Artikel

Sea Prayer; Sebuah Penghormatan untuk Para Pengungsi

Khaled Hosseini, penulis novel best seller The Kite Runner dan juga duta UNHCR (UN Refugee Agency), baru-baru ini mengunjungi Libanon untuk bertemu dengan para pengungsi Suriah. Dalam wawancaranya dengan NPR, Khaled mengatakan bahwa para pengungsi Suriah menghadapi kehidupan yang berat di Libanon. Sebagian besar hidup dengan penghasilan sangat minim dan tinggal dalam garasi serta gudang yang sudah tidak terpakai, bahkan pada sebuah pusat perbelanjaan yang belum selesai serta berbau seperti saluran pembuangan.

 

Lebih lanjut Hosseini juga mengatakan bahwa sebagai seorang ayah, ia dapat membayangkan perasaan para pengungsi yang tidak mampu menafkahi anak-anak mereka, atau akhirnya memilih membayar penyelundup dan mencoba salah satu penyeberangan berbahaya melintasi Laut Mediterania karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.

 

Sea Prayer terinspirasi secara khusus oleh kisah salah seorang pengungsi. Pada tahun 2015, bocah Suriah bernama Alan Kurdi, tenggelam di Laut Mediterania ketika berusaha menyebrangi laut tersebut bersama keluarganya untuk mencapai benua Eropa. Jenazah bocah yang terdampar di pantai Turki tersebut diabadikan dalam sebuah foto dan menyedot perhatian banyak orang.

Hosseini mengatakan bahwa ia sangat terpukul ketika melihat foto tersebut.


Buku Sea Prayer Khaled Khosseini 1


Sebagai seorang ayah, saya berusaha membayangkan bagaimana pedihnya perasaan yang harus ditanggung oleh ayahnya setiap kali ia melihat foto-foto putranya, dan juga melihat foto orang asing yang mengangkat tubuh anaknya -orang asing yang tidak tahu suara atau tawa Alan, ataupun mainan favorit anaknya tersebut,” kata Hosseini.

“..you have to understand,

that no one puts their children in a boat

unless the water is safer than the land.” –Home, Warsan Shire


Saya berharap bahwa buku Sea Prayer ini menjadi bentuk penghormatan kecil tidak hanya bagi keluarga Alan Kurdi, tetapi juga, pada tingkat yang lebih luas, dapat menyoroti keputusasaan yang dihadapi ribuan orang ketika harus meninggalkan rumah mereka untuk melakukan perjalanan melintasi laut yang brutal dan terkadang mematikan.”

Saya membayangkan diri saya sebagai salah satu dari banyak kepala keluarga yang terpaksa meninggalkan tempat asal mereka, berjalan bermil-mil jauhnya selama berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan, bersama anak-anak mereka, dengan risiko bahwa sepanjang jalan ia mungkin saja ditahan, atau dipukuli, atau bahkan anak-anak mereka mungkin dijual untuk kerja paksa.

Mereka mencapai laut dan mempertaruhkan hidup di tangan penyelundup, berangkat ke laut lepas, meskipun telah mengetahui bahwa ribuan orang meninggal dalam perjalanan yang sama, dan tidak ada apa pun di sana untuk melindungi mereka.

Hidup mereka berada di tangan penyelundup yang tidak menghargai kehidupan manusia, dan sebetulnya seluruh bisnis yang para penyelundup itu lakukan berporos pada penderitaan yang mereka alami
, “kata Hosseini.

“Siapa yang akan memilih hal berbahaya seperti ini untuk keluarga mereka? Jika saya adalah seorang ayah dalam posisi tersebut, berdiri di pantai yang diterangi cahaya bulan -bersiap untuk perjalanan berbahaya, mungkin saya juga akan… mengatakan salah satu dari doa-doa ini.”

All I can do is pray.

 

Pray God steers the vessel true,

when the shores slip out of eyeshot

and we are a flyspeck

in the heaving waters, pitching and tilting,

easily swallowed. –Sea Prayer, Khaled Hosseini



Khaled Hosseini dikenal atas karya-karyanya yang mengangkat tema Afghanistan: The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, dan And The Mountains Echoed. Nantikan karya Khaled selanjutnya, Sea Prayer,
rilis di Indonesia.


Buku Sea Prayer Khaled Khosseini

Artikel ini disadur dari artikel NPR berjudul: Khaled Hosseini Says A Succinct ‘Sea Prayer’ For A Refugee’s Journey.

 

[Oleh: Fauziah Hafidha]

 

Author


Avatar