Share
Scroll down

Baca
Artikel

Perjalanan Filosofis dengan Socrates Express

10-03-2021Category : Dewasa
Socrates>

Bagi sebagian orang, perjalanan darat via kereta api mungkin punya kesan tersendiri yang tak bisa disamakan dengan moda transportasi lain. Hal itu dirasakan penulis Eric Weiner, seperti ia ungkapkan dalam buku terkininya, The Socrates Express (2020).

Di bab awal, penulis yang telah melanglang dunia itu mengaku sangat menyukai perjalanan dengan kereta api. Menurutnya, di situ ia memperoleh rasa nyaman dan sebuah ruang (kesempatan) berpikir reflektif yang tak ia dapatkan di moda transportasi lain. “Aku suka kereta api. Tepatnya, aku suka naik kereta api.... Ada satu rasa terlindungi ketika berada di dalam kereta api. Suhu yang nyaman, cahaya yang hangat. Kereta api membawaku ke alam prasadar yang lebih bahagia” (halaman 24).

Dengan analogi kereta, Weiner mengajak kita ‘menaiki’ The Socrates Express untuk suatu perjalanan reflektif bersama. Di dalam perjalanan ini, kita akan ‘bercengkerama’ tentang para pemikir(an) besar yang telah abadi dalam sejarah filsafat. Mulai dari kebijaksanaan para filsuf klasik seperti Marcus Aurelius, Socrates, atau Confucius, hingga yang lebih kontemporer macam Sei Shonagon, Henry David Thoreau, Gandhi, Nietzsche, juga Simone de Beauvoir.

Meski begitu, The Socrates Express bukan sekadar rangkuman eksposisi pemikiran para filsuf semata. Buku ini bukan buku teori pengantar filsafat. Weiner, yang juga seorang penggemar travelling, menjadikan buku ini personal dengan melibatkan cerita perjalanan-perjalanannya. Bahkan, ia acap membuatnya sebagai jembatan bagi pembaca untuk memahami pemikiran para filsuf tersebut dalam konteks kehidupan masa kini. Weiner juga piawai memotret sosok para filsuf serta laku hidup yang melandasi lahirnya pemikiran-pemikiran mereka dalam keseharian. Semua itu terasa sekali ia tempatkan dengan jeli, yang menunjukkan bukan cuma pemahaman, melainkan juga kecintaan Weiner terhadap filsafat.

Perjalanan

Perjalanan dengan The Socrates Express terbagi atas tiga bagian. Pada tiap-tiap bagian, ada empat atau lima judul tulisan yang telah disusun sedemikian rupa sesuai tema filsafat yang ia suka, yaitu ‘Filsafat Stoisisme’. Stoisisme dicetuskan seorang filsuf Yunani, Zeno, pada awal abad III SM. Aliran filsafat ini menekankan pada ajaran etika agar manusia hidup selaras dengan alam, dengan menerima segala sesuatu yang terjadi di luar dirinya ialah di luar kuasanya. Ajaran yang dirasa Weiner tetap relevan hingga masa kini, terutama ketika dunia menghadapi masa sulit dengan adanya pandemi covid-19.

Weiner membuka bagian pertama dengan kisah dari Kaisar Romawi yang wilayah kekuasaannya membentang dari pesisir Samudra Atlantik hingga ke tepi Sungai Tigris di Irak, Marcus Aurelius. Pembicaraan tentang Marcus terpantik dari bacaannya di kereta yang tengah ia naiki saat itu, Meditations. Dengan jenaka, dan sedikit ejekan terhadap dirinya sendiri, Weiner menyebut ia dan sang kaisar bak dua bersaudara. Mereka memiliki musuh yang sama: pagi hari. Keduanya bukanlah morning person—orang yang suka bangun di pagi hari—dan mempertanyakan alasan mereka perlu menyingkap selimut, beranjak dari tempat tidur.

Lewat bahasan sederhana tersebut, yang diistilahkan Weiner sebagai The Great Bed Question, ia membawa pembaca menyibak beberapa pemikiran Marcus maupun sejumlah fragmen kehidupannya. “Aku menyukai kejujuran Marcus. Aku suka bagaimana dia menelanjangi diri dalam tulisannya (Meditations), membongkar pelbagai ketakutan dan kelemahannya....Marcus tak pernah melupakan kaidah Stoik bahwa semua filsafat dimulai dari kesadaran akan kelemahan kita” (hlm 43).

