Share
Scroll down

Baca
Artikel

Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Dia Bukan Anakku”

20-11-2019Category : Dewasa
Memoar small fry>

Nukilan memoar Small Fry karya Lisa Brennan-Jobs ini diterjemahkan dari vanityfair.com.



Memoar Small Fry




Saat usiaku tujuh tahun, ibu dan aku sudah pindah tiga belas kali. Kami menyewa bermacam tempat secara tidak resmi, suatu kali ting­gal di kamar berperabot milik seorang teman, kali lain menempati rumah yang disewakan sementara oleh penyewanya.




Ayahku mulai mampir ke rumah kami satu atau dua kali sebulan. Ketika dia datang, kami semua bermain sepatu roda di sekeliling peruma­han. Dia mengendarai Porsche kabriolet hitam. Saat dia berhenti, bunyi mesin berubah menjadi gumam lalu menghilang, membuat keheningan semakin hening, hanya suara lirih burung-burung.




Aku menunggu-nunggu kedatangannya, bertanya-tanya kapan itu akan terjadi, dan memikirkan dirinya sesudahnya—tetapi ketika dia hadir, selama kurang lebih satu jam kami bersama-sama, ada kekosongan yang aneh, seperti udara setelah mesin mobilnya dimatikan. Dia tidak banyak bicara kepadaku. Ada jeda-jeda panjang, bunyi debuk dan desing sepatu roda di jalan.




Kami meluncur di jalan-jalan sekitar perumahan. Pohon-pohon di atas kepala menciptakan pola-pola cahaya. Bunga fuchsia menjuntai dari semak-semak di halaman, kumpulan benang sari di bawah naungan kelopak-kelopak, seperti perempuan bergaun pesta dengan sepatu ungu.




Ayahku punya sepatu roda yang sama seperti ibuku, terbuat dari bahan nubuck warna beige dengan tali-tali merah yang bersilangan di atas dua baris pengait logam.




Saat kami melewati semak di halaman-halaman orang lain, dia menarik gumpalan-gumpalan daun dari batangnya, lalu menjatuhkan sedikit-sedikit selagi kami meluncur, meninggalkan barisan daun-daun koyak di belakang kami seperti Hansel dan Gretel.




Beberapa kali, aku merasakan tatapan matanya padaku; saat aku mengangkat kepala, dia berpaling.




View this post on Instagram

Sahabat Qanita, Mita mau nanya dong. Kalian udah pernah dengar buku berjudul Small Fry belum? Kalo belum, Mita mau kasih informasi sedikit tentang buku Small Fry ah hehehe. Small Fry merupakan memoar putri sulung Steve Jobs, yaitu Lisa Brennan-Jobs, mengisahkan dilema kehidupan Lisa yang harus memilih tinggal bersama ibunya yang nyentrik dan miskin, atau bersama ayahnya yang super kaya tapi acuh tak acuh. Small Fry diterbitkan pertama kali di Amerika Serikat pada September 2018, dan masuk ke dalam daftar 10 buku terbaik 2018 versi New York Times. Keren, ya! Berita baiknya, Small Fry akan segera terbit dalam Bahasa Indonesia! #SmallFry #MemoarSmallFry #MemoarLisaBrennanJobs #LisaBrennanJobs #SteveJobs #PenerbitQanita #BukuQanita

A post shared by Penerbit Qanita (@penerbitqanita) on




Setelah dia pergi, kami membicarakannya.




“Mengapa celananya berlubang di mana-mana?” tanyaku. Dia bisa saja menjahit lubang-lubang itu. Aku tahu dia seharusnya memiliki jutaan dolar. Kami bukan hanya mengatakan “jutawan”, tetapi “multijutawan” saat mem­bicarakan ayahku, sebab itu memang benar, dan mengetahui detail-detail kecil tentang ayahku menjadikan kami bagian darinya.




Ibuku bilang Steve bicaranya pelat. “Ada masalah dengan giginya,” kata ibuku. Dia bilang kebanyakan orang menderita gigi cakil atau gigi tonggos. “Tapi gigi ayahmu benar-benar saling bertubrukan, dan akibatnya setelah bertahun-tahun giginya retak dan sompal di tempatnya bertubrukan, menjadi bagian atas dan bagian bawah gigi bertemu, tanpa jarak. Kelihatannya seperti bentuk zig-zag, atau ritsleting.”




“Dan dia punya telapak tangan yang tidak wajar datarnya,” kata ibuku.




Baca juga:
- Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Baumu Seperti Toilet”
- Hubungan Rumit Lisa Brennan Jobs dengan Steve Jobs




Aku mengaitkan sifat-sifat mistis dengan cara jalannya yang bungkuk, gigi ritsletingnya, jeans robek-robeknya, telapak tangan datarnya, seakan-akan itu semua bukan hanya berbeda dengan ayah lainnya, melainkan lebih baik, dan karena sekarang dia sudah hadir dalam hidupku, walaupun hanya sekali sebulan, penantianku tidak sia-sia. Nasibku akan lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang sejak awal sudah punya ayah.




“Kudengar kalau ada goresan, dia membeli yang baru,” aku tak sengaja mendengar ibuku berkata kepada Ron.




“Apa yang baru?” tanyaku.




“Porsche.”




“Tak bisakah dia mengecatnya saja?”




“Bukan begitu cara kerja cat mobil,” sahut Ron. “Kita tidak bisa sekadar mengecat warna hitam di atas hitam; tidak akan berbaur. Ada ribuan warna hitam yang berbeda. Mereka harus mengecat ulang seluruh mobil.”




Ketika dia datang lagi, aku bertanya-tanya dalam hati apakah ini mobil yang sama dengan yang dia bawa kali terakhir, atau ini mobil baru, tapi sama persis dengan yang lama.




Baca juga:
- Memoar Lisa Brennan-Jobs Small Fry: “Dia Bukan Anakku”
- Dia Memanggilku "Small Fry"




“Aku punya rahasia,” kataku kepada teman-teman baruku di sekolah. Aku berbisik-bisik supaya mereka mengira aku enggan mengutarakannya. Kun­cinya, menurutku, adalah bersikap seakan-akan itu tidak penting. “Ayahku Steve Jobs.”




“Siapa itu?” salah seorang anak bertanya.




“Dia terkenal,” kataku. “Dia menciptakan komputer pribadi. Dia tinggal di rumah besar dan mengendarai Porsche convertible. Dia membeli yang baru setiap kali mobilnya tergores.”




Kisah itu terdengar agak dibuat-buat saat aku menyampaikannya, bahkan bagi telingaku sendiri. Aku tidak sesering itu bertemu dengan ayahku, hanya beberapa kunjungan. Aku tidak punya pakaian atau sepeda yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak dengan ayah seperti Steve Jobs.




“Dia bahkan menamai sebuah komputer dengan namaku,” aku memberi tahu.




“Komputer apa?” tanya anak perempuan bernama Elizabeth.




“Lisa,” jawabku.




“Komputer bernama Lisa?” cetusnya. “Aku belum pernah dengar.”




“Komputer itu mendahului masanya.” Aku menggunakan istilah ibuku, walaupun aku tidak yakin mengapa bisa mendahului. “Dia menciptakan komputer pribadi sesudahnya. Tapi kalian tidak boleh bilang siapa-siapa, karena kalau ada yang tahu, aku bisa diculik.”[]


tags : memoar, small fry,

Related Post

Back to top