Share
Scroll down

Baca
Artikel

Pesan dari Sebuah Pandemi

Novel Dunia Anna karya Jostein Gaarder>

COVID-19

Virus corona jenis baru yang bermula dari kota Wuhan pada akhir tahun 2019 menyebar ke berbagai negara di dunia dan menyebabkan timbulnya penyakit COVID-19. Setelah WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi, negara-negara yang telah terjangkit harus melakukan berbagai upaya untuk menghentikan pandemi tersebut. Seperti dilansir dari Healthline, WHO meminta semua negara untuk meningkatkan mekanisme tanggap darurat serta pemerintah diinstruksikan untuk segera menemukan, mengisolasi, menguji, dan menangani setiap kasus COVID-19. Pemerintah juga harus memastikan kesiapan fasilitas rumah sakit serta perlindungan pada petugas kesehatan yang menangani pasien dengan penyakit tersebut.

Banyak negara yang akhirnya memutuskan untuk menerapkan aturan lockdown (karantina wilayah) sebagai upaya meminimalisasi penyebaran COVID-19. Karantina wilayah memaksa manusia untuk mengurangi banyak aktivitas seperti bepergian atau bekerja sehingga banyak industri yang mengurangi atau bahkan menghentikan kegiatan produksi sama sekali. Perubahan pola aktivitas manusia ini dirasakan pula oleh Paula Koelemeijer, ahli seismologi yang tinggal di London. Ia dapat merasakan lingkungan sekitarnya jauh lebih tenang dan lengang. Sejauh mana berkurangnya aktivitas manusia dapat memberikan efek bagi lingkungan?

 

Efek Lingkungan ketika Pandemi COVID-19

Berikut 4 efek yang terjadi di daratan, udara dan laut akibat pandemi COVID-19, seperti dilansir dari situs theantlatic.com dalam artikel berjudul The Pandemic Is Turning the Natural World Upside Down:

 

1. Lebih sedikit gemuruh di permukaan bumi.

Sebagai seismolog, Paula Koelemeijer memiliki seismograf kecil di rumahnya sehingga ia hapal betul dengan ritme kehidupan di sekelilingnya. Dengan lebih sedikit kereta api, bus, dan orang-orang berjalan di trotoar, dengungan kehidupan yang biasa telah lenyap. Begitu pula ritme seismogram yang biasanya dapat diprediksi dari jadwal kereta kini menjadi acak karena hanya sedikit kereta yang beroperasi. "Pandemi ini benar-benar mencerminkan kehidupan kita yang melambat," ujar Koelemeijer.

Fenomena ini juga dialami Thomas Lecocq, seismolog di Royal Observatory of Belgium, Brussels. Stasiun seismik Brussels ini bisa menunjukkan pasang surutnya aktivitas kota. Lecocq tahu bahwa ketika salju turun, aktivitas seismik yang disebabkan oleh kegiatan manusia berkurang dan akan terjadi lonjakan jika sedang berlangsung perlombaan lari. Lecocq sempat memeriksa data seismik sehari sebelum dan sesudah Belgia memulai karantina wilayah secara nasional. Ia memaparkan bahwa terjadi penurunan sangat drastis, terlihat dari aktivitas seismik siang hari Brussels saat ini menyerupai ketika hari Natal –alias sangat sepi.

 

2. Berkurangnya polusi udara.

Satelit pengamat Bumi juga telah mendeteksi penurunan konsentrasi polutan udara (nitrogen dioksida) yang signifikan di Tiongkok dan Eropa selama pandemi COVID-19 berlangsung. Polusi udara memang dapat merusak kesehatan manusia secara serius. WHO memperkirakan bahwa kondisi yang berasal dari paparan polusi udara seperti stroke, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan telah membunuh sekitar 4,2 juta orang per tahun.

 

Polusi udara selama pandemi
Sumber: earthobservatory.nasa.gov

Keadaan udara yang lebih bersih saat ini bisa menjadi jeda singkat bagi beberapa daerah di dunia. Meskipun begitu, Joseph Majkut, direktur kebijakan iklim di Niskanen Center berpendapat bahwa penurunan emisi tahun ini, termasuk karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global, tidak akan mengurangi upaya jangka panjang untuk mengatasi krisis iklim. "Kita tidak menyelesaikan permasalahan iklim dengan memiliki pandemi global," kata Majkut.

 

3. Suara yang terdengar di kota mulai berubah.

Dengan banyaknya orang tinggal di rumah, kebisingan yang ditimbulkan oleh moda transportasi jauh lebih sedikit sehingga penduduk bisa mendengar suara yang biasanya tidak lazim terdengar di kota. Rebecca Franks, orang Amerika yang tinggal di Wuhan, mengamati di hari ke-48 karantina dan berkata, “Dulu saya berpikir mungkin tidak ada burung di Wuhan, karena kita jarang melihat dan tidak pernah mendengarnya. Saya sekarang tahu burung-burung itu hanya tidak terdengar karena ramainya lalu lintas dan aktivitas orang-orang di kota. Sekarang saya dapat mendengar kicauan burung sepanjang hari.”

Sylvia Poggioli, seorang koresponden NPR di Italia, juga melaporkan bahwa jalan-jalan Roma menjadi begitu kosong. Slyvia mengatakan bahwa ia sekarang bisa mendengar derit engsel pintu berkarat dan kicau burung –jadi terlampau keras. Kondisi yang lebih tenang selama beberapa bulan ini menjadi hal yang baik karena polusi suara dapat berdampak negatif bagi kesehatan serta berkontribusi terhadap penyakit yang berhubungan dengan stres, tekanan darah tinggi, gangguan tidur, dan masalah lainnya.

