Share
Scroll down

Baca
Artikel

Penggalian Sejarah yang Memikat dan Menyeramkan oleh Jesmyn Ward

jesmyn ward>

Sing, Unburied, Sing mengisahkan sebuah keluarga—dan dua hantu—yang bermakna ganda sebagai perjalanan darat biasa dan perjalanan menempuh masa lalu yang pedih.

An image
sumber gambar: Financial Times.

 

Novel Sing, Unburied, Sing karya Jesmyn Ward dibuka oleh pengakuan yang tegas dari seorang bocah lelaki, Jojo: “Aku suka menganggap diriku tahu apa itu kematian.” Hari itu hari ulang tahunnya yang ke-13 dan dia membantu kakeknya, Pop, menyembelih kambing yang akan dipanggang untuk makan malam. Jojo mencoba melatih dirinya tak memalingkan muka ketika Pop menggorok leher si kambing atau tergelincir di tanah berlumuran darah saat mereka sedang menguliti. Jojo amat ingin meniru kakeknya, dan ini upayanya untuk membuktikan bahwa dia “cukup tua untuk menatap kematian seperti layaknya pria dewasa.”

Itu merupakan adegan simbolik. Pemahaman Jojo akan kejantanan diperumit oleh orang-orang serta tempat-tempat dalam sejarah keluarganya.

Sing, Unburied, Sing berlatar Bois Sauvage, sebuah kota pesisir fiksional dan penuh perjuangan di Mississippi, di mana Jojo tinggal bersama kakek dan neneknya. Ibunya, Leonie, seorang perempuan kulit hitam yang kecanduan narkoba, khususnya sejak ayah Jojo, Michael, pria kulit putih, ditahan di penjara Parchman yang terkenal brutal. Ketiadaan Michael dan ketidakpeduliaan Leoni kepada anak-anaknya membuat Jojo mengambil tanggung jawab atas adik perempuannya yang berusia 3 tahun, Kayla, yang amat dia lindungi.

An image
sumber gambar: Tulane News.

Sing, Unburied, Sing merupakan novel ketiga dan paling ambisius yang ditulis Jesmyn Ward. Dia memadukan antara prosa liris, novel jalanan, dan cerita hantu. Mengisahkan perjalanan Leoni yang berat bersama kedua anaknya dan sahabatnya, seorang sesama pecandu, untuk menjemput Michael, yang akan segera dibebaskan dari penjara—dan berputar bersama hantu-hantu yang gelisah, mencari kebebasan dari duka atas kematian mereka.

Dituturkan lebih banyak lewat sudut pandang Jojo dan Leoni, yang berkisah secara bergantian, novel ini menelusuri efek mendalam dari rasisme dan ketidakadilan yang menimbulkan keretakan di dalam keluarga ini, dan bagaimana para anggota keluarga menghukum diri mereka sendiri atas pilihan-pilihan mereka.

Mereka, Jojo dan Leoni, terperangkap bersama, bergejolak, dan saling mendongkol. Tensi timbul di antara penilaian Jojo atas ketidakbecusan ibunya dan perpaduan kuat antara keegoisan dan kesedihan Leoni. Namun, kerumitan novel ini justru terletak pada ruang supernatural di antara kedua tokohnya. Ketika sedang teler, Leoni dihantui oleh hantu kakaknya, Given, yang terbunuh saat berusia 18 tahun. Setelah berkunjung ke penjara, Jojo mulai berkomunikasi dengan arwah bocah yang tersiksa, Richie, yang mati ketika dipenjara bersama Pop beberapa dekade lalu. (Pop tetap merasa tersiksa atas kematian Richie). Dua hantu itu mengingatkan betapa besar pencarian Jojo atas kedewasaan dan kejantanan yang justru disampaikan oleh pemuda yang tak punya kesempatan untuk tumbuh dewasa.


Novel Sing, Unburied, Sing versi bahasa Indonesia.

Sing, Unburied, Sing menjadi finalis (dan akhirnya memenangkan) National Book Award 2017, memantapkan Ward sebagai salah satu penulis paling puitis dalam perbincangan tentang urusan Amerika yang belum tuntas di Selatan Amerika. Berlatar pasca-Badai Katrina, novel ini bergema saat kehancuran akibat Badai Harvey. Protes-protes dan kekerasan di Charlottesville menunjukkan kepada orang-orang Amerika untuk kembali ke pelajaran yang sempat hilang tentang identitas rasial dan Selatan Lama (the Old South).

Meski anteseden yang paling jernih mungkin terdapat dalam Beloved karya Toni Morrison—dengan anak yang sakit hati kembali dari kematian untuk mencari jawaban—Novel Ward satu ini lebih mirip novel As I Lay Dying karya William Faulkner. Alih-alih bepergian untuk menguburkan anggota keluarga yang mati, sebagaimana dalam kasus novel Faulkner, Ward menyuruh tokoh rekaannya untuk membawa hantu Richie, menghadirkan suaranya ke dalam kekacauan yang dinamis.

Sing, Unburied, Sing memasukkan jaringan cerita ironi yang bikin frustrasi. Ward membiarkan pembaca untuk menyaksikan potret tokoh-tokohnya secara lengkap, tapi membuat ibu dan anak agak buta satu sama lain. “Kadang-kadang,” Jojo mengakui, “aku merasa aku lebih memahami segala hal lain daripada aku akan pernah memahami Leoni.” Mereka berdua dapat melihat hantu—arwah-arwah “tak terkubur” yang kematiannya terus menggema—tapi tampaknya tak mendapat kejelasan tentang kebencian mereka terhadap satu sama lain. Kepahitan dan melankoli mengguncang dan terus meretakkan hubungan mereka.

