Share
Scroll down

Baca
Artikel

Perampasan Hak di Balik Slogan Perjuangan Literasi

22-06-2020Category : Dewasa
literasi mizan>

Berbagai produk yang memiliki hak cipta, terutama buku, lambat laun telah berubah ke dalam format digital. Hal ini tentunya bukan fenomena baru. Perkembangan teknologi yang semakin masif, menjadi tuntutan tersendiri bagi para pelaku industri kreatif untuk beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi.

Kehadiran buku digital pun semakin menggeliat, apalagi bagi yang malas membaca buku cetak. E-book atau buku versi digital ini menjadi alternatif lain agar tetap bisa membaca dengan mudah dan praktis dibawa ke mana pun.

Buku sebagai kekayaan intelektual yang bernilai, bagaimana pun bentuknya – baik yang dicetak secara fisik maupun digital– semuanya memiliki hak cipta yang dilindungi hukum. Sayangnya, banyak orang yang mencoba mencari celah demi meraup keuntungan dan kesenangan pribadinya semata.

Memang, membaca sebetulnya tak melulu tentang "bergaul dengan buku". Kids zaman now bisa saja lebih menggandrungi sajian informasi dari gawai yang mereka miliki. Ada banyak bacaan yang tersedia ketika mereka berselancar di dunia maya. Mulai dari yang berbayar, sampai yang gratisan pun ada. Semuanya lengkap!

Bahkan, ada yang terang-terangan menawarkan fail PDF buku-buku dari berbagai genre, lewat unggahan statusnya di media sosial. Hal ini seakan diwajarkan dan bukan termasuk tindak pelanggaran. Padahal, membaca apalagi menyebarkan buku PDF bajakan, alias PDF atas buku asli yang disebarluaskan secara bebas tanpa kontribusi apa pun ke penerbit ataupun penulis sebagai pemilik hak cipta, jelas perbuatan melanggar hukum.

buku bajakan

Contoh akun penjual buku fail PDF bajakan

 

Orang yang menyebarkan fail-fail PDF ini menganggap dirinya sebagai bagian dari pejuang literasi. Mereka merasa sudah membantu satu sama lain dengan memberi pengetahuan dan wawasan secara cuma-cuma.

Kasus pembajakan buku cetak saja sudah menjadi persoalan krusial yang mengacaukan dunia perbukuan. Ini malah ditambah lagi dengan kegiatan penyebaran buku-buku versi PDF. Bagaimana tidak, kekayaan intelektual dicuri dengan amat leluasa tanpa memikirkan dampak hukum dan dampak lainnya. Bukan hanya buku-buku lama dan langka, buku baru yang masih beredar pun, kerap disebarluaskan dengan mudahnya.

Buku versi PDF mau blur sekalipun, tak begitu diperhitungkan, yang penting ilmu dan wawasan bisa didapatkan tanpa menguras isi dompet. Mungkin itulah anggapan-anggapan ringan dari para pencandu buku yang fakir ilmu.

Dalam pembuatan satu judul buku di penerbit resmi, tentunya melibatkan banyak pekerja. Mereka berpikir amat keras dalam pengerjaan setiap detail dari buku, baik itu penulis, editor, tim tata letak, maupun perancang sampul. Belum lagi dengan tim pembuatan e-book.

 

Baca Juga: Digital Nation Are We?

 

Jangan salah, mengubah buku menjadi format digital atau ­e-book ini harus menyesuaikan dengan bahasa pemrograman terlebih dahulu. Dan itu tidak mudah. Lalu, semua fungsi mereka ini seolah teranulir dengan kehadiran buku-buku PDF yang nyaris membunuh sumber penghidupan.

Ada jutaan penulis di Indonesia yang mengais rezeki dari royalti buku-buku yang mereka tulis. Jangan tanya royaltinya mencukupi atau tidak. Jelas, tidak sebanyak yang dikira. Para “Pejuang PDF” memang tidak mencuri uang para penulis, tetapi mereka memotong peluang akumulasi royalti para penulis secara tidak langsung.

Bisa dibayangkan apabila penulis-penulis produktif kita memutuskan untuk menyerah dan enggan menulis kembali, Indonesia pun akan semakin kekurangan sumber daya penulis-penulis cemerlang. Kita tak perlu menggerutu dengan rendahnya minat baca masyarakat, bila di saat yang sama, para penulis dibiarkan mati karena karyanya disebar secara cuma-cuma dan ilegal.

Apa yang dilakukan oleh “Pejuang PDF” gratisan sekilas kelihatan mulia. Mereka menyebarkan bacaan kepada masyarakat, tanpa memungut bayaran sepeser pun. Mereka seakan tengah memperjuangkan peningkatan minat dan daya baca masyarakat. Padahal, yang terjadi sebaliknya, banyak orang yang dirugikan, sebab sirkulasi bisnis buku bisa saja tak lagi menjanjikan.

Menulis tentunya tak  mudah. Mengedit pun susah. Belum lagi dengan memeriksa aksaranya yang harus dilakukan secara cermat. Kemudian, setelahnya, ada proses untuk mengatur tata letak buku, dilanjut dengan mendesain sampul yang tidak bisa dianggap remeh. Semuanya serbasusah, ditambah lagi dengan menjamurnya para pembajak buku dan penyebar fail-fail PDF. Royalti penulis terputus, perputaran keuangan di penerbit pun mandek. Tega nian, bukan?

 

[Ana Dwi Itsna Pebriana, Tim Redaksi Mizan Pustaka]

 

tags : literasi, digital, e-book,

Related Post

Back to top