Share
Scroll down

Baca
Artikel

Benarkah Metode Sains Lebih Baik dari Agama dan Filsafat? Tunggu dulu, kata Tuan Wittgenstein

sains dan agama>

Sekarang ini, banyak orang mengkritik agama padahal tidak banyak tahu tentang agama. Orang suka lupa bahwa pemikiran-pemikiran yang berbeda memiliki apa yang oleh Wittgenstein disebut sebagai language game (permainan bahasa) yang khas. Jangankan beda agama, intra-agama yang sama pun punya language game yang bisa beda. Apalagi antar sains, filsafat dan agama. Lebih-lebih antara ateisme dan agama. Dan metodologi berjalin berkelindan dengan permainan bahasa ini. Bahkan seluruh aspek pemahaman tertentu, tak peduli itu agama, filsafat, atau sains, terkait erat dengan permainan bahasa ini. Maka menghakimi (metodologi) agama dan filsafat dengan language game yang lain sesungguhnya cuma menunjukkan kesempitan wawasan pelakunya.

Ludwig Wittgenstein

Ludwig Wittgenstein

Menurut penggagas language game ini, makna adalah hasil dari suatu permainan bahasa. Bahwa seseorang atau suatu kelompok mendapatkan makna dari bahasa yang dipakai dalam (konteks) kelompok yang di dalamnya bahasa itu digunakan, yakni merujuk kepada kehidupan dan komunitas yang di dalamnya mereka “dimainkan”.

Berbicara (dengan) bahasa adalah bagian dari suatu aktivitas, atau suatu bentuk kehidupan. Bahasa bersifat kompleks dan jauh lebih tak sesederhana apa yang disampaikan oleh para ahli logika  tentang struktur bahasa. Sejalan dengan ini, (bahasa agama—atau bahasa filsafat, atau kita harus mengatakan bahasa dalam kelompok—mazhab-mazhab/aliran-aliran/kelompok-kelompok pemahaman yang berbeda-beda di dalam agama atau aliran filsafat yang sama) punya aturan-aturan (rule of the game)-nya sendiri. Rule of the game ini kadang malah tidak terstruktur sama sekali. Atau, setidak-tidaknya, strukturnya hanya dipahami oleh si pemakai bahasa yang berasal, atau sudah “tenggelam”, dalam (rule of the game) kehidupan dan komunitas itu. Dan dalam konteks ini, bahasa agama adalah yang paling khas. Tetapi, demikian juga aliran-aliran filsafat tertentu yang tidak terlalu bersifat diskursifanalitis. Sebagai akibatnya, orang tak bisa membuat asumsi asal-asalan yang menyamakan bahasa agama dengan bahasa matematis atau penegasan saintifik.

Untuk memahami bahasa agama—dan juga bahasa pemikiran-pemikiran yang tak mengikuti bahasa diskursif rasional atau saintifik—orang harus mempertimbangkan semua konteks sebuah pernyataan, yang amat kompleks, melampaui sekadar konteks logis dan empirisnya belaka. Jadi, kalaupun ada perbedaan pandangan di antara suatu aliran dengan aliran lain, misal antara agama dan sains, masalahnya sering tidak terkait dengan urusan fakta  (matter of fact). Persoalannya tidak selalu harus terkait dengan rasionalitas. Agama, sebagaimana aliran-aliran filsafat nondiskursif tertentu, memang  sering tak bersifat rasional, setidak-tidaknya dalam makna (se-“sederhana”) rasionalitas sebagaimana yang dipahami sains. “Kesederhanaan” rasionalitas saintifik ini yang sering menyebabkan orang menganggap (bahasa) agama sebagai tidak bisa dipertanggungjawabkan—bagi orang-orang yang tidak memahaminya. Kelebihan sains—juga rasionalisme “mentah”—adalah pada kesederhanaannya ini. Sayangnya, manusia modern sudah terlalu capek dan terbiasa dengan cara hidup pragmatis dan malas untuk memahami atau hidup dengan bahasa-bahasa yang kompleks Dan yang lebih parah dari itu adalah kemudian mereka mencemooh agama.


-Haidar Bagir – Penulis buku Sains "Religius" Agama "Saintifik"

Baca Sinopsis

tags : sainsdanagama,

Related Post

Back to top