Share
Scroll down

Baca
Artikel

Ngobrol Bareng Penerjemah Buku Jostein Gaarder

Novel Dunia Anna>

Irwan Syahrir: Buku-Buku Jostein Gaarder di Indonesia is a totally different thing!

Irwan Syahrir, saat ini tinggal di Oslo, Norwegia, merupakan seorang penerjemah beberapa buku Jostein Gaarder yaitu, Dunia Anna, The Puppeteer, The Castle in The Pyrenees dan The House of Tales. Pria asal Surabaya ini telah menetap di Oslo selama kurang lebih 20 tahun. Tim Penerbit Mizan berkesempatan untuk berbincang lewat live Instagram dan membicarakan beberapa hal, seperti proses penerjemahan buku dan opini Irwan Syahrir terkait kreativitas penerbitan buku Jostein Gaarder di Indonesia.

OOTB Live bersama penerjemah novel Jostein Gaarder

Yuk, langsung saja simak hasil perbincangan tim Penerbit Mizan bersama Irwan Syahrir!

 

Apa kegiatan Irwan Syahrir selain sebagai seorang penerjemah?

Saya sekarang sedang bekerja di bidang IT.

Sebetulnya saya tidak memiliki latar belakang pendidikan sastra. Saya dulu kuliah di ITS namun karena pernah menjadi pengajar Bahasa Inggris, saya memberanikan diri untuk melamar jadi penerjemah. Saat itu saya kirim surat ke Alm. Pak Hernowo di Mizan sampai akhirnya diberi kesempatan untuk menerjemahkan suatu buku. Setelah hasil terjemahan selesai dan sudah diperiksa oleh redaksi Mizan, saya mendapatkan feedback berupa catatan-catatan koreksi hasil terjemahan saya tersebut oleh Mbak Femmy Syahrani (editor). Koreksi tersebut sangat detail dan menjadi motivasi saya untuk menjadi penerjemah yang lebih baik lagi.

 

Bagaimana awal mula mengenal buku-buku Jostein Gaarder?

Pada awalnya saya membaca buku Dunia Sophie. Sebelum berangkat ke Norwegia, saya menggunakan buku tersebut untuk mempelajari kultur Norwegia. Ternyata, ketika berkuliah di Norwegia, setiap mahasiswa wajib menyelesaikan mata kuliah dasar umum yaitu Theory of Science dan History of Philosophy. Nah, mata kuliah History of Philosophy itu isinya mirip sekali dengan Dunia Sophie –hanya saja Dunia Sophie lebih dramatis, karena bentuknya novel.

Novel Dunia Anna

Setelah tinggal di Norwegia dan mulai bisa berbahasa Norwegia, Mbak Esti (editor Mizan) menghubungi dan meminta saya untuk menerjemahkan Dunia Anna. Novel tersebut menjadi novel pertama Jostein Gaarder yang saya terjemahkan dan langsung diterjemahkan dari bahasa Norwegia.

 

Apa yang menjadi kendala selama menerjemahkan buku-buku Jostein Gaarder?

Mungkin bukan kendala, karena saya lebih menganggap penerjemahan sebagai ajang introspeksi, baik dari isi buku yang sedang diterjemahkan atau saat proses menerjemahkan. Sebelum berangkat ke Norwegia, saya memosisikan diri sebagai orang luar yang sedang mencoba menceritakan isi buku. Setelah tinggal di Norwegia, saya bisa memosisikan diri sebagai orang luar dan juga orang dalam, Hal tersebut bukan kendala tapi malah jadi tantangan yang menyenangkan, misalnya bagaimana menjelaskan bahwa tidak ada kultur hirarki di Norwegia, tidak ada panggilan Pak, Mas, atau Mbak untuk orang yang lebih tua. Dari situ saya harus mengolah bagaimana supaya hasil terjemahan saya tidak janggal bagi pembaca Indonesia tapi juga tidak mengingkari fakta bahwa misalnya Anna, dalam Dunia Anna, memanggil dokternya hanya dengan sebutan Benjamin.

Setelah menjadi seorang penerjemah, saya berpendapat bahwa bahasa bukan hanya sekadar gramatika dan kata-kata, tapi juga cara berpikir atau bisa dibilang ada pengetahuan yang implisit. Bahasa itu menjadi ajang belajar bagi saya, salah satunya mempelajari kultur di Norwegia yang tidak bisa dipelajari lewat kehidupan sehari-hari.

 

Di antara buku Jostein Gaarder yang sudah diterjemahkan, mana yang menjadi favorit Irwan Syahrir?

