Share
Scroll down

Baca
Artikel

Perbedaan antara Sains dan Agama (Itu Biasa Saja)

sains dan agama>

Perbedaan mendasar antara sains dan agama adalah bahwa dalam sains, seorang saintis akan dengan gembira menyambut koreksi dan kritik oleh sesama koleganya manakala teori yang ia ajukan terbukti salah; atau, dalam istilah filsuf Karl Popper, “difalsifikasi”. Dia tidak akan mengafirkan saintis lain yang telah mengoreksinya, apalagi melaporkannya ke dewan inkuisisi untuk diadili.

Ini, kata para pendukung sains, berbeda dengan agama. Di sana, seseorang yang berbeda mazhab atau sekte bisa dikafirkan, dimusuhi, diadili, bahkan  dibunuh. Dalam agama, perbedaan akidah dan pendapat bisa berujung pada perang.

Hujjah ini, tentu saja, dikemukakan sebagai alat untuk “mengejek” agama, seraya mengunggulkan sains sebagai diskursus yang lebih superior, lebih “beradab”, karena ia rasional, matang, dan tidak menimbulkan permusuhan.

Sains bukanlah satu-satunya “human enterprise” yang patut merasa pongah dengan sebuah klaim bahwa perbedaan di dalamnya tidak menimbulkan konflik berdarah-darah. Tak ada yang spesial pada sains dalam aspek ini. Biasa saja.

Tidak semua perbedaan dalam agama juga berujung pada pengafiran dan konflik. Perbedaan dalam forum bahtsul masa’il di antara para kiai Nahdatul Ulama (NU) dalam merumuskan sebuah fatwa, tidak berujung pada pengafiran. Ribuan bahtsul masa’il saya saksikan dalam sejarah NU, dan tidak ada satu pun cekcok berdarah-darah muncul di sana.

Harus diingat pula, perbedaan yang menimbulkan konflik dan perang tidaklah monopoli agama. Perang dingin yang melibatkan perlombaan senjata nuklir yang nyaris memusnahkan spesies manusia, berlangsung sejak dekade 50an sampai runtuhnya Tembok Berlin pada 1991. Dalam Perang Dingin ini, dua mazhab sekular, bukan agama, saling berseteru: kapitalisme dan komunisme.

An image

Tembok Berlin

Jika sebagian pendukung sains berpikiran bahwa agama harus dihapuskan saja (jika bisa!) karena hanya menimbulkan konflik, maka nasionalisme dan negara-negara nasional modern juga harus dihapuskan. Pemilu langsung juga layak ditiadakan sama sekali, karena potensial menyulut konflik, sekurang-kurangnya seperti terlihat dalam pilpres kita yang terakhir.

Konflik dalam kehidupan manusia adalah fakta yang tak terhindarkan; pemantiknya bisa agama atau ideologi sekular. Konflik ini bisa diatasi, dan karena itu muncul disiplin keilmuan yang bernama “conflict resolution”.

Tetapi menepuk dada seperti dilakukan sebagian pendukung sains bahwa mereka bisa berbeda tanpa baku-hantam, dan karena itu bidang yang mereka geluti lebih superior tinimbang bidang-bidang lain, jelas menggelikan.

-Ulil Abshar Abdalla – Penulis buku Sains "Religius" Agama "Saintifik"

____________________________________

Baca Sinopsis

[1] Diringkas dari esai Antara Sains dan Soto

tags : , sainsdanagama,

Related Post

Back to top