Novel ini berulang-ulang menceritakan beban individu yang kusut dengan beban keluarga. Dengan berosilasi antara masa lalu dan masa kini, Ward melukiskan trauma antargenerasi yang hampir tak terhindarkan. Dia sering mengungkit tema bahwa segalanya “terjadi sekaligus”, dan sulit membedakan antara di mana kesedihan akan berakhir dan keputusasaan dimulai. Alih-alih membiarkan kenangan itu mencekik para tokohnya, novel ini melemparkan pertanyaan apa artinya terikat pada pengalaman kolektif kulit hitam.

Pada permukaan Ward tampak seolah melakukan banyak hal, plotwise, dengan beberapa alur cerita dalam novel—Mam kalah melawan kanker, rasa bersalah Pop, orangtua Michael yang rasis—yang tampakya tak terselesaikan. Namun, tumpang tindih antara drama dan penderitaan, berlangsung kacau sekaligus pas. Dan, untuk semua kekerasannya, Sing, Unburied, Sing bukan novel tanpa kelembutan. Pada bagian-bagian yang menggambarkan kehangatan antara Jojo dan Kayla kecil sangat mengagumkan, sebagaimana tanda kekaguman Jojo yang sporadis terhadap Pop.

Secara keseluruhan, novel ini merupakan tafsiran politik Ward tentang sejarah Amerika. Dia menggunakan hantu, gaya realis magis dengan piawai membengkokan dua realitas kehidupan yang paling saklek: waktu dan kematian. Buku ini seolah mempertanyakan apakah sebuah keluarga atau bangsa dapat menebus ketidakadilan yang mapan dan langgeng. Ladang Parchman, juga dikenal sebagai Mississippi State Penitentiary (Penjara Bagian Mississipi), memainkan peran kunci pada bagian depan novel ini, mengaitkan situasi yang menindas di masa lalu (saat hukuman penjara lebih menyerupai perbudakan yang dilegalkan) dan penahanan masa kini. Richie, dengan pedih mengingat bagaimana, setelah ia mati, Parchman sekaligus menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan baginya:

“Kukira aku bermimpi buruk. Kukira jika aku menggali dan tidur dan terbangun lagi, aku akan kembali ke Parchman yang baru, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, ketika aku tertidur dan terbangun, aku berada di Delta sebelum penjara berdiri, dan orang-orang Pribumi menjelajahi bumi yang kaya itu, berburu dan beristirahat untuk bermain stickball dan merokok. Dengan bingung, aku masuk ke liang dan tidur dan terbangun di Parchman yang baru, kepada pria-pria yang memanjangkan rambut dan mengepangnya sampai ke kulit kepala,  pria yang duduk berjam-jam di kamar-kamar kecil tanpa jendela, memandangi kotak-kotak hitam besar yang mengalirkan mimpi. … Aku pun masuk ke liang dan tidur dan terbangun beberapa kali sebelum menyadari inilah sifat waktu.”

Richie hadir mengisi celah ingatan Pop yang gelisah tentang kekejaman yang mereka alami di penjara. Ward mengikat kedua pria itu dengan kuat pada sebuah sistem yang hanya berubah secara permukaan sejak mereka di sana.

Ward secara konsisten menceritakan kisah tentang keluarga kulit hitam di pedesaan Selatan Amerika. Novel sebelumnya, Salvage the Bones, yang memenangkan National Book Award pada 2011, menceritakan sebuah keluarga (di kota fiksional yang sama, Bois Sauvage) yang berupaya membentengi rumah mereka ketika Badai Katrina mendekat. Memoarnya yang terbit pada 2013, Men We Raped, mengisahkan lima pemuda yang mati muda, termasuk adik lelakinya. Di dalam kisah-kisah tersebut, Ward menghidupkan ancaman, dari lingkungan dan sosial, bagi komunitas kulit hitam, terutama para pemudanya. Sementara Sing, Unburied, Sing mencoba hal-hal supernatural, bahaya yang dihadapi Jojo dan keluarganya ada di mana-mana, di luar dunia novel—krisis opioid yang makin parah, penahanan, kefanatikan, dan ketegangan rasial di Mississippi.

Sing, Unburied, Sing, pada akhirnya, sebuah perjalanan pulang, ketika tokohnya menemukan “sesuatu seperti kelegaan, sesuatu seperti ingatan, sesuatu seperti kemudahan.” Bois Sauvage dan Parchman dan Mississippi merupakan tempat tinggal dengan kebaikannya masing-masing, meski mereka diliputi oleh kesedihan yang tak tergoyahkan. Renungan Ward akan kematian tak bermaksud untuk mengungkap kebrutalan atas kematian, tapi untuk menggambarkan bagaimana tokoh rekaannya, bagiamana orang-orang, bergelut dengan sejarah. Hal ini merupakan proses yang tak akan selesai, ungkapnya.[]

ADRIENNE GREEN mantan managing editor di The Atlantic.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di The Atlantic dan diterjemahkan secara bebas oleh Ilham Miftahuddin (redaksi Mizan Pustaka).

tags : Jesmyn Ward,

Related Post

Back to top