The Puppeteer. Menurut saya novel-novel Jostein Gaarder merupakan novel ide dan tokoh-tokoh di dalamnya menjadi alat untuk menyampaikan ide tersebut, misalnya ilmu filsafat atau bahasa. Nah, novel The Puppeteer ini menarik, pertama karena banyak membahas akar bahasa Indo-Eropa dan kedua karena tokoh utamanya memiliki konflik tersendiri –saya bisa relate dengan perasaan si tokoh utama, Jakop Jacobsen. Seperti Jakop, saya juga memiliki kecenderungan senang memecah kata yang baru saya temukan dan kadang berulang-ulang menggunakan kata tersebut dalam percakapan sehari-hari.

An image

Selain itu pada novel The Puppeteer, halaman 198, ada puisi Edda. Puisi tersebut ditulis dalam bahasa Nynorsk yang belum saya kuasai sehingga menjadi tantangan tersendiri ketika menerjemahkannya. Bahasa Nynorsk disebut juga bahasa New Norwegian, salah satu bahasa resmi yang sering digunakan secara tertulis di dokumen kenegaraan.

(Kegelapan merebak
dari bawah sang Naga,
Nidhogg yang terbang
Dari Nithafjoll;
Jasad-jasad Manusia
Dipanggul di atas sayap-sayapnya,
Ular besar itu bercahaya:
Kini aku harus menukik tenggelam.)

 –Puisi Edda

 

Apakah pernah bertemu Jostein Gaarder secara langsung?

Pernah. Waktu itu sedang ada semacam festival literasi dan saya memang berencana datang tanpa melihat siapa saja pengisi acaranya. Ternyata Jostein Gaarder juga hadir pada forum tersebut sebagai pembicara dan setelah selesai mengisi acara, beliau terlihat sedang sendiri dan saya terpikir untuk minta tanda tangan meski tidak membawa bukunya. Tapi karena tidak ada orang lain yang melakukan hal tersebut, saya jadi malu sendiri. Memang sangat berbeda dengan di Indonesia, orang terkenal di Norwegia biasanya tidak dikerumuni untuk dimintai foto atau tanda tangan.

 

Apa yang menjadi ciri khas buku-buku Jostein Gaarder?

live ootb

Ciri khas buku-buku Jostein Gaarder yaitu menggunakan tokoh remaja perempuan sebagai tokoh utama. Selain itu, Jostein Gaarder juga kreatif dalam mengambil ide-ide untuk novel. Misalnya dalam The Puppeteer, dia kreatif menggunakan berita kematian yang ada di koran sebagai sebuah cerita. Padahal saya juga sering baca koran loh, tapi tidak terpikir sampai ke sana. Itu kreatif sekali.

 

Bagaimana caranya belajar menerjemahkan?

Fake it ‘till you make it. Ada dua tips dari saya, yang pertama adalah banyak membaca –tidak ada yang bisa menggantikan skill tersebut. Membaca membuat kita terpapar dengan berbagai macam ide dan gaya penulisan. Saya pernah menerjemahkan buku berjudul Thinker Toys dan buku tersebut bisa dijadikan referensi untuk belajar –hanya diarahkan untuk menjadi penerjemah.

Tips kedua adalah beranikan diri menghubungi relasi untuk menjadi penerjemah. Harus pandai membuka kesempatan dan pintar mencari jalan. Saya dulu memberanikan diri untuk mengontak Alm. Pak Hernowo lalu diberi kesempatan untuk menerjemahkan sampel sebanyak 7 halaman dan setelah itu saya mendapat kesempatan menjadi penerjemah.

 

Pekerjaan utama Irwan Syahrir bukan sebagai penerjemah, bagaimana mengelola waktu untuk bisa mengerjakan terjemahan?

Jawaban teknisnya, saya menggunakan sebuah laptop yang ringan dan menginstal aplikasi bernama Scrivener sehingga memudahkan saya menulis hasil terjemahan. Kadang saya mengerjakan di sela-sela waktu berkendara naik bis ketika berangkat dan pulang kerja. Akhir-akhir ini saya biasanya mengerjakan terjemahan di perpustakaan selama 1 jam. Waktu luang itu harus dibuat, kalau terus ditunggu tidak akan pernah ada.

Koleksi novel Jostein Gaarder

 

Bagaimana kesan Irwan Syahrir terhadap buku-buku Jostein Gaarder yang terbit di Indonesia?

Saya kagum dengan kreativitas Penerbit Mizan dalam mengemas buku-buku Jostein Gaarder yang konsep cover dan judulnya seperti sebuah kesatuan. Buku-buku itu akhirnya menjadi collectible items. Menurut saya, buku-buku Jostein Gaarder di Indonesia is a totally different thing.[]

 

Penulis: Fauziah Hafidha

 

tags : Jostein Gaarder, Dunia Anna, Dunia Sophie, OOTB, The Puppeteer, Fauziah Hafidha,

Related Post

Back to top