Setelah Marcus, Weiner bertolak ke pemikiran dari guru para filsuf modern, Socrates, yang ia refleksikan dalam sebuah perjalanan kereta menuju Athena. Socrates ini ia citrakan sebagai seorang genius, yang kadang mengaku sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Weiner berpendapat Socrates tak memiliki gagasan filsafat, tetapi ia punya cara berpikir, sebuah metode yang disebutnya dialektika.

Di bagian kedua The Socrates Express, Weiner mengusung sosok perempuan dari Jepang, Sei Shonagon, yang hidup pada milenium pertama Masehi. Setelah membaca karya sastra klasik dari sang penulis, The Pillow Book, Weiner takjub dengan detail yang Shonagon sajikan di dalam puisi-puisinya. Shonagon tidak membentuk sebuah sistem filsafat. Ia juga tidak sedang berteori. Namun, gagasan tentang detail dan keindahan yang ia racik dalam karya sastranya, bagi Weiner, membuatnya layak untuk disebut filsuf. Ia kemudian membabar sosok filsuf Jerman kontemporer yang menjadi pelopor filsafat eksistensialisme modern, Friedrich Nietzsche, pada bagian akhir buku. Filsuf yang dijuluki sebagai ‘sang pembunuh Tuhan’ ini, Weiner gambarkan mirip seperti Socrates karena sering mempertanyakan keyakinan-keyakinan konvensional yang sebelumnya telah terpatri.

“Beberapa filsuf mengejutkan. Banyak filsuf yang berargumen. Sedikit filsuf yang menginspirasi. Hanya Nietzsche yang menari. Baginya, tak ada ekspresi yang lebih baik ketimbang semangat yang meluap-luap dan amorfati: cinta akan takdir” (hlm 349).

Weiner mengakhiri bukunya dengan menyelami gagasan Montaigne tentang kematian.Topik kematian menjadi opsi yang menarik sebagai penutup lantaran dalam pengantar buku, Weiner menuliskan dirinya ialah seorang separuh baya yang punya urgensi: tidak ingin mati sebelum menjalani hidup yang bermakna.

Menjadi filsuf

Tak banyak buku populer bertema filsafat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin ini juga yang membuat The Socrates Express punya daya tarik. Membaca buku ini dapat sekilas mengingatkan pada novel Dunia Sophie, terjemahan karya Jostein Gaardner, yang cukup laris manis di Indonesia.

Keduanya memang memiliki sudut pandang penceritaan dan format penulisan berbeda. Yang satu novel, yang satunya catatan perjalanan. Namun, baik Dunia Sophie maupun The Socrates Express sama-sama mengekspresikan gairah penulis masing-masing terhadap filsafat. Gairah yang ingin mereka bagi ke orang lain, dengan membingkai filsafat dalam suatu konteks cerita, dengan gaya penulisan populer yang memungkinkan pembaca awam berkenalan dengan keajaiban filsafat.

Disampaikan Weiner dalam diskusi daring yang diadakan Penerbit Qanita, penerbit The Socrates Express di Indonesia, pada November lalu, ia ingin menjadikan filsafat mudah dipahami dan juga menyenangkan untuk dibaca. Mengapa? Karena, ujar Weiner, filosofi tidak sekadar mengajari orang untuk berbahagia, tapi untuk menjadi bijak. “Kita ingin lebih dari berbahagia. Kita ingin punya hidup yang bermakna, dan bijak,” ujar pengarang buku Geography of Bliss, yang separuh bercanda menyebut The Socrates Express sebagai versi lebih matang dari buku hitnya tersebut.

Secara keseluruhan, buku setebal 516 halaman ini cocok dibaca oleh mereka yang tertarik dengan filsafat, khususnya yang ingin mendalami kajian Stoisisme, atau bahkan sekadar penyuka catatan/cerita perjalanan. Terlepas dari beberapa kesalahan minor di penerjemahan, The Socrates Express asyik untuk dinikmati sembari menyeduh kopi. Siapa tahu, buku ini akan membangkitkan sang filsuf dalam diri Anda. Toh, seperti diungkapkan filsuf Prancis Maurice Riseling, dan dikutip Weiner dalam bukunya, “Cepat atau lambat, hidup akan memaksa kita menjadi filsuf”.[]

 

Penulis: Bagus Pradana

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Mediaindonesia.com pada 9 Januari 2021

tags : the socrates, eric weiner, ketidakpastian,

Related Post

Back to top