Share
Scroll down

Baca
Artikel

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

24-06-2020Category : Dewasa
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia>

Bahasa adalah salah satu penentu identitas bangsa. Ragam bahasa menjadi ciri khas yang membedakan satu bangsa dengan yang lainnya. Meskipun satu negara bisa jadi memiliki lebih dari satu bahasa yang digunakan, harus ada bahasa yang menjadi bahasa resmi sebagai pemersatu. Tercatat pada 2017, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) melaporkan Indonesia memiliki 652 bahasa daerah. Jumlah tersebut didapat dari hasil verifikasi data di 2.452 daerah pengamatan. Dari ratusan bahasa daerah tersebut, bahasa Indonesia tetap menjadi jembatan pemersatu bangsa kita.

Dilansir dari situs Badan Bahasa Kemendikbud, bahasa Indonesia lahir pada 28 Oktober 1928, ketika para pemuda Indonesia berkumpul dan menetapkan ikrar yang hingga saat ini disebut Sumpah Pemuda. Namun, pengukuhan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara Indonesia baru terjadi pada 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Pada saat itu, bahasa Indonesia disahkan kedudukannya dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36.

Sejarah bahasa Indonesia erat kaitannya dengan bahasa Melayu. Sejak abad ketujuh, bahasa Melayu sudah digunakan sebagai bahasa perhubungan hampir di seluruh Asia Tenggara. Beberapa bukti yang mendukung teori ini adalah penemuan prasasti-prasasti di Kedukan Bukit (Palembang) berangka tahun 683 M, Kota Kapur (Bangka Barat) berangka tahun 686 M, dan Karang Brahi (Jambi) berangka tahun 688 M. Prasasti-prasasti tersebut menggunakan huruf Pranagari dan bahasa Melayu Kuna.

Pada zaman Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa perdagangan, baik dalam komunikasi antarsuku maupun dengan pedagang dari luar Nusantara. Setelah itu, bahasa Melayu pun mulai menyebar ke berbagai penjuru Indonesia, bersamaan dengan menyebarnya agama Islam.

Menurut Badan Bahasa Kemendikbud, bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Indonesia sebagai bahasa perhubungan karena tidak mengenal tingkat tutur. Setelah menyebar ke pelbagai pelosok negeri, bahasa Melayu berkembang dan terpengaruh corak budaya daerah, sehingga memunculkan beragam variasi dan dialek. Ditambah lagi, ada serapan kosakata dari bahasa-bahasa lain, seperti Sanskerta, Arab, Persia, dan bahasa-bahasa Eropa.

Para pemuda yang ikut serta dalam pergerakan Sumpah Pemuda secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yaitu bahasa pemersatu bangsa. Perkembangan bahasa Indonesia pun selanjutnya sangat dipengaruhi oleh kegiatan politik, perdagangan, dan persuratkabaran di negara ini, hingga pada akhirnya bahasa Indonesia digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.

An image

Foto: Tangkapan layar kutipan Ajip Rosidi tentang tradisi membaca. (Sumber: Dokumentasi Penerbit Qanita)

 

Jerih payah para pemuda di masa lampau tentunya akan menjadi sia-sia jika kita sebagai penutur bahasa Indonesia yang masih ada tidak lagi mengindahkan bahasa ini. Selain menggunakan bahasa Indonesia secara lisan dalam kehidupan sehari-hari, kita juga perlu terus mempelajari dan melestarikannya dengan membaca. Sastra Indonesia akan maju apabila banyak orang yang peduli dan mau mempelajarinya.

Mempelajari bahasa Indonesia juga tak hanya berguna untuk keberlangsungan hidup bahasa itu sendiri, tetapi juga untuk diri kita. Kepandaian berbahasa dapat membantu mempermudah interaksi dan komunikasi. Dengan kepandaian berbahasa, kita juga akan terhindar dari penipuan yang merugikan. Tentunya, selain dalam ruang lingkup pekerjaan, bahasa Indonesia yang baik dan benar pun dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin mulai belajar merapikan penggunaan bahasa Indonesia, nantikan perilisan buku terbaru Ivan Lanin yang berjudul Recehan Bahasa.

An image

 

Foto: Tangkapan layar cuitan Ivan Lanin. (Sumber: Twitter Ivan Lanin)

 

[Assyifa N. Maryam, Redaksi Mizan Pustaka]

Sumber:

badanbahasa.kemdikbud.go.id

kemdikbud.go.id

tags : Ivan Lanin, Recehan Bahasa,

Related Post

Back to top