Stoa hidup pada masa-masa sulit. Athena kehilangan kebebasannya sebagai ibu kota, dan kematian Aleksandria yang Agung beberapa tahun sebelumnya hilang kekuasaan di wilayah tersebut. Tatanan lama telah runtuh dan tatanan baru belum lagi tumbuh.

 

An image

Sebagian besar kehidupan berada di luar kendali kita, kaum Stoik percaya, tapi kita mengontrol hal yang paling penting: opini kita, naluri kita, hasrat kita, dan keengganan kita. Kondisi mental dan emosional kita. “Ubah apa yang kamu bisa, terima apa yang tidak kamu bisa,” ringkas kredo kaum Stoik. Kuasai skill ini, kata mereka, dan kamu akan “tak terkalahkan”. Ini memang tidak mudah, kaum Stoik membenarkan, tapi memungkinkan. Menerima ketidakpastian sebagai bagian dari kehidupan—terutama kehidupan di masa pandemi—lebih baik daripada berjuang terus-menerus melawannya, kita pasti kalah, kata kaum Stoik.

Ada sebuah adegan dalam film Lawrence of Arabia ketika Lawrence, diperankan oleh Peter O’Toole, dengan tenang memadamkan korek api dengan ibu jari dan telunjuknya. Petugas yang lain mencobanya sendiri, dan menjerit dalam kesakitan.

“Oh! Sialan sakit banget,” katanya.

“Tentu saja itu sakit,” jawab Lawrence.

“Baiklah, kalau begitu, apa triknya?”

“Triknya,” ujar Lawrence, “tidak memikirkan bahwa itu sakit.”

Jawaban Lawrence murni Stoa. Tentu saja, dia merasakan kesakitan, hanya saja tetap tinggal menjadi sensasi, sebuah refleks. Rasa sakit itu tak pernah bermetastasis menjadi kepanikan. Lawrence tidak memikirkan rasa sakitnya, secara harfiah dari makna kata tersebut: Dia tidak membiarkan pikirannya terus memikirkan, dan meluaskan, apa yang dirasakan oleh tubuhnya.

Begitupun, pandemi telah membajak seluk-beluk kehidupan kita—itu adalah kenyataan yang tak bisa kita tepis. Namun, pikiran dan tanggapan kita masihlah milik kita.

Untuk menunjukkan kekuatan dari pikiran, kaum Stoik menggunakan pengandaian dari sebuah tambung yang menggelinding dari atas bukit. Gravitas memastikan tabung akan mulai menggelinding, tapi bentuknya yang menentukan betapa lancar dan cepatnya ia menggelinding. Kita tak bisa mengendalikan bukit, atau gravitasi, tapi kita dapat mengendalikan bentuk dari tabung kita, kondisi pikiran kita.

 

An image

Semisal, katakanlah diri Anda, seperti kebanyakan orang tua, bekerja dari rumah sambil merawat anak yang masih kecil. Fakta-fakta ini merepresentasikan bukit; mereka tak tergoyahkan. Yang bisa kau gerakan sikapmu. Hal ini tak memerlukan pergeseran yang signifikan juga—kita semua tak bisa jadi Bunda Teresa—tapi penyesuaian yang halus dari penolakan menuju, jika bukan penerimaan total, setidaknya toleransi.

Kemampuan menoleransi ketidakpastian dapat membuahkan hasil yang hebat. Ketidakpastian, pada akhirnya, mendorong pencarian akan pengentahuan. Ilmuwan terbaik mengetahuinya secara intuitif, dan bersedia untuk hidup dengan yang tidak diketahui ketika menjelajahi perbatasan baru. “Aku tak harus mengetahui sebuah jawaban,” ucap fisikawan teoretis Richard Feynman. “Aku tak merasa jeri saat tidak mengetahui apa-apa, tersesat di alam semesta yang misterius tanpa tujuan apa pun.” Toleransi untuk ketidakpastian dan ambiguitas juga terhubung dengan pemikiran kreatif yang lebih hebat, sebagaimana yang ditemukan beberapa penelitian. Penyair Romantik asal Inggris John Keats memperkenalkan istilah kemampuan negative untuk menggambarkan fenomena serupa. Menulis kepada adik laki-lakinya pada 1817, dia mengemukakan bahwa penulis berada di puncak kreativitasnya ketika “mampu berada di dalam ketidakpastian, misteri, keraguan, menjangkau fakta dan alasan tanpa uring-uringan.”

Filsuf Jepang melangkah lebih jauh. Jangan hanya menoleransi ketidakpastian dan sepupu dekatnya kefanaan, mereka menasihati; rayakan. “Hal paling berharga di dalam kehidupan adalah ketidakpastian,” tulis Yoshida Kenko, seorang Bhikkhu abad ke-14.

Renungkan pohon sakura, atau kembang sakura. Pepohonan yang cepat berlalu. Mereka bermekaran hanya sepekan atau dua pekan, lalu kelopak-kelopaknya lenyap. Kembang lain—kembang prem, misalnya—bertahan lebih lama. Mengapa bersusah payah untuk mengembangkan sesuatu yang rapuh seperti kembang sakura?

Karena “keindahan terletak pada kelenyapan dirinya,” ucap Donald Richie di dalam bukunya A Tractate on Japanese Aesthetics. Kehidupan tidak kekal. Segalanya yang kita ketahui dan cintai suatu hari akan lenyap, termasuk diri kita sendiri. Itulah keniscayaan hidup. Kembang sakura itu indah bukan meskipun fana, melainkan karena memang ia fana. Ini selalu terjadi. Pandemi mendorong kembali kefanaan kita. Dan sementara itu, mungkin terlalu berlebihan untuk merayakan kenyataan ini dalam keadaan yang mengerikan, kita bisa menoleransi yang tidak diketahui, dan bahkan mungkin melihat sekilas keindahan yang mendasari ketidakpastian hidup.

ERIC WEINER, penulis buku The Socrates Express: In Search of Life Lessons from Dead Philosophers.

Diterjemahkan dari artikel Preparing Your Mind for Uncertain Times yang terbit pertama kali di The Atlantic.

 

 

Penerjemah: Ilham Miftahuddin - Redaksi Mizan Pustaka

tags : the socrates, eric weiner, ketidakpastian,

Related Post

Back to top