Share
Scroll down

Baca
Artikel

Ngabuburit bersama Ivan Lanin

25-06-2020Category : Dewasa
. Pada 2020 ini, Ivan Lanin akan meluncurkan karya terbarunya dalam bentuk buku berjudul Recehan Bahasa yang diterbitkan Penerbit Qanita.>

Buku Terbaru Ivan Lanin: Recehan Bahasa

Ivan Lanin adalah seorang Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia yang sering dijuluki “kamus berjalan”. Pria berdarah Minang ini dikenal sebagai aktivis yang menganjurkan penggunaan bahasa Indonesia baku serta merupakan tokoh Peneroka Bahasa Indonesia Daring yang ditunjuk oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ivan Lanin turut serta dalam upaya mendaringkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pada 2020 ini, Ivan Lanin akan meluncurkan karya terbarunya dalam bentuk buku berjudul Recehan Bahasa yang diterbitkan Penerbit Qanita.

Penerbit Qanita berkesempatan mengisi waktu ngabuburit dengan berbincang bersama Uda Ivan, sapaan akrab Ivan Lanin. Dalam perbincangan ini, Ivan Lanin membahas banyak hal seputar bahasa, media sosial, bahkan meme yang sedang ramai di internet!

 

Ivan Lanin dikenal sebagai Wikipediawan dan sering dijuluki sebagai “kamus berjalan”, bagaimana awal ceritanya?

Saya mulai aktif menjawab pertanyaan di Twitter sekitar 2010 meskipun sudah mendaftar di Twitter sejak 2007. Sebelum 2010, saya cenderung tidak terlalu memperhatikan tulisan di Twitter. Banyak penggunaan bahasa campur, seperti bahasa Sunda, Minang, Indonesia, dan Inggris. Namun, setelah 2010, mulai banyak yang bertanya lewat Twitter dan saya senang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena saat itu saya juga sedang dalam proses belajar bahasa Indonesia.

 

An image

Gambar: Twitter Ivan Lanin. Sumber: twitter.com

 

Menjawab pertanyaan sebetulnya membawa kekayaan baru bagi kita. Jika hanya sekadar belajar, pengetahuan akan terbatas pada hal-hal yang ingin diketahui saja. Menjawab pertanyaan dari orang lain membuat sudut pandang semakin luas sehingga bisa memperdalam ilmu-ilmu yang tadinya dianggap kurang penting. Lambat laun, orang menganggap saya bisa mengajar—meskipun saya tidak memiliki latar belakang sebagai pengajar bahasa.

 

Mulai tertarik pada bahasa Indonesia sejak menulis di Wikipedia pada 2006. Apakah sebelumnya sama sekali tidak ada perhatian kepada bahasa Indonesia yang baik dan benar?

Memang tidak. Banyak orang yang beranggapan bahwa nilai bahasa Indonesia saya saat masih sekolah pasti bagus—padahal, biasa saja. Menurut saya, kemampuan berbahasa itu bukan perkara bakat, melainkan perkara niat. Pada 2006, usia saya 31 tahun dan terbukti bahwa belum terlambat untuk kembali mempelajari bahasa Indonesia. Meskipun sebelumnya saya masih sering mencampur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sehingga jadi kebiasaan, dengan niat yang kuat, ternyata bisa, kok, mulai menertibkan penggunaan bahasa Indonesia dengan benar.

Belajar juga tidak perlu melalui pendidikan formal. Pendidikan formal itu perlu jika memang ingin berkecimpung di bidang linguistik. Namun, bagi yang ingin meningkatkan kemampuan berbahasa secara umum, hal terpenting adalah niat dan berlatih terus-menerus. Jika ingin bisa berbicara atau menulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, harus banyak dipraktikkan.

 

Ivan Lanin juga dikenal aktif di media sosial, seperti Twitter. Apa yang memotivasi Ivan Lanin untuk aktif di media sosial?

Awalnya, saya membuat akun media sosial hanya mengikuti tren. Seiring waktu, saya merasa harus ada manfaat dari kegiatan saya di media sosial. Akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi saya dan orang lain, yaitu menjadi tempat bertanya bagi orang-orang yang baru atau ingin belajar bahasa Indonesia. Saya tidak memiliki tempat bertanya seperti itu ketika mulai lagi belajar bahasa Indonesia sehingga sekarang hal tersebut menjadi motivasi bagi saya untuk tetap aktif di Twitter.

 

An image

Gambar: japat di Twitter Ivan Lanin. Sumber: twitter.com

 

Ivan Lanin sering juga menggelar japat di Twitter, apa tujuannya?

Japat yang saya lakukan di Twitter ada hubungannya dengan psikologi manusia. Jika hanya “disuapi” informasi, seseorang cenderung menjadi pasif. Namun, ketika dipancing untuk mengungkapkan pendapatnya, rasa keterlibatan seseorang akan semakin besar. Oleh karena itu, lewat japat, saya ingin para warganet ikut merasa memiliki.

 

Apa kiat Ivan Lanin membangun penjenamaan diri (personal branding) di media sosial?

Hal pertama adalah memiliki niat dan menetapkan apa tujuan kita berada di media sosial. Niatkan bahwa media sosial adalah sarana untuk memupuk nama baik dan reputasi. Perlu diingat bahwa media sosial itu “jahat” karena semua rekam jejak digital bisa terekam—kecuali kalau kita menghapus akun. Oleh karena itu, isi kiriman yang ada di akun media sosial perlu diperhatikan karena sudah bukan milik pribadi lagi. Bisa saja di kemudian hari, misalnya, media sosial kita dijadikan bahan pertimbangan sebuah perusahaan sebelum menerima kita sebagai karyawan.

