Share
Scroll down

Baca
Artikel

QUARTER LIFE CRISIS: “PENYAKIT” ANAK MUDA YANG MEMBUAT GALAU

25-03-2021Category : Dewasa
quarter life crisis>

Saat ini istilah quarter life crisis sedang ramai diperbincangkan. Hal itu tak terlepas dari banyaknya orang yang mempopulerkannya sehingga hal tersebut sampai kepada anak muda yang biasa menghabiskan waktunya untuk bermedia. Sontak, anak muda yang baru pertama kali mendengar istilah itu akan kebingungan dengan maksudnya, yang membuatnya akan mencari pengertian istilah itu di mbah Google kesayangan.

 

Setelah berkenalan dengan istilah quarter life crisis, anak muda semakin menjadi. Ia merasa bahwa ia sedang berada dan mengalami fase itu. Semakin jadi, anak muda semakin cemas dan takut. Hingga akhirnya istilah itu menjadi “penyakit” yang menghantuinya.

 

Jadi, apa itu quarter life crisis?

 

Quarter life crisis adalah sebuah periode di mana seseorang telah masuk masa seperempat hidupnya atau saat seseorang berada di kisaran umur 18 – 30 tahun. Konon, di masa itu seseorang akan mengalami sebuah kecemasan tingkat tinggi yang membuatnya merasa takut gagal dalam menjalankan hidup.

 

Kecemasan yang muncul pun bukan main. Bukan hanya cemas dalam satu hal saja, tapi bisa kompleks meliputi seluruh hal yang berkaitan dengan hidup, seperti: karir, sosial, percintaan, dan lainnya.

 

Bukan tanpa sebab seseorang merasa berada di fase quarter life crisis, satu di antaranya karena seringnya seseorang membandingkan diri dengan orang lain, meskipun orang itu tahu bahwa seseorang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Meski begitu, seseorang tetap tak mengindahkah ketahuannya itu yang justru malah membuatnya terus merendahkan dirinya sendiri dengan berpikir bahwa “dia lebih baik dari saya”.

 

Membandingkan diri tak selebihnya salah. Akan tetapi, dapat lebih bijak bila kita membandingkannya dengan diri kita sendiri di masa lalu bukan dengan orang lain. Sehingga kita tahu proses yang kita jalani itu sudah sejauh mana bukan malah “maling” jalur lain dan menggunakannya sebagai “mata” untuk hidup kita. Bila seperti itu, yang ada kita akan tersesat di jalur milik orang lain dan menganggap kita gagal karena berada di “finish” yang berbeda dengan keinginan kita.

 

Bila hal itu terus dilakukan, membandingkan diri dengan orang lain, yang terjadi kita akan merasa terus merasa rendah bila merasa di bawah, dan akan menjadi sombong ketika kita merasa berada di atas. Keduanya tak ada yang baik, kecuali kita bisa menerima bahwa setiap orang itu berbeda.

 

Baca Juga: Rahasia Sukses Mencapai Tujuan Hidup

 

Ada banyak solusi yang dapat dicoba untuk mengikis masalah yang ada di fase quarter life crisis, satu di antaranya ialah bisa dengan mencari mentor pembimbing. Jangan mentor yang sembarangan, tapi seorang mentor yang memang ahli dan berpengalaman dalam membantu orang lain dalam mengatasi quarter life crisis. Bila kita mencari mentor yang sembarang, bisa saja bukannya memecahkan, justru malah menambah beban yang ada.

 

Bila tidak dengan mentor pun tak apa, kita bisa mengikis masalah itu dengan memperbanyak membaca buku mengenai self-improvement. Karena biasanya, di dalam buku itu terdapat hal-hal yang dapat kita ambil dan dijadikan sebagai “obat” untuk kecemasan yang sedang melanda. Tak jarang, buku itu pun dapat membuka pandangan kita yang baru, sehingga kita bisa melihat suatu hal lebih dari satu.

 

Bahkan jangan-jangan, sebenarnya quarter life crisis itu tidak ada. Nah lho. Kok bisa?

 

Kamu dapat menemukan jawabannya di buku Hidup Mau Ngapain? Karya Ali Zaenal Abidin. Karena buku itu dapat membuka pandangan baru yang dapat membantumu keluar dari pandangan terdahulu yang membuatmu stuck tidak berkembang sehingga kamu terus berpikir kegagalan akan menyambut di masa depan.

 

Beli di sini: Eksklusif di Tokopedia

 

Baca Juga: Hidup itu Dijalanin Bukan Dipikirin

tags : ,

Related Post

Back to top