Share
Scroll down

Baca
Artikel

TAK ADA MASALAH YANG TANPA SOLUSI: SINERGI MELAWAN PANDEMI

23-09-2020Category : Anak
krisis pandemi anak>

An imageTahun 2020 ini adalah tahun yang luar biasa bagi seluruh dunia. Banyak hal terjadi yang membuat semua orang terkaget-kaget. Semua mengalaminya, baik anak maupun orangtua. Namun, banyak juga hikmah dan manfaat yang bisa kita ambil.

 

Tidak sedikit, orang dewasa yang tidak siap. Bagaimana dengan anak-anak?

Kondisi saat ini memang memukul mental orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan: anak, guru, dan orangtua. Kondisi yang belum pernah dihadapi siapa pun. Sebenarnya, jika kita mau mengambil hikmah dan manfaat, inilah saatnya membangun dan menyiapkan mental anak.

Untuk itu, grup Penerbit Mizan menggelar webinar bertajuk “Membangun Mental Anak Menghadapi Krisis” pada Senin, 21 September 2020 melalui zoom dan disiarkan langsung di YouTube.

Munif Chatib, konsultan, praktisi pendidikan, dan penulis buku pendidikan populer yang mengutamakan “manusia”, baik sekolahnya, gurunya, maupun orangtuanya, menjadi narasumber webinar yang diselenggarakan dalam acara Moms Literacy Expo 2020.

Menurut penulis Gurunya Manusia ini, dalam menghadapi masalah, ibarat pendaki gunung, ada 3 jenis anak:

1. Quitter: berhenti, menyerah, dan lari dari masalah.

2. Camper: berhenti dan tidak melanjutkan.

3. Climber: menyelesaikan masalah hingga sampai di puncak.

An image

 

Ilustrasi yang menggambarkan 3 jenis orang saat menghadapi kesulitan berdasarkan konsep Adversity Quotient. (Sumber: https://www.slideserve.com/hei/adversity-quetionts)

 

Nah, tugas orangtua saat ini adalah membuat anak sebagai climber.

Bagaimana caranya?

Kenali anak kita. Mengenali jenis anak tersebut bisa dilakukan sehari-hari. Orangtua harus peka. Gaya bahasa yang diucapkan anak menunjukkan sinyal kekuatan mental anak.

Jika ada masalah, quitters dengan mudah akan mengatakan, “Aku ga mau. Aku ga mungkin bisa.” “Susah banget!” Sementara, campers biasa mengucapkan, “Aku sudah pernah coba. Tapi gagal. Percuma, deh.” Berbeda dengan climbers yang akan berucap, “Siapa bilang ga bisa? Pasti ada jalan keluar.”

Begitu mendengar ucapan quitters dan campers, orangtua sebaiknya segera mengubah gaya bicara sang anak untuk lebih optimistis dengan kata-kata yang memotivasi.

Membangkitkan anak yang mudah menyerah pun ada kiatnya:

1. Orangtua harus tahu penyebab anak menyerah. Biasanya, anak merasa tidak mampu. Lakukanlah discovering ability (jelajah kemampuan anak). Stop mulut orangtua mengucapkan hal-hal tidak baik anak. Beri anak motivasi saat menerima hasil tes yang jelek.

2. Tumbuhkan dan beri anak kepercayaan untuk bertanggung jawab (trust). Anak sudah bisa diajari tentang trust ini sejak usia batita, saat anak sudah paham konsep.

3. Kontrol emosi orangtua.

Kiatnya:

- Tenangkan dan atur detak jantung; tarik napas (sambil beristigfar untuk kaum Muslim).

- Jauhi sumber masalah (maksudnya si anak).

- Dinginkan fisik. Bisa cuci muka atau berwudhu.

4. Cari solusi. Inilah materi problem solving.

5. Jangan sampai menghukum fisik anak.

 

Tak hanya itu. Untuk membangun mental yang tangguh, diperlukan sinergi orangtua dan anak, serta guru. Sang narasumber webinar ini menyampaikan bahwa sinergi tidak sama dengan kerja sama. Kerja sama adalah kerja bersama berbagai pihak agar sebuah projek berhasil. Sementara, sinergi ada di atas kerja sama. Sumbernya adalah masalah. Jadi, semua pihak harus sepakat menyelesaikan masalah tersebut.

Nah, pandemi saat ini adalah masalah. Dengan demikian, orangtua, guru, dan siswa harus bersinergi, tidak bisa hanya satu pihak.

Kenyataan yang terjadi sekarang, anak harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di rumah dengan cara daring (online). Ini pun menimbulkan masalah pokok: di sejumlah besar tempat tidak ada jaringan dan perangkat.

Di sisi lain, orangtua pun harus melakukan kerja dari/di rumah, yang tentunya dengan sejumlah tuntutan tersendiri.

Sementara, kebanyakan guru yang memang belum siap e-learning, merasa bahwa pembelajaran sudah tuntas jika tugas sudah dikumpulkan. Sejatinya tidak demikian. Tugas yang terlalu banyak itu pun tidak fair.