Hal kedua adalah mulai belajar untuk menentukan fokus minat yang ingin dipelajari secara serius. Jika memiliki minat menjahit, maka bagikanlah ilmu tentang menjahit. Pengguna media sosial tidak hanya ingin membaca omongan sembarangan, mereka juga ingin informasi yang bermanfaat. Bangunlah konten yang bermanfaat. Bisa dalam bentuk teks, gambar, audio, serta video. Saran saya, masa depan konten media sosial adalah video. Biasakanlah untuk belajar membuat konten dalam bentuk video.

 

Salah satu yang sering ditanyakan warganet adalah padanan kata atau istilah. Bagaimana proses pembentukan istilah?

Proses pembentukan istilah bisa dilihat di Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI). Menurut PUPI, ada dua cara pembentukan istilah, yaitu penyerapan dan penerjemahan. Cara penyerapan relatif lebih mudah, misalnya kata “netizen dari bahasa Inggris langsung diserap sebagai “netizen”. Sedangkan untuk penerjemahan, dilihat kesamaan konsep sebuah kata. Misalnya, kata “distribution bisa diserap menjadi “distribusi” atau diterjemahkan menjadi “penyebaran”.

Penyerapan kata cenderung lebih mudah sehingga biasanya lebih sering digunakan. Namun, ketika kata yang diserap itu tidak sesuai dengan kaidah kata dalam bahasa Indonesia, misalnya outbound, maka biasanya akan dicari terjemahannya. Outbound diterjemahkan menjadi “mancakrida”, manca artinya ‘luar’ dan krida artinya ‘kegiatan’.

 

Bagi yang ingin belajar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, apa langkah awal yang bisa dilakukan?

Kunci untuk memperbaiki keterampilan berbahasa adalah dengan berlatih atau praktik. Ada empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menurut saya, keempat keterampilan tersebut harus dilatih secara seimbang. Namun, saya pernah melakukan survei untuk melihat keterampilan berbahasa mana yang dianggap penting. Dari keempat keterampilan itu, ada satu keterampilan yang dipilih paling sedikit (14%), yaitu keterampilan membaca. Anggapan bahwa orang Indonesia tidak suka membaca terbukti pada survei tersebut—dan ini mengkhawatirkan.

 

An image

Gambar: tangkapan layar siaran langsung Instagram. Sumber: dokumentasi Penerbit Qanita

 

Memang, sebagian besar orang Indonesia masih kurang memiliki minat membaca dan hal tersebut harus diperbaiki. Menurut saya, kegiatan membaca membuat seseorang terbiasa dengan struktur kalimat yang bagus. Jika hanya hobi membaca lini masa media sosial, otak akan dipenuhi hal-hal yang ada di media sosial, seperti kebencian atau julid. Namun, ketika membaca tulisan sastra yang dipenuhi kalimat indah serta diksi yang menyejukkan mata, maka yang keluar dari diri juga mencerminkan hal indah tersebut.

 

Bagaimana pendapat Ivan Lanin tentang literasi meme?

Meme adalah bagian dari budaya internet, sehingga literasi meme erat kaitannya dengan literasi internet. Generasi orang tua kita mungkin tidak akan tahu apa itu meme karena mereka tidak begitu mengerti budaya internet. Menurut saya, yang harus lebih ditekankan bukan sekadar literasi meme, melainkan literasi internet juga. Misalnya, bagaimana cara mengecek kebenaran suatu berita di internet.

 

Apa saran atau kiat Ivan Lanin bagi para pengajar bahasa agar siswa atau siswi bangga menggunakan bahasa Indonesia di ranah percakapan sehari-hari?

Meskipun dulu lebih suka novel terjemahan dari penulis luar negeri, pada 2006 saya memaksakan diri untuk membaca novel sastra Indonesia. Menurut saya, berdasarkan pengalaman pribadi, ketika saya mulai membaca karya sastra Indonesia, maka rasa cinta saya terhadap bahasa Indonesia semakin besar.

Murid-murid sekarang cenderung lebih berinteraksi dengan gawai—karena mereka pribumi digital. Nah, saran saya untuk para pengajar adalah perkenalkan murid-murid pada keindahan karya sastra. Bagaimana caranya? Bacakan. Jika murid-murid sudah terbiasa mendengar narasi indah karya sastra, lambat laun mereka akan jatuh cinta pada karya tersebut. Setelah itu, murid-murid bisa diarahkan ke kegiatan menulis yang awalnya bisa dimulai dengan cara menyalin karya sastra favorit mereka.

An image

Gambar: sampul buku Recehan Bahasa. Sumber: dokumentasi Penerbit Qanita

 

Ivan Lanin sudah menerbitkan buku pada 2018 dengan judul Xenoglosofilia dan saat ini sedang mempersiapkan buku terbaru. Apa motivasi menulis buku ini?

Motivasi saya adalah menampung pikiran-pikiran saya yang “tergeletak” di Twitter. Saat ini, hampir 80% pertanyaan yang saya terima di Twitter sudah pernah saya jawab dan bahas. Menurut saya, apa yang saya bagikan di Twitter itu banyak sekali yang bermanfaat dan diperlukan oleh masyarakat luas sehingga saya ingin mengumpulkannya menjadi sebuah buku.

 

Nantikan buku terbaru Ivan Lanin, Recehan Bahasa, di mizanpublishing.com!

 

[Fauziah Hafidha, Redaksi Mizan Pustaka]

tags : Ivan Lanin, Recehan Bahasa,

Related Post

Back to top