Potret Roma ketika Lockdown
Potret kota Roma ketika lockdown.
Sumber: vox.com

 

4. Lautan sepertinya juga menjadi lebih tenang.

Menurunnya polusi suara jelas akan menyenangkan bagi spesies lain. Michelle Fournet, seorang ahli ekologi kelautan di Cornell berpendapat, “Hanya dengan menarik kapal-kapal pesiar keluar dari air akan mengurangi jumlah kebisingan laut global secara instan.” “Kami mengalami jeda kebisingan laut yang mungkin belum pernah dialami dalam beberapa dekade.” Penelitian telah menunjukkan bahwa kebisingan yang ditimbulkan kapal dan lalu lintas maritim lainnya dapat meningkatkan kadar hormon stres pada makhluk laut sehingga memengaruhi keberhasilan reproduksi mereka.

Fournet juga memaparkan tetang paus bungkuk di Pasifik Utara yang mulai bergerak ke utara dan akan segera berenang dengan anak-anak paus yang baru lahir ke Alaska bagian tenggara, sebuah wilayah yang terkenal penuh dengan kapal pesiar. "Ini akan menjadi kedatangan ke Alaska paling tenang yang dialami paus bungkuk dalam beberapa dekade," kata Fournet. "Alam menghembuskan napas, ketika manusia sedang menahan napas. "

“Nature is taking a breath when the rest of us are holding ours.” –Michelle Fournet

 

 

 

 

 

 

‘Meramal’ Masa Depan lewat Novel Dunia Anna

Isu lingkungan juga menjadi tema besar dari novel berjudul Dunia Anna yang ditulis oleh Jostein Gaader, penulis asal Norwegia. Lewat novel sebanyak 248 halaman ini, Jostein Gaarder mengedepankan isu-isu seputar kerusakan lingkungan dan pemanasan global yang dimaknai secara filsafat. Jostein Gaarder memang gemar menggunakan tokoh remaja dalam novelnya, seperti dalam novel best-seller Dunia Sophie dan The Magic Library

Dunia Anna, novel tentang lingkungan dan virus corona

Anna adalah remaja cerdas dan tekun yang cara berpikirnya lebih dewasa dibandingkan remaja seusianya. Saat Anna berusia 10 tahun, gadis itu sudah menyadari ada yang tidak beres dengan alam sekitarnya karena banyak rusa kutub mati dan banyak juga yang berkeliaran ke desa. Setelah menginjak usia remaja, Anna yang memang cenderung bersikap aneh memutuskan untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater, dokter Benjamin. Hasil pertemuan dengan psikiater tersebut memberikan ide penyelamatan lingkungan sehingga Anna mendirikan kelompok lingkungan bersama sang pacar, Jonas.

Dalam Dunia Anna, diceritakan juga tentang pertemuan Anna dengan cicitnya yang hidup di tahun 2082, Nova. Pada tahun 2082 digambarkan bahwa sudah banyak hewan yang punah. Sumber daya alam juga sangat langka sehingga tidak bisa lagi menjalankan mesin atau kendaraan. Hal ini memaksa manusia harus menunggangi hewan untuk bepergian. Suhu Bumi semakin panas, es di kutub mencair, dan banyak tanaman yang sudah lenyap sehingga hanya bisa dilihat di buku atau internet saja. Setelah Nova bertemu dengan nenek buyutnya tersebut, ia tahu bahwa generasi nenek buyutnyalah yang merusak bumi. Nova jadi merasa marah.

“Aku mau seluruh jutaan jenis flora dan fauna itu semua dikembalikan. Aku cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia yang Nenek nikmati waktu seumurku….” –Dunia Anna

Lewat novel ini, Jostein Gaarder mengingatkan para pembaca tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang bila kita tidak menjaga lingkungan sedari sekarang. Jostein Gaarder mampu mengemas pesan filosofis yang terkadang memusingkan menjadi sebuah kisah menarik, sehingga pembaca pun asyik mengikuti alur cerita sambil memikirkan tentang pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk direnungkan lewat tokoh-tokoh di dalam novel.

“Tapi, aku sudah menggunakannya, Jonassen. Kesempatan itu sudah habis.

Karena aku telah menggunakan kesempatan terakhir itu.

Atau tepatnya tidak sekarang, tapi tujuh puluh tahun lagi  saat semuanya telah menjadi rusak di planet kita hingga tidak ada lagi kehidupan di hutan-hutan tropis dan rawa-rawa, juga di padang rumput dan savana.

Permintaanku yang sesungguhnya ialah supaya dunia ini mendapatkan kesempatan kedua.” –Dunia Anna

An image

Jostein Gaarder menerbitkan buku terbarunya di tahun 2018 lalu yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul The House of Tales. Selain menulis, Jostein Gaarder giat mengampanyekan pelestarian lingkungan melalui Sofie Foundation yang didirikannya bersama istrinya, Siri, pada 1997.[]

 

Penulis: Fauziah Hafidha

Sumber: The Pandemic Is Turning the Natural World Upside Down

tags : Dunia Anna, Jostein Gaarder, novel, covid-19, pandemi, lingkungan,

Related Post

Back to top