 

Pandemi ini adalah musibah dunia. Dalam pendidikan pun, tidak akan sempurna. Sebenarnya, Kementerian Pendidikan sudah mereduksi silabus. Bahkan, Mas Nadiem pernah bilang, “Ajari anak-anak kita hal yang tidak ada di kurikulum, di luar kurikulum, tidak apa-apa. Misalnya beberapa keterampilan dan problem solving yang membuat anak-anak interest.” Sayangnya, informasi ini tidak sampai ke guru-guru di lapangan.

Apa yang sebaiknya dilakukan untuk menjadikan anak jenis climber?

Ganti tugas jadi feedback. Orangtua bisa, guru juga bisa. Setiap selesai PJJ, ngobrollah dengan anak:

1. Apa yang sudah anak pahami?

2. Yang belum paham, apa?

3. Apa harapan/keinginan anak?

Sudahkah anak ditanya?

 

Untuk menghadapi anak bosan dengan PJJ, kembali sinergi diperlukan:

1. Orangtua harus punya jadwal PJJ anak. Guru pun harus memastikan ada jadwal dalam satu minggu. Dengan demikian, orangtua tahu materinya.

2. Orangtua menanyakan manfaat pelajaran itu untuk kehidupan sehari-hari. Ngobrol dengan anak dengan menarik manfaat materi ke dunia nyata, yaitu asas manfaat.

3. Jika mau lebih kreatif: tarik menjadi sebuah projek.

 

Lalu, bagaimana mempersiapkan anak-anak menghadapi hal-hal yang tidak sesuai harapan?

Penulis Sekolahnya Manusia ini memberikan sejumlah tips:

1. Ajari anak problem solving. Ini bab yang hilang dari kurikulum sekolah kini. Masalah anak sekarang, berbeda dengan anak zaman dulu, terutama tentang internet: sumber informasi tak terbatas, baik maupun buruk. Oleh karena itu, Pak Munif mengajarkan materi ini di sekolahnya dan mengampu sendiri mata pelajaran ini. Problem solving sebaiknya diajarkan sejak usia dini, sejak kelas 1 SD.

2. Biarkan anak berbuat kesalahan untuk membuat mental tangguh dan belajar dari kesalahan. Ibarat bayi belajar: jatuh bangun. Anak jangan dibuat steril.

3. Kontrol emosi.

4. Orangtua sebagai role model. Ambil hikmah dari pandemi ini saat kita lebih banyak tinggal di rumah.

5. Beri anak kepercayaan. Ini akan memunculkan tanggung jawab.

6. Orangtua harus melakukan discovering ability: menjelajah kemampuan anak, bukan discovering disability (ketidakmampuan).

 

Lihatlah kerennya anak, kemampuannya, meskipun sekecil debu.

 

Dalam webinar kali ini, dibagikan pula buku Semua Anak Bintang untuk peserta yang beruntung. Buku bagus yang menarik, orangtua dan guru bisa menganalisis gaya belajar anak karena buku ini hasil laporan MIR.

An image

 

Buku Semua Anak Bintang karya Munif Chatib, Kaifa, 2017.

 

Sementara itu, jika di rumah ada lebih dari satu anak dengan gaya dan tingkat belajar yang berbeda, tentunya orangtua dituntut lebih kreatif. Semua orang bisa kreatif.

 

Kreativitas adalah pengetahuan (knowlegde); bisa dipelajari, bukan bakat.

 

Semua orangtua bisa jadi kreatif, terutama jika melalui tahapan berikut:

1. Kreativitas akan lahir dari impian seseorang. Oleh karena itu, orangtua harus punya impian karena kreativitas diawali oleh angan-angan.

2. Kumpulkan ide-ide.

3. Aplikasikan ke kehidupan nyata.

4. Rajin bertanya ke ahlinya. Saat ini, begitu banyak sumber ahli, antara lain, Mbah Google dan Uncle YouTube.

 

Mengatasi masalah sosialisasi anak di masa pandemi, pengembang alat riset bernama Multiple Intelligences Research (MIR)—yakni sebuah alat riset yang digunakan untuk mengetahui kecerdasan dominan pada anak dan sudah diterapkan di ratusan sekolah di Indonesia—ini memberikan kiat:

1. Perlu ada sesuatu yang mengikat anak untuk “bertemu”, tentunya secara online, yaitu projek, misalnya membuat parodi lagu masa pandemi. Ini sesuai dengan dunia anak sekarang: dunia maya.

2. Sarankan anak mengikuti organisasi sosial online sehingga ada kegiatan bersama walaupun tidak bertemu secara fisik.

 

“Tak ada masalah yang tanpa solusi.
Pandemi ini akan ada solusinya.
Saat ini, kita ibarat sedang berada di terowongan dan di ujung ada cahaya.
Bukan kondisi seterusnya.

Ambil banyak hikmah dari pandemi ini.
Setiap orang yang mampu menyelesaikan masalah berarti tambah cerdas, naik kelas.

Dengan demikian, jangan berhenti belajar.”

—Munif Chatib

 

[Redaksi]

tags : pandemi,

Related Post

Back to top